Ciluk ba...
"Ha yo... Om mau mendekati Mamaku ya?" seru seorang gadis cilik dengan rambut keritingnya.
"Enggak. Siapa juga yang mau mendekati Mamamu yang janda itu?" tanya seorang laki-laki yang tak lain adalah atasan dari Ibu gadis cilik itu, Luis Marshal Gena.
"Om suka lilik-lilik Mama. Ndak boleh ya, Om. Nanti matanya bintitan," ucap gadis cilik itu lagi.
Seorang janda atau single mom bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan. Kata orang-orang, dirinya disebut sebagai janda seksi. Padahal menurut sang empu, dia biasa saja.
Luis yang merupakan atasannya, begitu kagum dengan sosok sekretarisnya yang mandiri dan tegas. Bahkan berulangkali terpergok melihatnya. Namun perjalanan Luis mendekati sekretarisnya sangat terjal karena anaknya yang tampak tak suka dengannya.
Mampukah Luis meraih hati si janda seksi dan anaknya itu? Lalu bagaimana dengan mantan suami dari sekretarisnya yang tiba-tiba datang dan menjadi penghalang mereka untuk bersatu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terpukau
Om bos, ini luanganna besal sekali. Lebih besal luang kelja Om bos dalipada kamalna Aiko,
Aiko begitu terpukau dan kagum melihat ruang kerja Luis yang sangat besar. Tak lupa dengan penataan meja, sofa, dan beberapa buku yang sangat rapi. Berbeda dengan kamarnya, jika tidak dirapikan oleh sang Mama tentu saja berantakan.
"Besok minta Mamamu buat tambahkan luas kamarnya. Biar kamu bisa main sepak bola di dalam kamar," ucap Luis yang kemudian membawa Aiko duduk di sofa.
"Mama ndak ada uang lebih buat kasih Aiko kamal yang luas. Uangna buat beli makan sama sekolah Aiko,"
"Aiko itu pelempuan, mainna boneka bukan sepakbola." ucap Aiko yang seakan mengingatkan Luis bahwa dirinya seorang perempuan.
Deg...
Entah mengapa, Luis merasakan sesak dalam hatinya saat mendengar bahwa sekretarisnya tidak punya uang. Padahal gaji Emma di perusahaannya mencapai dua digit. Jika hanya untuk makan dan biaya sekolah, sepertinya lebih dari cukup.
"Perempuan juga banyak kok yang main sepakbola. Nggak pernah nonton TV atau youtube ya?" tanya Luis sambil berjalan ke arah kursinya sendiri. Memilih untuk tak membahas tentang Emma yang tidak punya uang.
"Ndak pelnah Mama kasih Aiko melihat sepakbola atau sinetlon. Aiko selalu lihat TV itu ya kaltun pololo, busa kuning, telus baby shalk."
Luis hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Film animasi kartun jaman sekarang yang dirinya bahkan tidak mengikuti. Umurnya yang sudah lumayan tua kata orang-orang, memilih menyibukkan diri dengan bekerja. Daripada menonton tontonan seperti itu.
"Om bos, mana foto istli dan anakna? Kata Mama, Om bos sudah punya istli dan anak." tanya Aiko lagi.
"Anak? Istri?" tanya Luis dengan tatapan bingungnya. Bahkan ia sampai mengalihkan pandangannya dari laptop di depannya.
"Iya. Kata Mama, Aiko ndak boleh ikut ke sini soalnya takut nanti istli dan anak Om bos malah." ceplos Aiko mengingat tentang ucapan Emma. Hari ini sepertinya Emma tengah dalam masalah besar.
"Om belum punya istri dan anak," Jawaban Luis itu membuat Aiko membulatkan matanya. Ternyata Emma berbohong padanya.
"Om bos belum punya istli dan anak? Mama atau Om bos yang bohong?" tanya Aiko dengan ragu-ragu.
"Nanti bilangna ndak ada istli, tapi tiba-tiba nikah silih sama cewek lain. Telus istlina malah," lanjutnya.
Eh...
Luis mulai kuwalahan berhadapan dengan Aiko. Sepertinya keputusan dia membawa Aiko bersamanya itu sangat salah. Apalagi kosa kata Aiko ini sudah seperti Ibu-Ibu tukang gosip di komplek perumahannya. Pasti ada seseorang yang mencekoki Aiko dengan kata-kata itu. Atau justru, Aiko mendengar sendiri dari pembicaraan orang dewasa.
"Aiko, di kulkas itu ada makanan dan susu. Kamu makan dan diam dulu. Om mau bekerja," ucap Luis mengalihkan pembicaraan.
"Siap..." seru Aiko yang langsung berlari menuju kulkas yang ada di dekat rak buku.
Nyam... Nyam...
Aiko pusing. Pilih makanan yang mana ini? Cokelat, kelipik kentang, atau wafel? Ada susu mahal,
Kalau semuana diambil, Om bos malah ndak ya?
Kayana ndak, olang tadi Om bos sendili yang nawalin kok.
***
Brakk...
Tuyul...
Pintu ruangan Luis dibuka dengan kasar oleh seseorang. Terlihat Erlan, sahabat Luis datang ke kantor. Saat pertama kali masuk ruangan Luis, Erlan langsung melihat seorang anak kecil dengan bibir dan pipi yang belepotan cokelat. Tentu saja Erlan terkejut dan menganggap Aiko itu tuyul. Padahal ia ingin membuat kejutan pada Luis, justru malah Erlan yang terkejut.
"Siapa yang Om sebut tuyul? Ndak ada tuyul di sini," tanya Aiko dengan mata menyipit.
"Ya kamu. Anak kecil di sini yang mirip tuyul kan cuma kamu," ceplos Erlan yang kini langsung duduk di kursi hadapan Luis.
"Sembalangan jadi olang. Anak kecil cantik begini dibilang tuyul," Aiko mendelikkan matanya sinis ke arah Erlan.
"Lu..."
"Anaknya Emma," ucap Luis sebelum Erlan bertanya tentang siapa sosok anak kecil di dalam ruangannya.
"Kok bisa anaknya Emma di sini? Maksudku kok diijinkan," tanya Erlan yang tahu tentang aturan dari perusahaan Luis.
Semua karyawan tidak diperbolehkan untuk membawa anak ke perusahaan. Mereka juga tidak boleh membawa masalah di luar perusahaan ke dalam pekerjaan. Hal ini dilakukan untuk melindungi kenyamanan karyawan lain. Namun entah ada magnet apa, tiba-tiba Luis sendiri yang membawa Aiko ke dalam ruangannya.
"Bestiena Om bos ini Aiko makana dibolehkan di sini. Ili ya kamu sama Aiko?" ucap Aiko yang langsung masuk ke dalam pembicaraan Luis dan Erlan.
"Siapa juga yang iri sama tuyul ubur-ubur kaya kamu itu? Udah badannya bulat dan mukanya belepotan cokelat, nggak ada cantik-cantiknya." ucap Erlan yang kini malah menggoda Aiko. Apalagi melihat hidungnya kembang kempis karena kesal. Erlan merasa Aiko ini sangat menggemaskan.
"Jangan diusilin anak orang, Erlan. Nanti emaknya ngamuk, aku nggak ikut-ikutan ya." tegur Luis membuat Erlan seketika mengingat Emma yang kemarin marah padanya.
"Suka ndak sadal dili. Emangna situ ganteng? Coba Om ngaca itu di celminna Om bos," suruh Aiko membuat Erlan menurutinya.
"Tampan kok, nggak ada yang salah." ucap Erlan memuji wajahnya sendiri sambil menyugar rambutnya.
"Tampan dalimana? Muka situ kaya tongkatnya Mak lampil saja bangga," seru Aiko membuat Luis hampir saja tersedak ludahnya sendiri.
Hahahaha...
Tongkatnya Mak Lampir yang warnanya hitam itu kan?
Akhirnya Luis tak bisa menahan tawanya lagi setelah mendengar ucapan Aiko. Sedangkan Erlan sudah berkacak pinggang dan menatap Aiko seperti ingin memakannya hidup-hidup. Ternyata omongan Aiko dan Emma itu hampir sama. Pedas, sungguh the power of perempuan. Tidak mau mengalah.
"Aku nggak..."
Permisi, Pak Luis.
Eh... Sekretaris Emma,
Astaga... Aiko, kamu makan apa? Kenapa wajahmu cemong kotoran sapi begitu?
Ha?
Luis dan Erlan seketika terdiam mendengar ucapan absurd dari Emma saat melihat penampilan Aiko. Mereka tidak menyangka kalau Emma akan mengucapkan itu pada anaknya. Ternyata yang suka mengganti kosa kata itu tak hanya Aiko, namun Emma juga.
"Mama, ini cokelat bukan mbelek sapi ya." seru Aiko tak terima membuat Emma terkekeh pelan.
"Habisnya mirip," ucap Emma yang kemudian mendekati anaknya. Ia mengambil tissue kemudian membersihkan wajah anaknya dengan telaten.
"Jangan makan cokelat banyak-banyak, Aiko. Nanti giginya ompong, mau kamu?" ucapnya memberi teguran pada sang anak.
"Sepelti Nenek lampil, Mama?" tanya Aiko dengan polosnya dan dijawab anggukan kepala oleh Emma.
Emangnya Nenek lampir udah nggak punya gigi?
Ya mana aku tahu. Situ kan tongkatnya Mak lampir. Pasti tahu dong Ibunya Mak Lampir punya gigi apa enggak?
Astaga... Pembicaraan macam apa ini?
ini buktinya🤣🤣
dengan itu om bos ,kalau gak tertarik mending buat kakek Regan aja😂
Emma lihat tuh kak Luis dan Aiko sangat kompak bukan ,sangat pantas dan cocok jadi suami mu 😂
Luis kapan ngajakin nikah 🤣
serius aku nanya😂
nanti tambah gak tumbuh tumbuh rambut nya Kim kalau sama Celine hahaha
tapi bener juga siapa tau cocok😂
Cie Luis berharap jadi pasangan suami istri 🤭