Humairah Liandra, mahasiswi 20 tahun yang terkenal nakal, keras kepala, ceplas-ceplos, dan anti diatur, tiba-tiba dijodohkan oleh bundanya sendiri dengan seorang tentara dingin dan disiplin—Haikal Fero, anak dari sahabat lama sang bunda.
Perjodohan yang awalnya ditentang mati-matian justru perlahan mengubah hidup Humairah… dan Haikal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyai Nung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Dinner.
Hari Minggu pagi terasa lebih cerah dari biasanya.
Lian duduk di kursi mobil sambil mengikat rambutnya, mengenakan dress longgar berwarna pastel. Tangannya sesekali mengusap perutnya yang mulai membulat—gerakan kecil tanpa sadar. Haikal menyetir dengan fokus, namun sesekali melirik ke arah istrinya.
“Udah siap?” tanya Haikal.
“Udah,” jawab Lian singkat.
Lalu menambahkan, “Mas yang kelihatan lebih deg-degan.”
Haikal berdeham kecil.
“Biasa aja.”
Padahal tangannya menggenggam setir sedikit lebih kuat dari biasanya.
Sesampainya di klinik kandungan, suasana terasa tenang. Aroma antiseptik samar memenuhi ruangan. Beberapa pasangan duduk di ruang tunggu, sebagian tampak santai, sebagian tampak sama tegangnya dengan Haikal.
Nama Lian dipanggil.
Mereka masuk bersama ke ruang pemeriksaan.
Dokter—seorang wanita paruh baya dengan wajah ramah—tersenyum sejak awal melihat mereka.
“Silakan duduk,” ujarnya.
Pemeriksaan berlangsung seperti biasa. Lian berbaring, Haikal berdiri di samping dengan sikap terlalu serius untuk ukuran pemeriksaan rutin. Matanya tak lepas dari layar USG, meski jelas ia tidak sepenuhnya mengerti apa yang dilihatnya.
Dokter melirik Haikal, lalu Lian, lalu kembali tersenyum lebar.
“Ayahnya sering sekali mengunjungi anaknya ya, Bu.”
Kalimat itu meluncur begitu saja.
Lian membeku.
Haikal juga.
Wajah mereka berdua berubah warna dalam waktu yang sama—merah padam, sampai ke telinga.
“Hah?” Lian refleks bersuara.
Haikal berdeham keras, jelas salah tingkah.
“S-sering?” ulangnya, bodoh.
Dokter terkekeh kecil, matanya berbinar geli.
“Iya. Dari awal pemeriksaan, tatapan Ayahnya nggak lepas sama layar. Kayak mau hapalin wajah anaknya.”
Lian menutup wajahnya dengan satu tangan.
“Mas…”
Haikal mengusap tengkuknya, jelas kikuk.
“Saya cuma… memastikan.”
Dokter tertawa ringan.
“Tenang saja, tidak perlu malu. Ini hal biasa.”
Ia melirik mereka bergantian.
“Dan kalian bukan yang pertama.”
Lian makin ingin menghilang ke dimensi lain.
Beberapa detik hening canggung berlalu, sebelum dokter kembali serius menjelaskan kondisi kehamilan. Semuanya terdengar normal, stabil, dan itu membuat Haikal sedikit lebih tenang.
Saat pemeriksaan selesai, dokter menepuk bahu Lian pelan.
“Jaga pola makan, jangan terlalu capek,” pesannya.
Lalu menoleh ke Haikal.
“Dan Ayahnya… boleh tetap rajin. Anak di dalam sana sepertinya senang diperhatikan.”
Haikal mengangguk terlalu cepat.
“Siap, Dok.”
Begitu keluar dari ruangan, Lian langsung menatap Haikal tajam.
“Kamu kenapa sih?” bisiknya.
“Diliatin terus kayak gitu.”
Haikal menoleh, wajahnya masih sedikit merah.
“Itu anakku.”
Jawaban singkat. Polos. Tanpa malu.
Lian terdiam sesaat.
Lalu tersenyum.
Kadang, absurditas kecil seperti ini—
justru membuat kebahagiaan terasa lebih nyata.
Malam turun perlahan, menyelimuti kota dengan cahaya lampu jalan yang temaram. Setelah keluar dari supermarket, Haikal tidak langsung membawa Lian pulang. Mobil justru berbelok ke arah yang berlawanan dari rumah.
Lian menyadarinya beberapa menit kemudian.
“Mas… ini bukan jalan pulang,” ucapnya pelan.
Haikal melirik sekilas, sudut bibirnya terangkat samar.
“Aku tau.”
“Terus kita mau ke mana?”
“Dinner.”
Satu kata itu membuat Lian menoleh penuh.
“Dinner?”
Haikal mengangguk.
“Kita belum pernah benar-benar makan malam berdua sejak… semuanya.”
Sejak operasi.
Sejak rahasia.
Sejak kehamilan.
Lian terdiam, lalu tersenyum kecil. Tangannya refleks mengusap perutnya.
Mobil berhenti di sebuah restoran kecil tapi hangat—tidak mewah berlebihan, namun rapi, tenang, dan penuh cahaya kuning lembut. Musik instrumental mengalun pelan dari dalam.
Haikal turun lebih dulu, membukakan pintu untuk Lian. Tangannya menahan pintu, tangan satunya siap menopang punggung Lian—kebiasaan yang tak pernah ia sadari telah ia lakukan.
“Pelan,” katanya lembut.
Lian mengangguk, merasa hangat di dada.
Mereka duduk di meja sudut dekat jendela. Di luar, lampu kota memantul di kaca, menciptakan suasana yang terasa… jauh dari dunia yang keras.
Pelayan datang, memberikan menu.
Haikal langsung menoleh ke Lian.
“Kamu mau apa?”
Lian membaca menu perlahan.
“Aku mau yang ringan aja. Jangan pedas.”
Haikal mengangguk, lalu berkata pada pelayan, nadanya datar namun penuh perhatian.
“Menu sehat, rendah asam. Untuk ibu hamil.”
Pelayan tersenyum ramah.
“Baik, Pak.”
Lian menatap Haikal, sedikit geli.
“Kamu berubah.”
Haikal mengangkat alis.
“Ke arah buruk?”
“Ke arah… terlalu perhatian.”
Haikal tidak menjawab langsung. Ia menatap Lian lama—wajahnya, matanya, garis senyum kecil yang sering ia lihat di saat-saat paling kacau dalam hidupnya.
“Kamu mengandung anakku,” ucapnya akhirnya.
“Kalau aku nggak perhatian, itu justru aneh.”
Makanan datang. Aromanya lembut, menenangkan. Lian makan perlahan, kali ini tanpa mual. Haikal memperhatikannya diam-diam—cara Lian mengunyah pelan, cara bahunya sedikit rileks, cara wajahnya terlihat lebih hidup dibanding hari-hari sebelumnya.
“Kamu capek?” tanya Haikal.
“Sedikit,” jawab Lian jujur.
“Tapi hari ini… aku senang.”
Haikal berhenti makan.
“Kenapa?”
“Karena untuk pertama kalinya aku merasa…”
Lian mencari kata yang tepat.
“Normal.”
Haikal menatapnya lebih dalam.
“Kita bisa punya banyak hari normal,” katanya rendah.
“Asal kamu jujur sama aku.”
Jantung Lian berdetak sedikit lebih keras.
Ia menunduk, mengaduk minumannya perlahan.
“Ada hal-hal yang lebih baik disimpan dulu,” jawabnya pelan.
Haikal tidak memaksa. Ia mengulurkan tangannya di atas meja, telapak tangannya terbuka.
Lian menatap tangan itu beberapa detik… lalu meletakkan tangannya di sana.
Hangat. Kokoh. Aman.
“Aku nggak butuh kamu kuat setiap saat,” ucap Haikal pelan.
“Cukup pulang.”
Lian menggenggam tangannya lebih erat.
Makan malam itu berlangsung tanpa banyak kata, namun penuh makna. Tidak ada janji besar. Tidak ada pengakuan dramatis. Hanya dua orang yang duduk saling berhadapan, berbagi makanan, cahaya, dan rasa tenang yang jarang mereka dapatkan.
Saat dessert datang—buah potong dan yogurt—Lian tertawa kecil.
“Ini bukan dinner romantis versi orang kebanyakan.”
Haikal tersenyum tipis.
“Versi kita.”
Dan entah kenapa,
itu terasa jauh lebih indah.