"Saya tidak menuntutmu untuk langsung mencintai saya, Hannah. Saya hanya memintamu mengizinkan saya menjadi imammu."
Hannah Humaira (20) baru saja ingin menikmati masa mudanya usai lepas dari asrama pesantren. Sayangnya, skenario hidupnya berubah total saat ia dijodohkan dengan Muhammad Akbar (28).
Akbar itu kaku, dewasa, dan terlalu serius. Sangat berbeda dengan Hannah yang ceria dan masih ingin bebas. Tapi, siapa sangka di balik sikap tenangnya, Akbar menyimpan berjuta cara manis untuk memuliakan istrinya.
Ini bukan tentang cinta pada pandangan pertama. Ini kisah tentang Hannah yang belajar menerima, dan Akbar yang tak lelah menunggu. Akankah hati Hannah luluh oleh kesabaran suaminya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 : Dua Dunia, Satu Muara
Satu bulan telah berlalu sejak Hannah pertama kali menginjakkan kaki di kampus dengan lutut gemetar. Kini, lorong-lorong Fakultas Ilmu Budaya tak lagi terasa seperti labirin raksasa yang menakutkan. Hannah Humaira telah bertransformasi.
Ia bukan lagi "anak kucing hilang" yang berdiri bingung di pintu aula. Ia kini adalah Hannah, mahasiswa Sastra Indonesia yang aktif, rajin, dan memiliki lingkaran pertemanan kecil yang solid.
Siang itu, di kantin fakultas yang riuh rendah oleh suara denting sendok, teriakkan penjual es, dan obrolan mahasiswa, Hannah duduk diapit oleh Rere dan Sinta. Di hadapan mereka, tersaji tiga piring batagor bumbu kacang dan es teh manis yang gelasnya mulai berembun karena panasnya udara siang.
"Gila, Pak Irwan kalau ngasih tugas nggak ngotak banget, sih!" keluh Rere sambil menusuk batagornya dengan garpu secara dramatis, seolah batagor itu adalah pelampiasan kekesalannya. "Masa kita disuruh analisis morfologi lima cerpen dalam seminggu? Dia pikir gue kamus berjalan apa?"
Sinta, yang sedang membaca buku sambil makan kebiasaan kutu buku yang tidak bisa diubah membetulkan letak kacamatanya yang melorot. "Itu karena kamu kebanyakan main, Re. Kemarin diajak ngerjain di perpustakaan malah kabur ke mal nonton bioskop."
Hannah tertawa kecil mendengar perdebatan rutin dua sahabatnya itu. "Udah, jangan ribut. Nanti malam aku bantuin bedah strukturnya. Aku sudah paham polanya Pak Irwan. Tapi syaratnya, kalian yang ketik laporannya sampai rapi, ya?"
"Ah, Hannah emang malaikat penolong tanpa sayap!" seru Rere girang, hendak memeluk Hannah tapi tertahan meja kantin yang lengket. "Lo emang terbaik, Han. Untung gue nemu lo di aula waktu itu. Kalau nggak, mungkin gue udah DO dini."
Hannah tersenyum simpul. Ia merasa nyaman. Di sini, ia bisa menjadi dirinya sendiri seorang gadis dua puluh tahun yang menyukai sastra, tertawa mendengar gosip kampus, dan pusing memikirkan tugas. Rere dan Sinta masih belum tahu status pernikahannya. Bagi mereka, Hannah adalah anak rumahan dengan orang tua (yang mereka asumsikan) super ketat karena Hannah selalu menolak diajak nongkrong sampai malam.
Ting!
Ponsel Hannah di atas meja bergetar. Layarnya menyala, menampilkan notifikasi pesan WhatsApp.
Mas Akbar:
Dek, Mas lembur lagi hari ini. Mungkin pulang jam 9 malam. Kamu jangan lupa makan, kunci pintu kalau sudah sampai rumah. Maaf ya.
Senyum di wajah Hannah sedikit memudar. Ini sudah hari ketiga berturut-turut Akbar pulang larut malam. Proyek jembatan yang ditangani suaminya sedang dalam fase krusial, ditambah masalah beton retak minggu lalu yang membuat ritme kerja Akbar menjadi gila-gilaan.
"Siapa, Han? Bokap lo?" tanya Rere, melirik sekilas ke layar ponsel Hannah yang buru-buru dibalik.
"Eh? Iya... orang rumah. Biasa, nanyain udah pulang belum," dusta Hannah, merasa sedikit bersalah karena harus berbohong.
"Posesif amat ya keluarga lo. Padahal baru jam dua siang," komentar Rere geleng-geleng kepala.
Hannah hanya tersenyum kecut. Bukan posesif, Re. Tapi perhatian, batinnya membela sang suami.
Di lubuk hatinya, ada rasa rindu yang menyelip. Seminggu ini interaksinya dengan Akbar sangat minim. Pagi hari saat Hannah bangun, Akbar sudah rapi siap berangkat. Malam hari saat Akbar pulang, Hannah kadang sudah tertidur di sofa karena lelah mengerjakan tugas. Obrolan mereka hanya seputar "sudah makan?" dan "hati-hati di jalan".
Hannah merindukan momen di mobil. Momen bercerita panjang lebar. Momen menjadi prioritas utama.
Sementara itu, di sisi lain kota, di tengah debu dan deru alat berat yang memekakkan telinga.
Muhammad Akbar berdiri di bawah terik matahari yang menyengat, mengenakan rompi oranye keselamatan dan helm proyek putih bertuliskan "Site Manager". Wajahnya yang biasanya bersih dan segar kini tertempel debu halus proyek. Keringat membasahi kemeja kerjanya hingga punggung, menciptakan peta kelelahan yang nyata.
"Pastikan crane di sektor B beroperasi sesuai SOP! Saya nggak mau dengar ada human error lagi! Cek kabel sling-nya sekarang!" teriak Akbar pada mandor lapangan, suaranya bersaing dengan suara mesin bor dan truk molen.
Akbar lelah. Sangat lelah.
Otot-otot kakinya terasa kaku karena seharian berjalan mengelilingi area proyek seluas dua hektar. Kepalanya pening memikirkan deadline yang semakin mepet dan revisi anggaran dari klien. Ponselnya terus berdering klien, vendor, kantor pusat semua menuntut perhatian dan keputusannya detik itu juga.
Di tengah kekacauan itu, Akbar menepi sejenak ke pos direksi keet yang ber-AC. Ia melepas helmnya, mengusap wajahnya yang kusam dengan tisu basah. Ia merogoh saku celana, mengeluarkan ponselnya yang panas.
Ia membuka galeri, menatap satu foto yang ia ambil diam-diam seminggu lalu: foto Hannah yang sedang tertidur di mobil dengan mulut sedikit terbuka saat perjalanan pulang kuliah. Wajah polos itu terlihat damai.
Sudut bibir Akbar terangkat membentuk senyum tipis. Rasa lelahnya menguap sedikit.
Ia merasa bersalah. Ia sadar beberapa hari ini ia mengabaikan Hannah. Ia tidak sempat mendengarkan cerita istrinya tentang Rere yang heboh atau tentang Pak Irwan yang killer. Ia rindu suara cempreng Hannah saat protes, rindu aroma masakan Hannah yang menyambutnya, rindu keberadaan gadis itu di sisinya yang selalu meneduhkan.
"Sabar ya, Bar. Tiga hari lagi pengecoran utama selesai. Habis itu lu bisa ambil cuti sehari buat pacaran halal," gumamnya pada diri sendiri, menyemangati jiwanya yang mulai kerontang.
"Pak Akbar? Dicari Pak Haryo di depan, ada masalah dengan truk logistik," panggil seorang staf, membuyarkan jeda istirahat singkat itu.
Akbar menghela napas panjang, mengenakan kembali helmnya dengan berat hati. "Ya, saya ke sana."
Pukul sembilan lewat lima belas malam.
Suara pagar digeser terdengar. Hannah, yang sedang melipat pakaian di ruang tengah sambil menonton TV, langsung berdiri. Telinganya sudah hafal betul suara mesin mobil suaminya.
Hannah berlari kecil ke depan, membuka pintu utama bahkan sebelum Akbar sempat mengetuk.
Di teras yang remang, disinari lampu taman kekuningan, Akbar berdiri. Ia tampak kacau. Kemejanya kusut, lengan bajunya digulung asal, dasinya sudah hilang entah ke mana, dan matanya merah karena kurang tidur. Namun, begitu melihat Hannah berdiri di ambang pintu dengan senyum menyambut, bahu tegap yang tegang itu perlahan rileks.
"Assalamualaikum," suara Akbar terdengar serak, nyaris hilang.
"Wa’alaikumsalam, Mas Akbar," jawab Hannah lembut.
Hannah maju selangkah, meraih tangan kanan Akbar, menciumnya, lalu mengambil alih tas kerja yang berat dari tangan suaminya.
"Mas capek banget ya?" tanya Hannah, menatap wajah lelah itu dengan khawatir.
Akbar tidak langsung menjawab. Ia menatap istrinya wajah segar Hannah, aroma sabun mandi yang wangi, dan gamis rumahan yang nyaman. Tanpa peringatan, Akbar menjatuhkan kepalanya ke bahu Hannah. Bersandar di sana.
Hannah terpatung kaget. Tubuh Akbar berat, menumpu padanya. Ini pertama kalinya Akbar melakukan kontak fisik se-intim dan se-rapuh ini. Biasanya Akbar selalu menjaga wibawa.
"Baterai Mas habis, Dek..." gumam Akbar di ceruk leher Hannah, suaranya teredam kain jilbab. "Butuh di-charge sebentar."
Jantung Hannah berdegup kencang, tapi naluri keibuannya (atau keistriannya) mengambil alih. Ia tidak menolak. Tangan Hannah terangkat ragu-ragu, lalu menepuk-nepuk punggung lebar suaminya dengan lembut.
"Ya sudah, ayo masuk. Hannah sudah masakin sup ayam jahe. Mas mandi air hangat dulu, biar Hannah siapin airnya," bujuk Hannah pelan seperti membujuk anak kecil.
Akbar mengangkat kepalanya perlahan, menatap mata Hannah dalam-dalam. "Terima kasih sudah menunggu Mas pulang. Maaf Mas telat terus."
"Itu kan tugas Hannah, Mas. Nggak usah minta maaf," jawab Hannah tersipu.
Malam itu, meja makan menjadi saksi bisu kehangatan sederhana mereka. Akbar makan dengan lahap seolah tidak makan seharian, sementara Hannah duduk di depannya, menopang dagu, menceritakan kejadian di kantin tadi siang untuk mengisi kesunyian.
Hannah bercerita tentang tugas Pak Irwan yang tidak masuk akal, tentang Rere yang dramatis, dan tentang batagor yang enak. Akbar mendengarkan sambil mengunyah, sesekali tertawa kecil, menanggapi dengan pertanyaan pendek.
Bagi Hannah, dunia kuliahnya memang seru dan penuh warna. Tapi saat melihat mata lelah Akbar yang kembali berbinar saat mendengarkan ceritanya, Hannah sadar satu hal:
Dunia luarnya boleh saja luas dan menarik, tapi "rumahnya" ada di sini. Di meja makan sederhana ini, bersama pria pekerja keras yang rela membagi sisa energinya hanya untuk mendengarkan celotehannya.
"Besok Mas usahakan pulang cepat," janji Akbar setelah menghabiskan supnya hingga tandas. "Kita makan malam di luar ya? Mas ingin nebus waktu yang hilang minggu ini."
Mata Hannah berbinar. "Beneran, Mas?"
"Insya Allah. Janji."
Malam itu, mereka tidur di kamar masing-masing seperti biasa (pintu kamar Hannah masih dikunci dari dalam atas kesepakatan mereka di awal pernikahan), tapi jarak di antara hati mereka semakin menipis. Kesibukan dan dunia baru tidak memisahkan mereka, justru membuat waktu pertemuan menjadi jauh lebih berharga.