Elia menikah dengan Dave karena perjodohan, tanpa cinta dan tanpa pilihan. Di malam pertama, Dave membuat perjanjian pernikahan yang menegaskan bahwa Elia hanyalah istri di atas kertas. Hari-hari Elia dipenuhi kesepian, sementara Dave perlahan menyadari bahwa hatinya mulai goyah. Saat penyesalan datang dan kata “I’m sorry, my wife” terucap, akankah cinta masih bisa diselamatkan, atau semuanya sudah terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nouna Vianny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepergian Sarah
Lexie telah tiba di rumah sakit. Ia datang membawa beberapa berkas tebal yang diminta oleh Sarah.
“Surat warisan?” Angel membelalak saat membaca judul berkas itu. Tangannya sedikit gemetar. Tatapannya langsung beralih pada Sarah.
“Mom… untuk apa kau menyuruh Lexie membawa surat warisan? Dan untuk apa semua ini?” tanyanya, nyaris tak mampu menyembunyikan kepanikan.
Sarah menekan tombol di sisi tempat tidurnya agar sandaran naik sedikit, mencari posisi yang lebih nyaman untuk berbicara. Angel yang melihat itu segera membantunya.
“Ambilkan aku air minum,” pinta Sarah pelan.
Angel segera menurut, lalu kembali duduk di sisi ranjang.
“Mom… katakan apa maksudnya?” desaknya lirih.
Sarah berdeham pelan. Dadanya masih terasa ngilu akibat sayatan operasi. Ia menarik napas hati-hati sebelum berbicara.
“Surat warisan ini memang sudah Mom persiapkan sebelum Mom pergi ke luar kota kemarin,” ungkapnya. “Mom ingin mengumumkan kepemilikan atas harta yang Mom miliki.”
“Untuk apa, Mom?” suara Angel bergetar. “Kenapa harus secepat ini?”
Ia menggenggam tangan Sarah erat. “Mom, ayolah… jangan membuatku takut.”
Ketakutan lama kembali menghantui pikirannya. Di tengah kondisi Sarah yang masih lemah seperti ini, pembicaraan tentang surat warisan terasa seperti isyarat yang tak sanggup ia terima. Seolah ibunya sedang bersiap pergi. Bukan hanya meninggalkan rumah sakit, tapi meninggalkan segalanya.
Sarah menatap Angel penuh kasih. Tatapan seorang ibu yang tahu, waktu tak selalu bisa menunggu kesiapan anaknya. "Kau tahu kan kondisi Mom sudah sangat lemah, mungkin Mom tidak bisa bertahan lama di dunia ini" lirih Sarah kedua matanya berkaca-kaca.
“Mom, apa yang sebenarnya Mom bicarakan?” tegur Angel, suaranya bergetar menahan cemas.
“Mom, jangan bicara seperti itu,” sambung Elia cepat. Ia mendekat dan menggenggam tangan Sarah. “Kita semua akan selalu bersama-sama.”
Belum sempat Sarah menjawab, pintu ruang rawat inap terbuka. Dave masuk setelah selesai makan siang dan membahas sesuatu dengan Erik. Langkahnya terhenti saat melihat suasana di dalam ruangan yang mendadak hening, mata-mata berkaca-kaca, dan udara yang terasa berat oleh kesedihan.
“Ada apa ini?” tanya Dave, dahi berkerut.
Tanpa berkata apa-apa, Angel menyodorkan surat warisan itu ke hadapannya. Sorot matanya seakan memberi peringatan. Ada sesuatu yang sangat tidak beres.
Dave meraih kertas itu. Matanya menelusuri baris demi baris, lalu membulat sempurna.
“Mom… apa-apaan ini?” suaranya meninggi, tak mampu menyembunyikan keterkejutannya.
Dalam keterangan surat warisan tersebut tertulis jelas seluruh aset yang dimiliki Sarah baik harta bergerak maupun tidak bergerak jatuh kepada Dave dan Angel.
Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Kali ini lebih mencekam. Seolah keputusan besar telah diambil, dan tak seorang pun benar-benar siap menerima konsekuensinya.
“Lexie,” ucap Sarah pelan namun tegas, “tolong minta mereka menandatangani surat itu. Agar aku bisa tenang.”
“Baik, Nyonya,” jawab Lexie profesional.
Ia mengambil surat warisan dari tangan Dave, lalu mulai menjelaskan secara rinci pembagian aset kepada masing-masing ahli waris. Dave mendapatkan porsi tertinggi dua banding satu dibandingkan Angel.
“Silakan, Tuan Dave dan Nyonya Angel, tanda tangan di sini,” ujar Lexie sambil menyerahkan pulpen berwarna emas.
Dengan ragu yang tak bisa disembunyikan, Dave dan Angel menandatangani surat tersebut. Tak ada senyum. Tak ada rasa lega. Yang ada justru kegelisahan yang semakin menekan dada.
Setelah itu, Lexie membacakan satu per satu daftar harta yang dimiliki Sarah dengan detail. Dave dan Angel hanya menyimak dalam diam. Tak satu pun raut wajah bahagia terlihat. Yang ada hanya perasaan tak menentu, seolah kehilangan sedang berdiri terlalu dekat.
Selesai menjalankan tugasnya, Lexie pamit undur diri. Ia mengatakan seluruh berkas akan diserahkan kepada notaris untuk proses lanjutan pembagian.
“Mom…” Angel kembali mendekati ranjang Sarah. Suaranya bergetar. “Aku tidak senang dengan warisan yang Mom berikan. Aku justru takut… kenapa semuanya terasa begitu tiba-tiba?”
Sarah menatap putrinya dengan lembut. Tangannya terangkat perlahan, menyentuh tangan Angel.
“Mom sudah bilang tadi,” ucapnya lirih, “surat ini sudah Mom persiapkan sebelum Mom pergi ke luar kota. Mom hanya menunggu waktu yang tepat.”
Ia menarik napas pelan.“Dan sekarang… inilah saatnya.”
Kata-kata itu jatuh perlahan, namun maknanya berat. Seolah Sarah sedang memastikan sesuatu. Bukan hanya tentang harta, melainkan tentang masa depan orang-orang yang ia cintai.
“Dave, jika kau dan Elia ingin pulang, pulang saja. Biar aku dan Billy yang menjaga di sini,” ujar Angel.
“Iya, Dave,” timpal Billy mengangguk. “Kalau kalian ingin istirahat, tidak apa-apa. Ada kami.”
Elia menggeleng pelan. Wajahnya terlihat lelah, tapi tekadnya jelas.
“Tidak, Kak. Justru aku ingin tetap di sini menemani Mom. Bahkan kalau Kak Angel dan Kak Billy mau pulang juga tidak apa-apa. Biar aku saja yang menjaga.”
Ketiganya saling memandang, seolah berlomba menunjukkan siapa yang paling peduli. Suara-suara itu terus bersahutan, tanpa mereka sadari membuat kepala Sarah semakin pening. Ia memejamkan mata, memilih menarik selimut dan mencoba tidur agar terlepas dari keributan yang justru lahir dari rasa sayang.
“Cukup!” Suara Dave memecah suasana. Tegas. Tak memberi ruang untuk membantah.“Begini saja,” lanjutnya dengan nada lebih terkendali “Kita atur jadwal. Kita semua tetap menjaga Mom, tapi bergantian. Setiap hari ganti orang, sampai Mom dinyatakan boleh pulang.”
Ruangan mendadak hening.Angel dan Billy saling pandang, lalu menganggu pelan. Elia terdiam, namun matanya menatap ke arah Sarah dengan perasaan campur aduk. Lega, takut, sekaligus khawatir.
Dave menoleh ke arah ranjang. Wajah ibunya terlihat tenang dalam tidur, namun dadanya terasa sesak.
Entah mengapa, firasat buruk perlahan merayap di benaknya. Seolah waktu sedang berpacu, dan mereka semua hanya diberi kesempatan yang terbatas.
Malam semakin larut. Angel telah berganti pakaian setelah seorang ART datang membawakan pakaian ganti. Malam ini, ia dan Billy yang akan berjaga menemani Sarah.
Elia dan Dave pun bersiap untuk pulang. Aturan rumah sakit membatasi hanya dua orang yang boleh berjaga di dalam ruangan demi kenyamanan pasien.
Namun, saat Elia dan Dave baru saja melangkah keluar, Sarah tiba-tiba merasakan nyeri hebat di bagian dadanya. Wajahnya mendadak pucat, napasnya tersengal seolah kesulitan menghirup oksigen.
Keempatnya langsung panik.
“Mom, apa yang terjadi?” seru Angel dengan suara gemetar.
Dave yang berada paling dekat segera menekan tombol panggil perawat. Tak lama, perawat datang dengan langkah cepat dan sigap. Salah satu dari mereka segera menghubungi dokter jaga.
Monitor di layar menunjukkan detak jantung Sarah yang terus melemah.
Tak berselang lama, dokter yang dipanggil tiba dan segera melakukan RJP pada Sarah. Beberapa saat kemudian, Sarah menutup kedua matanya, bersamaan dengan bunyi panjang dari monitor yang memberi pertanda jika detak jantungnya telah berhenti.
Dokter menarik napas panjang, raut wajahnya berat saat harus menyampaikan kenyataan bahwa Sarah telah pergi untuk selama-lamanya.
“Tidak! Mom!” teriak Angel. Tangisnya pecah seketika. Elia pun tak kuasa menahan air mata. Kedua wanita itu memeluk tubuh Sarah yang telah pergi tanpa berpamitan.
Billy dan Dave merasakan hal yang sama hati mereka hancur. Namun keduanya berusaha tetap tenang, meski duka itu begitu dalam dan menyakitkan.
Beberapa hari kemudian...
Angel terus menangis hampir setiap hari. Kedua matanya selalu tampak merah dan bengkak. Ia merindukan Sarah. Wanita yang tak pernah absen meneleponnya setiap pagi. Namun kini, panggilan itu tak akan pernah datang lagi. Bahkan suara lembut itu pun tak lagi bisa ia dengar.
Billy memutuskan untuk mengambil cuti demi menjaga istrinya. Ia tak ingin meninggalkan Angel terlalu lama, takut sesuatu yang buruk terjadi pada kondisi emosinya.
“Mom, aku sangat merindukanmu,” isak Angel pelan sambil menatap foto Sarah di layar ponselnya. Ia mengecup kaca ponsel itu, seolah Sarah benar-benar berada di hadapannya.
Di kediaman Dave, Elia pun tak kalah larut dalam kesedihan. Sama seperti Angel, kedua mata gadis itu selalu bengkak setiap kali bangun tidur. Ia merindukan Sarah. Wanita yang telah menganggapnya seperti anak sendiri.
“Mom, kenapa kau harus pergi secepat ini?” Elia terisak, menatap foto terakhirnya bersama Angel.
Sementara itu, Dave memilih menyibukkan diri dengan mengurus perusahaan. Bukan berarti hatinya tak hancur. Ia hanya tak ingin menunjukkan kelemahannya. Meski begitu, ia pun merindukan Sarah. Sosok yang selalu menasihatinya dengan penuh kasih.
Beberapa bulan berlalu, keadaan perlahan menjadi lebih tenang. Angel dan Elia mulai belajar merelakan kepergian Sarah, meski rindu itu masih kerap menyelinap tanpa permisi.
Keduanya tak pernah absen mengunjungi makam Sarah setiap satu minggu sekali, seolah itu menjadi cara mereka menjaga ikatan yang tak pernah benar-benar terputus.
Elia kini juga disibukkan dengan membantu perusahaan Dave, khususnya dalam pengembangan bisnis kosmetiknya. Ia mengajarkan teknik penyusunan kampanye serta strategi pemasaran yang efektif. Kehadirannya disambut dengan baik oleh para divisi, berkat sikapnya yang lembut serta cara penyampaiannya yang mudah dipahami.
“Sepertinya kita perlu menggandeng seorang influencer untuk memperkenalkan produk ini kepada publik. Namun, poin utamanya bukan terletak pada influencer tersebut, karena perannya hanya sebatas mengenalkan bahwa produk DaveSkin ini ada,” jelas Elia.".
Seseorang kemudian mengangkat tangan sebelum berbicara.
“Maaf, Nyonya. Produk DaveSkin sebelumnya pernah menggandeng seorang influencer. Namun, hasil penjualannya hanya berhenti di angka yang sama.”
Elia terdiam sejenak untuk berpikir.
“Berapa tarif saat menggandeng orang tersebut?” tanyanya.
“Sekitar satu juta baht, Nyonya.”
“Bolehkah aku melihat profilnya?” pinta Elia. Tak lama kemudian, seseorang menunjukkan akun wanita yang pernah menjadi brand ambassador. Dari setiap unggahannya, terlihat jelas bahwa wanita itu seperti tak menunjukkan kesungguhan.
Elia terkekeh pelan.
“Influencer ini sepertinya hanya ingin mendapatkan bayaran besar tanpa usaha maksimal. Bahkan, ia terlihat tidak benar-benar mempromosikan produk.”
“Iya, Anda benar, Nyonya. Selain itu, wanita ini juga cukup sulit diajak bekerja sama dengan baik.”
Elia mengangguk pelan.
“Baiklah, tugas kalian sekarang adalah mencari influencer yang berkualitas. Namun sebelum itu, lakukan riset terlebih dahulu. Jika sudah menentukan kandidatnya, serahkan padaku.”
“Baik, Nyonya,” jawab mereka serempak.
Campaign yang dibuat oleh Elia pun mendapat banyak pujian dari para divisi pemasaran. Konsepnya terlihat berbeda dari kampanye sebelumnya, yang sempat membuat Dave murka. Kini, ucapan Dave kala itu terbukti. Elia memang benar-benar memiliki bakat dalam bidang ini.
hadeuh dave.... ank siapa yg brtanggung jawab siapa🤣🤣🤣
eeee mlah lbh milih mnjatuhkn pilihan ke jalang....
istri di cuekin... eeee sm si jalang prhatian bgt...
skrg minta ksempatan.... g tau malu n g tau diri km dave.... elia km kasih barang bekasan jalang...
🙄🙄
udah g usah drama dave... bukankah perempuan pujaanmu adalah bianca...
jdi kmbali lah ke bianca...😅😅
rugi dpt bekasan si bianca jalang...
dave g cocoj dpt perempuan sebaik km elia...
dave cocoknya dpt perempuan jalang..
suami lgi main lndir sm jalang di luar....
ntar jalangnya hamil....
istri sah harud ngalah dan prgi...