kehidupan seorang pria bernama vion reynald mendadak berubah,kehidupan pria pengangguran itu berubah sangat tajam semenjak kilatan petir menyambar itu.vion harus merelakan jiwanya yg dipindahkan ke dalam tubuh lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PRAJURIT YG SETIA
Vion mengusap kedua matanya dengan cepat, berusaha menghilangkan jejak kesedihan sebelum menatap Von Gardo yang berdiri tak jauh dari jendela.
"Von Gardo, kau tidak tidur?"
Von Gardo melipat satu tangannya di belakang punggung, sebuah sikap siaga yang sudah menjadi instingnya sebagai ksatria pelindung. Ia ikut mengalihkan pandangan ke arah bulan sabit yang menggantung di langit malam.
"Udara di pegunungan ini sangat nyaman, sejuk. Semua prajurit bisa tidur dengan nyenyak karena kelelahan," sahutnya dengan nada rendah.
"Namun, saya tidak mungkin ikut terlelap dan membiarkan Yang Mulia tanpa penjagaan sama sekali. Tugas saya adalah menjadi mata yang tidak pernah terpejam."
Vion tertawa kecil, sebuah tawa getir yang pecah di tengah kesunyian malam mendengar penjelasan ksatria setianya itu.
"Kenapa Anda tidak tidur, Yang Mulia? Apa udara di sini terlalu dingin untuk Anda? Ada selimut bulu yang tebal di dalam kereta kuda. Mau saya ambilkan?" tawarnya dengan penuh perhatian.
Vion menggeleng perlahan. "Tak perlu, Von Gardo."
Ia menarik napas panjang dan membuangnya dengan kasar, seolah ingin melepaskan beban yang menyesakkan d**anya. Tatapannya kembali menerawang jauh ke hamparan langit hitam yang tak berujung.
"Aku hanya... hanya merindukan rumah. Rumah yang sebenarnya," bisik Vion, suaranya nyaris hilang ditelan embusan angin malam.
"Besok pagi, saat fajar menyingsing, kita bisa langsung berangkat menuju ibu kota, Yang Mulia," usul Von Gardo dengan nada formal.
Vion kembali terkekeh kecil, sebuah suara yang terdengar asing di telinga sang ksatria.
"Bukan, bukan itu. Aku tidak merindukan istana Valerius yang dingin itu. Aku merindukan rumahku yang sesungguhnya. Rumahku... rumahku ada di sebuah kota yang sangat besar. Begitu jauh dari negerimu ini, Von Gardo. Kotaku di sana sangat berbeda dengan tempat ini." Ia tersenyum getir, membayangkan gemerlap lampu jalanan dan bisingnya kendaraan yang kini terasa seperti dongeng.
Von Gardo menyandarkan tubuhnya yang kekar ke dinding kayu, melipat kedua tangannya di bawah d**a sembari mengamati Vion dengan seksama.
"Saya... sejujurnya saya masih berada di antara percaya dan tidak."
Vion menoleh, memberikan senyum kecil pada ksatria yang terlihat bingung itu.
"Saat aku terbangun di raga ini, aku pun tidak percaya. Berada di tempat yang aneh, dikelilingi orang-orang yang tak kukenal, bahkan cara kalian berbicara awalnya terdengar sangat asing bagiku. Beruntung, saat di sekolah dulu aku cukup cerdas dalam pelajaran sastra dan bahasa asing. Jika tidak, aku mungkin hanya akan bisa diam membisu dan tak akan bisa berkomunikasi dengan kalian semua."
Mata Von Gardo membelalak sedikit. "Jadi... bahasa yang Anda gunakan di negeri sana benar-benar berbeda dengan bahasa kami di daratan Eropa ini?" tanyanya dengan nada yang masih menyiratkan ketidakpercayaan.
Vion tersenyum lagi, kilatan jenaka muncul di matanya yang lelah. "Contohnya seperti ini: 'Von Gardo, lo udah gue anggap kayak abang, sahabat, sama keluarga gue sendiri.'"
Von Gardo melongo. Ia mengerutkan d**a, berusaha mencerna rentetan kata-kata asing yang terdengar seperti gumaman mantra sihir di telinganya. Ia benar-benar tidak paham satu patah kata pun.
Vion menepuk bahu zirah Von Gardo dengan akrab. "Thanks, ya. Ah, maksudku... terima kasih, Kawan."
Von Gardo tertegun sejenak, lalu sebuah senyum tulus perlahan terbit di wajahnya yang kaku. Ia mengepalkan tangan kanannya di atas d**a, memberikan hormat ksatria yang paling tinggi.
"Sama-sama, Yang Mulia."
Matahari mulai mengintip dari balik pegunungan Alpen, mengirimkan rona jingga ke dalam bengkel tua yang pengap itu. Aroma sup yang gurih mulai memenuhi ruangan, mengalahkan bau karat besi.
"Jadi, Master... bagaimana caraku bisa kembali lagi ke duniaku?" Pertanyaan itu kembali terlontar dari mulut Vion, kali ini dengan nada yang lebih mendesak saat mereka berkumpul di meja makan.
Master Hephaestus menghela napas panjang, bahunya yang bungkuk tampak naik turun. Ia meletakkan sebuah nampan kayu besar berisi sup jamur liar dan potongan roti gandum panggang yang baru saja ia siapkan di atas perapian.
"Simpan dulu pertanyaanmu, Nak. Isi dulu tenagamu dengan sup ini," ucap Hephaestus sambil menyodorkan mangkuk keramik yang panas.
"Perjalanan melintasi batas dunia bukan untuk orang yang perutnya kosong. Kita akan bicarakan rahasia besar itu setelah kau sanggup memegang sendokmu dengan benar."
Vion hanya bisa menurut, menyendok sup hambar itu ke dalam mulutnya. Ia terpaksa memakan apa yang tersedia karena ia sendiri sama sekali tidak bisa mengolah bahan makanan mentah.
Di tengah kunyahannya yang malas, lidahnya meronta; baginya, rasa makanan paling nikmat di seluruh semesta tetaplah masakan ibunya, Bu Sarmilah.
Terlebih lagi di daratan Eropa kuno ini, semua makanan terasa aneh di lidahnya. Benar-benar sangat asing dan tidak menggugah selera.
"Master Hephaestus, sebenarnya apa yang kau rebus ini? Benar-benar hambar, sama sekali tak ada rasanya!" keluh Vion dengan nada kesal.
Ia menjatuhkan sendok kayunya ke meja dengan bunyi klotak yang keras. Ia beranjak dari kursi, lalu melangkah lebar keluar dari rumah batu tua itu untuk mencari udara segar, meninggalkan mangkuknya yang masih penuh.
"Yang Mulia!" seru Von Gardo. Ia segera bangkit, memutuskan untuk mengejar langkah tuannya yang tampak sangat murka itu.
"Pangeran, apakah Anda menginginkan hidangan lain? Katakan apa yang Anda mau, biarlah saya pergi ke desa terdekat atau berburu di hutan untuk mencarikannya."
Vion menyentak napas kasar, lalu berhenti sejenak. Ia menoleh ke arah Von Gardo. Melihat wajah ksatria itu yang begitu tulus dan penuh pengabdian, kemarahan Vion mendadak surut, berganti rasa tak tega yang menyesakkan d**a. Kenapa orang ini bisa begitu baik padanya?
"Tidak,kau makan lah dulu".
"Baik, Yang Mulia," sahut Von Gardo patuh. Ia membungkuk hormat, lalu melangkah kembali ke dalam rumah batu itu dengan berat hati.
Beberapa menit berlalu dalam kesunyian pegunungan, hingga Master Hephaestus keluar dari pintu kayu yang berderit. Ia berjalan perlahan mendekati Vion yang sedang berdiri di samping rumah, tampak melamun sambil sesekali menendang tumpukan kayu kayu pinus yang berserakan.
"Pangeran," panggilnya, suaranya parau namun tegas, membuat Vion menoleh ke arahnya.
"Pak Tua," sahut Vion ketus sembari melangkah mendekat, berdiri hanya beberapa jengkal dari sang maestro pandai besi.
"Mulailah belajar ilmu pedang dan seni berperang mulai detik ini juga," ucap Hephaestus tanpa basa-basi.
Sebaris kalimat itu menghantam Vion seperti gada besi. Ia menatap Hephaestus dengan dahi berkerut, benar-benar terkejut.
"Untuk apa?! Aku hanya ingin pulang, bukan menjadi gladiator di zaman kegelapan ini!"
Hephaestus menatap tajam ke dalam mata Vion, seolah mencari sisa-sisa keberanian di sana.
"Jika kau benar-benar ingin kembali ke dunia asalmu, kau harus mampu mengalahkan Archduke Valerius dari Kerajaan Northumbria. Karena jiwa Pangeran Alaric yang asli tidaklah hilang begitu saja—jiwanya terperangkap di dalam permata Bloodstone yang tertanam tepat di jantung sang Archduke."