NovelToon NovelToon
Dilarang Sentuh Mami: Si Kembar Rahasia Tuan CEO

Dilarang Sentuh Mami: Si Kembar Rahasia Tuan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Lari Saat Hamil / Single Mom / Anak Genius / One Night Stand / Hamil di luar nikah
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

​"Om Ganteng, kerjanya cuma duduk doang? Kok nggak lari-lari kayak Mami? Om pemalas ya?"


Cayvion Alger, seorang CEO dingin, terkejut saat bocah 4 tahun yang mengatainya "pemalas" ternyata adalah anak kembarnya sendiri—hasil "kesalahan satu malam" empat tahun lalu dengan asisten pribadinya, Hara.

Rahasia ini terbongkar saat Hara terpaksa membawa anak-anaknya ke kantor karena pengasuh sakit.

​Demi hak asuh dan citra perusahaan, Cayvion mengajukan pernikahan kontrak dengan syarat dilarang jatuh cinta. Hara menyetujuinya, namun menegaskan bahwa kekuasaan Cayvion sebagai bos tidak berlaku di rumah.

Kini, Cayvion harus menghadapi tantangan baru: mengurus kekacauan anak-anak dan menahan hatinya yang perlahan luluh pada istri kontraknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: Hari Ulang Tahun Si Kembar

​​"Jam lima pagi. Dasiku mana, Hara? Yang warna navy!"

​Teriakan Cayvion menggema di walk-in closet yang luas. Pria itu bergerak secepat kilat, menyambar kemeja, memasang kancing manset dengan gerakan kasar, dan menyisir rambutnya asal-asalan. Aura paniknya pagi ini bisa membuat kopi mendidih tanpa api.

​Hara muncul membawa dasi yang diminta, matanya masih separuh terpejam. "Ini, Pak. Sarapan dulu? Saya buatkan roti bakar."

​"Nggak sempat," tolak Cayvion, menyambar dasi itu dan melilitkannya ke leher dengan cepat. "Jadwal berubah. Mr. Robert minta video conference pendahuluan jam enam pagi ini. Saya harus sampai kantor dalam dua puluh menit."

​Cayvion menyambar tas kerjanya, lalu berlari kecil menuju pintu keluar. Di ruang tengah, dia melewati kamar anak-anak yang pintunya sedikit terbuka.

​"Pak, tunggu!" Hara mengejar langkah lebar suaminya. "Bapak lupa sesuatu? Anak-anak..."

​"Nanti saja, Hara! Saya telat!" potong Cayvion tanpa menoleh. Pikirannya sudah penuh dengan angka-angka investasi dan strategi negosiasi. Dia bahkan tidak sempat melirik ke dalam kamar di mana dua pasang mata kecil sedang mengintip dari balik selimut.

​Blam!

​Pintu utama tertutup keras. Suara mesin mobil sport menderu menjauh, lalu hening.

​Di ambang pintu kamar, Elia keluar sambil memeluk boneka beruangnya. Wajah bantalnya terlihat kecewa berat. Bibir mungilnya melengkung ke bawah.

​"Papa udah pergi, Mi?" tanya Elia lirih. "Kok Papa nggak cium Elia? Papa lupa bilang Happy Birthday ya?"

​Hara merasakan ulu hatinya nyeri melihat wajah sedih itu. Dia buru-buru berjongkok, memeluk kedua buah hatinya yang baru bangun. Elio berdiri di samping Elia dengan wajah datar, tapi matanya jelas menyimpan kekecewaan.

​"Papa nggak lupa, Sayang," hibur Hara dengan senyum paling meyakinkan yang bisa dia buat. "Papa buru-buru ke kantor itu buat cari uang kado. Katanya mau beli pabrik es krim buat Elia sama pabrik robot buat Elio. Makanya harus berangkat pagi buta."

​"Benar?" Elia menyeka ujung matanya.

​"Benar dong. Nanti jam sebelas kan Papa jemput di sekolah," Hara merapikan rambut Elio yang berantakan. "Kita makan siang bareng, terus potong kue. Papa pasti datang pakai mobil kerennya."

​Elio menatap ibunya tajam, skeptis. "Kalau Papa bohong lagi?"

​"Kalau Papa bohong, Mami izinkan kamu coret-coret dokumen Papa pakai spidol permanen," janji Hara nekat. "Sekarang mandi, pakai baju bagus. Kita ke sekolah!"

​Sementara itu, di lantai teratas gedung Alger Corp, suasana rapat terasa seperti medan perang nuklir.

​Cayvion berdiri di ujung meja panjang, memukul papan presentasi dengan spidol. Wajahnya tegang, matanya menatap tajam ke arah tim direksi yang duduk menunduk ketakutan.

​"Ini data sampah apa data riset?!" bentak Cayvion, melempar berkas ke tengah meja. "Mr. Robert itu teliti! Kalau dia lihat margin error nol koma satu persen saja, kesepakatan triliunan ini batal! Perbaiki sekarang!"

​Nadia, sekretaris baru yang menggantikan Hara, berdiri gemetar di pojok ruangan. Dia memeluk nampan berisi air mineral yang ikut berguncang saking takutnya dia.

​"Nadia!" panggil Cayvion tiba-tiba, membuat gadis itu nyaris melempar nampannya.

​"Y-ya, Pak?"

​Cayvion merogoh saku jasnya, mengeluarkan ponsel pribadinya.

​"Amankan ini. Saya tidak mau ada gangguan satu notifikasi pun selama simulasi negosiasi ini berlangsung. Jangan ada telepon masuk, jangan ada pesan WhatsApp. Paham?" perintah Cayvion tegas. Konsentrasinya harus seratus persen.

​"Siap, Pak! Mengerti!" Nadia menerima ponsel mahal itu dengan dua tangan seperti menerima pusaka keramat.

​Dengan tangan gemetar, Nadia keluar ruangan rapat. Karena takut salah pencet atau ada suara yang bocor, dia melakukan tindakan ekstrem: dia mematikan nada dering, mematikan getar, lalu memasukkan ponsel itu ke dalam laci mejanya yang paling bawah, di bawah tumpukan berkas katering.

​Dia lupa satu hal fatal. Dia lupa hal penting di jadwal harian bosnya.

​Di layar komputer Nadia, kalender digital Cayvion untuk jam 11.00 siang tertera tulisan: Available Slot. Kosong. Tidak ada alarm pengingat. Tidak ada notifikasi "Jemput Anak".

​Dan di dalam ruang rapat kedap suara itu, Cayvion tenggelam dalam ambisinya, lupa waktu, lupa dunia, lupa bahwa dia punya janji suci dengan dua manusia kecil yang paling berharga.

​Jam 11.00 siang.

​Matahari bersinar terik di atas gerbang TK Bintang Cendekia. Bel pulang sekolah sudah berbunyi sepuluh menit yang lalu. Halaman sekolah penuh dengan orang tua yang menjemput anak-anak mereka.

​Hara berdiri di dekat pos satpam, menggandeng tangan Elio dan Elia. Penampilan mereka sangat mencolok dan menggemaskan. Elia memakai topi ulang tahun kerucut warna pink dengan renda-renda, sementara Elio memakai topi biru dengan gambar roket.

​"Mana Papa, Mi?" tanya Elia untuk kesepuluh kalinya, menjinjitkan kaki mencari mobil hitam ayahnya di antara antrian kendaraan.

​"Sabar ya, mungkin macet. Tahu sendiri kan jalanan Jakarta kalau siang," jawab Hara tenang, meski matanya terus melirik jam tangan.

​Beberapa ibu-ibu yang lewat tersenyum menyapa.

​"Wah, si kembar ulang tahun ya? Nungguin Pak Cayvion jemput? Cieee, Pak CEO mau bikin kejutan nih pasti," goda salah satu ibu.

​Hara hanya tersenyum sopan. "Iya, Bu. Mau makan siang bareng."

​Jam 11.30.

​Suasana sekolah mulai sepi. Teman-teman Elio dan Elia sudah pulang semua. Satpam sekolah mulai menutup gerbang setengah.

​Elio menendang kerikil dengan sepatu boots-nya. "Udah setengah dua belas. Perut Elio lapar."

​"Sebentar lagi, Sayang. Mami telepon Papa ya," Hara mengeluarkan ponselnya, mencoba menghubungi Cayvion.

​Tut... Tut...

​Tidak diangkat.

​Hara mencoba lagi.

​Tut... Tut...

​Masih tidak ada jawaban.

​"Mungkin Papa lagi di jalan, nyetir sendiri," hibur Hara, padahal hatinya mulai dag-dig-dug tidak karuan. Dia mencoba menghubungi nomor kantor, tapi karena Nadia sedang sibuk di gudang arsip mencari data yang diminta Cayvion, telepon di meja sekretaris pun berdering tanpa ada yang mengangkat.

​Jam 12.15.

​Langit yang tadinya cerah mendadak berubah warna. Awan hitam bergulung-gulung tebal menutupi matahari, membuat suasana menjadi gelap dan suram, mewakili perasaan dua bocah kecil yang kini duduk lemas di bangku panjang pos satpam.

​Topi ulang tahun Elia sudah miring. Semangatnya sudah pudar.

​"Papa nggak datang," gumam Elio dingin. Dia melepaskan topi birunya, meremasnya pelan. "Papa bohong."

​"Enggak, Elio. Papa nggak mungkin bohong," bantah Hara, suaranya mulai terdengar putus asa. Dia mengirim pesan WhatsApp beruntun.

​Pak, Bapak di mana?

Anak-anak nunggu.

Pak, jangan begini. Tolong angkat.

​Ceklis satu. Ponsel Cayvion mati atau tidak ada sinyal.

​Dan kemudian, langit pun menangis.

​JLEGUR!

​Suara petir menggelegar, disusul hujan deras yang turun bagai ditumpahkan dari ember raksasa. Angin kencang meniup air hujan hingga tampias membasahi seragam sekolah anak-anak.

​Hara panik, berusaha melindungi anak-anak dengan tubuhnya. "Mundur, Sayang! Masuk ke dalam pos!"

​Tapi Elia tidak bergerak. Dia menatap jalanan kosong yang diguyur hujan dengan pandangan kosong. Air matanya mulai menetes, bercampur dengan percikan air hujan di pipinya.

​"Papa bohong..." isak Elia, suaranya pecah. "Katanya janji..."

​"Elia..." Hara memeluk putrinya erat-erat. Dia mencoba menelepon Cayvion lagi. Panggilan kedua puluh.

​Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.

​Ponsel Hara nyaris terlepas dari tangannya yang gemetar.

​Di sampingnya, Elio berdiri kaku menatap hujan. Dia tidak menangis. Tapi tatapan matanya yang biasanya datar, kini berubah menjadi tatapan kecewa yang dalam. Dia melempar topi ulang tahunnya yang sudah remuk ke genangan air berlumpur di depan mereka.

​"Aku benci Papa," bisik Elio pelan, tapi terdengar jelas di telinga Hara, lebih menyakitkan daripada suara petir manapun.

​Di kantor yang nyaman dan kering, Cayvion masih berdebat tentang grafik saham, sama sekali tidak menyadari bahwa dia baru saja menghancurkan hati dua orang manusia yang paling tulus mencintainya.

1
Niken Dwi Handayani
Ngakak dong baca nya🤣
Niken Dwi Handayani
Dan dimulailah hilangnya wibawa, peraturan di rumah Big bos oleh krucilnya😀😀
Savana Liora: hahahaha
total 1 replies
tia
butuh kesabaran cayvion,,,🤭
Savana Liora: kesabarannya setipis tisu bagi 10
total 1 replies
olyv
mantep twins 🤣🤣👍
Indah Wahyuni
aku suka, konfliknya ringan. ayahnya butuh benturan untuk menyadari kasih sayang ke anaknya. mungkin rasa ke ibuknya belum tapi ke anak harus. harta tidak bisa membeli waktu.
aku juga suka wanita yg tegas dia tidak ningalin suaminya. tapi memberi pelajaran suaminya.
Savana Liora: iya. makasih y
total 1 replies
tia
kapok 😄
Savana Liora: hahaha
total 1 replies
Indah Wahyuni
hari ini apa up satu kali? di tunggu kelanjutannya
Indah Wahyuni: ok, ditunggu.
total 2 replies
kalea rizuky
pergi ja tinggalin egois bgt ini laki
kalea rizuky
gemes deh
olyv
bagus hara diamin aja suami kulkas mu itu... g peka atau gimn sih cayvion.. udah tau salah, setidak nya minta maaf gitu pd anak2 mu
Savana Liora: tau tuh cayvion yak
total 1 replies
olyv
/Sob//Sob/ aahh twins sini aunty bantu peluk juga..
sukurinn kau cayvion di benci anakan mu sendiri
Savana Liora: ngeselin yak
total 1 replies
olyv
😔😔🥺🥺🥺🥺
olyv
🤣🤣🤣🤣🤣
Savana Liora: hahaha
total 2 replies
BONBON
kk, ini kamu kejar deadline kah, aku sampe bingung mau baca yg mana... satu satu Napa??😭 kebut"👍
Savana Liora: emang agak ngebut sih tayangnya karna mau ngajuin kontrak setelah bab 20. tp dari bab 21 bakalan santai kok. pagi siang malam kek minum obat.
total 2 replies
Alfi Alfi
bikin senyam senyum 🤭🤭🤭
Savana Liora: iya haha
total 1 replies
Alfi Alfi
gemesin banget ceritanya
Savana Liora: makasih kak
total 1 replies
Alfi Alfi
di tunggu thor
tia
lanjut Thor ,, cerita ny bikin gemes
Savana Liora: besok pagi terbit lg ya kk. sudah terjadwal
total 1 replies
Siti Sa'diah
keluarga koplak, yg normal itu cuma hara and thekids🤣
Savana Liora: hahaha
total 1 replies
Siti Sa'diah
gkgkgk rasakan itu tuan perfect/CoolGuy/
Savana Liora: kena mental dia
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!