Dalam setiap imaji tentang masa depan, Summer tidak menemukan gambaran selain Denver dan mata cokelat gelapnya yang hangat. Hidupnya dijejali dengan fantasi manis bahwa kehidupan tentram, jauh dari carut-marut dan kutukan, hanya bisa ia dapatkan jika Denver bersamanya.
Namun, Summer lupa satu hal: Obsesi selalu berkelindan erat dengan kemuakan. Denver akhirnya menemukan cara untuk lepas dari tali kekang Summer, mengesampingkan harga yang harus perempuan itu tanggung agar Denver bisa bernapas dengan leluasa.
Sayangnya, kalkulasi Denver agak meleset kali ini. Summer memang terperosok ke penjara lembap dan dingin, namun di tempat itu pula ia menjelma menjadi iblis yang melafalkan syair pembalasan dendam setiap malam. Dan agar bisa berdiri di podium pemenang, tersenyum congkak layaknya mimpi buruk, Summer harus bisa memenangkan hati Archilles Meridian, sang wali kota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wen Cassia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27 | TEROR DALAM PESTA
Pesta itu diadakan di taman yang membentang luas di area sebelah timur kediaman Meridian. Lampu-lampu gantung bergemerlapan dalam pendar hangat, mengaburkan kilau bintang yang berserakan di atas sana. Rangkaian bunga mendominasi tatanan pesta, tampak selaras dengan kain-kain sutra putih yang membentuk kanopi-kanopi anggun untuk menaungi meja dan kursi dalam warna serupa. Rumput dipangkas pendek rapi, meredam suara langkah dari sepatu-sepatu mengilat dan berhak tinggi. Musik latar belakang yang mengalun lembut menyatu serasi dengan harum subtil bebungaan si sepanjang jalan masuk.
Berjalan di samping Alkaios, Summer mengatur napas untuk menenangkan detak jantungnya yang berpacu, sekaligus memperbaiki ekspresinya agar terlihat lebih rileks. Ia benar-benar tidak boleh membuat kesalahan malam ini.
“Archilles ada di arah jam tiga,” bisik Alkaios.
Summer seketika mengikuti arah pandang Alkaios dan mendapati Archilles tengah berbincang dengan pasangan muda sembari memegang gelas anggur, sesekali tersenyum ramah ketika memberi tanggapan. Ia tampak seberkilau hari-hari biasa, nyaris tidak ada perubahan berarti dari penampilannya: setelan jas hitam, sepatu oxford hitam tanpa cela, jam tangan perak yang tampak mahal, mungkin rambut yang disisir lebih rapi ke belakang adalah satu-satunya perubahan kecil pria itu. Tampan. Archilles selalu terlihat tampan dalam suasana dan sudut mana pun.
Namun, kali ini kilau Archilles tidak begitu banyak menyita perhatian Summer. Pandangannya segera berpindah ke arah wanita mungil di samping Archilles yang kini tertawa dengan sangat anggun hingga keelokan wajahnya memancar semakin memikat.
Rambut kecokelatan wanita itu yang tergerai sedikit berombak, berayun memesona ketika ia meletakkan gelas anggur ke nampan pramusaji, ia lantas melingkarkan tangannya ke lengan Archilles. Gaun keemasan tanpa lengan wanita itu membingkai garis tubuhnya dengan cara paling pas dan indah, menjuntai lembut menyentuh sepatu hak tinggi hitamnya.
Allura Sanders—atau Summer harus mulai memanggilnya Allura Meridian—juga selalu tampak memukau. Wajah serupa malaikatnya tidak pernah gagal membuatnya menjadi pusat perhatian segera. Kemolekan Allura dan kecemerlangan Archilles adalah kombinasi yang menyihir, hanya orang bodoh yang tidak bisa melihat keserasian itu.
“Summer? Hei, kau datang!”
Seruan bersemangat itu datang dari arah kanan, mengaburkan pengamatan Summer pada Allura. Ia segera memasang senyum lebar ketika Diana dengan penampilan yang jauh lebih berkilau dari tampilannya di arena menembak, menghampirinya dengan senyum luar biasa cerah.
“Nyonya Meridian, selamat ulang tahun.” Summer sedikit menundukkan kepala ke arah Diana.
Diana menengok ke belakang sejenak. “Sayang, kemari sebentar!”
Seorang pria pertengahan enam puluhan, berpostur tinggi dengan garis rahang tegas mendekat dengan langkah mantap. Gurat-gurat penuaan tertera di wajahnya, namun justru membuatnya menguarkan aura kewenangan yang pekat. Selama ini Summer hanya pernah melihat Dimitri Meridian dari siaran berita dan surat kabar, bertemu secara langsung seperti ini, ia jadi tahu dari mana pancaran otoritatif Archilles berasal.
“Ini Summer, teman dekat Alka,” Diana memperkenalkan Summer dengan antusias.
Kali ini Summer menunduk ke arah Dimitri. “Selamat malam, Tuan Meridian. Sebuah kehormatan bisa berjumpa dengan Anda.”
Dimitri mengangguk sekilas, wajahnya sama sekali tidak terkesan ramah. “Terima kasih sudah meluangkan waktu datang kemari.”
“Astaga, kau ini pramusaji restoran atau bagaimana? Sudah kubilang ubah sifat kakumu kalau sedang menjadi tuan rumah pesta.” Diana berdecak, namun saat pandangannya kembali pada Summer, senyumnya otomatis mengembang. “Nah, orangtua Alka juga ada di sini sekarang, sebaiknya kau sapa mereka dulu. Jianna pasti akan senang sekali bertemu denganmu. Ayo Tante antar.”
Kepanikan menyergap Summer hingga ia bisa merasakan topeng kesempurnaannya mulai retak. Ia mendongak menatap Alkaios, hanya untuk menemukan wajah santai pria itu seolah sedang bilang, “Orangtuaku baik, kok.”
Summer merapatkan bibirnya, matanya menyorot penuh siaga, berharap Alkaios menangkap sinyal permohonan bantuannya.
“Nanti—” Alkaios segera menyela, akhirnya memahami sinyal Summer. Sepatah katanya berhasil menghentikan Diana yang hendak meraih tangan Summer. Diam-diam Summer mengembuskan napas lega. “Akan kukenalkan nanti. Sepertinya Ibu sedang sibuk bergosip dengan Tante Verna. Ayah juga sedang bicara serius dengan Paman John. Saat sudah lebih kondusif, aku akan membawa Summer pada mereka—oh, lihat! Bukankah itu Tante Margaret?”
Alkaios menunjuk seorang wanita paruh baya yang baru datang dari pintu masuk, melangkah anggun sembari menggandeng seorang pria muda jangkung.
“Sebaiknya Tante dan Paman menemui beliau dulu.”
“Dia bersama berondongnya lagi.” Nada ironi terselip dalam suara Diana. “Aku khawatir dia akan menikahi pacarnya lebih dulu dari kalian.”
Summer nyaris tersedak. Mulutnya sudah terbuka separuh, gagasan untuk menyangkal mentah-mentah terasa sangat menggiurkan, namun kemudian ia mengatupkan bibirnya setengah hati. Ia bisa meluruskannya baik-baik nanti, meyakinkan diri sendiri bahwa akan ada waktu yang tepat.
“Paman sudah memesankan barang yang kau inginkan,” kata Dimitri sambil menepuk bahu Alkaios sebelum berlalu bersama istrinya untuk menyambut Margaret.
Embusan napas penuh kelegaan Summer menyeruak begitu saja setelah terbebas dari sensasi seperti terperangkap di teritori harimau.
“Mau menemui Kak Archi sekarang? Atau kau punya alternatif lain?”
Summer melirik Archilles sekali lagi, menemukan pria itu yang masih sibuk berbincang, belum menyadari kehadirannya. Sebentuk seringaian samar terbit di wajahnya. “Menyapa tuan rumah adalah kesantunan paling dasar. Aku tidak ingin terlihat seperti orang yang tidak mengerti tata krama.”
Satu alis Alkaios terangkat sedikit, berikut senyum laten yang timbul saat ia mengamati wajah berseri Summer. “Dengan senang hati membantumu.”
Alkaios hanya mencoba peruntungannya sekali lagi dengan mendekatkan lengannya ke arah Summer—tindakan nekat yang berpotensi menghancurkan harga dirinya ke titik paling menyedihkan. Ia sudah bersiap menanggung malu, mungkin sambil menahan diri untuk tidak bersungut seperti bocah hina, ketika dengan gerakan pelan, nyaris seperti orang setengah sadar, Summer melingkarkan tangan kanannya ke lengan diri Alkaios yang tertutupi lapisan kemeja dan jas.
Napas Alkaios tertahan seketika, jantungnya antara berpacu terlalu cepat atau berhenti sama sekali—Alkaios tidak tahu. Yang Alkaios sadari hanya panas yang merayap di sekujur tubuhnya, membuatnya kegerahan. Ia harus pura-pura mengusap hidung dan sedikit membuang muka untuk meredam keinginan menampar diri sendiri, berharap Summer tidak menyadari tingkahnya yang menyedihkan ini. Ia mati-matian berusaha mengendalikan diri dan melemaskan otot wajah saat mereka berjalan ke arah Archilles.
“Jangan bersikap mencurigakan. Archilles tidak boleh tahu kau mengetahui hubungan kami,” Summer berkata pelan, gestur dan ekspresinya tenang.
Bentang jarak yang kian tergerus justru meletupkan antusias dalam diri Summer, membuat langkahnya terasa ringan. Pandangannya berhenti lama pada Allura, mencermati tiap area wajahnya yang bak dipahat oleh seorang maestro, bertanya-tanya ketakutan macam apa yang telah membuat seorang malaikat menimpakan dosa besarnya pada seorang perempuan setengah jadi yang bahkan tidak tahu cara menopang diri sendiri tanpa membuat orang lain terbakar.
Harum anggur yang bercampur dengan sekelumit aroma cedar memenuhi indera penciuman Summer saat akhirnya ia dan Alkaios berdiri tak jauh di belakang pasangan yang sedang mengobrol dengan Archilles.
“Chester? Hei!” Alkaios pura-pura terkejut sembari memiringkan kepala untuk melihat wajah pria berambut pirang pucat yang tengah tertawa renyah menanggapi perkataan Archilles.
Pria bermata kelabu itu menoleh, terkejut sebentar, lantas wajahnya tampak semakin semringah. “Alka!” Ia memeluk singkat dan menepuk bahu Alkaios beberapa kali dengan riang, lalu memandang dengan sorot takjub. “Astaga, lihat sudah setinggi apa kau sekarang! Dulu kau hanya seukuran kacang polong—aku ingin menangis sekarang.”
Sementara Alkaios sedang bernostalgia dengan kenalannya, Summer melihat pandangan Archilles mulai beralih melewati bahu adik sepupunya, jatuh tepat padanya yang berdiri di sedikit di belakang Alkaios. Pandangan mereka bertaut dalam satu garis lurus, dan untuk pertama kalinya, Summer bisa membaca secuil reaksi jujur Archilles melalui selarik keterkejutan di mata pekatnya.
Summer ingin menikmati roman kaget Archilles lebih lama, namun ada pemandangan yang jauh lebih menarik. Tatapannya beralih pada Allura, menemukan wanita itu yang bergeming dengan cara paling janggal. Napasnya jelas tertahan, matanya membelalak gentar, wajahnya yang memesona terlihat memucat, tangan kirinya tergantung tanggung di sisi tubuh. Geletar dalam mata hijau zaitun indahnya menerakan teror dan kengerian yang tengah dirasakan sang pemilik.
Masih dalam gestur terkendali, Summer sedikit menunduk sopan ke arah pasangan Meridian, menyertakan senyum tipis tenang—sesuatu yang Summer yakini akan diinterpretasikan berbeda oleh Archilles dan Allura.
...****...
ayo lanjut kak
sama2 orang aneh jadi nyambung obrolannya