NovelToon NovelToon
Bersinar Lah Bersama Matahari

Bersinar Lah Bersama Matahari

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mengubah Takdir / Menjadi Pengusaha
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

Penasaran dengan ceritanya yuk langsung aja kita baca

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32: Akar yang Menguat

BAB 32: Akar yang Menguat

Hujan di pertengahan Januari 2026 mengguyur Kabupaten Garut dengan deras, seolah ingin mencuci semua debu yang menempel di dinding kaca Pabrik Matahari Terbit. Namun, bagi Nayla, hujan ini adalah pengingat bahwa sepahit apa pun badai di luar, akar harus tetap kuat menghunjam bumi. Pagi ini, ia tidak berangkat ke kantor dengan mobil mewahnya. Ia duduk di ruang tamu rumahnya, menunggu adiknya, Maya, pulang dari pesta yang baru berakhir saat fajar menyingsing.

Saat pintu depan terbuka, Maya tampak terkejut melihat kakaknya sudah duduk tegak dengan secangkir kopi hitam yang masih mengepul.

"Baru pulang, Maya?" tanya Nayla datar, namun suaranya memiliki wibawa yang membuat langkah Maya terhenti.

"Mbak... aku cuma main sebentar sama teman-teman. Kenapa Mbak Nayla belum ke pabrik?" Maya mencoba mengalihkan pembicaraan, namun ia tidak berani menatap mata Nayla.

Nayla meletakkan cangkirnya perlahan. "Mulai hari ini, semua fasilitas yang kamu pakai—mobil, kartu kredit, dan apartemen di Jakarta—Mbak bekukan. Mbak sudah menarik namamu dari daftar penerima tunjangan keluarga."

Maya terbelalak. "Mbak gila? Aku adik Mbak! Mbak punya miliaran, masa buat adiknya sendiri pelit?"

"Uang itu bukan milikku, Maya. Itu milik ribuan keping basreng yang digoreng dengan keringat orang lain. Kamu sudah lupa rasanya lapar, dan itu membuatmu kehilangan arah," ujar Nayla tenang. "Mulai besok, kamu akan bekerja di bagian pencucian cabai di Dapur Satelit pertama kita di desa. Tanpa perlakuan khusus. Jika kamu bolos sehari, kamu tidak akan punya uang untuk makan hari itu."

Tangisan dan amukan Maya tidak membuat Nayla goyah. Ia menyadari bahwa membiarkan Maya dalam kemewahan tanpa kerja keras adalah cara tercepat untuk menghancurkan masa depan adiknya. Nayla sedang melakukan "operasi jantung" pada keluarganya sendiri demi menyelamatkan jiwa mereka.

Setelah menyelesaikan urusan rumah, Nayla berangkat menuju Desa Sukamaju, tempat pilot proyek "Dapur Satelit Matahari" resmi diluncurkan. Di sana, sebuah balai desa tua telah disulap menjadi ruang produksi mini yang higienis. Ada tiga puluh Ibu-ibu yang sudah menunggu dengan antusias. Mereka adalah orang-orang yang tidak bisa bekerja di pabrik besar karena harus menjaga anak atau mengurus orang tua di rumah.

"Ibu-ibu, tempat ini adalah perpanjangan tangan dari pabrik kita," ujar Nayla di depan mereka. "Di sini, kalian akan mengolah bumbu rahasia kita. Mesin pengemas akan saya sediakan. Tugas kalian adalah menjaga rasa. Dengan sistem ini, Basreng Matahari akan selalu tersedia untuk agen-agen kecil kita tanpa harus menunggu antrean ekspor."

Nayla terjun langsung. Ia tidak segan-segan berjongkok di lantai bersama Ibu-ibu itu, mengajarkan cara memilah daun jeruk yang benar-benar segar. Ia ingin mereka merasa bahwa mereka adalah pemilik dari merek ini, bukan sekadar buruh.

"Mbak Nayla, terima kasih sudah membawa pekerjaan ini ke desa kami," ujar seorang janda tua yang kini memiliki penghasilan tetap dari program tersebut. "Sekarang saya tidak perlu lagi merantau ke kota untuk jadi pembantu."

Melihat senyum tulus itu, beban di pundak Nayla terasa jauh lebih ringan. Inilah makna kesuksesan yang sesungguhnya di tahun 2026: bukan tentang seberapa besar pabrikmu, tapi seberapa banyak dapur yang bisa tetap mengepul karena keberadaanmu.

Malam harinya, Nayla menerima laporan dari Ranti. "Nay, setelah pengumuman Dapur Satelit ini viral, sentimen negatif tentang gaya hidup Maya di media sosial mulai tertutup oleh berita positif tentang pemberdayaan ini. Saham sosial kita naik lagi, dan agen-agen daerah mulai kembali percaya."

Nayla mengangguk puas, namun pikirannya tetap tertuju pada Maya yang kini sedang menangis di kamarnya. "Biarkan Maya belajar, Ran. Matahari butuh proses untuk terbit, begitu juga dengan kedewasaan."

"Terkadang, kita harus menjadi mendung yang gelap bagi orang yang kita cintai, hanya agar mereka bisa menghargai sinar matahari saat ia datang kembali. Kesuksesan finansial adalah ujian yang jauh lebih berat daripada kemiskinan. Jika akar kita tidak kuat menghunjam bumi dengan nilai-nilai kejujuran, maka pohon besar yang kita bangun akan tumbang saat badai kemewahan datang. Hari ini saya menanam akar baru di desa-desa, dan saya berharap Maya bisa menemukan akarnya sendiri di antara tumpukan cabai dan daun jeruk. Sinar matahari tidak akan pernah mati, selama ia tetap memberikan kehidupan bagi mereka yang ada di bawahnya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!