Pernikahan Zoya Ravendra dan Kalandra Dirgantara adalah perjodohan mutlak tanpa tanggal kadaluarsa. Bagi Kalandra, Kepala Unit Reskrim yang ditakuti, Zoya hanyalah istri pendiam yang membebani karena selalu mengurung diri di kamar.
Namun, pandangan itu hancur saat kasus pembunuhan berantai "The Puppeteer" menemui jalan buntu. Zoya tiba-tiba muncul di TKP, menerobos garis polisi dengan tatapan datar dan berkata:
"Singkirkan tangan kotormu dari leher korban, Komandan. Dia tidak dicekik. Ada residu sianida di kuku jari manisnya dan lebam mayat ini dimanipulasi."
Hanya dalam lima menit, Zoya memecahkan teka-teki itu. Kalandra terlambat menyadari bahwa istri yang ia abaikan ternyata adalah "The Scalpel," legenda forensik dunia. Kini, Kalandra tidak hanya harus memburu pembunuh, tapi juga mengejar cinta istrinya yang hatinya lebih sulit diotopsi daripada mayat manapun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: Investigasi Lapangan
"Bau desinfektan ini bikin mual."
Kalandra menutup hidungnya dengan sapu tangan saat mereka melangkah masuk ke lobi Rumah Sakit Permata Medika. Suasana rumah sakit itu sibuk seperti pasar malam, perawat berlarian membawa berkas, dan keluarga pasien yang cemas memenuhi ruang tunggu.
Zoya, yang berjalan di sampingnya mengenakan trench coat abu-abu dan kacamata hitam, hanya mendengus pelan.
"Ini bau kematian yang steril, Mas. Harusnya Mas terbiasa," komentar Zoya dingin. Dia tidak terlihat terganggu sedikit pun. Bagi Zoya, rumah sakit adalah taman bermain keduanya.
Kalandra merapatkan posisinya di samping Zoya, matanya waspada memindai setiap sudut. Sejak teror boneka itu, dia tidak membiarkan jarak lebih dari sepuluh sentimeter di antara mereka. Tangan kanannya selalu siap di dekat pinggang, tempat pistolnya tersembunyi.
"Ingat, kita cari Kepala Perawat bernama Suster Mita," bisik Kalandra. "Berdasarkan data flashdisk kamu, dia satu-satunya orang yang masih punya kontak intens dengan Dr. Hanggara sebelum dokter itu dipecat."
Mereka menuju meja resepsionis utama di sayap timur. Seorang perawat senior dengan nametag 'Mita' sedang sibuk memarahi perawat magang. Wajahnya judes, tipikal perawat senior yang merasa punya kuasa penuh.
"Permisi. Suster Mita?" sapa Kalandra tegas sambil mengeluarkan lencana kepolisiannya.
Wanita itu menoleh, matanya menyipit melihat lencana emas yang berkilau di bawah lampu neon. Wajah judesnya berubah sedikit gugup, tapi dia berusaha tetap tenang.
"Ya, saya sendiri. Ada apa polisi ke sini? Mengganggu pelayanan saja," jawab Mita ketus, mencoba menggertak balik.
"Kami mencari informasi tentang Dr. Hanggara. Kami tahu dia pernah..."
"Dia sudah dipecat enam bulan lalu!" potong Mita cepat, terlalu cepat. Dia membalikkan badan, pura-pura sibuk menata berkas. "Saya tidak tahu dia di mana sekarang. Cari saja di data kepegawaian. Jangan tanya saya."
Kalandra hendak maju untuk mendesak, tapi Zoya menahan lengannya.
"Biar aku saja," bisik Zoya.
Zoya melangkah maju. Dia tidak menunjukkan lencana, tidak membentak. Dia hanya melepaskan kacamata hitamnya, menatap Suster Mita dengan tatapan tajam yang langsung menusuk ke retina.
"Suster Mita," panggil Zoya pelan. "Tanganmu kenapa?"
Mita menoleh, refleks menyembunyikan kedua tangannya ke dalam saku seragam. "A-apa maksud Anda?"
Zoya tersenyum miring. Dia mendekatkan wajahnya ke loket kaca.
"Sejak kami datang, kamu menggaruk punggung tangan kirimu tiga kali. Itu bukan gatal biasa. Itu pruritus psikogenik, gatal karena panik," ucap Zoya datar, lalu matanya turun ke leher perawat itu. "Dan lihat urat lehermu. Jugular Venous Pressure-mu meningkat drastis. Jantungmu memompa terlalu keras karena takut."
"Saya... saya cuma sibuk!" elak Mita, keringat dingin mulai muncul di dahinya.
"Oh ya?" Zoya menunjuk saku seragam Mita yang agak menggembung. "Dan bau itu... samar tapi khas. Sevoflurane. Obat bius inhalasi yang baunya manis seperti buah busuk. Itu obat yang harusnya ada di kamar operasi tertutup, bukan di saku perawat resepsionis."
Wajah Mita berubah pucat pasi.
Zoya tidak memberi ampun. "Kamu mencuri obat bius dari logistik rumah sakit untuk dia, kan? Hanggara butuh obat itu untuk melumpuhkan korbannya."
"Nggak! Itu fitnah!" Mita berteriak, membuat beberapa orang menoleh.
Zoya menggebrak meja pelan, tapi efeknya lebih menakutkan daripada teriakan Kalandra. "Jangan bohong sama dokter forensik. Aku bisa melihat residu kimia di ujung kukumu yang membiru. Ujung jarimu biru bukan karena dingin AC, tapi karena kamu baru saja memegang dry ice dalam jumlah banyak tanpa sarung tangan tebal."
Kalandra terbelalak. Dry ice. Itu tanda khas si pembunuh.
Zoya mencengkram pergelangan tangan Mita yang ada di atas meja, menariknya keluar dari saku. Jari-jari wanita itu memang tampak membiru pucat di bagian ujungnya.
"Satu panggilan ke Dinas Kesehatan, dan izin praktikummu dicabut seumur hidup karena membantu pembunuh berantai," ancam Zoya dingin. "Pilih mana? Masuk penjara sebagai komplotan pembunuh, atau bicara sekarang?"
Pertahanan Mita runtuh seketika. Kakinya lemas. Air matanya tumpah.
"Jangan... jangan laporin saya..." isak Mita gemetar. "Saya dipaksa... dia... dia mengancam akan membunuh anak saya kalau saya nggak suplai dry ice dan obat bius..."
Kalandra langsung mengambil alih, mencengkram bahu Mita. "Di mana dia sekarang? Jawab!"
"Di... di bawah," cicit Mita ketakutan. "Gudang pendingin jenazah lama di basement. Sayap gedung yang mau direnovasi. Kuncinya cuma saya dan dia yang pegang."
Kalandra dan Zoya saling pandang. Mereka menemukan sarangnya.
"Raka! Kirim tim taktis ke RS Permata Medika sekarang! Kepung seluruh akses keluar!" perintah Kalandra lewat earpiece-nya sambil berlari menarik Zoya menuju lift darurat.
"Lewat sini, Mas. Lift utama terlalu lambat," arahkan Zoya yang hafal denah rumah sakit.
Mereka menuruni tangga darurat menuju lantai dasar, lalu terus turun ke basement dua. Udara di sana berubah drastis. Dingin, lembap, dan berbau apek. Lampu lorong berkedip-kedip suram, menciptakan bayangan mengerikan di dinding beton yang berlumut.
"Tetap di belakangku," bisik Kalandra sambil mengarahkan pistolnya ke depan. Senter di laras pistolnya menyapu kegelapan lorong yang sunyi senyap.
Mereka melewati tumpukan kursi roda rusak dan brankar berkarat. Di ujung lorong, terdapat sebuah pintu besi tebal dengan tulisan pudar: RUANG PATOLOGI - DILARANG MASUK.
Pintu itu tertutup rapat, tapi gemboknya terlihat baru dan mengkilap, kontras dengan karat di sekelilingnya.
Zoya menyentuh gagang pintu itu dengan sarung tangan yang sudah dia pakai sejak turun tangga.
"Dingin," bisik Zoya. "Sangat dingin. Di balik pintu ini suhunya mungkin minus dua puluh derajat."
Kalandra mengangguk. Dia menendang gembok itu keras-keras dengan sepatu bot militernya. Brak! Sekali lagi. Brak!
Gembok patah. Pintu besi berat itu berderit terbuka perlahan, mengeluarkan uap putih dingin yang langsung menyelimuti kaki mereka seperti kabut hantu.
Di dalam sana, bukan sekadar gudang kosong.
Cahaya lampu bedah yang menyilaukan menyala di tengah kegelapan ruangan luas itu. Berbagai peralatan medis canggih tersusun rapi. Tabung-tabung kaca berisi cairan berwarna-warni berjejer di rak.
Dan di tengah ruangan, ada sebuah meja operasi besi.
Kosong.
Tapi di lantai, ada ceceran darah segar yang masih merah menyala, membentuk jejak kaki yang mengarah ke sebuah pintu kecil tersembunyi di balik lemari obat.
"Darahnya masih basah," desis Zoya, matanya menatap jejak itu. "Dia baru saja pergi. Kita terlambat satu menit."