Apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu, hingga Calix sangat menyayangi Cloudet dengan obsesi menyimpang. Hingga dia rela bersekutu dengan kegelapan agar tidak satupun yang dapat merebut Cloudet darinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HOPEN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Waktu Bersantai
Pov: Calix
Pagi itu, dunia manusia menyambutku dengan cara yang paling tenang. Cahaya matahari musim semi yang keemasan menembus tirai tipis kamarku, menciptakan pola geometris yang jatuh lembut di atas lantai kayu ek yang hangat. Udara di dimensi ini selalu terasa berbeda, lebih ringan, kurang bermuatan belerang, dan memiliki aroma kehidupan yang tumbuh, bukan kematian yang membusuk. Meski sudah beberapa waktu tinggal di kediaman Grozen, sensasi ini tetap terasa asing, namun aku harus mengakui bahwa keasingan ini tidak sepenuhnya tidak menyenangkan.
Aku duduk bersandar di kepala ranjang yang empuk, menikmati momen hening yang jarang terjadi. Di pangkuanku, Cloudet—makhluk kecil yang tampaknya telah memutuskan bahwa aku adalah bantal pribadinya—sedang berada dalam mode manja yang ekstrem. Dalam wujud manusianya yang mungil, ia membenamkan setengah wajahnya ke rambut hitamku.
Rambutku memang selalu berantakan, messy dengan poni yang jatuh sembarang menutupi dahi, dan entah kenapa Cloudet sangat menyukai tekstur kasarnya. Jari-jari kecilnya mencengkeram helai rambutku dengan posesif, seolah-olah jika ia melepaskannya, aku akan menguap menjadi asap.
Wajahnya nyaris menempel sepenuhnya di keningku, napasnya yang teratur terasa hangat di kulitku.
“H-hei… jangan begitu. Kau membuatku susah melihat,” gumamku geli, mencoba menggeser kepalanya sedikit.
Bukannya menjauh, Cloudet malah melakukan sesuatu yang konyol. Ia menghisap keningku pelan, bibir kecilnya menempel dengan bunyi plup yang lembut. Ia seolah sedang mencoba menyedot sesuatu dariku—mungkin kasih sayang, atau mungkin ia hanya sedang mengetes apakah aku terbuat dari gula.
Sentuhannya hangat, lembut, dan sangat tidak berbahaya. Kontras yang luar biasa dengan dunia tempat kami berasal. Hal itu memancing tawa kecil yang jarang keluar dari tenggorokanku.
“Kau pikir aku ini jiwa yang bisa kau hisap energinya?” ejekku sambil mencubit pipinya pelan.
Ia mengeluarkan suara kecil, sejenis dengusan puas yang hanya bisa dihasilkan oleh makhluk yang merasa benar-benar aman, lalu menyembunyikan wajahnya lebih dalam lagi di ceruk leherku. Aku mendengus pelan, membiarkan punggungku rileks. Jika ada penghuni neraka yang melihat kami sekarang, mereka tidak akan percaya. Dengan wajah yang terlalu tenang, bulu mata yang lentik, dan mata kuning khas hellhound hitam yang terlihat redup karena rasa malas yang mendalam, aku mungkin terlihat seperti remaja lelaki manusia biasa yang sedang menjaga adiknya.
Aura di sekitarku terasa lembut dan pasif. Selalu begitu jika aku tidak sedang diprovokasi.
Padahal, di balik wajah tenang ini, pikiranku jarang benar-benar lurus. Aku sadar akan sifat asliku. jahil, sedikit menyimpang, sarkastik, dan terlalu sering membayangkan skenario-skenario kacau yang seharusnya tidak dipikirkan oleh pelindung yang bertanggung jawab. Namun, setiap kali Cloudet ada di dekatku, semua kegelapan dan kebisingan di kepalaku seolah mereda menjadi garis datar yang damai.
Tok. Tok.
Ketukan pintu yang ritmis dan sopan memecah keheningan. Aku refleks menahan pinggang Cloudet agar ia tidak terjungkal dari pangkuanku karena gerakan mendadak.
“Masuk,” ucapku cepat, memperbaiki posisi dudukku.
Pintu terbuka dengan suara gesekan halus. Irina berdiri di ambang pintu, didampingi oleh Hendrik yang selalu tampak seperti bayangan yang setia. Pagi itu, Irina tampak sangat anggun dengan gaun rumah sederhana berwarna pucat yang senada dengan warna rambutnya. Wajahnya memancarkan aura keibuan yang kuat, tangannya bertumpu ringan di atas perutnya yang buncit, rumah bagi kehidupan baru yang sedang ia jaga.
“Selamat pagi, Calix,” sapanya dengan suara selembut sutra. “Apa aku mengganggu waktu istirahatmu?”
Aku segera berdiri, menurunkan Cloudet ke lantai dengan hati-hati meskipun ia sempat merengek kecil karena kehilangan kehangatan, lalu aku membungkuk hormat. “Tidak sama sekali, Nona Irina. Ada yang bisa saya bantu?”
Tatapan biru jernih Irina beralih pada Cloudet yang sekarang berdiri di samping kakiku. Senyumnya menghangat seketika, jenis senyuman yang sanggup melunakkan es di kutub utara.
“Aku ingin meminjam Cloudet hari ini,” katanya lembut, matanya berbinar penuh harap. “Jika kau mengizinkan dia menemaniku, tentu saja.”
Aku sudah menduga hal ini. Irina memiliki keterikatan yang aneh namun manis dengan Cloudet, mungkin karena Cloudet adalah anak dari sahabat lamanya, atau mungkin karena ia ingin melatih insting keibuannya sebelum bayinya sendiri lahir. Ia ingin membawa Cloudet berjalan-jalan di taman mansion, menunjukkan padanya bahwa dunia ini memiliki warna selain merah dan hitam.
Aku menoleh ke bawah, menatap Cloudet. Ia berdiri ragu, jari-jarinya memainkan ujung kemejaku. Matanya yang kuning besar menatapku lebih dulu sebelum menatap Irina. Ia selalu melakukannya, memastikan apakah orang di depannya adalah ancaman atau bukan melalui reaksiku.
Aku berlutut satu kaki agar sejajar dengannya, meletakkan tangan di bahu kecilnya, lalu mengangguk pelan. “Pergilah. Nona Irina akan menjagamu dengan baik. Tidak ada yang perlu ditakutkan di sini.”
Cloudet berkedip beberapa kali, memproses kata-kataku, lalu senyum kecil yang polos merekah di wajahnya. Tanpa ragu lagi, ia berjalan mendekat ke arah Irina. Tangan kecilnya meraih ujung gaun sutra wanita itu, sebuah tindakan kepercayaan yang spontan. Irina tampak terkejut sejenak, matanya berkaca-kaca karena terharu, lalu ia tertawa kecil dan mengusap kepala Cloudet dengan penuh kasih sayang.
“Kami tidak akan lama, Calix. Hendrik akan membawakanmu sarapan sebentar lagi,” katanya padaku sebelum berbalik arah, menuntun Cloudet keluar ruangan.
Hendrik memberikan anggukan kecil yang formal sebelum menutup pintu kayu yang berat itu.
Sekali lagi, kamarku kembali sunyi. Namun kali ini, sunyinya terasa berbeda. Terasa kosong.
Aku berdiri diam selama beberapa detik, menatap kayu pintu yang kini tertutup rapat, lalu menghela napas panjang hingga bahuku merosot. Aku melemparkan diriku kembali ke atas kasur, menatap langit-langit yang dihiasi ukiran plester klasik.
“…Bosan,” gumamku pada ruangan yang tak menjawab.
Tanpa kehadiran Cloudet yang mengganggu atau tingkahnya yang aneh, ruangan ini mendadak terasa terlalu luas. Dunia manusia yang tadinya tampak menarik, tiba-tiba kehilangan saturasinya. Aku butuh sesuatu yang lebih menggugah. Wajah malas dan bosanku terpantul di cermin besar di sudut ruangan. Cahaya pagi sudah bergeser, menciptakan bayangan yang memanjang malas di dinding.
“Ah, sudahlah. Aku tidak bisa hanya diam di sini sampai berlumut,” gumamku sambil bangkit berdiri dengan gerakan yang tiba-tiba energik.
Tanpa banyak pikir, aku tidak melewati pintu. Aku membuka jendela lebar-lebar, merasakan angin pagi menerpa wajahku, lalu memanjat keluar dengan kelincahan predator. Tubuhku melesat ringan di antara atap-atap dan dahan pohon besar di halaman mansion, hampir tak menyentuh apa pun, meninggalkan kediaman Grozen yang terlalu tertib untuk seleraku. Tujuanku adalah satu-satunya tempat yang bisa memberiku rasa "pulang" di dunia ini.
Hutan Scotra.
Hutan kuno yang terletak di perbatasan wilayah manusia. Entah kenapa, instingku sebagai makhluk astral selalu menyeretku kembali ke sana.
Begitu kakiku menyentuh tanah yang lembap dan tertutup lumut di tepi hutan, atmosfer di sekitarku langsung berubah secara drastis. Udara di sini lebih dingin, lebih berat, dan dipenuhi dengan aroma sisa-sisa sihir purba yang belum tersentuh peradaban. Bau tanah basah, pembusukan alami dedaunan tua, dan aroma pinus menyelimuti indra penciumanku. Aura hutan ini selalu menyambutku seperti teman lama yang kasar namun jujur, ia tidak butuh kepalsuan.
Aku melangkah masuk lebih dalam, melompati semak-semak berduri dan akar-akar raksasa yang mencuat seperti tulang belulang naga purba, hingga sampai pada sebuah pohon raksasa yang batangnya mungkin berdiameter lima meter. Ini adalah tempat favoritku. Batangnya tebal dan kasar, usianya mungkin ribuan tahun. Tanpa ragu, aku memanjatnya, bergerak secepat kilat hingga mencapai dahan besar yang kokoh di ketinggian yang cukup untuk melihat kanopi hutan.
Aku merebahkan diri di sana, menyilangkan satu tangan di bawah kepala untuk bantalan, sementara satu kakiku menjuntai santai di udara.
“Hm… jauh lebih baik daripada ruangan berbau parfum itu,” gumamku sambil memejamkan mata.
Daun-daun hijau di atas kepalaku bergoyang pelan, menghasilkan melodi alami yang menenangkan. Cahaya matahari menyelinap di antara celah ranting, menari-nari di atas kelopak mataku. Untuk sesaat, untuk beberapa detik yang berharga, pikiranku benar-benar kosong dari beban tanggung jawab.
Lalu, keheningan itu koyak.
Sesuatu yang dingin, licin, bersisik, namun sangat kuat tiba-tiba melilit tubuhku. Tekanan itu bermula dari pinggang dan dengan cepat merambat hingga ke dadaku, mengunci pergerakanku. Kekuatan lilitannya jelas cukup untuk menghancurkan rusuk manusia biasa dalam hitungan detik.
Seekor ular raksasa dengan sisik berwarna hitam kehijauan yang mengkilap telah membelitku, muncul entah dari mana.
Aku tidak berteriak. Aku bahkan tidak repot-repot membuka mataku sepenuhnya. Ekspresiku tetap malas, mataku hanya terbuka setengah, menatap lilitan itu seolah-olah itu hanyalah gangguan kecil seperti nyamuk yang lewat. Aku sudah terlalu sering menghadapi gangguan yang satu ini.
“Aku tahu ini kau, ular sialan,” kataku dengan nada datar yang tidak terkesan.
Tawa rendah yang serak dan menggoda terdengar tepat di dekat daun telingaku, disusul oleh hembusan napas hangat yang berbau seperti nektar hutan.
“Wah, wah… lihat siapa yang kita temukan di sini. Siapa pria manis yang tiba-tiba kembali ke wilayahku tanpa izin?”
Nada suaranya adalah campuran antara provokasi, godaan, dan sesuatu yang sangat menyebalkan. Aku tetap menatap langit-langit daun di atasku, sama sekali tidak berniat menoleh ke arah sumber suara.
“Lepaskan, Kael. Aku sedang tidak ingin bergulat dengan reptil hari ini,” ucapku singkat.
Bukannya menuruti, lilitan itu justru sedikit mengencang, cukup untuk membuatku mendesis pelan karena tekanan pada paru-paruku. Di depan mataku, sisik ular itu mulai memudar, berubah menjadi kulit manusia yang pucat dan halus. Ekor panjangnya masih melilitku dengan erat, sementara bagian atas tubuhnya bertransformasi sepenuhnya menjadi sosok pemuda yang sangat kukenal.
Kael. Sang raja penjaga hutan Scotra, atau lebih tepatnya, gangguan terbesar dalam hidupku ketika menginjakan kaki di hutan ini.
Dada telanjangnya yang atletis berkilau samar karena pantulan cahaya matahari yang menembus kanopi. Rambut hitamnya yang panjang sebahu, dengan gradasi ujung kehijauan seperti lumut tua, tergerai acak-acakan di sekitar wajahnya. Matanya hitam kehijauan dengan pupil vertikal, menyala dengan binar sarkastik dengan kelicikan. Ia memasang senyum lebar yang memperlihatkan taring-taring kecilnya, senyum khas predator yang telah menangkap mainannya.
Harus kuakui, secara visual dia memang tampan dengan cara yang eksotis dan liar. Dan di saat yang sama, dia sepenuhnya sinting.
“Aku kira kau tidak akan pernah kembali lagi setelah betah menjadi 'anjing penjaga' di rumah mewah itu,” lanjutnya sambil mendekatkan wajahnya, hidungnya hampir bersentuhan dengan leherku.
“Aku hampir merindukan aroma yang kau bawa, Calix.”
“Jangan berkhayal,” jawabku malas, mencoba mengabaikan kedekatan yang tidak perlu ini.
Kael tertawa pelan, getaran tawanya merambat melalui lilitan tubuhnya ke tubuhku. Lalu, dengan gerakan yang sangat berani dan menjijikkan, ia menjulurkan lidahnya yang bercabang, menjilat sisi rahangku hingga ke telinga dengan gerakan yang lambat dan sangat disengaja.
Itu adalah pemicunya. Refleks ku lebih cepat dari kendali logikaku.
Dalam satu gerakan eksplosif, tanganku mencengkeram lehernya dengan tenaga yang sanggup meremukkan beton, dan dengan satu hentakan kuat, aku menghantamkan punggungnya ke batang pohon di belakang kami.
Brak!
“Akh—!” Kael mengerang, suaranya tercekik di tenggorokan. Matanya membelalak kaget karena serangan balikku yang mendadak.
Lilitan ekornya di tubuhku langsung mengendur karena rasa sakit yang mengejutkan sarafnya. Aku bangkit dari posisi berbaring, duduk di dahan dengan tatapan mata kuning yang kini menyala tajam dan mengancam.
“Kau menjijikkan, Kael. Berhenti mencoba menjilatku atau aku akan memastikan kau berakhir sebagai tas kulit ular di pasar manusia,” kataku dengan suara dingin yang menusuk.
Beberapa detik berlalu dalam ketegangan yang pekat. Aku akhirnya melepaskan cengkeramanku dari lehernya. Kael terhuyung mundur, memegang lehernya yang kini memiliki bekas merah kemerahan akibat jemariku. Namun, alih-alih menunjukkan kemarahan atau rasa takut, ia justru meledak dalam tawa.
Tawa yang keras, puas, dan sangat menjengkelkan yang bergema di seluruh penjuru hutan.
Ia menepuk-nepuk dadanya sendiri seolah baru saja mendengar lelucon terbaik, lalu ia menjatuhkan dirinya secara dramatis di dahan besar yang berada tepat di seberangku. Satu tangannya menutupi keningnya, sementara satu tangannya lagi menjuntai lemas di udara seolah ia sedang sekarat.
“Aduhh\~ kejam sekali,” keluhnya dengan nada yang dibuat-buat sedih.
“Bayangkan, suamiku sendiri mencoba mencekikku tanpa alasan pada pertemuan pertama setelah sekian lama. Betapa malangnya nasibku.”
Aku mendengus kasar, mencoba menekan keinginan untuk menendangnya jatuh dari ketinggian tiga puluh meter ini. “Kurasa, kau benar-benar perlu dirantai di dasar danau untuk mengobati otak mu yang sudah bergeser itu.”
“Ah, bicara kasar seperti itu di pagi yang indah ini? Kau benar-benar tidak romantis, Calix,”
Kael membuka satu matanya, menatapku miring sambil menyunggingkan senyum liciknya yang tidak pernah hilang.
“Tapi kau tetap datang ke hutanku meskipun kau membenciku. Bukankah itu berarti kau merindukan interaksi kita? Bukankah itu… romantis?”
Aku memutar bola mataku hingga hampir terasa sakit. “Aku datang ke sini karena aku sedang merasa bosan saja di mansion itu. Bukan karena aku ingin melihat wajah mu yang menyedihkan.”
Ia duduk bersila di dahan, ekornya yang panjang kini melilit malas di sekeliling dahan tempat ia duduk. Ia menatapku dengan penuh minat, kepalanya sedikit miring, seolah-olah ia sedang mengamati sebuah mainan lama yang berharga yang akhirnya kembali ke tangannya.
“Jadi,” katanya dengan nada yang tiba-tiba menjadi ringan namun serius,
“apa yang sebenarnya membawa putra kebanggaan ratu hellhound ke hutan kecilku yang berantakan kali ini? Apakah kehidupan di antara manusia terlalu membosankan untuk taringmu?”
Aku kembali merebahkan diri, mencoba menemukan kembali ketenangan yang tadi sempat hilang. Aku menatap langit di sela-sela dedaunan hijau yang rimbun, berusaha sekuat tenaga untuk mengabaikan keberadaan makhluk di seberangku ini.
Kael terdiam sejenak. Angin hutan berhembus di antara kami. Senyum provokatifnya tidak benar-benar menghilang, namun sorot matanya melunak, sedikit saja, sebuah kilatan pengakuan yang hanya ia tunjukkan kepadaku ketika tidak ada orang lain yang melihat. Hutan Scotra kembali sunyi, meninggalkan kami berdua dalam tatanan aneh yang hanya kami yang mengerti.
Bersambung