Kang Yun-seo, seorang pemuda biasa dari dunia modern yang doyan main game, tiba-tiba terbangun di dunia Murim yang penuh intrik dan seni bela diri. Ia dipanggil oleh Hwang Yehwa, ratu iblis yang sekarat akibat pengkhianatan, dan kini kehilangan kekuatannya, berubah wujud menjadi manusia biasa. Untuk bertahan di wilayah manusia yang memusuhi iblis, Yun-seo harus berpura-pura sebagai suaminya. Dengan pengetahuan modernnya, Yun-seo beradaptasi di akademi pedang, menghadapi turnamen, konspirasi gelap, dan bangkitnya kekuatan iblis, sambil menumbuhkan ikatan tak terduga dengan ratu dingin itu. Sebuah kisah isekai penuh aksi, komedi, dan romansa di antara dua dunia yang bertabrakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: RAHASIA DARAH
Ruangan perpustakaan tiba-tiba terasa sangat sunyi.
Yun-seo menatap Hwang Cheol-soo dengan mata terbelalak. Kata-kata itu masih bergema di kepalanya—"keturunan Kaisar Iblis". Mustahil. Tidak mungkin. Ia manusia biasa dari dunia modern.
"Apa maksud Kakek?" suaranya bergetar. "Aku keturunan Kaisar Iblis? Itu tidak masuk akal."
Hwang Cheol-soo duduk di kursi, menghela napas panjang. Matanya yang biasanya ceria kini tampak berat, seperti membawa beban ribuan tahun.
"Duduklah. Ini cerita panjang."
Mereka bertiga duduk mengelilingi meja—Yun-seo, Yehwa, dan Seo Jung-won. Hwang Cheol-soo mulai bercerita.
"Lima ribu tahun lalu, Kaisar Iblis pertama—Hwang Jin—memerintah alam iblis dengan bijaksana. Ia bukan hanya kuat, tapi juga adil. Di bawah pemerintahannya, manusia dan iblis hidup damai." Ia berhenti, menatap Yehwa. "Yang Mulia mungkin tahu nama itu."
Yehwa mengangguk pelan. "Kaisar Jin adalah legenda. Kakek buyutku."
"Tepat." Hwang Cheol-soo tersenyum. "Tapi yang tidak banyak orang tahu—Kaisar Jin punya anak dari manusia."
Yun-seo menegang.
"Ia jatuh cinta pada seorang wanita manusia. Mereka menikah diam-diam, memiliki seorang putra. Tapi karena politik dan perang, anak itu harus disembunyikan. Kaisar Jin mengirimnya ke dunia lain—dunia yang tidak terjamah iblis maupun manusia Murim." Hwang Cheol-soo menatap Yun-seo. "Dunia itu adalah duniamu."
Yun-seo membeku. "Jadi... aku?"
"Keturunannya. Darah Kaisar Iblis mengalir dalam dirimu. Itu sebabnya Cincin Pemanggil memanggilmu. Bukan karena kebetulan, tapi karena panggilan darah."
Yehwa menatap Yun-seo dengan takjub. "Jadi kau... iblis?"
"Setengah," koreksi Hwang Cheol-soo. "Tapi darah Kaisar sangat kuat. Bahkan setelah ribuan tahun, kekuatan itu tetap ada, meski tidak aktif."
Yun-seo merasakan dunia berputar. Ia ingat masa kecilnya—tidak ada yang aneh. Orang tua biasa, sekolah biasa. Tapi kenapa ia selalu merasa berbeda? Kenapa ia selalu bisa bertahan dalam situasi sulit?
"Cincin Kekaisaran memilihmu karena itu," lanjut Hwang Cheol-soo. "Ia mengenali darah majikannya."
Seo Jung-won bersiul pelan. "Jadi kita punya dua keturunan iblis di sini. Aku setengah, dia setengah."
Yehwa tersenyum—lega? Bahagia? Ia tidak tahu. Yang jelas, Yun-seo bukan manusia biasa. Ia sejenis dengannya.
Yun-seo masih diam, mencerna. Lalu bertanya, "Orang tuaku... di duniaku... mereka tahu?"
"Mungkin tidak. Anak Kaisar Jin dikirim dalam keadaan bayi, dirawat oleh keluarga manusia yang tidak tahu asal-usulnya. Mereka hanya berpikir anak itu yatim piatu." Hwang Cheol-soo menghela napas. "Rahasia ini hanya diketahui sedikit orang. Aku salah satunya."
Yehwa meraih tangan Yun-seo. "Kau baik-baik saja?"
Yun-seo menatapnya. Di mata wanita itu, ia tidak melihat perubahan—masih sama, masih penuh perhatian.
"Aku... tidak tahu harus merasa apa." Ia tersenyum getir. "Dari pemuda biasa, jadi suami ratu iblis, lalu keturunan kaisar iblis. Apa lagi berikutnya?"
"Mungkin jadi raja iblis," goda Seo Jung-won.
Yun-seo tertawa—tawa getir. "Jangan bercanda."
"Aku tidak bercanda. Dengan darah Kaisar, kau berhak atas tahta." Seo Jung-won menatap Yehwa. "Bersaing dengan ratu."
Yehwa tersenyum tipis. "Dia tidak perlu bersaing. Tahta bisa kita bagi."
Yun-seo menggeleng. "Sudah, sudah. Jangan bahas tahta dulu. Kita masih harus ambil pusaka keenam dan ketujuh."
Hwang Cheol-soo mengangguk. "Nah, itu baru fokus yang benar. Soal darah, kau bisa pikirkan nanti. Sekarang, kita bicara tentang Alam Bayangan."
---
Hwang Cheol-soo menjelaskan tentang Alam Bayangan.
"Dimensi itu diciptakan Kaisar Jin untuk menyembunyikan pusaka terkuatnya—Tombak Seribu Jiwa. Tombak ini bisa membunuh makhluk abadi, termasuk iblis tingkat tinggi. Sangat berbahaya."
Yehwa mengernyit. "Kenapa kakek buyutku menyembunyikan senjata yang bisa membunuh bangsanya sendiri?"
"Karena ia takut disalahgunakan. Dan benar—sekarang Lilian mencarinya." Hwang Cheol-soo menatap mereka serius. "Kalau Lilian dapat tombak itu, ia bisa membunuh kalian berdua dengan mudah."
Yun-seo merinding. "Kita harus ambil duluan."
"Tapi ada masalah." Hwang Cheol-soo mengeluarkan gulungan kertas tua. "Alam Bayangan hanya bisa dimasuki oleh keturunan Kaisar Jin. Itu sebabnya Cincin Pemanggil adalah kuncinya—ia terbuat dari darah Kaisar."
Yehwa menatap Yun-seo. "Jadi hanya kau yang bisa masuk?"
"Sepertinya begitu."
"Aku tidak bisa ikut?"
"Cincin itu bisa membawa orang lain, tapi terbatas. Mungkin satu atau dua." Hwang Cheol-soo berpikir. "Yang Mulia, kau harus ikut. Di dalam, mungkin ada bahaya yang hanya bisa dihadapi dengan kekuatan iblis."
Yun-seo mengangguk. "Jadi kita berdua masuk. Jung-won?"
Seo Jung-won mengangkat bahu. "Aku jaga di luar. Kalau ada apa-apa, aku yang urus."
Hwang Cheol-soo tersenyum. "Rencana bagus. Tapi ingat—Alam Bayangan penuh dengan ilusi dan jebakan. Jangan percaya apa pun yang kau lihat."
---
Malam itu, Yun-seo tidak bisa tidur.
Ia terbaring di ranjang, memandangi langit-langit. Cheol-soo mendengkur di samping, Kim Jung-soo bergumam dalam tidur, Park Mu-jin seperti batu.
Pikirannya kacau. Keturunan Kaisar Iblis. Darah iblis mengalir dalam dirinya. Ia bukan manusia biasa.
Selama 19 tahun ia hidup sebagai manusia, tidak tahu jati dirinya. Sekarang, di dunia asing ini, ia baru tahu kebenaran.
"Apa aku masih manusia?" batinnya. "Atau iblis?"
Tiba-tiba, jendela kamarnya terbuka pelan. Yehwa melompat masuk, diam-diam seperti bayangan.
"Kau tidak tidur?" bisiknya.
Yun-seo menggeleng. Yehwa duduk di sampingnya, di tepi ranjang.
"Aku juga tidak bisa tidur," bisiknya. "Pikiranku penuh."
Mereka berdua diam, takut membangunkan yang lain. Lalu Yehwa meraih tangannya.
"Apa pun kau, aku tetap di sini."
Yun-seo menatapnya. Di bawah cahaya bulan, Yehwa terlihat cantik—seperti biasa, tapi kali ada kehangatan yang berbeda.
"Terima kasih," bisiknya.
Yehwa tersenyum. Lalu, tanpa bicara, ia berbaring di samping Yun-seo, memeluknya erat. Mereka berdua tidur dalam pelukan, melepas penat dan kegelisahan.
Pagi harinya, Cheol-soo terbangun dan hampir berteriak melihat Yehwa di ranjang Yun-seo. Tapi Yun-seo cepat menutup mulutnya.
"Diam! Ini... ini urusan pribadi!"
Cheol-soo mengangguk cepat, matanya membelalak. Tapi senyumnya lebar—terlalu lebar.
"Hyung... hebat..."
"DIAM!"
---