Elyra Azzahra mencintai Leonard Attahaya tanpa mengetahui siapa sosok Leonard sebenarnya.
Saat kebenarannya terungkap nyatanya perbedaan kasta dan jurang sosial menjadi titik kehancuran keyakinan Elyra akan cinta, namun dia tetap memilih bertahan.
Namun, harapan itu kembali runtuh ketika Leonard ternyata telah dijodohkan. Dalam kehilangan, Leonard memberontak, dan rela mengorbankan segalanya demi Elyra. Bagi Elyra dunia adalah cinta dan cinta bukan berarti dunia.
Mampukah Elyra bertahan demi cinta? atau justru menyerah dengan dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LIXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29. Menyelamatkan Nyawa dari Elyra
EPISODE INI PENUH DENGAN PEMBICARAAN KONYOL🤣
Leon benar-benar niat sekali kali ini. Meja makan kecil itu ia geser mendekat ke jendela supaya angin malam masuk, sup masih mengepul tipis, aromanya hangat dan bikin perut langsung protes. Nasi ditata rapi, telur dadar dipotong jadi beberapa bagian biar Elyra gampang makan. Bahkan segelas teh manis sudah siap di sisi piring Elyra, tingkat perhatian Leon memang sering bikin Elyra lupa kalau pria ini mantan bad boy.
Elyra duduk manis. Lalu langsung makan, fokus Elyra hanya jatuh pada makanan saja dan itu sangat parah. Sendok naik-turun cepat, pipinya menggembung kecil tiap kunyah, matanya serius seolah sedang lomba makan nasional. Leon menopang dagu, senyum-senyum sendiri.
“Pelan, sayang… kamu bukan lagi dikejar hutang loh. ” Goda Leon karena gemas melihat tingkah Elyra.
“Aku lapar banget,” gumam Elyra sambil tetap makan, Leon terkekeh.
“Kelihatan. Itu nasi kayak punya utang sama kamu.” Elyra nyengir kecil tapi tetap lanjut.
Beberapa detik hening diisi suara sendok ketemu piring. Leon menikmati pemandangan itu, pacarnya ah bukan pacar tapi calon istrinya makan lahap adalah kebahagiaan sederhana baginya.
“Leon…” Tiba-tiba Elyra berhenti.
“Iya, anak rakus kesayangan.” Jawab Leon, Elyra melotot.
“Jangan komentari aku makan.” Elyra mengangkat sendoknya seolah mengancam Leon.
“Maaf, silakan lanjut menghancurkan nasi itu.” Elyra nyuap lagi, lalu bicara sambil kunyah.
“Aku kepikiran novel yang aku baca kemarin.” Ucap Elyra, Leon langsung curiga.
“Biasanya kalau kamu ingat novel, hidup aku terancam.” Jawab Leon mulai waspada, Elyra menelan.
“Itu tentang CEO yang cinta mati sama ceweknya.” Cerita Elyra, Leon angguk pelan.
“Oke.”
“Terus dia malah one night stand sama cewek asing.” Lanjut Elyra Leon menyipitkan mata.
“Mulai.” Leon menghentikan makannya, otaknya berputar agar tidak menjadi titik brutal kecurigaan Elyra akibat novel.
“Dan akhirnya jatuh cinta sama yang baru.” Tambah lagi Elyra, Leon meletakkan sendoknya pelan.
“Sayang…” Leon menghela nafas sedangkan Elyra lanjut serius.
“Cewek lama dilupain gitu aja.” Tambah lagi Elyra, karena dia memang terus kepikiran dengan novel itu. Leon menghela napas.
“Kamu mau nanya apa sekarang?” Tanya Leon, Elyra menatapnya sambil masih nyuap.
“Kalau nanti kamu ketemu cewek baru gimana?” Tanya Elyra, Leon langsung refleks.
“CEWEK BARU?” Tanya ulang Leon, Elyra mengangguk kecil. Leon mendekat sambil dramatis.
“Putri kita mungkin.” Jawab Leon, Elyra tersedak.
“APA?!” Leon buru-buru menepuk punggung Elyra, sambil terkekeh.
“Eh jangan berhenti makan dulu sayang, makanannya masih banyak.” Tawa Leon, sedangkan Elyra mendelik ke arah Leon.
“Kamu ngomong apa sih?!” Elyra ikut terkekeh, Leon senyum super tenang.
“Cewek baru di hidup aku cuma anak kita nanti.” Jawab lagi Leon dan kembali duduk di tempatnya, Elyra bengong.
“Kamu tuh bisa aja!” Leon melanjutkan dengan wajah polos.
“Kalau selain itu muncul cewek baru, berarti halusinasi.” Elyra ngakak tanpa sadar.
“Leon!”
“Serius. Hatiku full storage. Sudah tidak menerima kontak baru.”
“Apaan sih!” Elyra tertawa kecil Leon mencondongkan badan.
“Kamu itu bukan cewek lama, bukan cewek baru.” Leon mengangkat sudut bibirnya.
“Terus aku apa?” Elyra mengangkat alisnya bingung.
“Kamu itu update permanen.” Elyra ketawa makin keras, mendengar jawaban Leon.
“Gombal!”
“Tapi kamu senyum.” Leon tersenyum tulus dan berhasil lolos dari cerita maut itu, Elyra berhenti sebentar.
“…iya sih.”
“Kalau aku CEO kayak novel itu, kamu bukan ditinggal.” Leon melanjutkan santai.
“Terus?”
“Aku cuti dunia demi kamu.”
“Lebay.”
“Serius. Rapat aku batalkan, saham aku tinggal, yang penting kamu makan.” Jawab Leon, meski kenyatannya kini posisi Leon lebih dari sekedar seorang CEO, Elyra menatap makanannya.
“Berarti aku penting banget dong.” Leon menunjuk dadanya.
“Lebih penting dari napas.”
“Kalau aku pergi?”
“Aku cari.”
“Kalau aku ngambek?”
“Aku rayu.”
“Kalau aku makan nggak berhenti kayak sekarang?” Tanya Elyra konyol, Leon tertawa.
“Aku masak lagi.” Elyra senyum lebar.
“Leon…”
“Hm?”
“Aku takut dilupain.”
Leon meraih tangan Elyra lembut.
“Yang bisa lupa kamu cuma orang bodoh. Dan aku terlalu jatuh cinta buat jadi bodoh.” Elyra terdiam sebentar lalu lanjut makan sambil senyum manis.
“Kalau gitu aku makan yang banyak.”
“Kenapa?”
“Biar kamu makin rajin masak.” Leon ngakak.
“Calon istriku licik tapi imut.”
Suasana sore itu hangat, penuh tawa kecil, membuat keduanya saling memahami. Dan begitulah, setelah badai pergi pelangi muncul di keduanya.
.
.
.
Elyra dan Leon kini berada di kamar Leon, Leon nampak fokus dengan laptopnya sedangkan Elyra baru saja meneguk susunya.
Elyra masuk ke dalam selimut dan masuk terus hingga kepalanya sampai di bawah laptop Leon. Leon tersenyum mengangkat laptopnya dan tampaklah kepala Elyra keluar dari selimut, sangat menggemaskan.
"Leon.." Elyra makin naik dan kini dia duduk di atas pangkuan Leon. Leon masih mengetik, sebelum dia mang save file yang baru saja dia buat dan merasakan pinggangnya dilingkari kaki Elyra. Lehernya juga sudah di kuasai tangan Elyra di sana.
"Sayang, kamu sedang apa Hem?" Leon mencengkram bantal di sampingnya, Elyra makin memeluk Leon dengan erat. Leon menelan ludah saat tubuh Elyra makin menempel padanya. Hangat, lembut, dan terlalu dekat untuk jantungnya yang sudah berdebar tak karuan.
“Lagi goda cowok,” jawab Elyra polos, tapi senyumnya nakal. Leon tertawa kecil, gugup.
“Sayang… kamu sadar nggak sekarang kamu duduk di mana?” Elyra malah merapat, dagunya bersandar di bahu Leon.
“Di pangkuan cowok.” Itu saja sudah cukup membuat Leon kehilangan fokus. Laptop langsung ditutup pelan dan diletakkan ke samping.
“Sayang…” suara Leon turun satu oktaf, bukan marah, tapi berusaha menahan diri. “Kamu bahaya.”
“Kok bahaya? Aku kan imut.” Elyra terkikik.
“Iya. Imut yang bikin cowok susah jadi alim.”
Elyra tertawa kecil, lalu tanpa sadar wajah mereka terlalu dekat. Napas mereka saling bercampur. Mata bertemu, detik itu terasa lama.
Leon refleks menahan pinggang Elyra agar tidak jatuh saat ia bergeser, membuat Elyra kini setengah terbaring di kasur. Posisi mereka terbalik Leon di atas, bertumpu pada satu tangan.
Hening, degup jantung terasa jelas,Elyra menelan ludah.
“Leon…” Leon memejamkan mata sesaat, berusaha tenang, saat Elyra memanggilnya.
“Jangan lihat aku kayak gitu.” Ucap Leon.
“Kayak gimana?” Tanya Elyra so polos.
“Kayak mau aku culik.” Ujar Leon, Elyra terkekeh kecil. Tanpa sadar dahi mereka bersentuhan, lalu Leon mengecup bibir Elyra singkat lembut, ragu, penuh perasaan, sekali dan sejenak Elyra terdiam. Leon mundur sedikit… tapi Elyra justru mendekat. Ciuman kedua terjadi, lebih lama, tapi masih penuh kendali. Begitu Leon sadar detak jantungnya sudah terlalu kacau, ia langsung menarik diri.
Napasnya berat.
“Stop… stop dulu.” Leon menekan dadanya sendiri. Elyra berkedip bingung.
“Kenapa?” Tanya Elyra, Leon duduk di tepi kasur, mengacak rambutnya sendiri.
“Karena aku cowok normal yang sayang banget sama kamu sayang.” Elyra terdiam. Leon menoleh, wajahnya serius tapi lembut.
“Sayang, aku suka kamu. Aku cinta kamu, dan aku sangat sulit menahan diri. Tapi justru karena itu aku harus jaga kamu.” Jelas Leon, Elyra menggigit bibir.
“Kamu nggak suka?” Bingung Elyra, Leon langsung mendekat, memegang pipinya.
“Justru kebalikannya. Aku suka sampai takut kebablasan.” Leon menghela nafas kasar, Elyra terdiam.
“Aku nggak mau perasaan kita rusak cuma karena momen yang harusnya nunggu waktu yang tepat sayang,” lanjut Leon pelan. “Aku mau nanti semuanya terjadi karena cinta yang matang, bukan karena kita sedang terbawa suasana.” Elyra menatapnya lama… lalu senyum kecil muncul.
🤣