Demi melunasi hutang keluarga, Amara (19) nekat merantau ke Jakarta dengan rahasia tubuh yang tak lazim: ia mampu menghasilkan ASI meski masih perawan. Keajaiban itu membawanya menjadi pengasuh bayi milik Arlan, pengusaha dingin yang dikhianati istrinya.
Saat bayi Arlan menolak segala jenis susu formula, hanya "anugerah" dari tubuh Amara yang mampu menenangkannya. Namun, rahasia itu terbongkar. Bukannya marah, Arlan justru terobsesi. Di balik pintu kamar yang tertutup, Arlan menyadari bahwa bukan hanya putranya yang haus akan kehangatan Amara—ia pun menginginkan "jatah" yang sama.
Antara pengabdian dan gairah terlarang, Amara terjebak dalam jerat cinta sang tuan yang posesif. Apakah ini jalan keluar bagi kemiskinannya, atau justru awal dari perbudakan nafsu yang manis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon your grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: Pelajaran Pertama Sang Tuan
§êñ†µhåñ pertama itu membuat Amara seolah tersengat listrik. Kulit kêjåñ†åñåñ Arlan yang terasa panas, berdenyut, dan sekeras batu di bawah jemarinya membuat napas Amara semakin pendek. Ia ingin menarik tangannya, namun Arlan mengunci pergelangan tangannya dengan kuat, menuntun gerakan jemari Amara untuk melingkari batang kêjåñ†åñåññɏå yang besar.
"Genggam dengan erat, Amara," bisik Arlan di sela-sela kegiatannya menyesap þµ†ïñg Amara. "Sama seperti caramu memegang botol susu Kenzo, tapi kali ini lebih lembut... dan lebih tegas."
Amara memejamkan mata rapat-rapat, wajahnya terasa seperti terbakar. "Tuan... saya tidak bisa... ini terlalu besar," rintihnya.
Arlan melepaskan kulumannya sejenak, menatap Amara dengan mata yang menggelap karena ñ壧µ. "Kau bisa. Dengar, Amara... adil bukan? Aku sudah membantumu mengosongkan dadamu agar tidak sakit, sekarang giliranmu membantuku mengeluarkan ketegangan yang menyiksa ini. Gerakkan tanganmu... naik dan turun... pelan-pelan."
Dengan bimbingan tangan Arlan, Amara mulai menggerakkan telapak tangannya menyusuri panjang kêjåñ†åñåñ pria itu. Ia bisa merasakan urat-urat yang menonjol di sana, memberikan tekstur yang asing namun anehnya membangkitkan sesuatu yang terlarang di dalam perutnya sendiri.
"Ahhh... begitu, Amara... terus..." Arlan melenguh rendah, kepalanya terdongak saat merasakan cengkeraman mungil namun hangat dari tangan Amara.
Melihat reaksi Arlan yang tampak sangat menikmati perlakuannya, rasa takut Amara perlahan terkikis oleh rasa penasaran yang polos. Ia memperhatikan bagaimana setiap gerakannya membuat Arlan memejamkan mata dan menggeram nikmat.
"Apa... apa ini juga sakit seperti dadaku kalau tidak dikeluarkan, Tuan?" tanya Amara polos, matanya menatap gerakan tangannya sendiri.
Arlan terkekeh serak di tengah desahannya. "Iya, Amara... rasanya sangat sesak dan panas. Hanya kau yang bisa meredakannya."
Arlan kembali menyerang ÐåÐå Amara, kali ini dengan hisapan yang lebih bertenaga seiring dengan gerakan tangan Amara yang mulai menemukan iramanya. Suara kecipak basah dari mulut Arlan berpadu dengan suara napas mereka yang saling memburu.
Amara mulai berani meningkatkan kecepatannya. Ia merasakan cairan bening mulai keluar dari ujung kejantanan Arlan, membasahi tangannya. "Tuan... ada yang keluar... apa Tuan ngompol?" tanya Amara dengan mata membola.
Arlan tertawa rendah, sebuah tawa yang penuh dengan gairah jantan. "Bukan, sayang... itu tanda kalau aku sudah di puncak. Terus, jangan berhenti... lebih cepat sedikit..."
Puncak itu akhirnya datang. Arlan mengerang keras, membenamkan wajahnya di antara ßêlåhåñ ÐåÐå Amara yang besar saat ia menyemburkan cairannya yang kental dan hangat ke tangan Amara. Tubuh kokoh itu menegang sesaat sebelum akhirnya lemas dan bersandar sepenuhnya pada Amara.
Keheningan kembali menyelimuti kamar bayi. Amara terengah-engah, menatap tangannya yang kini penuh dengan cairan putih kental milik majikannya, bersaing dengan noda ASI yang juga berceceran di sana.
Arlan mengangkat kepalanya, mengecup dahi Amara dengan lembut—sebuah tindakan yang jauh lebih intim dari sekadar nafsu. "Kerja bagus, Amara. Pelajaran pertama selesai. Sekarang, bersihkan dirimu... dan bersiaplah, karena aku ingin kau selalu melakukan ini setiap kali aku membutuhkannya."
***
Setelah Arlan melepaskan cengkeramannya dan membiarkannya pergi, Amara hampir tersandung saat melangkah cepat menuju kamarnya sendiri. Ia segera mengunci pintu kayu itu dan bersandar di baliknya, jantungnya masih berdegup seperti genderang perang. Tubuhnya terasa panas, seolah-olah suhu ruangan itu naik hingga berpuluh derajat.
Dengan langkah gontai, ia masuk ke dalam kamar mandi. Di depan cermin besar yang mengkilap, Amara terpaku menatap pantulan dirinya sendiri. Rambutnya berantakan, dan seragamnya yang kusut meninggalkan jejak asinya sendiri bercampur noda kental milik Arlan.
"Apa yang baru saja kulakukan?" bisiknya pada diri sendiri dengan napas yang masih terengah-engah.
Namun, di tengah rasa bersalahnya, ada sensasi aneh yang tidak bisa ia abaikan. Perut bagian bawahnya terasa mulas namun nikmat, dan ada rasa tidak nyaman yang sangat asing di antara pangkal pahanya. Rasa berdenyut itu membuatnya gelisah. Dengan tangan gemetar, Amara perlahan menurunkan celana dalam katunnya.
Matanya membelalak saat melihat setitik noda basah yang transparan dan lengket di sana. Penasaran sekaligus takut, ia memberanikan diri meraba area kêwåñï†ååññɏå sendiri yang masih tertutup bulu-bulu halus.
"Astaga..." Amara terpekik pelan. Jari-jarinya merasakan cairan yang sangat banyak dan licin, seolah-olah ia baru saja kehujanan di bagian bawah sana. "Ada apa denganku? Kenapa di bawah sini sangat basah? Apa aku sakit karena menyentuh milik Tuan tadi?"
Ia tidak tahu bahwa itu adalah tanda bahwa tubuhnya baru saja mencapai puncak gåïråh yang belum pernah ia alami sebelumnya. Kepolosan Amara membuatnya mengira ada sesuatu yang salah dengan tubuhnya, padahal itu adalah respons alami atas "pelajaran" yang diberikan Arlan.
Sementara itu, di kamar bayi, suasana berubah menjadi sangat hangat. Arlan Aditama kini tampak seperti orang yang berbeda. Tidak ada lagi gurat kemarahan atau wajah kecut yang ia bawa dari kantor tadi siang. Ia berdiri di depan boks bayi sambil mengancingkan celananya kembali dengan gerakan yang santai.
Ia menatap Kenzo, yang ternyata sejak tadi memperhatikan papanya sambil asyik mengenyot ibu jarinya sendiri. Bayi itu mengeluarkan suara "euehh" kecil dan menendang-nendang kakinya ke udara, seolah ikut merasakan suasana hati papanya yang sedang sangat bagus.
"Kenapa, Jagoan? Kau senang melihat Papa puas?" Arlan terkekeh rendah, sebuah tawa yang tulus dan jarang terdengar.
Arlan membungkuk, mengangkat Kenzo ke dalam dekapannya dan mencium pipi gembul bayinya. Setelah kepergian istrinya yang meninggalkan luka dan kehampaan, baru kali ini Arlan merasa hidupnya memiliki warna lagi. Dan ia sadar, warna itu dibawa oleh pengasuh desa yang kini sedang kebingungan di kamar mandi sebelah.
"Pengasuhmu itu... dia sangat ajaib, Kenzo," gumam Arlan sambil menimang bayinya. "Dia bukan hanya bisa memberimu makan, tapi dia juga bisa membuat Papa merasa seperti pria paling berkuasa di dunia hanya dengan satu genggaman tangannya."
Arlan berjalan menuju jendela, menatap taman yang mulai gelap dengan senyum penuh rencana. Rasa hausnya hari ini memang sudah reda, tapi ia tahu, besok ia akan merindukan sensasi itu lagi. Dan ia akan memastikan Amara tidak akan bisa lari ke mana pun.