Ella adalah siswi teladan yang hidupnya berubah menjadi mimpi buruk saat rahasia cintanya kepada Rizki, sang ketua kelas populer, terbongkar secara memalukan di depan sekolah. Di tengah pengkhianatan dan kehancuran martabatnya, muncul Wawan—siswa berandalan yang secara mengejutkan hadir sebagai pelindung. Tanpa Ella ketahui, Wawan membawa amanah rahasia dari masa lalu untuk menjaganya, meski akhirnya ia sendiri jatuh hati pada gadis itu.
DISCLAIMER :
Karya ini adalah fiksi. Nama, karakter, tempat, dan kejadian adalah produk imajinasi penulis atau digunakan secara fiktif. Kesamaan apa pun dengan orang sungguhan, hidup atau mati, atau peristiwa nyata adalah murni kebetulan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Layla Camellia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17: Perhatian dalam Diam
Ella melangkah gontai meninggalkan bayang-bayang pohon mahoni yang mulai memanjang tertimpa cahaya senja yang memudar. Di kejauhan, sosok Wawan masih bergeming di atas motor besarnya, seperti sebuah monumen kesetiaan yang tak tergoyahkan oleh waktu. Ella menarik napas panjang, mencoba mengisi dadanya yang sesak dengan keberanian. Ia sudah menyiapkan mental untuk menghadapi badai; ia membayangkan Wawan akan menghujaninya dengan pertanyaan posesif, sindiran tajam tentang "pangeran sekolah", atau mungkin kemarahan karena ia baru saja bertemu Rizki secara diam-diam di tempat yang sangat privat bagi mereka.
Namun, saat jarak mereka tinggal dua meter dan suara gesekan sepatu Ella di atas kerikil semakin jelas, Wawan hanya menoleh perlahan. Matanya yang biasanya tajam dan liar kini tampak redup, hampir datar tanpa emosi yang meluap.
"Sudah ngobrolnya?" tanya Wawan singkat. Suaranya terdengar berat, namun tidak ada nada tuduhan di sana. Pertanyaan itu mengalun begitu saja, seolah-olah mereka hanya membicarakan cuaca sore itu.
Ella tertegun, langkahnya terhenti. "E-eh? Iya, sudah," jawabnya terbata-bata. Ia sudah menyiapkan sejuta alasan dan pembelaan, namun respons Wawan yang begitu tenang justru membuatnya merasa seperti baru saja menabrak tembok kabut yang tebal.
Tanpa banyak kata dan tanpa menuntut penjelasan lebih lanjut, Wawan menyodorkan sebuah helm cadangan ke arah Ella. Helm itu masih terasa hangat, mungkin karena sudah terlalu lama terkena sinar matahari atau mungkin karena genggaman Wawan yang erat sedari tadi. "Ayo, aku antar pulang. Ini sudah terlalu sore untuk seorang juara umum berkeliaran sendirian," ujar Wawan dengan nada yang sangat datar, hampir seperti tidak ada hal luar biasa yang baru saja terjadi.
Ella menerima helm itu dengan perasaan bingung yang membuncah. Ia menatap Wawan dengan tatapan menyelidik, mencoba mencari percikan api cemburu yang biasanya meledak-ledak dari pria berandalan ini. "Kamu... nggak mau tanya sesuatu? Maksudku, kamu lihat aku berduaan sama Rizki di sana, kan?"
Wawan menghidupkan mesin motornya. Suara knalpot yang menderu memecah keheningan taman belakang sekolah yang mulai mencekam. Sebelum menjawab, ia menunjuk dengan dagunya ke arah balik sebuah pohon beringin besar di ujung taman. Di sana, di antara celah dedaunan yang rimbun, tampak sepotong kain seragam putih-abu dan siluet rambut panjang yang sangat dikenali Ella. Lia. Ternyata predator sekolah itu masih belum menyerah untuk mengawasi setiap gerak-gerik Rizki, dan mungkin sedang merencanakan racun baru untuk disebarkan.
"Aku khawatir kalau kamu nggak pulang denganku sekarang, singa betina itu pasti akan menerkammu lagi bersama kawanannya. Dia sudah mengintai dari tadi dengan tatapan yang sangat tidak bersahabat," ucap Wawan santai. Meski suaranya terdengar ringan, ada nada protektif yang sangat kental di sana. Wawan tidak cemburu pada Rizki saat ini; ia justru lebih mengkhawatirkan keselamatan Ella dari ancaman yang nyata.
Ella menoleh dan seketika bergidik ngeri saat menyadari Lia memang ada di sana, membuntutinya layaknya bayangan yang haus akan drama. Tanpa banyak bicara lagi, Ella langsung naik ke boncengan motor Wawan. Ia merasa bahwa di atas jok motor ini, setidaknya ia aman dari cakaran Lia.
Selama perjalanan melintasi jalanan kota yang mulai remang, suasana terasa sangat berbeda dari biasanya. Tidak ada candaan konyol yang memecah keheningan. Tidak ada teriakan "pegangan yang erat ya nanti jatuh cinta" yang biasa dilontarkan Wawan untuk menggodanya hingga wajahnya merah padam. Keheningan ini justru terasa lebih menekan daripada riuh rendah sekolah. Wawan fokus menatap aspal di depan, sementara Ella hanya bisa menatap punggung lebar Wawan yang terbungkus jaket hitam, bertanya-tanya apa yang sebenarnya sedang dipikirkan oleh laki-laki ini.
Sesampainya di depan gang sempit menuju rumah Ella, Wawan menghentikan motornya dengan halus. Ella turun, melepas helm, dan bersiap untuk mengucapkan terima kasih lalu segera masuk ke dalam rumah untuk menenangkan pikirannya yang kalut. Namun, sebelum ia sempat melangkah, Wawan merogoh sesuatu dari kantong jaketnya dan menyodorkan sebuah kantung plastik putih kecil dengan logo apotek terkenal.
"Ini," ujar Wawan singkat.
Ella menerima plastik itu dengan dahi berkerut. Ia mengintip isinya dan seketika matanya membelalak. Di dalam kantung kecil itu, terdapat dua strip obat lambung dosis tinggi dan sebotol cairan sirup pereda nyeri lambung.
"Ini... ini buat apa? Aku nggak minta ini?" tanya Ella bingung, menatap Wawan dengan pandangan tidak percaya.
"Tadi pas jam istirahat, aku lihat kamu lari ke toilet dengan wajah pucat dan muntah-muntah hebat. Aku sempat carimu di kelas setelah itu tapi kamu nggak ada, ternyata kamu tidur satu jam di klinik sekolah, kan?" suara Wawan melembut, tapi ada nada sedikit memarahi, seperti seorang kakak yang sedang menegur adiknya yang ceroboh. "Lain kali kalau mau belajar gila-gilaan buat ujian atau nunggu pengumuman, jangan pernah telat makan. Pintar boleh, La, jenius juga boleh, tapi jangan sampai menyiksa diri sendiri sampai tubuhmu protes begitu."
Ella terdiam membeku di tempatnya berdiri. Lidahnya mendadak kelu. Ia selalu mengira bahwa di tengah hingar-bingar pengumuman nilai dan riuhnya sekolah, tidak ada satu orang pun yang sadar kalau asam lambungnya sering naik karena stres belajar yang luar biasa. Ia pikir semua orang hanya peduli pada angka-angka di atas kertas piagamnya, bukan pada tubuhnya yang kelelahan dan lambungnya yang perih. Bahkan Rizki, yang baru saja menyatakan cinta padanya dengan kata-kata puitis, sama sekali tidak menyadari bahwa wajah Ella sedikit pucat sore itu.
"Kamu... lihat aku di toilet?" bisik Ella dengan suara yang nyaris hilang.
"Aku berdiri di depan pintu toilet perempuan selama lima belas menit sampai kamu keluar, memastikan kamu baik-baik saja dan tidak pingsan di dalam tanpa perlu aku masuk ke dalam dan bikin skandal baru," jawab Wawan sambil memakai kembali helmnya, menutupi sebagian wajahnya yang kini tampak lelah. "Diminum obatnya sebelum tidur. Dan satu lagi, jangan dipikirin terus omongan Rizki tadi sampai bikin lambungmu perih lagi. Fokus saja untuk sembuh dulu."
Wawan tidak menunggu jawaban atau ucapan terima kasih dari Ella. Ia hanya memberikan lambaian tangan singkat, lalu memutar gas motornya. Suara deru mesinnya perlahan menjauh dan akhirnya menghilang ditelan kegelapan malam, menyisakan kepulan asap tipis di udara dingin.
Ella berdiri mematung di depan gang rumahnya yang sepi, mendekap kantung plastik berisi obat itu erat-erat di depan dadanya. Air mata hampir saja menetes di sudut matanya. Ia merasakan konflik batin yang semakin hebat. Di satu sisi, ada Rizki yang menjanjikan masa depan cerah, status yang jelas, dan kehidupan kampus yang prestisius bersamanya. Tapi di sisi lain, ada Wawan—si berandalan yang sering dianggap sampah masyarakat—tapi dia adalah satu-satunya orang yang tahu kapan perut Ella sedang sakit di sela-sela keramaian sekolah yang egois. Rizki mencintai masa depannya, tapi Wawan mencintai keberadaannya saat ini, bahkan di saat-saat paling tidak menarik sekalipun.