Anjeli Pranita, putri cantik pak Burhan yang biasa di sapa Anjeli. Gadis cantik dengan julukan kembang desa rela putus sekolah semenjak insiden yang membuat Keseharian ayahnya hanya bisa duduk di kursi roda yang usang pemberian tetangganya. Anjeli adalah gadis yang pintar di bidang akademik, murah senyum dan ceria. Namun, kepergian ibunya bersama laki-laki lain dengan alasan sudah capek hidup miskin dan ditambah kondisi ayahnya, menghilangkan senyum dan keceriaan di wajahnya akibat luka yang ditoreh ibunya untuk mereka. Anjeli si gadis sederhana harus menjadi kuat dan tahan banting di umurnya yang masih 16 tahun. Suatu hari, Anjeli yang menjadi tulang punggung untuk keluarga sedang mengais rezeki sebagai kuli panggul di pasar menggantikan pekerjaan bapaknya sebelum kecelakaan. Pagi itu tanpa sengaja Anjeli bertemu seorang nenek yang sedang kelaparan, ia yang memang memiliki hati yang baik memberikan bekal untuk makannya kepada sang nenek itu. Dari pertolongan itu Anjeli diberikan sebuah cincin usang oleh sang nenek sebagai bentuk kebaikan Anjeli. Cincin apakah yang diberikan oleh sang nenek itu kepada Anjeli????? Apakah ada keajaiban untuk Anjeli dan keluarganya??? Yukkkkk….,ikuti cerita Anjeli….
17
Pagi itu, Desa Anjeli masih diselimuti embun tipis yang menempel di ujung-ujung daun selada Anjeli. Suasana begitu tenang, hanya terdengar suara denting sendok yang beradu dengan piring dari dalam dapur. Anjeli sedang menyiapkan bekal untuk Aris, sesekali matanya melirik ke arah luar, memastikan pagar mawarnya tetap kokoh berdiri.
"Kak, hari ini Aris pulang cepat. Guru-guru ada rapat. Boleh Aris bantu Kakak menyiangi rumput di petak buncis nanti?" tanya Aris sambil mengunyah nasi hangatnya.
Anjeli tersenyum, mengusap kepala adiknya dengan penuh kasih. "Boleh sayang, tapi selesaikan dulu PR matematikamu ya. Kakak tidak mau Ayah sedih kalau lihat nilai Aris turun karena terlalu asyik di kebun."
"Siap, Kak!" jawab Aris dengan semangat, kemudian menyambar tas punggungnya yang sudah mulai pudar warnanya namun tetap bersih.
Setelah Aris berangkat sekolah dan Pak Burhan sedang asyik berlatih menggerakkan jari-jari kakinya di teras depan, sebuah ketukan terdengar di pintu pagar bambu. Kali ini ketukannya tidak ragu-ragu, tapi juga tidak terdengar mengancam.
"Permisi! Selamat pagi. Apakah ada orang di rumah?" suara itu terdengar bariton dan sopan.
Anjeli yang sedang mencuci piring di dapur segera mengeringkan tangannya pada kain lap. Perasaannya waspada. Ia teringat sosok yang mengintip di balik pohon jati kemarin. Ia berjalan menuju pagar, melewati barisan mawar yang kini sudah setinggi bahunya.
Di balik pagar, berdiri seorang pria muda berusia sekitar dua puluh lima tahun. Ia mengenakan kemeja flanel kotak-kotak, celana kargo yang tampak praktis, dan sebuah tas kamera tergantung di bahunya. Wajahnya tidak terlihat seperti pengacara yang dingin; ia justru memiliki sorot mata yang penuh rasa ingin tahu.
"Siapa ya?" tanya Anjeli tanpa membuka pintu pagar.
Pria itu tersenyum ramah, lalu sedikit membungkuk. "Maaf mengganggu waktunya. Nama saya Gani. Saya dari majalah Warta Tani. Saya datang karena mendengar desas-desus tentang seorang gadis remaja di desa ini yang berhasil mengubah tanah berbatu menjadi lahan sayuran kualitas super."
Anjeli menyipitkan mata. "Jadi, Anda yang kemarin bersembunyi di balik pohon jati dengan kamera itu?"
Gani tampak tersentak, wajahnya mendadak memerah karena malu. "Ah,,,,anu,,,,itu,,,,saya minta maaf sebesar-besarnya. Saya tidak bermaksud lancang. Saya hanya sangat terkesima melihat hijaunya tanaman Anda dari kejauhan. Saya sering berkeliling desa, dan biasanya tanah di area sini sangat sulit ditanami buncis atau selada. Begitu saya melihat kebun Anda, saya merasa harus melihatnya lebih dekat, tapi saya takut jika langsung datang saya akan ditolak."
Anjeli terdiam sejenak. Ia mengamati pria bernama Gani ini. Ia tidak melihat tanda-tanda kelicikan seperti yang ada pada pengacara ibunya. Namun, ia harus tetap berhati-hati.
"Lalu, apa mau Anda sekarang? Kami tidak butuh publisitas. Kami hanya ingin hidup tenang," ujar Anjeli tegas.
"Saya mengerti, Anjeli, boleh saya panggil begitu?" Gani mencoba mencairkan suasana. "Saya hanya ingin mendokumentasikan metode pertanian Anda. Jika metode ini benar-benar alami dan berhasil di tanah sulit seperti ini, itu bisa menjadi inspirasi bagi banyak petani kecil lainnya. Saya dengar dari Pak RT, Anda menggunakan pupuk fermentasi sendiri?"
Mendengar nama Pak RT disebut, Anjeli sedikit melunak. Ia membuka pintu pagar sedikit, namun tetap menghalangi jalan masuk.
"Hanya pupuk kompos biasa, Mas Gani. Tidak ada yang spesial. Saya rasa Mas Gani salah orang jika mencari keajaiban di sini," sahut Anjeli rendah hati.
Tiba-tiba, suara tongkat kayu yang beradu dengan lantai terdengar. Pak Burhan muncul di ambang pintu rumah, berdiri tegak dengan bantuan tongkatnya.
"Nak, siapa tamu kita pagi-pagi begini?" tanya Pak Burhan.
Gani tertegun melihat Pak Burhan. Ia melihat bagaimana pria paruh baya itu berusaha berdiri tegak meski tubuhnya sedikit gemetar.
"Selamat pagi, Pak. Saya Gani, seorang jurnalis. Saya sedang berbincang dengan putri Anda tentang kebun yang luar biasa di belakang sana," sapa Gani dengan nada hormat.
Pak Burhan menatap Gani sejenak, lalu menatap Anjeli. Ia melihat kegelisahan di mata putrinya. "Masuklah, Nak Gani. Tapi jangan berharap melihat laboratorium canggih. Kami hanya punya tanah, air, dan doa."
Anjeli akhirnya membiarkan Gani masuk. Gani diajak menuju kebun belakang. Saat kakinya menginjak area kebun, Gani seolah terpaku. Ia mengeluarkan kamera dari tasnya, tapi tidak langsung memotret. Ia justru berlutut dan menyentuh tanah hitam di sekitar tanaman buncis.
"Tanah ini, tanah ini bukan sekadar tanah subur. Ini sangat lembap tapi tidak becek. Dan aromanya…" Gani menghirup udara di sana. "Segar sekali. Tidak ada bau amonia dari pupuk kimia sedikit pun. Bagaimana Anda mengolahnya, Anjeli? Saya sudah mengunjungi ratusan kebun, tapi atmosfer di sini terasa berbeda."
Anjeli mulai menjelaskan secara perlahan, sesuai dengan skenario yang sudah ia siapkan. "Saya mengumpulkan sisa-sisa sekam, kotoran ayam dari pasar, dan air cucian beras. Saya biarkan mereka menyatu selama berminggu-minggu. Saya rasa, kuncinya adalah kesabaran, Mas. Tanah tidak bisa dipaksa."
"Sabar ya…" Gani menggumam sambil mencatat di buku kecilnya. "Banyak orang ingin hasil instan dengan menyemprotkan pestisida, tapi Anda justru membangun benteng alami. Mawar di pagar itu, itu juga ide Anda?"
"Iya. Untuk menjaga tanaman dari hama dan hal-hal yang tidak diinginkan," jawab Anjeli penuh arti.
Gani menatap Anjeli dengan pandangan kagum. "Anda tahu, Anjeli? Artikel tentang kebun ini bisa sangat besar. Tapi saya janji, saya tidak akan menulis alamat lengkap Anda atau hal-hal yang bisa mengganggu privasi keluarga Anda. Saya hanya ingin dunia tahu bahwa di tangan seorang gadis remaja, tanah mati pun bisa memberi kehidupan."
Anjeli menoleh ke arah ayahnya yang sedang duduk di bangku kayu, memperhatikan mereka dengan senyum tipis. Ia merasa kehadiran Gani mungkin bukan ancaman, melainkan jembatan. Jika ia diakui sebagai ahli tani oleh majalah resmi, maka posisi tawar keluarganya di pengadilan hak asuh Aris nanti akan semakin kuat.
"Baiklah, Mas Gani. Anda boleh mengambil beberapa foto dan mewawancarai saya. Tapi dengan satu syarat," kata Anjeli.
"Apa itu?" tanya Gani antusias.
"Ceritakan bahwa semua yang saya lakukan ini adalah demi kebahagiaan Ayah dan Adik saya. Bahwa kebun ini adalah bukti bahwa kasih sayang keluarga adalah pupuk yang paling hebat," pinta Anjeli dengan nada bicara yang bergetar namun mantap.
Gani mengangguk perlahan, wajahnya tampak tersentuh. "Saya berjanji, itu akan menjadi inti dari cerita saya."
Siang itu, di bawah naungan pohon mangga, dialog demi dialog tentang pertanian dan kehidupan mengalir antara mereka. Tanpa disadari Anjeli, langkahnya untuk mendatangkan tamu ini adalah awal dari sebuah perlindungan baru yang akan menjaga kebunnya dari badai yang lebih besar di masa depan. Di jarinya, cincin hitam itu terasa sejuk, seolah-olah setuju dengan jalan yang ia ambil.
semangat updatenya 💪💪
di awal bab emaknya kabur pake motor sm laki lain..trus berganti emaknya kabur dgn laki lain pake mobil merah..
bab ini emaknya malah meninggoy 🙏😄