Putri Liliane Thalassa Serene, terlahir sebagai keajaiban yang dijaga Hutan Moonveil. Di hutan suci itulah Putri Lily tumbuh, mencintai kebebasan, menyatu dengan alam, dan dipercaya Moonveil sebagai Putri Hutan.
Ketika Kerajaan Agartha berada di ambang kehancuran atas serangan nyata datang dari Kingdom Conqueror, dipimpin oleh King Cristopher, sang Raja Penakluk. Lexus dan keluarganya dipanggil kembali ke istana.
Api peperangan melahap segalanya, Agartha runtuh. Saat Putri Lily akhirnya menginjakkan kaki di Agartha, yang tersisa hanyalah kehancuran. Di tengah puing-puing kerajaan itu, takdir mempertemukannya dengan King Cristopher, lelaki yang menghancurkan negerinya.
Sang Raja mengikatnya dalam hubungan yang tak pernah ia pilih. Bagaimana Putri Liliane akan bejuang untuk menerima takdir sebagai milik Raja Penakluk?
Disclaimer: Karya ini adalah season 2 dari karya Author yang berjudul ‘The Forgotten Princess of The Tyrant Emperor’.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Putri Biasa
LIly menghitung sudut bintang terhadap garis geladak, memperkirakan kemiringan kapal akibat ombak, lalu menarik napas perlahan. Peta langit tersusun rapi di kepalanya. Arah utara yang berada di posisi tetap, menunjukkan lintasan barat yang harus mereka kejar untuk keluar dari pusaran badai menuju Kingdom Conqueror.
Seekor burung laut melintas rendah di atas kepala mereka, sayapnya berteriak melawan angin. Lily menoleh, memperhatikan arah terbangnya. Bukan satu, melainkan dua ekor, lalu tiga, mereka datang dari arah yang sama, terbang condong mengikuti arus udara yang lebih stabil.
“Angin mendorong dari tenggara,” kata Lily tenang. “Burung-burung itu tidak akan melawan arus yang mematikan.”
Ia menunjuk ke arah yang sedikit menyimpang dari haluan kapal saat ini.
“Sebaiknya arahkan kapal ke sana… barat-barat laut.”
Ruangan kemudi hening. Ombak masih menghantam, kayu kapal masih mengerang, namun kata-kata Lily terasa seperti jangkar yang menahan kepanikan.
Nahkoda buru-buru memberi aba-aba. Kemudi diputar, layar disesuaikan, tali ditarik dan dikunci. Kapal berderit keras, seolah menolak sesaat, lalu perlahan mengikuti arah baru.
“Bagaimana… bagaimana Anda bisa membaca semua itu, Putri?” tanya nahkoda akhirnya, suaranya penuh kagum sekaligus heran. Bagaimana seorang putri bisa memahami arah lewat bintang dan burung? Bahkan ia yang menghabiskan hampir separuh hidupnya di laut, kesulitan memahaminya.
Putri Lily tersenyum tipis, senyum bangga sekaligus senyum seseorang yang sedang mengingat kenangan indah di masa lalu.
“Ayahandaku,” katanya pelan, “telah mengirimkan obat-obatan ke negeri-negeri jauh ratusan bahkan ribuan kali. Ia bisa membaca angin, dan memahami bintang sebagaimana orang lain memahami huruf.”
Langkahnya berbalik meninggalkan ruang kemudi. Singa Eri mengikuti di sisinya, cakar besarnya mantap menapak lantai kapal.
“Apa yang kusampaikan hari ini,” ujar Putri Lily dengan suara tenang namun berisi, “akan memukul siapa pun yang pernah memperlakukannya tanpa hormat di masa lalu.”
Ia melangkah keluar dari ruang kemudi tanpa menunggu jawaban. Langkahnya ringan, seolah badai di sekeliling kapal bukan ancaman, melainkan bagian dari irama alam yang telah ia pahami.
Nahkoda masih berdiri terpaku. Kekaguman membungkam lidahnya, bukan hanya pada ketepatan arah yang diberikan sang putri, melainkan pada keyakinan dalam setiap kata yang baru saja ia dengar. Ia tidak menyadari bahwa di balik punggungnya, King Cristopher terdiam dengan wajah tegang.
Kata-kata itu tidak diucapkan dengan nada menantang, tidak pula diucapkan langsung. Namun Cristopher memahami dengan jelas: sindiran itu ditujukan padanya, sang Raja Penakluk itu.
Kata kata sang putri bukan hanya sekadar omong kosong. Meski angin berhembus tak tentu arah, kapal Kingdom Conqueror akhirnya sampai di daratan benua barat.
Nahkoda turun lebih dulu, lalu menunduk dalam-dalam pada King Cristopher dan sang putri.
“Semoga Anda berdua selalu diberkahi dengan kesehatan dan umur panjang.” ucapnya penuh hormat.
King Cristopher mengangguk tanpa suara.
“Terimakasih atas kerja kerasmu, Paman.” kata Lily tersenyum lembut.
Pengawal pribadi sang raja telah menunggu di daratan. Arick berdiri tegak, berseragam hitam dengan lambang Kingdom Conqueror yang tersemat di dada.
Ia menunduk dalam, penuh penghormatan. “Selamat datang, Your Majesty. Selamat datang, Putri.”
Kemudian dengan gerakan sigap, membuka pintu kereta istana.
Belum sempat Lily melangkah, suara berat menggema.
“Aummmm…”
Eri mengaum rendah namun menggetarkan. Tubuh singa itu menegang, cakar mencengkeram tanah. Aroma tempat baru membuat nalurinya siaga. Ia menolak bergerak, menolak dipisahkan dari sang putri.
Arick refleks melompat mundur. Tangannya hampir meraih gagang pedang, wajahnya pucat karena terkejut. Tidak pernah terlintas di benaknya bahwa seekor singa akan berdiri di samping calon ratu Kingdom Conqueror.
Putri Lily berjongkok perlahan. Tangannya menyusuri leher Eri dengan sentuhan lembut dan tenang.
“Tenanglah,” bisiknya pelan.
Arick terpaku, kejutannya bertambah saat menyadari para pelayan dan pengawal lain tidak bereaksi berlebihan, seakan pemandangan itu telah menjadi bagian dari perjalanan mereka. Saat itulah ia mengerti: singa itu bukan sekadar hewan buas atau peliharaan.
Lily bangkit dan menatap King Cristopher.
“Dia belum terbiasa dengan tempat baru,” katanya lembut namun tegas. “Aku akan naik kereta lain bersamanya.”
Untuk sesaat, wajah Cristopher mengeras. Di hadapan para pengawal dan pelayan, sang putri memilih singa, bukan dirinya. Penolakan terang-terangan yang cukup untuk melukai harga diri seorang raja.
Sang raja mengangkat dagunya, suaranya tenang tetapi berwibawa.
“Kingdom Conqueror akan melihat Raja dan calon ratunya untuk pertama kali.”
Kalimat itu tidak diucapkan sebagai perintah, namun maknanya jelas: tempat sang putri seharusnya berada adalah di sisinya.
Udara di sekitar mereka menegang. Putri Lily berdiri di antara Raja Penakluk dan singa penjaganya, di persimpangan pertama antara kehendak pribadi dan panggung kekuasaan Kingdom Conqueror.
“Kau… yang di sana…,” kata Lily sambil menunjuk ke satu arah. “Kemarilah,”
Seorang pelayan yang sebelumnya menunjukkan ruang penyimpanan barang di kapal menegang. Ia melangkah maju dengan ragu, kepalanya tertunduk, langkahnya kaku karena gugup.
“Aku ingin dia menjadi pelayan pribadiku.” ucap Lily tenang, lalu menatap King Cristopher tanpa keraguan sedikit pun.
Tatapan Cristopher beralih dari Lily ke pelayan itu, menilai singkat, dingin, dan cepat.
“Diizinkan.” katanya tanpa ekspresi.
Lily menoleh ke arah Eri. Singa itu masih berdiri waspada, ekornya bergerak pelan.
“Masuklah bersamanya. Kau akan baik-baik saja,” katanya lembut.
Eri mengaum pelan, lalu dengan patuh melangkah menuju kereta yang ditunjuk Lily. Derap langkahnya membuat beberapa orang menahan napas.
Lily kembali menoleh pada pelayan itu.
“Siapa namamu?”
“Laory, Putri.” jawabnya dengan suara nyaris bergetar.
“Masuklah dan jaga dia tetap aman.” kata Lily dengan ketegasan yang bisa dilihat semua orang.
Laory menegang, menjadi pelayan seorang calon ratu adalah kehormatan yang tak pernah ia bayangkan. Namun ia tidak tahu apakah harus bersyukur karena calon ratu memilihnya sebagai pelayan pribadi, atau justru putus asa karena tugas pertamanya adalah menjaga seekor singa. Namun sekali lagi, ia hanyalah pelayan yang tidak berhak untuk berkata ‘tidak’.
Dengan langkah gemetar, Laory naik ke dalam kereta. Ia duduk di sudut, punggungnya menempel dinding, tubuhnya bergetar menahan takut.
Lily menatapnya sekilas, seolah membaca ketakutan Laory.
“Dia anak baik. Jangan takut.” katanya tenang.
Lalu ia menoleh pada Eri, sorot matanya berubah sedikit lebih tegas.
“Jangan membuat masalah, Eri. Apa kau mengerti?”
“Aummm,” Eri mengaum rendah, tanda setuju.
Barulah setelah semuanya tertata, Lily berbalik. Dengan langkah anggun dan wajah tanpa ragu, ia naik ke kereta utama… kereta yang sama dengan sang raja.
Pintu tertutup perlahan, membiarkan Putri dari Agartha dan Raja Kingdom Conqueror duduk berhadapan. Sementara di luar, roda mulai bergerak membawa mereka menuju istana, menuju babak baru yang tak lagi bisa dihindari oleh siapa pun.
nenek sihirny nanti Menjelma jdi Cinderelaa Loh CiLLLL🤣