Matahari sore di Desa Sukamaju sedang terik-teriknya, namun tidak sepanas suasana hati Gus Hilman. Pemuda berusia 22 tahun itu baru saja turun dari mobil, merapikan sarung instan dan kemeja kokonya yang wangi setrikaan. Ia baru tiga hari kembali dari Jakarta untuk mengelola pesantren kecil milik kakeknya di ujung desa.
"Gus Hilman!"
Suara cempreng itu memecah ketenangan. Hilman menghela napas panjang tanpa menoleh. Ia sudah tahu siapa pemilik suara itu. Keyla. Anak tunggal Pak Lurah yang menurut desas-desus warga adalah "ujian berjalan" bagi kaum pria di sana.
Keyla datang dengan motor matic-nya, berhenti tepat di depan Hilman hingga debu jalanan terbang mengenai sepatu kulit sang Gus. Gadis 17 tahun itu turun dengan gaya menantang. Ia mengenakan tank top merah ketat yang memperlihatkan bahu mulusnya, dipadu dengan celana jins pendek di atas lutut. Rambutnya yang dicat cokelat dibiarkan tergerai, basah oleh keringat yang membuatnya tampak semakin... mencolok.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 24
Malam semakin larut, namun hujan di luar justru terasa semakin menggila. Suara rintik yang menghantam atap seng asrama terdengar seperti tabuhan drum yang tak beraturan, dibarengi dengan siulan angin kencang yang menyelinap masuk melalui celah-celah jendela, membuat suhu di dalam kamar lama Hilman menjadi sangat dingin.
Nayla meringkuk di bawah selimut tebal, namun matanya tetap terjaga. Ia melihat Hilman yang baru saja selesai menunaikan shalat Witir, masih mengenakan sarung dan baju koko putihnya, tampak begitu tenang dan berwibawa di bawah temaram lampu kamar.
Saat Hilman hendak naik ke atas ranjang, Nayla sengaja menggeser tubuhnya, menyisakan ruang sempit bagi suaminya.
"Mas... dingin banget ya?" bisik Nayla dengan suara yang sengaja dibuat serak-serak manja.
Hilman menarik selimut, mencoba untuk segera tidur. "Iya, Nay. Hujannya awet. Sudah, ayo tidur, jangan lupa baca doa."
Nayla tidak menyerah. Ia justru mendekat, menempelkan tubuhnya yang hangat ke punggung Hilman, lalu melingkarkan tangannya di perut suaminya. Ia bisa merasakan tubuh Hilman sedikit menegang.
"Mas, jamu dari Umi tadi manjur banget lho. Perihnya udah mendingan," bisik Nayla lagi tepat di telinga Hilman, memberikan hembusan napas yang membuat bulu kuduk Hilman berdiri. "Tapi sekarang ganti kedinginan... Mas nggak mau bantu angetin aku apa?"
Hilman berdehem keras, mencoba menjaga pertahanannya. "Kan sudah pakai selimut tebal, Nay. Pakai kaus kaki juga kalau masih dingin."
Nayla terkekeh nakal. Ia mulai menggerakkan jemarinya di dada Hilman, memainkan kancing baju koko suaminya. "Selimutnya mati, Mas, nggak bisa meluk balik. Masa Mas tega lihat istrinya kedinginan begini? Katanya tadi malam mau bikin tim sepak bola..."
Hilman akhirnya berbalik badan, menatap Nayla yang sedang menatapnya dengan pandangan menggoda dan senyum tipis yang nakal. Di bawah cahaya lampu yang redup, wajah Nayla terlihat sangat cantik dan menantang.
"Nayla... Mas baru saja mau istirahat," ucap Hilman dengan suara yang mulai berubah berat.
"Istirahatnya sambil olahraga ringan aja, Mas. Biar keringetan, jadi nggak butuh selimut lagi," balas Nayla sambil menarik kerah baju Hilman agar wajah mereka semakin dekat.
Hilman menghela napas panjang, ia sudah kalah telak. Ia tidak bisa lagi menahan diri menghadapi godaan istrinya yang satu ini. Ia pun mendekatkan wajahnya, mengecup kening Nayla lama, lalu turun ke hidung.
"Tadi katanya sakit, sekarang malah nantangin. Jangan menyesal ya kalau besok pagi Mas gendong lagi ke meja makan," bisik Hilman rendah sebelum akhirnya mematikan lampu nakas, meninggalkan kamar mereka dalam kegelapan yang hanya diiringi suara badai di luar.
Melihat respon Nayla yang tiba-tiba memalingkan wajah dan berpura-pura merajuk, pertahanan Hilman benar-benar runtuh. Strategi Nayla berhasil; justru sikap "jual mahal" yang dibuat-buat itu membuat hasrat Hilman memuncak hingga ke ubun-ubun.
Hilman menarik napas dalam, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya, namun aroma parfum Nayla yang bercampur dengan sisa aroma jamu tradisional tadi malah membuatnya semakin kehilangan kendali.
"Oh, jadi sekarang pura-pura marah?" bisik Hilman dengan suara yang jauh lebih berat dan serak.
Hilman tidak membiarkan Nayla menjauh. Dengan satu gerakan lembut namun bertenaga, ia menarik pinggang Nayla hingga tubuh mereka kembali menempel rapat. Ia bisa merasakan jantung Nayla yang sebenarnya berdegup kencang, sama seperti jantungnya.
"Tadi yang mancing siapa, sekarang yang merajuk siapa..." Hilman mulai mengecup leher Nayla dengan lembut, membuat Nayla yang tadinya pura-pura merajuk kini malah merinding dan mengeluarkan desahan kecil.
"Mas... ah, geli," rintih Nayla, namun tangannya justru semakin erat mencengkeram lengan kekar Hilman.
Hilman berhenti sejenak, ia menatap mata Nayla di tengah kegelapan yang hanya diterangi kilatan petir dari luar. "Tadi minta olahraga kan? Mas nggak akan kasih ampun malam ini, Nay. Biar tim sepak bolanya cepat jadi."
Nayla yang awalnya hanya ingin menggoda, kini benar-benar terjebak dalam pesona suaminya yang sudah "lepas kendali". Hilman mulai melancarkan serangan baliknya, mencium bibir Nayla dengan penuh gairah yang tertahan selama tujuh tahun.
Di luar, hujan semakin menderu, seolah menyembunyikan suara-suara di dalam kamar itu. Hilman benar-benar menunjukkan sisi "Gus" yang tidak pernah terlihat oleh siapa pun—sisi pria yang sangat mencintai istrinya dan tahu cara memanjakannya.
Malam itu, rasa dingin akibat badai sama sekali tidak terasa lagi. Yang ada hanyalah panasnya asmara dua insan yang baru saja sah. Hilman benar-benar tidak memberikan celah bagi Nayla untuk bernapas, seolah ingin memastikan bahwa noda merah di sprei semalam akan segera berganti menjadi kabar bahagia di rahim Nayla.