Gerard adalah seorang pria yang hidupnya jatuh hingga ke titik terendah. Saat ia nyaris mati kelaparan dan menjadi korban serangan tak dikenal, sebuah Sistem misterius tiba-tiba muncul, menyelamatkan nyawanya dan memulihkan tubuhnya sepenuhnya.
Dibawa ke dalam hutan yang asing, Gerard kini diberi tantangan oleh Sistem: bertahan hidup semalam untuk mendapatkan hadiah luar biasa—uang seratus juta dan sebuah rumah. Namun, di balik janji masa depan cerah itu, ancaman dari masa lalu dan identitas penyerangnya yang gelap masih mengintai, membuat setiap detik menjadi pertaruhan nyata.
Siapakah itu? Dan seberapa rumit masa lalunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Loorney, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 - Alasan
Dalam ruangan yang tenang, Gerard duduk bersandar di ranjang, membuka-buka buku yang sejak tadi ia pegang. Matanya menyusuri baris demi baris, sesekali berhenti di satu kalimat. Namun telinganya tetap menangkap suara di sampingnya—suara pisau yang memotong buah, iramanya pelan dan hati-hati.
Melinda tampak serius. Alisnya kadang mengernyit saat mengupas kulit apel, bibirnya sedikit maju seperti anak kecil yang sedang belajar. Di jari-jarinya yang mungil, beberapa plester kecil menempel—bukti dari perjuangan awalnya memegang pisau. Kini, ia sudah lebih lihai. Bangga, bahkan.
Setelah selesai, ia menyusun potongan apel berbentuk kelinci di atas piring kecil. Lucu. Tidak sempurna, tapi penuh usaha. Ia menusuk satu dengan garpu, lalu menyodorkannya ke arah Gerard yang masih tenggelam dalam bacaan.
"Ini, aaa~" suaranya lembut, seperti bisikan.
Gerard mengangkat wajah perlahan. Ia menoleh, lalu diam cukup lama. Matanya menangkap cahaya sore yang masuk dari jendela, menimpa wajah Melinda yang tersenyum tipis. Dadanya berdesir aneh. Tanpa sadar, ia mendekatkan bibir, membuka sedikit, lalu menggigit apel itu.
"Gimana?" tanya Melinda, menunggu dengan tatapan penuh harap.
Gerard mengunyah pelan, lalu tersenyum sambil mengacungkan jempol. "Aku sebenernya nggak tega makan kelinci lucu kayak gini." Ia terkekeh kecil. "Tapi rasanya manis. Kamu beli sendiri?"
Melinda mengangguk puas, senyumnya merekah. "Iya! Aku diajak Bunda ke mall kemarin, beli banyak. Masih ada jeruk sama anggur juga, mau?" tangannya sudah siap menjangkau basket kecil di nakas.
Gerard menatapnya lagi. Lebih lama kali ini.
Dia beli semua ini… cuma buat aku?
Perasaan hangat menyusup di antara tulang rusuknya, sesuatu yang asing namun tak ingin ia usir. Matanya masih lekat pada wajah Melinda, tanpa sadar, tanpa kata.
Melinda yang sedang sibuk memilih anggur tiba-tiba diam. Ia bisa merasakan tatapan itu—berat tapi lembut. Pipinya memanas. Tanpa berpikir, ia mencubit pelan ujung hidung Gerard.
"Hey! Malah melamun!" desisnya, pipinya sedikit menggembung.
Gerard terkesiap. Ia meraba hidungnya sambil tertawa kecil, meski tak ada rasa sakit sama sekali. "Ahaha… maaf. Aku salah lihat."
Dusta. Ia tidak salah lihat. Tapi kadang, ada hal-hal yang tak perlu dijelaskan. Cukup hanya Gerard yang mengetahuinya.
Melihat Melinda kembali menusuk kelinci apel yang lain, Gerard perlahan menutup bukunya. Ia meraih garpu di tangan Melinda—lembut, namun cukup tegas untuk membuat gadis itu terkejut. Mata Melinda membulat, tapi Gerard hanya menggeleng kecil.
"Sekarang..." suaranya menggantung sejenak. Perlahan ia menyodorkan garpu itu ke arah Melinda. "Giliran kamu yang merasakan. Kelinci lucu dengan rasa manis!"
"E-eh?" Melinda terdiam, tubuhnya seperti membeku. Bibirnya terbuka sedikit, ragu-ragu. Ada rasa sungkan yang mengganjal, tapi saat ia menatap wajah Gerard—tulus, tanpa paksaan—hatinya melunak.
Perlahan ia menelan ludah, lalu mendekatkan wajahnya. Membuka mulut kecil. Potongan apel itu masuk, dan rasa manis langsung meledak di lidahnya. Gerard tersenyum puas melihat ekspresi Melinda yang sedikit terkejut, lalu meleleh menikmati.
"Enak, kan?" tanya Gerard ringan.
Melinda mengunyah pelan, lalu mengangguk kecil. "Iya. Aku juga bisa dengar teriakannya waktu masuk ke mulut. Mungkin dia ayah dari dua anak?"
Tawa kecil mereka pecah bersamaan, mengisi ruangan yang semula sunyi menjadi hangat.
Saat itulah, suara getar memecah keheningan ruangan. Melinda menunduk, menyadari ponselnya bergetar di dalam tas mungil yang selalu ia bawa. Ia mengangkat tangan sebentar, meminta izin pada Gerard sebelum meraihnya.
Di layar, sebuah nama muncul: Mawar.
Melinda menjawab dengan suara hampir berbisik. “Halo?”
“Mel? Melin! Kamu di mana sih? Katanya kita mau main!” Suara Mawar terdengar jelas di seberang, sedikit mendesak, lebih banyak ceria.
Melinda membeku.
Matanya membulat. Lalu tanpa sadar, telapak tangannya menepuk kening sendiri. “Aduh!” desahnya lirih, penuh penyesalan.
“I-iya! Maaf, Wa! Aku ke sana sekarang!” ucapnya tergesa, lalu menutup panggilan. Ia memasukkan ponsel kembali ke tas, lalu menoleh pada Gerard dengan raut bersalah.
“Ada janji, ya?” tanya Gerard tenang.
Melinda mengangguk kecil. “Maaf… aku harus pergi sekarang.” Suaranya sungguh-sungguh menyesal, seperti anak kecil yang ketahuan lupa PR.
Namun Gerard hanya tersenyum. “Nggak apa. Emang udah seharusnya kamu pergi kalau udah janji.”
Melinda menghela napas lega. Ia bangkit, merapikan roknya sebentar, lalu melangkah menuju pintu. Sebelum keluar, ia sempat menoleh.
“Aku… besok balik lagi, ya?”
Gerard tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk, masih dengan senyum kecil yang sama.
Pintu akhirnya tertutup rapat. Suara langkah kaki menjauh — langkah ringan Melinda disusul derap tegas para pengawal — perlahan memudar, menyisakan keheningan yang kembali merangsek masuk.
Gerard membaringkan tubuhnya perlahan, menatap langit-langit putih selama beberapa saat. Lalu matanya beralih ke nakas, tempat piring kecil dengan dua potong apel kelinci masih tersisa.
Ayah dari dua anak…
Ia menatap potongan apel itu dengan sudut bibir yang sedikit terangkat.
Mungkin yang tadi aku makan itu istrinya, ya?
Hening. Lalu ia menghela napas panjang, memejamkan mata.
…Jadi merasa bersalah.
...*•*•*...
Tiga hari lalu...
Saat siang masih terasa panjang dan Gerard baru saja dipindahkan ke kamar perawatan biasa, derap langkah kaki terdengar jelas dari luar. Tak lama, pintu terbuka. Tiga orang masuk bergiliran—Anton, Tari, dan di belakang mereka, Melinda.
Anton menyapa dengan senyum hangat, diikuti Tari yang ramah dan penuh perhatian. Namun Melinda, yang berdiri sedikit di belakang, hanya tersenyum tipis—ragu, kaku, seperti dipaksakan. Matanya cepat-cepat beralih ke arah lain, menghindari tatapan Gerard.
Kedatangan mereka sore itu adalah untuk berpamitan. Kondisi Melinda sudah membaik, dan mereka akan pulang. Namun sebelum pergi, Anton dan Tari ingin memastikan satu hal: bahwa Gerard tidak merasa sendiri.
Mereka menawarkan bantuan, bahkan pengawal—yang dengan sopan Gerard tolak. Ia hanya meminta hal sederhana: buku. Sesuatu untuk mengisi waktu, katanya, karena mungkin tak akan banyak orang yang datang menjenguk.
Anton dan Tari saling pandang, tapi tak bertanya lebih jauh. Gerard tak menjelaskan latar belakangnya, hanya berkata pelan, "Tidak ada yang tahu saya di sini." Kalimat pendek, ringan, tapi bobotnya terasa jelas di udara.
Termasuk bagi Melinda, yang sejak tadi diam. Dari sudut matanya, ia melirik Gerard—lelaki yang menyelamatkannya, yang kini terbaring sendiri di ranjang rumah sakit, tanpa satu pun wajah yang menantinya di luar sana.
Dia tidak punya keluarga? Hatinya tersentak halus. Rasa iba, campur kagum, dan sesuatu yang lain—sesuatu yang belum bisa ia beri nama—mulai tumbuh di dadanya.
Saat kedua orang tuanya sudah hampir pamit, Melinda tiba-tiba melangkah maju.
Gerard, Anton, dan Tari sama-sama tertegun.
Namun Melinda hanya tersenyum—kali ini lebih tenang, meski semburat merah masih menyusup di pipinya. Ia menatap Gerard, tidak lagi menghindar.
"Aku lupa bilang terima kasih sebelumnya," ucapnya lirih, tapi jelas. "Jadi... izinkan aku sering ke sini, ya?"