Safa, wanita dari keluarga sederhana, memberikan makanan pada seorang pria yang dia anggap pengemis – ternyata adalah Riki, CEO perusahaan besar. Terharu dengan kebaikan Safa, Riki menyembunyikan statusnya, mereka jatuh cinta dan menikah.
Ketika Safa bekerja di kantor Riki, dia bertemu "Raka" – teknisi yang ternyata adalah Riki yang berpura-pura. Setelah menemukan kebenaran, Safa merasa kecewa, tapi Riki membuktikan cintanya tulus dengan memperkenalkannya pada keluarga aslinya. Mereka akhirnya memperpublikasikan pernikahan mereka dan hidup bahagia dengan cinta yang sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elrey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cari Tahu Siapa Dia
Setelah makan makanan yang diberikan Safa, Riki tetap berjongkok di sudut jalan untuk waktu yang lama.
Mata nya masih menatap arah tempat Safa menghilang, hati yang biasanya penuh dengan kekhawatiran tentang proyek perusahaan kini terasa hangat dan sedikit bingung.
Tak pernah dalam hidupnya seorang wanita asing menyentuh hatinya dengan cara yang begitu sederhana tapi mendalam.
Tanpa tahu siapa dia, tanpa pamrih apapun, Safa telah memberikan makanan dan perhatian yang dia butuhkan saat itu juga.
"Aku harus tahu siapa dia," bisik Riki perlahan sambil berdiri dan mengusap lututnya yang sedikit kotor akibat jongkok terlalu lama.
Dia melihat sekeliling jalan yang kini semakin sepi, hanya ada beberapa kendaraan yang lewat dengan kecepatan tinggi.
Meskipun tidak tahu nama warung tempat Safa bekerja atau di mana dia tinggal, Riki merasa tidak bisa tinggal diam dan hanya melupakan pertemuan itu.
Di pagi harinya, Riki datang ke kantor seperti biasa. Namun kali ini, pikirannya tidak bisa fokus pada rapat yang sudah dijadwalkan untuk membahas solusi proyek yang bermasalah.
Ketika salah satu manajer menyampaikan laporan tentang kemajuan perbaikan sistem, Riki hanya mengangguk tanpa benar-benar mendengar apa yang dikatakan.
"Pak Riki, apakah ada masalah?" tanya Dina, direktur keuangan yang juga merupakan sahabat dekat Riki sejak kuliah. Dia melihat ekspresi wajah Riki yang tidak biasa dan merasa ada sesuatu yang terjadi.
Riki terkejut dan segera mencoba menyesuaikan diri. "Ah tidak, tidak ada masalah. Kita bisa lanjutkan rapatnya nanti saja ya, saya perlu mengambil jeda sebentar."
Tanpa menunggu tanggapan Dina, Riki berdiri dan keluar dari ruangan rapat. Dia pergi ke meja kerjanya dan mengambil jaketnya, lalu keluar dari kantor tanpa memberitahu siapapun.
Sopir pribadinya yang biasanya menunggu di depan gedung terkejut melihat bosnya keluar sendirian dan berjalan menuju jalan raya.
"Pak Riki mau kemana? Boleh saya antar?" tanya sopirnya dengan khawatir.
"Tidak usah, saya ingin jalan-jalan saja sebentar. Kamu bisa kembali ke kantor," jawab Riki dengan senyuman singkat sebelum melanjutkan langkahnya.
Dia berjalan tanpa tujuan pasti, hanya mengandalkan ingatan tentang pakaian Safa yang mengenakan seragam putih dengan apron berwarna biru tua.
Dia mengira seragam itu mungkin milik salah satu warung makan atau restoran di sekitar kota.
Dengan berbekal hanya itu, Riki mulai mengunjungi setiap warung makan dan kedai kecil yang bisa dia temui di sepanjang jalan.
Setelah mengunjungi hampir sepuluh tempat dan tidak menemukan sosok Safa, rasa frustasi mulai menyelimuti dirinya.
Saat hendak memutuskan untuk kembali ke kantor, dia melihat sebuah warung makan kecil dengan warna cat dinding kuning muda yang terletak di sudut jalan raya.
Di depan warung tersebut ada beberapa meja kayu yang sudah cukup tua, dan di dekat pintu masuk terpasang papan nama yang tertulis dengan huruf tangan: "Waroeng Mak Ina – Makanan Sehari-hari Lezat dan Murah".
Tanpa berpikir panjang, Riki mendekati warung tersebut. Ia melihat beberapa pelayan sedang sibuk melayani pelanggan yang sudah mulai ramai karena memasuki jam makan siang.
Hatinya berdebar kencang ketika melihat seorang wanita dengan rambut hitam diikat rapi dan mengenakan seragam putih dengan apron biru tua yang sama seperti yang dikenakan Safa.
Wanita itu sedang cepat-cepat membersihkan meja sambil tersenyum pada pelanggan yang baru selesai makan.
Itu dia – Safa.
Riki merasa hati nya berdebar semakin cepat. Dia tidak tahu harus melakukan apa, apakah harus langsung mendekatinya dan mengatakan bahwa dia adalah pria yang dia berikan makanan pada malam sebelumnya, ataukah harus berpura-pura sebagai pelanggan biasa.
Setelah berpikir sebentar, dia memutuskan untuk memilih yang kedua. Dia tidak ingin Safa merasa tertekan atau salah paham dengan kedatangannya.
Dia memilih meja paling pojok yang terletak di sudut warung, berharap bisa diam-diam mengamati Safa sambil menunggu kesempatan untuk berbicara dengannya.
Tak lama kemudian, Safa datang mendekatinya dengan senyuman ramah yang sama seperti malam sebelumnya.
"Sama-sama Pak, mau pesan apa ya? Hari ini kami ada menu spesial ayam bakar dengan sambal matah yang sangat enak lho," ujar Safa dengan suara ceria, sambil memberikan lembaran menu yang sudah agak lusuh karena sering digunakan.
Riki melihat wajah Safa yang penuh semangat dan merasa tidak tega untuk mengatakan bahwa dia mengenalnya.
Dia mengambil menu dengan hati-hati dan melihat daftar makanan yang tersedia. Meskipun biasanya dia hanya makan makanan di restoran mewah dengan hidangan yang disiapkan oleh koki profesional, saat ini dia merasa ingin mencoba makanan yang ditawarkan oleh warung kecil ini.
"Baiklah, saya pesan menu spesial yang kamu bilang tadi saja ya," jawab Riki dengan suara lembut, berusaha untuk tidak terlihat terlalu gugup.
"Sama-sama Pak, tunggu sebentar ya! Akan saya antar segera," ucap Safa sebelum berjalan cepat ke arah dapur untuk menyampaikan pesanan.
Saat menunggu makanan datang, Riki mengamati aktivitas Safa yang sangat sibuk melayani pelanggan satu demi satu.
Dia melihat bagaimana Safa dengan sabar melayani seorang pelanggan yang sedikit kesal karena makanan yang dipesannya lama datang, bagaimana dia membantu teman kerjanya yang kesusahan membawa banyak piring bersamaan, dan bagaimana dia selalu tersenyum meskipun sudah terlihat lelah.
Tak lama kemudian, Safa datang membawa piring ayam bakar yang masih panas dengan nasi putih hangat dan sambal matah yang terlihat sangat menggugah selera.
Dia meletakkan piring dengan hati-hati di atas meja dan memberikan sendok serta garpu dengan senyuman.
"Silakan dinikmati ya Pak," ujar Safa.
Riki mengangguk dan segera mengambil sepotong ayam dengan sendoknya. Ketika dia memasukkannya ke dalam mulut, dia terkejut dengan rasa yang luar biasa lezat.
Rasa ayam yang gurih dengan sambal matah yang segar membuatnya merasa ingin makan lagi dan lagi.
"Sangat enak sekali makanan ini," ucap Riki dengan tulus setelah menelan makanan tersebut.
Safa tersenyum bangga. "Terima kasih Pak! Resep sambalnya adalah warisan dari nenek saya lho, jadi rasanya memang berbeda dengan yang lain."
Mereka mulai berbincang sebentar tentang makanan dan warung tersebut. Riki mengetahui bahwa Safa telah bekerja di warung itu selama setahun untuk membantu orang tuanya yang sedang mengalami kesulitan ekonomi.
Dia juga mengetahui bahwa pemilik warung, Bu Yanti, telah menjadi seperti keluarga bagi Safa dan selalu membantu dia ketika dia mengalami kesulitan.
Saat Riki selesai makan dan hendak membayar, Safa datang dengan senyuman lagi. "Berapa banyak ya Pak?" tanya Riki.
"Satu puluh lima ribu saja Pak," jawab Safa dengan ramah.
Riki mengambil dompetnya dan ingin memberikan uang lebih banyak sebagai ucapan terima kasih, tapi dia segera menghentikan diri.
Dia tidak ingin Safa merasa bahwa dia sedang membayar kebaikan hati yang diberikan padanya pada malam sebelumnya. Dengan hati berat, dia memberikan uang yang tepat dan mengambil kembaliannya dengan hati-hati.
"Sampai jumpa lagi ya Pak," ucap Safa sambil mengucapkan selamat tinggal.
Riki mengangguk dan tersenyum. "Ya, sampai jumpa lagi. Saya pasti akan datang lagi kesini."
Sebelum keluar dari warung, Riki melihat Safa yang sudah kembali sibuk melayani pelanggan lain. Hatinya merasa semakin yakin bahwa dia ingin mengenal Safa lebih jauh.