Arumi tercenung, bimbang antara harus mengikuti permintaan seorang sekretaris pribadi dari Andara Group. Atau tetap menjadi budak seumur hidup, untuk tinggal bersama ibu dan saudara tirinya.
Memiliki kemiripan wajah dengan mendiang wanita yang amat di cintai sang pewaris tunggal Andara Group mungkin bisa menjadi sebuah keberuntungan atau mungkin petaka di kemudian hari. Sebab Pria bernama Arga Sanjaya itu menganggapnya sebagai Alicia bukanlah Arumi. Pria arogan yang belum bisa menerima kematian sang kekasih memang tidak pernah kasar padanya. Namun, ia bisa melakukan apapun demi menyingkirkan orang-orang yang berkemungkinan akan melukainya. Lantas, sampai kapan Arum akan berperan sebagai Alicia, melayani sang suami sepenuhnya. Lalu, apakah ia akan tetap selamat saat Arga mulai tersadar bahwa Arumi bukanlah Alicia-nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon picisan imut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
mengunjungi seorang psikiater
Sekretaris Tomi nampak fokus mengemudi dengan tatapan lurus ke depan. Di mana jalanan sudah mulai padat, baik kendaraan roda empat maupun roda dua.
Bahkan halte bus juga penuh sesak oleh para penumpang yang rela berjubal demi agar tidak terlambat ketempat tujuan mereka.
Beberapa pedagang asongan ataupun pengamen sudah bersiaga menunggu lampu lalulintas itu menjadi merah.
Mobil yang di kendarai Sekretaris Tomi turut berhenti di tengah kepadatan jalanan. Mobil-mobil mengular di belakangnya juga depan. Ya, Jakarta macet memang sudah biasa. Terutama di jam-nya karyawan berangkat kerja pagi serta pulang, sore hari.
Di satu sisi Arga melamun membayangkan tingkahnya pagi ini pada Arum. Pria dengan sorot mata tegas menatap lurus keluar jendela.
"Pffftt..." sembari menutup mulutnya, pria itu tiba-tiba tertawa walau sedikit di tahan.
Tomi mengintip dari kaca spion. Nampak Tuannya masih menatap ke kaca samping, membuat Tomi penasaran turut menoleh juga. Memastikan apa yang bisa membuat pria di belakang itu mendadak tertawa.
Yang di lihat Sekretaris Tomi adalah seorang pengemis yang tak memiliki lengan dan satu kakinya.
Masa iya Tuan Arga menertawakan itu? (Tomi)
Kembali sorot matanya mengedar, namun tak didapati apapun yang membuatnya berpikir wajar jika Tuanya tertawa.
Kembali dia melirik ke spion tengah, Arga masih tidak menggeser sedikitpun posisinya. Lagi-lagi ekspresinya berubah, ia menatap sendu. Seperti ada sesuatu yang membuatnya sedih.
Memang akhir-akhir ini Arga semakin mudah berubah-ubah suasana hati seperti itu. Mendadak tertawa sendiri lalu tahu-tahu sedih.
Tomi berdeham sejenak. "Emmm, Tuan maaf. Saya rasa, apa yang di sarankan Tuan Komisaris Arman itu ada baiknya."
Biji matanya menggeser. "Maksudmu?"
"Mungkin Anda harus mengatur jadwal dengan seorang psikiater," jawabnya hati-hati.
"Kau pikir aku gila?"
"Emmm, bukan begitu. Namun?"
"Namun apa?" Melirik tajam.
"Tidak, Tuan..." Tomi tak berani melanjutkannya dan berbicara jika Tuannya memang butuh konsultasi dengan dokter spesialis kejiwaan.
Pria di belakang menghela nafas, menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi belakang.
Aku tidak gila. Hanya sedang memikirkan antara gadis itu dan Alieee. Membuatku mudah berubah suasana hati.
Memang benar sejenak Arga bisa tertawa kala mengingat kesalnya Arumi yang berusaha untuk tetap tersenyum demi mengikuti aturannya. Namun sejurus kemudian siluet wajah Alicia menyadarkannya. Seolah kembali membuatnya merasakan kehilangan.
Kerap kali rasa bersalah muncul, jika Ia tertawa karena Arumi.
Mau di buat seperti apapun. Gadis itu dan Alie-ku berbeda. Jelas Alie yang asli tidak bisa menghilang dari pikiranku. Tapi kenapa aku senang melihat ekspresi pura-pura patuhnya itu. Padahal Dia kesal...
"Haaaaah..." Arga menghela nafasnya, mengusap wajah itu dengan gerakan tangannya naik hingga keatas. Lalu mencengkeram sejenak kepalanya yang tiba-tiba mengingat sosok Arumi sedang tersenyum sembari mengepalkan tangannya.
Tidak Alie, aku tidak mengkhianatimu... aku tersenyum bukan karena gadis itu yang membuatku senang, melainkan sebab wajahmu ada padanya. Aku senang karena Kau. Itu fakta yang sesungguhnya.
Batinnya berusaha untuk menolak kenyataannya. Bahwa bayang-bayang Arumi mulai mendominasi.
"Ck!" Arga membenturkan kepalanya beberapa kali ke sandaran kursi. Salahkan dengan yang ku pilih ini? Membatin kemudian.
Sekretaris Tomi kembali melirik namun sejurus kemudian kembali menatap kedepan.
***
Dua minggu kemudian disore harinya...
Arga melirik kearah jam tangannya. Nampak gusar sepertinya, setelah menunggu lama di ruangan pribadi seorang Dokter spesialis kedokteran jiwa. Bahkan ia sudah menghabiskan satu cangkir kopinya, membuat Sang Wakil Direktur utama rumah sakit ini merasa tidak enak hati.
"Apa Dia masih lama?" Kesal menanyakan itu pada Sang Wakil Direktur.
"Seharusnya sebentar lagi. Atau Tuan mau pulang lebih dulu saja. Kami akan mempersiapkan jadwal pribadi Anda dengan Dokter Aska."
"Ck! Aku sudah di sini. Kau mau aku pulang?"
"Maafkan saya, Tuan." Menunduk. Arga menoleh kearah Tomi.
"Ini semua karena ulahmu!" Menuding Tomi dengan tatapan sinis. Sementara yang di tuding nampak sedikit terhenyak namun setelahnya menunduk kembali. "Gara-gara kau terus-menerus menyuruhku untuk konsultasi, aku jadi membuang banyak waktuku!"
"Maaf saya memang bersalah, Tuan," jawab Tomi.
Padahal aku menyarankan untuk atur jadwal. Bukan datang dadakan seperti ini, Tuan. Beruntungnya Dokter itu praktek, kalau sedang cuti bagaimana? Anda pasti bakal lebih menyalahkanku lagi... (Tomi nampak ngedumel dalam hati.)
Pria itu mengecak, ketika rasa bosan semakin menghinggapi. Matanya mengitari sekeliling. Melihat foto-foto yang terpanjang di dinding. Berupa sertifikat dan yang lainnya. Fokusnya pada sebuah papan nama bertuliskan Dokter Aska Biantara. SpKJ.
Aku memang tidak gila, namun kenapa pada Akhirnya aku menuruti saran Kakek dan justru sudah duduk di sofa ruangan pribadi seorang psikiater. Bahkan dengan bodohnya aku mau menunggu Dokter itu selesai praktek hampir setengah jam lamanya, Sialan!
Arga bersungut-sungut dalam hati. Ia sudah rela membatalkan jadwalnya yang terakhir demi agar dapat melakukan konsultasi dengan segera. Namun kenyataannya, ia datang di waktu yang tidak tepat.
Tak lama pintu di ketuk dari luar sebelum terbuka. Masuklah seorang dokter Muda. Pria itu menebar senyum dengan sopan.
"Selamat sore, Tuan Arga. Maaf, Anda jadi harus menunggu cukup lama karena saya sedang praktek dengan jumlah pasien yang tak sedikit," ucapnya dengan senyum ramahnya. Mengulurkan tangan kanannya kemudian.
"Kau seharusnya bisa mendahulukan ku. Sementara aku bisa membayar-mu lebih daripada mereka," ujarnya angkuh. Tanpa menjabat uluran tangan sang Dokter. Aska mengulas senyum menarik kembali tangannya sebelum duduk dengan sopan.
"Mungkin itu berlaku untuk yang lain. Tidak dengan saya, Tuan. Karena bagi saya semua pasienku statusnya sama. Kecuali jika Anda mengatur jadwal pertemuan lebih dulu di luar jam praktek, pasti akan saya prioritaskan..."
"Cih! Kau pikir aku pasien sakit jiwa seperti yang lain?" Arga tak menanggapi dengan serius. Karena ia paham siapa Dokter Aska ini, hanya dengan mendengarkan profil Beliau dari Tomi. Pria itu pun mengusap rambutnya kebelakang. Membuat Dokter itu kembali tersenyum.
"Saya paham. Intinya saya senang saat Anda datang kemari, Tuan Arga," ucapnya ramah.
"Camkan ini, saya datang kesini hanya untuk konsultasi. Bukan berarti saya memiliki gangguan kejiwaan," tegasnya kemudian memberi tahu. Aska pun mengangguk lagi masih mempertahankan senyum ramahnya.
"Iya ... iya, Tuan. Tenang saja, karena semua pasienku pasti mengaku dirinya waras," gumamnya kemudian.
"Hei, kau bilang apa tadi?!"
"Hahaha... maaf saya hanya bercanda. Sekarang Anda bisa ceritakan dulu apapun yang Anda rasakan, saya akan mendengarkan." Dokter Aska sudah bersiap dengan buku catatannya.
"Dasar bedebah tengik!" Umpatnya, yang di tanggapi dengan tawa santai Dokter Aska.
Arga berdeham. Melonggarkan dasinya kemudian sebelum mulai menceritakan semuanya. Sementara Dokter Aska nampak serius sampai manggut-manggut, mendengarkan dengan seksama juga mencatat bagian-bagian terpenting sebagai bahan anamnesisnya.
*semua pria lain yang menyukai akan dianggap lelaki baik2 dan cinta nya dinggap tulus dan harus diperlakukan sangat lembut dan baik2
*sedangkan semua wanita lain yang menyukai sang suami akan dianggap wanita pelakor murahan, menjijikan harus diperlakukan kasar, kejam dan dibinasakan
fakta novel mu cerminan pola pikirmu bagaimana pola pikir mu akan bisa dilihat dari novel mu
sampai disini paham akan
polah pikir bodoh kayak gini akan menunjukkan betapa egoisnya nya kalian
jika ada pria lain yang menyukainya maka dia akan anggap cinta pria itu tulus, dan akan memperlakukan pria itu secara lembut dana akan menolak dan menjelaskan secara lembut
tapi saat ada wanita lain yang menyukai suami otomatis wanita itu adalah wanita murahan, menjijikan pelakor, harus diperlakukan kasar dan harus dibinasakan
dengan pola pikir ini kalian berkarya novel maka jadi novel kayak gini yang begitu lembut memperlakukan pebinor
miris
klu di hati tuan muda cuma Alicia 🥺