NovelToon NovelToon
Pendekar Naga Bintang : Perjalanan Yang Sesungguhnya

Pendekar Naga Bintang : Perjalanan Yang Sesungguhnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Fantasi Timur / Anak Genius / Kebangkitan pecundang / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:110.8k
Nilai: 5
Nama Author: Boqin Changing

Lanjutan dari Novel Pendekar Naga Bintang

Gao Rui hanyalah murid lemah di Sekte Bukit Bintang, bocah yatim berusia tiga belas tahun tanpa latar belakang, tanpa pelindung, dan tanpa bakat mencolok. Setelah gurunya, Tetua Ciang Mu, gugur dalam sebuah misi, hidup Gao Rui berubah menjadi rangkaian hinaan dan penyingkiran. Hingga suatu hari, ia hampir mati dikhianati oleh kakak seperguruannya sendiri. Dari ambang kematian, Gao Rui diselamatkan oleh Boqin Changing, pendekar misterius yang melihat potensi tersembunyi dalam dirinya.

Di bawah tempaan kejam Boqin Changing di dunia khusus tempat waktu mengalir berbeda, Gao Rui ditempa bukan untuk cepat menjadi kuat, melainkan untuk tidak runtuh. Ketika kembali, ia mengejutkan sekte dengan menjuarai kompetisi bela diri dan mendapat julukan Pendekar Naga Bintang. Namun perpisahan dengan gurunya kembali memaksanya berjalan sendiri. Kali ini, Gao Rui siap menghadapi dunia persilatan yang kejam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bocah Yang Tidak Normal

Pemimpin perampok itu segera menarik napas dalam-dalam, lalu menurunkan sedikit sikap agresifnya. Ia melangkah maju setengah langkah dan menangkupkan tangan dengan sopan ke arah Tetua Peng Bei.

“Senior Bei,” katanya dengan nada yang jauh lebih ramah dibanding sebelumnya, “kami tidak berniat menyinggung Sekte Bukit Bintang. Karena senior sudah turun tangan, kami akan pergi sekarang juga.”

Ia memberi isyarat cepat pada anak buahnya. Beberapa perampok yang masih hidup tampak ragu, namun melihat sorot mata pemimpin mereka, mereka perlahan mundur, seakan benar-benar berniat mengakhiri urusan ini tanpa perlawanan lebih lanjut.

Namun sebelum suasana benar-benar mereda, Tetua Peng Bei justru menoleh ke samping. Pandangannya jatuh pada Gao Rui.

“Rui’er,” ucapnya pelan namun jelas, “apakah kau tidak masalah… menyaksikan pembunuhan?”

Pertanyaan itu membuat beberapa perampok kembali menegang. Pemimpin mereka mengernyit, firasat buruk tiba-tiba muncul di hatinya.

Gao Rui tidak langsung menjawab. Ia menatap medan di hadapannya, mayat-mayat pengawal yang tergeletak, darah yang menghitam di tanah, dan wajah-wajah perampok yang penuh kekerasan. Lalu ia mengangkat kepala, menatap Tetua Peng Bei dengan ekspresi tenang yang tidak sesuai dengan usianya.

“Tidak masalah,” jawabnya jujur. “Aku sudah terbiasa melihatnya… dari guruku.”

Kalimat itu sederhana, namun membuat udara di sekitar seakan membeku. Tetua Peng Bei menatap bocah di sampingnya selama sesaat, lalu tersenyum tipis. Senyum itu cepat menghilang, digantikan ketenangan dingin yang jauh lebih berbahaya.

“Aku mengerti,” katanya singkat.

Ia mengangguk pelan. Tangan Tetua Peng Bei terangkat. Dari telapak tangannya, cahaya kuning lembut memancar, semakin lama semakin terang. Energi itu berkumpul, memadat, lalu perlahan membentuk sebuah pedang cahaya yang panjang dan tajam. Pedang itu bergetar halus, memancarkan tekanan yang membuat lutut para perampok hampir goyah.

Tatapan Tetua Peng Bei menyapu mereka satu per satu.

“Orang-orang seperti kalian,” ucapnya dingin, “tidak berhak hidup di dunia ini.”

Begitu kata-kata itu berakhir, tubuhnya lenyap dari tempatnya berdiri. Cahaya kuning melesat di antara barisan perampok. Jeritan singkat terdengar, disusul suara tubuh-tubuh yang roboh ke tanah. Gerakan Tetua Peng Bei cepat dan efisien, setiap ayunan pedang cahaya mengambil satu nyawa. Tidak ada darah yang berceceran berlebihan hanya kematian yang datang dengan pasti.

Di sisi lain medan, pemimpin perampok membelalakkan mata. Ketakutan murni akhirnya menghancurkan sisa ketenangannya. Ia berbalik dan berlari menuju salah satu kereta kuda milik Keluarga Ao.

“Buka!” teriaknya panik sambil menghantam pintu kereta.

Ia menarik paksa seorang pria muda dari dalam. Pria itu mengenakan pakaian mewah, wajahnya pucat pasi. Tanpa ragu, pemimpin perampok menempelkan pisau ke lehernya.

“Jangan mendekat!” teriaknya dengan suara bergetar. “Satu langkah lagi, aku bunuh dia!”

Namun ancaman itu datang terlambat. Tetua Peng Bei telah selesai. Dalam waktu singkat, seluruh kawanan perampok telah tewas, tubuh mereka tergeletak tak bernyawa di tanah. Hanya satu orang yang tersisa, pemimpin mereka.

Pemimpin perampok itu gemetar hebat. Matanya liar, napasnya tersengal.

“Senior… mohon…” katanya terputus-putus. “Lepaskan aku. Aku… aku akan membawa tuan muda Keluarga Ao pergi. Aku bersumpah, aku akan melepaskannya saat situasi aman!”

Pisau di tangannya sedikit bergetar, namun tetap menempel di leher sandera. Tetua Peng Bei berhenti beberapa langkah dari mereka. Ia memandang kejadian di depannya dengan sorot mata dalam, jelas sedang menimbang langkah terbaik. Menyerang secara langsung berisiko melukai sandera. Namun membiarkan orang ini pergi juga bukan pilihan yang bisa diterima.

Saat ia masih berpikir, pandangannya tanpa sadar bergeser ke arah Gao Rui.

Bocah itu berdiri tenang. Kedua tangannya bergerak perlahan, membentuk gerakan aneh, seolah sedang menarik benang yang tak terlihat. Alis Tetua Peng Bei terangkat sedikit.

Beberapa detik kemudian, pemimpin perampok itu mendadak menjerit kaget.

“Apa....apa ini?!” teriaknya.

Tangannya yang menodongkan pisau tiba-tiba bergerak menjauh dari leher sandera, seakan ada kekuatan tak kasatmata yang memaksanya menarik tangan itu.

“Apa yang kau lakukan padaku?!” teriaknya panik. “Kenapa tanganku bergerak sendiri?!”

Kesempatan itu tidak disia-siakan. Tuan muda Keluarga Ao mendorong tubuh perampok itu sekuat tenaga dan bergegas kabur, berlari menjauh tanpa menoleh lagi.

Tetua Peng Bei tidak langsung menyerang. Ia justru memperhatikan sesuatu yang tidak biasa. Matanya menyipit.

Ia melihat bayangan Gao Rui di tanah… memanjang. Bayangan itu menyatu dengan bayangan pemimpin perampok. Tubuh pria itu menegang, gerakannya semakin kacau, seolah dirinya bukan lagi penguasa tubuhnya sendiri.

Mata Tetua Peng Bei membelalak tipis.

“Pengendali bayangan…” gumamnya pelan. “Jurus tingkat tinggi… dan sangat rumit.”

Ia menatap Gao Rui dengan keterkejutan yang sulit disembunyikan. Bocah itu… jauh lebih dalam daripada yang pernah ia bayangkan.

Gao Rui akhirnya angkat bicara. Suaranya tenang, datar, nyaris tanpa emosi sedikit pun.

“Takdirmu sudah ditentukan,” katanya perlahan. “Sejak hari kau bertemu… denganku.”

Pemimpin perampok itu mendongak dengan wajah penuh kebingungan dan ketakutan. Ia tidak memahami makna kata-kata bocah di hadapannya, namun firasat buruk yang luar biasa kuat mencengkeram jantungnya.

“Bocah sialan… apa yang kau...”

Ia tidak sempat menyelesaikan kalimatnya. Tanpa ragu sedikit pun, Gao Rui kembali menggerakkan tangannya.

Gerakannya sederhana. Hanya tarikan kecil, seolah menarik benang tipis di udara. Namun pada saat yang sama, bayangannya di tanah bergetar hebat. Bayangan itu menegang, lalu mencengkeram bayangan pemimpin perampok dengan kekuatan mutlak.

“Tidak!” teriak pemimpin perampok itu.

Pisau yang sebelumnya telah menjauh dari leher sandera tiba-tiba berbalik arah. Tangannya bergerak cepat, brutal, sepenuhnya di luar kendalinya sendiri. Dalam satu tarikan tajam, mata pisau itu melesat ke depan.

Tusss!

Pisau itu menghantam tepat ke jantungnya sendiri. Mata pemimpin perampok itu membelalak lebar. Mulutnya terbuka, namun yang keluar hanyalah semburan darah kental. Darah juga mengalir deras dari dadanya, membasahi pakaian lusuh yang dikenakannya.

Tubuhnya terhuyung beberapa langkah, lututnya melemas, lalu ia ambruk ke tanah dengan suara berat. Hening. Sangat hening.

Hanya suara darah yang menetes ke tanah dan napas terakhir yang keluar terputus-putus dari tubuh yang sekarat itu. Beberapa detik kemudian, mata pemimpin perampok itu kehilangan cahaya sepenuhnya. Tubuhnya tak lagi bergerak. Mati.

Tetua Peng Bei berdiri kaku di tempatnya. Ia menatap mayat itu, lalu perlahan memalingkan pandangan ke arah Gao Rui. Untuk pertama kalinya sejak ia turun tangan, ekspresi tenangnya benar-benar runtuh.

Ia tidak bisa menahan keterkejutannya. Bocah itu… tidak hanya menyaksikan pembunuhan tanpa rasa takut. Ia juga telah melakukan pembunuhan dengan tangannya sendiri.

Lebih dari itu cara membunuhnya membuat bulu kuduk Tetua Peng Bei merinding. Gao Rui tidak mengotori tangannya dengan darah. Ia tidak menyerang secara langsung. Ia bahkan tidak menyentuh korbannya. Ia membunuh… menggunakan tangan orang lain.

“Ini…” Tetua Peng Bei bergumam pelan. “Metode yang kejam… dan sadis.”

Ia adalah pendekar berpengalaman, seseorang yang telah melihat cukup banyak kematian sepanjang hidupnya. Namun apa yang dilakukan Gao Rui barusan tetap terasa berbeda. Ada ketenangan dingin di balik tindakan itu. Sebuah ketegasan yang tidak lazim dimiliki oleh anak seusianya.

Gao Rui menurunkan tangannya. Bayangan di tanah kembali ke bentuk semula, seakan tidak pernah terjadi apa-apa. Wajahnya tetap datar, tanpa rasa puas, tanpa rasa menyesal. Seolah pembunuhan barusan hanyalah hasil dari sebuah keputusan logis.

“Dia memilih jalan ini,” kata Gao Rui pelan. “Aku hanya… menutupnya.”

Tatapan Tetua Peng Bei semakin dalam. Untuk beberapa saat, ia tidak berkata apa pun. Lalu ia menarik napas panjang dan mengangguk perlahan, seolah menerima kenyataan yang baru saja ia saksikan.

“Rui’er,” ucapnya akhirnya, suaranya lebih berat dari sebelumnya. “Mulai hari ini… kau harus berhati-hati.”

Ia melangkah mendekat, menepuk pundak Gao Rui dengan lembut namun penuh makna.

“Kekuatan seperti milikmu,” lanjutnya, “akan selalu menarik darah dan bencana.”

Gao Rui tidak menjawab. Ia hanya menatap tanah yang kini dipenuhi mayat perampok, matanya tenang, seakan sudah lama memahami kebenaran itu.

1
Zainal Arifin
joooooooosssss 💪💪💪
Kadek Erdiyasa
semangat thor💪💪 perbanyak lgi upnya mkin seru critanya ni
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
Mahayabank
Yaudah lanjuuuut lagi 🔁🔁
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
Eko Lana
mantap ayooo tunjukkan kemampuan mu Gao Rui
Andi Heryadi
ayo Gao Rui basmi semua siluman,biar mereka tahu kehebatanmu.
Tosari Agung
persis seperti gurunya chang er muridmu berkembang
Mamat Stone
🐲💥
Mamat Stone
Pria sejati 😈💥
Mamat Stone
🔪💥
Mamat Stone
👊💥
Mamat Stone
/Determined/
Mamat Stone
/Angry/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Tongue/
Mamat Stone
/Drool/
Mamat Stone
💥
Mamat Stone
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!