NovelToon NovelToon
Dinikahi Tuan Muda Lumpuh: Istriku Ternyata Dokter Bedah Jenius

Dinikahi Tuan Muda Lumpuh: Istriku Ternyata Dokter Bedah Jenius

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Kriminal dan Bidadari / Slice of Life / Pernikahan Kilat / CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

​"Kau pikir aku akan menyentuhmu? Aku lumpuh."

​Ucapan dingin Elzian Drystan di malam pertama mereka langsung dibalas senyum miring oleh istrinya.

​"Otot betis kencang, tidak ada atrofi, dan pupilmu melebar saat melihatku. Kau tidak lumpuh, Tuan. Kau hanya pembohong payah."

​Dalam detik itu, kedok Ziva Magdonia sebagai istri 'tumbal' runtuh. Dia adalah ahli bedah syaraf jenius yang mematikan. Rahasia Elzian terbongkar, dan kesepakatan pun dibuat: Elzian menghancurkan musuh yang mencoba membunuhnya, dan Ziva memastikan tidak ada racun medis yang bisa menyentuh suaminya.

​Namun, saat mantan kekasih Elzian datang menghina, Ziva tidak butuh bantuan.

​"Hidungmu miring dua mili, silikon dagumu kadaluarsa... mau kuperbaiki sekalian?"

​Bagi Ziva, membedah mental musuh jauh lebih mudah daripada membedah otak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Klaim Kepemilikan

​Air keran mengucur deras, membawa pusaran air berwarna merah muda masuk ke lubang pembuangan wastafel. Ziva menggosok tangannya dengan sabun cair beraroma lemon yang menyengat, berusaha menghilangkan bau amis darah yang masih menempel di sela-sela jarinya.

​Dia menatap pantulan dirinya di cermin besar toilet VIP itu. Riasan matanya masih tajam, tapi ada sedikit noda darah kering di dekat telinganya yang terlewat. Ziva mengambil tisu basah, mengusap noda itu dengan gerakan kasar hingga kulitnya memerah.

​"Selesai," gumamnya pelan. Dia merapikan sedikit tatanan rambutnya yang berantakan, lalu menarik napas panjang. Mode dokter dimatikan. Mode istri CEO diaktifkan kembali.

​Ziva melangkah keluar dari toilet wanita. Lorong menuju ballroom terlihat sepi, tapi ternyata tidak kosong sepenuhnya.

​Tiga orang pria muda dengan setelan jas mahal berdiri bersandar di dinding, seolah sengaja menunggunya. Ziva mengenali mereka. Mereka adalah grup pengusaha muda—anak-anak orang kaya—yang tadi paling keras menertawakan Elzian saat baru datang.

​Salah satu dari mereka, pria berambut klimis bernama Erik, langsung menegakkan tubuh saat melihat Ziva. Senyum miring tersungging di bibirnya.

​"Wah, ini dia bintang malam ini," sapa Erik sambil menghadang langkah Ziva.

​Ziva berhenti. Wajahnya datar. "Permisi, saya mau lewat."

​"Buru-buru sekali, Nyonya Ziva," sahut pria kedua, Rio, sambil melangkah maju mempersempit jarak. Matanya menelusuri tubuh Ziva dari atas ke bawah dengan tatapan lapar yang tidak ditutupi. "Kami cuma mau kenalan. Aksi kamu tadi... gila. Benar-benar seksi."

​"Seksi dan mematikan," timpal pria ketiga sambil tertawa kecil. "Jarang-jarang ada wanita yang berani menusuk leher orang di depan umum. Kami jadi penasaran."

​Erik mengeluarkan ponselnya, menyodorkannya ke depan wajah Ziva. "Bagi nomornya dong. Atau kartu nama? Siapa tahu saya butuh... pemeriksaan pribadi. Badan saya sering pegal-pegal kalau malam, butuh sentuhan dokter yang jago anatomi."

​Teman-temannya terkikik geli mendengar godaan murahan itu.

​Ziva menatap ponsel itu, lalu menatap wajah Erik dengan tatapan bosan. "Maaf, saya dokter bedah saraf. Saya mengurus otak, bukan pijat refleksi. Dan melihat kelakuan kalian, sepertinya kalian memang butuh saya—untuk transplantasi otak baru."

​Erik justru tertawa, merasa tertantang. "Galak banget. Saya suka. Ayolah, jangan sombong. Elzian kan lumpuh, dia pasti nggak bisa memuaskan—"

​WUSH.

​Suara desingan halus motor listrik terdengar mendekat dengan cepat, memotong kalimat kurang ajar itu.

​Ketiga pria itu menoleh kaget.

​Dari ujung lorong, sebuah kursi roda melaju membelah karpet merah. Elzian Drystan datang dengan wajah gelap gulita. Rahangnya mengeras, matanya menatap ketiga pria itu seolah ingin menguliti mereka hidup-hidup. Aura membunuh yang dipancarkannya begitu pekat hingga membuat udara di lorong itu terasa sesak.

​"M-Pak Elzian," Erik gagap, reflek mundur selangkah. Nyalinya ciut seketika melihat tatapan sang CEO.

​Elzian tidak menjawab sapaan itu. Dia menghentikan kursi rodanya tepat di samping Ziva, memisahkan istrinya dari gerombolan pria itu.

​Tanpa bicara sepatah kata pun, tangan kanan Elzian terulur cepat. Dia mencengkeram pergelangan tangan Ziva dengan kuat.

​"Elzian?" panggil Ziva kaget.

​Elzian tidak memberinya waktu untuk berpikir. Dengan satu hentakan kuat yang didukung oleh otot bisepnya yang terlatih, Elzian menarik lengan Ziva ke arahnya.

​"Ah!" pekik Ziva tertahan.

​Tubuh Ziva terhuyung, kehilangan keseimbangan. Dia jatuh terduduk tepat di atas pangkuan Elzian. Paha Elzian yang kokoh menahan bobot tubuhnya dengan mudah.

​Sebelum Ziva sempat bangun karena malu, lengan kiri Elzian sudah melingkar erat di pinggang ramping Ziva, mengunci pergerakannya. 

Elzian mendekapnya posesif, menekan punggung Ziva agar menempel ke dada bidangnya. Aroma musk maskulin Elzian langsung memenuhi indra penciuman Ziva, menggantikan bau antiseptik toilet tadi.

​Ziva membeku. Jantungnya berdegup kencang, memukul-mukul rongga dadanya. 

Bukan karena kaget, tapi karena sensasi hangat yang menjalar dari sentuhan tangan Elzian di pinggangnya. Ini pertama kalinya mereka sedekat ini secara fisik di tempat umum.

​Ketiga pengusaha muda itu melongo melihat pemandangan di depan mereka. Elzian yang biasanya dingin dan tidak tersentuh, kini memangku istrinya di depan mata mereka.

​Elzian menatap tajam ke arah Erik, Rio, dan teman satunya. Tatapannya dingin, menusuk, dan penuh peringatan.

​"Ada masalah dengan istriku?" tanya Elzian, suaranya rendah dan berbahaya.

​"T-tidak, Pak," jawab Rio cepat, wajahnya pucat. "Kami cuma... cuma minta kartu nama. Siapa tahu butuh dokter..."

​Elzian menyeringai sinis. Dia mengeratkan pelukannya di pinggang Ziva, seolah menegaskan stempel kepemilikan.

​"Simpan rayuan murahan kalian," ucap Elzian dingin. Matanya berkilat tajam menyapu wajah ketiga pria itu satu per satu.

​"Maaf, Tuan-tuan. Dokter ini tidak membuka praktek umum untuk orang sembarangan," lanjut Elzian tegas. Dia menunduk sedikit, menempelkan dagunya di bahu Ziva yang terbuka.

​"Dia dokter pribadiku. Dia milikku."

​Kalimat itu menggantung di udara, mutlak dan tak terbantahkan.

​Wajah ketiga pria itu memerah karena malu dan takut. Tanpa berani menjawab, mereka buru-buru membungkuk kaku dan kabur dari lorong itu, meninggalkan pasangan suami istri itu sendirian.

​Ziva masih terdiam di pangkuan Elzian. Napasnya tertahan. 

Kata-kata 'Dia milikku' terus bergaung di kepalanya, membuat pipinya terasa panas. Dia mendongak, menatap rahang tegas suaminya dari jarak yang sangat dekat.

​"Kau berat," gumam Elzian pelan, tapi dia sama sekali tidak melepaskan pelukannya. Justru, jemarinya mengusap pelan pinggang Ziva.

​"Kalau begitu lepaskan," balas Ziva, suaranya sedikit bergetar.

​"Tidak," jawab Elzian singkat. "Kita pulang seperti ini. Biar semua orang tahu kau punya siapa."

1
Warni
🥰🤭🤭🤭🤭😂
Warni
Lebih galak Ziva.
Warni
😫
Warni
😂
Warni
🤭
Warni
Ngambek nanti si Suami klu tulisannya di ejek jelek.
Savana Liora: hahaha
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
kalau orang mengira Elzian lumpuh maka kakinya adalah istrinya sendiri. good job Ziva
Ma Em
Akhirnya Ziva bisa mengalahkan Elzian akibat egonya yg terlalu tinggi dan keras kepala orang lain tdk ada yg berani melawan Elzian tapi Ziva bisa mengalahkan nya hebat kamu Ziva .
Savana Liora: iya. mantap
total 1 replies
Warni
🥰
Warni
Mengamuk.🤣
Warni
😂
Warni
😁
Warni
😂
Warni
Jangan bilang Dokter Rayn di pindah tugaskan.🤭
Warni
😂🥰🥰🥰
Warni
🥰
Warni
🤣
Warni
Oh mampus.
Savana Liora: tau rasa dia
total 1 replies
Aanisa aliya
lanjutkan
Savana Liora: besok ya
total 1 replies
Warni
Ohhh,mantap pak.Suami siaga.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!