NovelToon NovelToon
Metaforis (Lilin Yang Tak Pernah Padam)

Metaforis (Lilin Yang Tak Pernah Padam)

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:784
Nilai: 5
Nama Author: Yun Alghff

Ria, seorang gadis yang harus menanggung aib kedua orangtuanya seumur hidupnya. Lahir sebagai anak haram. Di belenggu sangkar emas dalam genggaman Ayahnya, di siksa lahirnya, dan di cabik batinnya. Ria terpaksa menikah dengan Pria dingin tak berperasaan bernama Arya. fisik Ria tidak terluka bersama Arya, namun batin Ria semakin tersiksa. Sampai ajal menjemput Ria, Arya baru tahu apa arti kehilangan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penyesalan di Balik Pintu Yang Terkunci

Arya tidak bisa menunggu hingga pagi. Gejolak di dadanya seperti api yang menyulut seluruh syarafnya. Informasi dari pesan singkat kawannya terasa seperti mimpi buruk yang tidak ingin ia percayai. Kanker? Nyeri kronis? Tidak, itu tidak mungkin. Ria hanya kurang makan. Ria hanya butuh istirahat.

Dengan tangan yang masih gemetar, Arya menyambar kunci mobil dan botol putih berisi obat misterius itu. Ia memacu kendaraannya menembus sisa hujan malam menuju rumah sakit pusat yang memiliki laboratorium farmasi 24 jam.

Setibanya di sana, Arya menggunakan otoritas dan pengaruh namanya untuk memaksa seorang apoteker senior dan dokter jaga memeriksanya saat itu juga.

"Periksa ini, dan saya ingin hasil pastinya dalam tiga puluh menit," perintah Arya, suaranya parau namun penuh tekanan. "Bukan hanya nama obatnya, tapi untuk apa obat ini digunakan dalam dosis setinggi ini."

Selama menunggu, Arya duduk di koridor rumah sakit yang dingin. Bau antiseptik yang menyengat mengingatkannya pada Ria. Ia mulai menyadari bahwa aroma ini adalah aroma yang sama yang sering tercium dari pakaian Ria belakangan ini. Betapa bodohnya ia mengira itu hanya bau sabun atau parfum baru.

Tiga puluh menit kemudian, dr. Gunawan, dokter jaga yang merupakan kawan lama dari Arya itu keluar dengan wajah yang sangat serius. Ia membawa selembar kertas hasil uji cepat laboratorium.

"Arya, dari mana kau mendapatkan obat ini?" tanya dr. Gunawan tanpa basa-basi.

"Katakan saja itu obat apa, Gun!" bentak Arya, emosinya sudah di ambang batas.

"Ini adalah kombinasi morphine dosis tinggi dan pereda nyeri syaraf," dr. Gunawan menghela napas berat. "Obat ini bukan untuk penyakit biasa. Ini adalah bagian dari perawatan paliatif. Biasanya diberikan kepada pasien yang sudah tidak memiliki harapan sembuh secara medis, untuk mengurangi penderitaan mereka dari rasa sakit yang luar biasa... biasanya pada kasus kanker tulang atau leukemia stadium akhir."

Dunia Arya seakan runtuh. Ia merasa seolah-olah seluruh oksigen di ruangan itu ditarik paksa keluar. Tubuh Arya lemas seketika menerima kenyataan pahit.

"Sejauh mana penyakit ini membahayakan... penggunanya?" tanya Arya, suaranya kini hanya berupa bisikan yang rapuh.

"Jika dia sudah sampai pada tahap mengonsumsi dosis ini secara rutin, itu artinya rasa sakitnya sudah tak tertahankan lagi tanpa bantuan kimia," dr. Gunawan menatap Arya dengan iba. "Penyakitnya sudah menyebar luas, Arya. Ini bukan lagi soal 'membahayakan', tapi soal berapa lama lagi tubuhnya mampu bertahan sebelum sistemnya menyerah total."

Arya terhuyung mundur, punggungnya menghantam dinding koridor. Ia teringat kembali pada setiap bentakannya, setiap pengabaiannya selama dua tahun ini, dan terutama— bentakannya tadi malam saat Ria mencoba membisikkan tentang kematiannya.

Ia mengira Ria sedang mengancamnya dengan drama. Ternyata, Ria sedang memberitahunya sebuah fakta medis yang tak terelakkan.

"Siapa pasiennya, Arya? Jika itu istrimu, dia harus segera masuk ruang perawatan intensif. Obat ini hanya menutupi rasa sakit, bukan menghentikan penyakitnya."

Arya tidak menjawab. Ia berbalik dan berlari menuju parkiran. Pikirannya hanya tertuju pada satu nama: Ria.

Ia merasa seperti seorang pembunuh yang baru saja menyadari korbannya adalah orang yang paling berharga dalam hidupnya. Selama ini ia menyekap Ria, mengurungnya dalam kemarahan, sementara istrinya sedang berjuang melawan maut sendirian dalam kesunyian yang mencekam.

Arya harus pulang. Ia harus menatap mata Ria—kali ini bukan sebagai penguasa, melainkan sebagai pria yang memohon ampunan pada waktu yang sudah hampir habis.

Perjalanan pulang terasa ribuan kali lebih panjang. Arya mengemudi seperti orang gila, namun pikirannya tertinggal di koridor rumah sakit tadi. Setiap lampu merah terasa seperti hukuman. Di telinganya, suara dr. Gunawan terus bergema: “Perawatan paliatif... tidak memiliki harapan sembuh... leukemia stadium akhir.”

Arya memukul kemudi mobilnya hingga tangannya memar. "Bodoh! Kau bodoh, Arya!" raungnya di dalam kabin yang kedap.

Ia teringat betapa sombongnya ia saat memaksa Ria meminum obat itu. Ia mengira dirinya adalah penyelamat yang memastikan istrinya kembali sehat, padahal ia adalah eksekutor yang menyodorkan racun pereda nyeri agar Ria tetap bisa berakting normal di hadapannya.

Setibanya di rumah, Arya tidak lagi membanting pintu. Ia melangkah masuk dengan sangat pelan, seolah takut suara langkah kakinya akan memecahkan tubuh Ria yang kini ia tahu sangat rapuh. Ia menaiki tangga dengan hati yang mencelos.

Di depan pintu kamar, Arya berhenti. Ia mengatur napasnya yang sesak, mencoba menghapus jejak air mata yang tak sengaja jatuh. Ia membuka pintu dengan perlahan.

Ria masih di sana, tertidur dalam posisi yang sama—meringkuk seperti janin. Cahaya bulan masuk melalui celah gorden, menyinari wajahnya yang terlampau tirus. Arya mendekat, duduk di tepi ranjang yang biasanya ia hindari.

Ia melihat nakas. Botol putih itu sudah kembali ke sana. Arya mengambilnya dengan tangan gemetar, lalu menatap Ria. Kali ini, ia melihat istrinya dengan lensa yang berbeda. Ia melihat memar-memar kecil di pergelangan tangan Ria yang ia kira karena benturannya kemarin, ternyata itu adalah tanda-tanda kegagalan sistem darah. Ia melihat sisa-sisa rambut di bantal yang lebih banyak dari biasanya.

Ria bergerak sedikit, perlahan membuka matanya. Ia terkejut mendapati Arya duduk di sana, menatapnya dengan pandangan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya—pandangan yang hancur, penuh luka, dan... kasih sayang?

"Mas? Kenapa belum tidur?" bisik Ria, suaranya serak. Ia mencoba duduk, tapi rasa nyeri kembali menyerang tulang belakangnya. Ia refleks meraih botol putih di nakas.

Tangan Arya bergerak lebih cepat. Ia menahan tangan Ria, namun kali ini bukan dengan cengkeraman kasar, melainkan dengan usapan yang sangat lembut.

"Jangan minum ini lagi, Ria," ucap Arya, suaranya pecah.

Ria tertegun. Ia menatap botol itu, lalu menatap wajah Arya. Jantungnya berdegup kencang. "Kenapa? Itu... itu vitamin darimu, Mas."

"Berhenti membohongiku!" Arya tidak bisa lagi menahan diri. Ia jatuh bersimpuh di samping ranjang, membenamkan wajahnya di seprai dekat tangan Ria. "Aku sudah tahu semuanya. Aku sudah ke rumah sakit. Aku sudah mengecek obat ini. Kenapa, Ria? Kenapa kau menyembunyikannya dariku? Kenapa kau biarkan aku terus menjadi iblis yang menyakitimu di saat kau sedang berjuang seperti ini sendirian?"

Ria terpaku. Rahasia yang ia jaga dengan seluruh sisa hidupnya kini terbongkar. Keheningan menyelimuti kamar itu, hanya terdengar isak tangis tertahan dari seorang pria yang selama ini dianggap tak punya hati.

Ria menarik napas panjang, matanya berkaca-kaca namun ia tidak menangis. "Karena jika kau tahu, kau akan melakukan ini, Mas. Kau akan menatapku dengan iba. Kau akan memaksaku masuk rumah sakit. Dan aku... aku hanya ingin diingat sebagai manusia, bukan sebagai pasien yang menunggu ajal."

Arya mendongak, matanya merah. "Aku tidak akan membiarkanmu pergi, Ria. Kita akan ke luar negeri. Kita akan cari donor, kita akan—"

"Mas..." Ria menyentuh pipi Arya, menghapus air mata pria itu. "Jangan melawan takdir demi egomu lagi. Waktuku sudah habis. Bisakah untuk sekali saja, kau tidak memerintahku, tapi menemaniku?"

Arya hanya terdiam, ia tidak menjawab atau pun menolak. Pikirannya terus berputar bagaimana caranya membawa Ria ke meja operasi tanpa menyinggung perasaannya, tanpa pandang bahwa dirinya merasa iba. Arya hanya tidak ingin miliknya pergi meninggalkan dirinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!