NovelToon NovelToon
Pangeran Tidur

Pangeran Tidur

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Mengubah Takdir / Romansa / Penyeberangan Dunia Lain
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Azumi Senja

Elora tak pernah percaya dongeng. Hingga suatu malam, ia membacakan kisah Pangeran Tidur dan terbangun di dunia lain.
Sebuah taman cahaya tanpa matahari,tempat seorang laki-laki bernama Arelion.
Arelion bukan sekadar penghuni mimpi. Di dunia nyata, ia adalah pewaris keluarga besar yang terbaring koma, terjebak di antara hidup dan mati. Setiap pertemuan mereka membuat sunyi berubah menjadi harapan, namun juga menghadirkan dilema yang menyakitkan.
Jika Arelion terbangun,ia akan kehilangan semua ingatannya bersama Elora ,
Jika Arelion tetap tertidur, dunia nyata perlahan kehilangannya.

" Bangunlah Arelion..meski dalam ingatanmu, aku tak akan ada.." ~ Elora ~


"Aku terjebak dalam tidur panjang
sampai dia datang
dan membuat sunyiku bernama" ~Arelion~

Ini bukan kisah putri tidur.
Ini adalah kisah tentang dua hati
yang dipertemukan dalam mimpi.
Tentang cinta yang tumbuh diantara dua dunia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azumi Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tuan penolong

Ketukan suara sepatu menggema di lorong rumah sakit dan berhenti tepat di depan nurse station.

Pagi-pagi sekali Maria datang dengan Hana yang mengekor dibelakangnya .Napasnya masih memburu, matanya menyapu lorong seolah Elora bisa muncul begitu saja dari balik dinding putih itu.

“Kalau dia berpura-pura sakit untuk kabur, aku akan—” ucapannya terhenti saat seorang perawat menatapnya dengan ragu.

“Maaf, Nyonya,” kata perawat itu pelan, “pasien bernama Elora sudah tidak berada di ruang perawatan sejak pagi.”

Maria mengerutkan kening. “Dipindahkan ke mana?”

Perawat itu saling berpandangan dengan rekannya. “Kami tidak berwenang memberi informasi tanpa izin keluarga.”

“Keluarga?” Maria tersenyum tipis, dingin. “Aku walinya.”

Di belakang kaca pembatas, Dokter Sarah berdiri mematung. Percakapan itu ia dengar jelas. Ada sesuatu yang mengganjal sejak semalam,sejak gadis itu terbaring lemah dengan wajah yang familiar .Dan ketika seseorang terlintas di ingatannya ,ia pun tersentak .

Alana.

Nama itu kembali berdentang di kepalanya, membawa aroma ruang bersalin, tangis pertama seorang bayi, dan janji yang tak sempat terucap. Dokter Sarah mengepalkan tangannya pelan. Tanda lahir di bahu Elora.

ia tak mungkin keliru. Itu tanda yang sama.

Alana yang malang ..kuharap putrimu tak mengalami kemalangan yang sama

“Dokter Sarah,” sapa Maria, suaranya berubah manis namun mengeras di ujung. “Anda yang menangani anak itu, bukan?”

Sarah melangkah keluar, tatapannya tenang tapi tajam. “Benar. Kondisinya semalam cukup serius. Dehidrasi dan kelelahan.”

“Lalu kenapa sekarang dia tidak ada?” Maria mendesak.

“Karena ada pihak yang memastikan perawatan lanjutan baginya.”

Alis Maria terangkat. “Pihak siapa?”

Sarah menahan napas. Ia tak bisa menyebut nama—belum. Namun nalurinya berkata, gadis itu akhirnya berada di tangan yang lebih aman.

Maria terdiam. Senyum tipisnya retak, berganti tatapan penuh perhitungan. Di benaknya, satu keyakinan mengeras: anak itu belum selesai dengannya.

Sementara itu, di ujung lorong lain, Arelion berdiri menunggu lift. Pagi menyusup lewat jendela tinggi, memantulkan cahaya pucat di lantai. Ia menoleh sekilas ke arah ruang perawatan yang kini kosong—dan merasakan keputusan yang ia ambil semalam kini berdenyut nyata.

Di lantai berbeda, Elora terlelap dalam tidur yang lebih tenang dari sebelumnya.

Flashback On

“Seandainya ada orang yang bisa mengeluarkan Elora dari rumah itu…” ucap Hana lirih. Suaranya bergetar, matanya berkaca-kaca.

Wanita paruh baya itu sudah terlalu sering menyaksikan perlakuan Maria terhadap Elora. Tak jarang gadis itu hanya diberi makan satu kali sehari, sementara setiap pagi hingga malam ia dipaksa bekerja mengurus rumah seolah tak punya hak untuk lelah.

“Jika benar di sana dia tak diperlakukan dengan baik,” suara Arelion terdengar tenang namun menekan, “kenapa dia tak kembali ke tempatnya semula?”

Hana menunduk. “Elora tak akan bisa kembali ke panti, Tuan. Nyonya Maria mengancam akan menghentikan seluruh sumbangan ke sana jika Elora pergi.”

Rahang Arelion mengeras.

“Kau tahu alamat pantinya?” tanyanya kemudian.

Hana terkejut, menatapnya ragu. “Tuan…?”

Arelion tak menjawab langsung. Ada sesuatu di dadanya yang bergerak pelan..dorongan yang tak bisa ia abaikan. Entah karena rasa kemanusiaan… atau karena gadis bernama Elora itu telah menyentuh sisi dirinya yang bahkan tak ia sadari ada.

Setelah bangun dari koma, hatinya memang terasa berbeda. Lebih peka. Lebih peduli.

Atau mungkin… hanya pada Elora saja.

Flashback Off

Kelopak mata Elora bergetar pelan sebelum akhirnya terbuka. Pandangannya menangkap langit-langit putih dengan lampu temaram..terlalu bersih, terlalu tenang untuk sebuah bangsal biasa. Ia mengernyit, kepalanya masih terasa berat.

Ruangan ini… terlalu nyaman.

Ia menggeser tubuhnya sedikit. Selimut lembut, ranjang empuk, dan aroma antiseptik yang samar membuatnya sadar: ini bukan ruang perawatan yang semalam. Ingatannya berantakan, potongan demi potongan datang tanpa urutan. Wajah Bu Hana yang panik. Suara taksi. Lampu jalan yang berkelebat.

“Bu Hana…” gumamnya lirih. Ia ingat. ya, Hana yang membawanya ke rumah sakit.

Namun dalam ingatannya yang samar ,semalam ia seperti melihat seseorang berdiri membelakangi jendela ,siluetnya tegas mesti pandangan Elora tak jelas melihatnya .

Aku pasti bermimpi ..batinnya

Tok. Tok.

Pintu ruangan VIP itu terbuka, dan seorang dokter perempuan paruh baya melangkah masuk. Wajahnya ramah, namun sorot matanya menyimpan sesuatu—kehangatan yang bercampur haru.

“Selamat pagi, Elora,” ucapnya lembut. “Bagaimana perasaanmu sekarang?”

Elora menelan ludah. “Sedikit pusing… tapi lebih baik, Dok.”

Dokter itu tersenyum kecil. “Syukurlah.” Lalu

“Aku Dokter Sarah,” lanjutnya pelan.

" Elora ..berapa usiamu?" tangannya bergerak memeriksa denyut nadi Elora .

" Sembilan belas tahun ,Dok."

Sarah mengangguk pelan.

Tepat ..usinya sama dengan bayi cantiknya Alana..

" Dok..kenapa aku di ruangan ini ?" tanya Elora penasaran .

" Seseorang memintaku untuk melakukan perawatan terbaik sampai kau pulih .."

Seseorang ?..Siapa..?

Elora menggigit bibirnya ,"Maaf Dok..tapi ..aku harus pulang .."

" Kau tak akan kembali ke rumah itu lagi.."

Suara Hana terdengar di ambang pintu .Ia datang bersama seorang laki-laki berjas tapi yang tentu saja tak ia kenal .

" Elora..ini demi kebaikanmu ..kau harus menjauh dari nyonya Maria.." ucap Bu Hana .

" Tapi Bu ...kalo aku pergi..bagaimana nasib anak-anak di panti." suara Elora bergetar .

Bayangan wajah-wajah yang sudah ia anggap keluarga membuat dadanya sesak.

" Kau tenang saja..seseorang akan membantumu ..." ucap Bu Hana sambil menoleh ke arah laki-laki berjas di sampingnya .

" Saya.. Edwar, nona Elora ." ucap pria itu sopan "Untuk sumbangan panti sudah diselesaikan oleh tuan saya.."

Mata Elora membola ..

Siapa sebenarnya orang ini?..

" Maaf Pak Edwar .." Elora berkata pelan .

" Saya tidak mengerti ..siapa tuan anda..kenapa dia melakukan semua ini?"

Hana mendekat ,menggenggam tangan Elora erat.

" Elora...sudahlah..percaya sama Ibu ..seseorang yang baik hati telah datang untuk mengeluarkanmu dari sangkar nyonya Maria.."

Ia menarik nafas pelan sebelum melanjutkan ,

" Setelah pulih ..kau bisa bekerja di tempatnya.Setidaknya itu lebih baik daripada kau harus tinggal di rumah nyonya ."

Meski awalnya ragu ,tapi melihat kepedulian Arelion kepada Elora ,melihat sikap laki-laki itu yang lebih dari sekedar peduli .. Hana pun meminta bantuan padanya .Setidaknya gadis malang itu bisa terbebas dari nyonya Maria.

Tanpa Elora tahu,jika sekarang ada seseorang yang berdiri di sisinya..bukan karena kewajiban, bukan karena belas kasihan, tapi karena hati yang tergerak untuk melindungi.

Elora terdiam sejenak. Jari-jarinya saling menggenggam di atas selimut putih, seolah menguatkan diri.

“Apa… apa aku bisa bertemu dengan tuanmu?” tanyanya ragu, suaranya hampir tenggelam oleh detak jantungnya sendiri.

Edwar tersenyum sopan, sedikit menundukkan kepala.

“Tentu saja, Nona Elora,” jawabnya tenang. “Setelah kondisi Anda pulih, saya akan membawa Anda menemuinya."

Mata Elora sedikit membesar.

“Dia… tidak keberatan?”

“Tidak sama sekali,” balas Edwar.

Bu Hana menatap Elora lembut.

“Dengar, Nak,” ucapnya pelan. “Kau akan aman jika bersamanya ."

Elora mengangguk pelan, meski di dalam hatinya berkecamuk rasa penasaran dan cemas.

Siapakah orang yang begitu peduli padanya, bahkan sebelum ia sempat mengenalnya?

Terimakasih tuan sang penolong

1
Azumi Senja
Ashiapppp
Ziya Bandung
Lanjuuuut
Sybilla Naura
lanjuuuuttt 😍😍
Sybilla Naura
Semoga Arelion tak amnesia
Azumi Senja: Semoga 🤭🤭
total 1 replies
Sybilla Naura
lanjuuuuuttttt
Sybilla Naura
Tiap bab nya bikin pinisirin 👍
Azumi Senja
Kereenn
Ziya Bandung
Seruuuuu👍
Ziya Bandung
Suka bangett cerita fantasi kaya gini..🫰🏻🫰🏻
Ziya Bandung
seruuuu😍😍
Sybilla Naura
Sukaa banget cerita dua dunia kaya gini..😍😍
Sybilla Naura
Wahhh..karya baru nih Thor..lanjuuuuuuuttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!