Dalam imajinasiku, wajah Henri yang bagian kiri sangatlah buruk, jadi dia memakai topeng.
Rania POV
Aku tulus mencintaimu Tuanmuda, walaupun orang menganggap mu hanya seorang monster.
Cintaku tanpa syarat, itulah yang aku rasakan dengan suamiku.Disaat orang - orang menatapnya dengan tatapan takut.
Tapi aku justru,selalu ingin dekat dengannya.Karena aku sangat mencintainya, walaupun ia selalu meragukan perasaanku padanya.
Karena ia mengira perasaan cintaku, hanya rasa kasian ku padanya, akibat wajahnya yang buruk rupa.
Henri pov.
Apakah dia betul-betul mencintaiku, atau rasa kasian,karena kami menikah atas dasar paksaan dariku, sebab orang tuanya mempunyai banyak hutang padaku.
Tapi aku tidak pernah berharap dia mencintaiku, karena aku menyadari kekuranganku,dengan wajahku yang bak monsther, tidak mungkin ada wanita yang mau mencintaiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon popyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep.23.Wajahku kembali.
🏥 Rumah sakit🏥
Kini lampu kamar operasi telah mati, yang menandakan operasi telah selesai.
Pintu ruang operasi terbuka, dan tampak sosok pria paruh baya bermata sipit, yang tak lain adalah Dokter Kim.
Melihat Dokter Kim keluar dari ruang operasi, Jhon langsung menghampiri pria paruh baya itu, untuk menanyakan bagaimana operasinya.
" Bagaimana Dokter, apakah operasinya berhasil?" Tanya Jhon, dengan kegusaran yang teramat sangat.
Dokter Kim hanya tersenyum, saat mendenga pertanyaan itu.
"Operasinya berhasil Tuan, kita tinggal tunggu pemuluhan saja, untuk membuka ferban yang menutupi wajah Tuan Henri."
Senyuman membingkai diwajah tampannya, saat mendengar ucapan Dokter Kim.
"Terimah kasih Dokter ,terimah kasih."
Semua yang tengah menunggu diruang operasi nampak bahagia, begitu pun juga dengan Rania, dia tampak begitu bahagia saat mendengar operasi suaminya berjalan lancar.
Ada rasa bahagia, ada juga rasa takut yang menyelimuti dirinya saat ini.Dia terlihat begitu takut, dicampakkan Suaminya.
" Nona ,apakah anda dengar tadi perkataan Dokter, kalau operasi Tuan muda berhasil. Itu berarti wajah Tuan Henri, akan kembali ke semula.Dan Tuan muda tidak perlu memakai topeng lagi." Seru Sophia, yang terlihat bahagia.
"Iya Bi, aku dengar. Aku juga turut bahagia, tuan muda Henri akan kembali menjalani kehidupan yang normal kembali. Serunya, dengan memaksa tersenyum, padahal dirinya tengah gundah.
Semuanya begitu sibuk dengan urusan mereka masing - masing, begitupun juga dengan Jhon yang mengurus segala administrasinya.Sementara Bibi Sophia menunggu Henri, yang belum sadarkan diri hingga saat ini.
Rania menapaki kakinya menuju taman, yang tersedia dibelakang rumah sakit.
Ia duduk di bangku taman, dan memandang keindahan taman dengan tatapan kosong.
Rasa takut di campakan, dan di usir semakin menjadi di dalam diri Rania.
" Kenapa aku jadi seperti ini, sebenarnya aku harus bahagia karena Tuan muda akan menjalani kehidupan normalnya kembali. Tuhan.., kenapa aku terlalu mencintai dia, hingga membuatku sakit sendiri. Apa yang harus aku lakukan dengan perasaan ini, kenapa begitu menyakitkan mencintai seseorang secara sepihak. Gumamnya, dengan tetesan bening yang sudah menetes.
Rania terus menatap keidahan taman, dan duduk termenung, hingga telepon masuk menyadarkannya dari lamunan.
Menekan tombol hijau, saat melihat di layar phonselnya, yang menelponenya adalah Jhon, sekretaris pribadi Suaminya.
📲 Percakapan lewat phonshel📱
Rania:" Hallo sekretaris Jhon, ada apa?
Jhon:" Anda di mana Nona?"
Rania:" Aku lagi di taman belakang rumah sakit , sekretaris Jhon, ada apa?"
Jhon:" Aku minta, anda segera kesini Nona."
Rania :" Baiklah sekretaris Jhon, aku akan segera kesana.
Sembari menutup teleponnya.
********
Besok hari di Rumah sakit Medica.
Detik terus berjalan, hingga pagipun menyambut.
Tampak diruangan, tampak disebuah kamar, tampak Rania, Jhon, dan Bibi Sophia.
Mereka tengah menunggu detik - demi detik dimana perban yang melekat pada wajah Henri, akan segera dibuka.
" Anda siap Tuan?, saya akan membuka perbannya sekarang." Tanya, sang Dokter Kim.
Lelaki tampan itu hanya mengangguk, untuk menjawab pertanyaan Dokter Kim.
Dokter Kim mulai, membuka secara perlahan perban yang membalut wajah Henri, semua yang berada di dalam ruangan itu tampak sedikit tegang, karena sudah tidak sabar ingin melihat hasil dari operasi bedah plastik yang di lakukan Henri.
Perban yang membalut semua wajahnya pria tampan itu, kini telah terlepas sempurnah. Semuanya begitu terkesima, dan juga menangis haru.Karena hasil operasinya pada wajah Henri, berhasil.
Kini wajah Henri terlihat sama, dengan wajah sisi kanannya.
" Buka mata anda Tuan?" Titah Dokter Kim
Henri membuka matanya perlahan, dan tangan kanannya, memegang wajah sisi kirinya yang telah di bedah.
" Ini cerminnya Tuan." Dengan menyerahkan, sebuah kaca agar Henri bisa melihat wajahnya.
Henri meraih cermin tersebut untuk melihat wajahnya, dan betapa sangat terkejutnya ia saat melihat wajahnya yang sudah kembali normal.
Pria tampan itu, tak sanggup menyembunyikan kebahagiaannya, bertahun -tahun hidup dalam kegelapan, dan menutup diri dari dunia luar kini ia bisa menjalani kembali kehidupan normal.
" Wajah ku kembali , wajahku sudah kembali " Serunya, sembari menangis karena terlalu bahagia.
Semua yang berada di dalam ruangan itu, ikut menitikkan air mata bahagianya, saat melihat kebahagian yang dirasakan Henri Wilson.
Sophia menghampiri lelaki yang sudah dianggapnya itu, sembari merangkulnya penuh kelembutan, dan kasih sayang.
" Bibi ikut senang anakku, kau bisa kembali menjalani, kehidupan normalmu kembali." Dengan memeluk tubuh lelaki tampan itu.
Jhon pun melakukan hal yang sama juga, dia juga tak lupa memberikan selamat pada Tuanmudanya, atas keberhasilan operasinya.
" Selamat Tuan."
" Terimah kasih Jhon."
" Oke semuanya sudah selesai, Tuan bisa menjalani aktifitas Tuan, secara normal setelah satu bulan, karena perlu pemulihan." Seru Dokter Kim, pada Henri sesuai prosedurnya.
" Terimah kasih Dokter"
" Baiklah kalau begitu kami permisi dulu." Pamit Dokter Kim, dengan berlalu keluar dari ruangan itu.
Suasana hening seketika, Rania tampak canggung, karena tinggal dia saja yang belum memberi ucapan selamat, pada Henri Wilson.
" Ayo Jhon kita keluar." Titah Sophia, yang sengaja ingin, meninggalkan pasangan suami istri itu.
" Ayo Bibi." Ajak Jhon, yang mengiyakan ajakan Sophia, sembari berjalan beriringan dari ruangan itu.
Susana tampak canggung, saat perginya Jhon, dan Bibi Sophia.
Hening
Hening
Hening
Henri menatap tajam Rania, yang tampak menunduk.
" Mau sampai kapan kau berdiri disitu, apakah kau tidak akan memberikan aku selamat..?" Bertanya, dengan tatapan kesal menatap istrinya.
" Maafkan aku Tuan." Jawabnya ,mencoba untuk tersenyum, ditengah canggungnya suasana.
Melangkahkan kaki secara perlahan menghampiri suaminya, dan disaat mendekat dia langsung memeluk erat tubuh lelaki tampan itu.
" Selamat Tuan, aku turut bahagia untukmu."
Henri tampak tertawa bahagia, saat mendapat pelukan dari istrinya.
sayang kan kalau cerita bagus, tapi bahasa ga enak dibaca, bikin males.