Bagi orang lain, ia adalah definisi kemandirian yang sempurna. Namun, di balik punggungnya yang tegap, tersimpan luka yang tak pernah dipeluk siapa pun.
Ia tumbuh dalam rumah yang penuh, tetapi merasa seperti yatim piatu di tengah hiruk-pikuknya. Sejak kecil, ia dipaksa menelan rindu pada orang tua yang merantau, hanya untuk kembali dan mendapati dirinya sebagai orang asing yang selalu salah. Tanpa pembelaan, tanpa kasih sayang, ia belajar satu hal: satu-satunya orang yang bisa ia andalkan adalah dirinya sendiri.
Namun, sampai kapan seseorang bisa terus menjadi "langit" yang kokoh tanpa pernah runtuh? Ketika semua keinginan harus dipenuhi sendiri dan setiap air mata harus disembunyikan, ia mulai kehilangan jejak akan perasaannya sendiri.
Di rumah yang seharusnya menjadi pelabuhan, ia justru tenggelam dalam kesepian yang paling sunyi. Mampukah ia menemukan jalan pulang ke dirinya sendiri, ataukah ia akan terus menopang langit itu sampai hancur berkeping-keping?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Suasana hati Alana yang tadinya secerah langit Ubud mendadak mendung saat ponsel di genggamannya bergetar hebat. Nama "Ibu" berkedip di layar, membawa firasat buruk yang seketika merampas oksigen di sekitarnya.
Alana menjauh dari keramaian pekerja proyek, mencari sudut sepi di balik pilar bangunan yang setengah jadi. Begitu tombol hijau digeser, suara lengkingan tajam langsung menyambar telinganya tanpa salam.
"Alana! Apa-apaan kamu?! Kamu blokir kartu kredit Ibu? Kamu mau membiarkan Ibu mati kelaparan di sini?!" teriak ibunya di seberang sana. Suaranya bergetar antara amarah dan tuntutan yang egois.
Alana memejamkan mata rapat-rapat, jemarinya mencengkeram helm proyek dengan kuat. "Ibu, Alana sudah bilang, Alana butuh uang itu untuk menata hidup Alana sendiri. Rian sudah besar, dia harus kerja, bukan terus-menerus mengandalkan uang Alana."
"Halah! Dasar anak tidak tahu diuntung! Kamu itu sukses di Jakarta karena doa Ibu! Sekarang kamu di Bali senang-senang, sementara Ibu dikejar orang karena utang Rian belum dibayar. Kamu mau jadi anak durhaka, hah?!"
Suara teriakan itu memicu sesuatu yang gelap di ingatan Alana. Seketika, hiruk-pikuk proyek di Gianyar memudar, digantikan oleh bayangan masa lalu yang menyesakkan.
Kilas Balik: Masa SMA Alana
Alana teringat saat ia duduk di bangku kelas 3 SMA. Ia baru saja pulang membawa piala juara umum satu sekolah. Alana berlari pulang dengan harapan ibunya akan memujinya, atau setidaknya membuatkan teh hangat sebagai perayaan sederhana.
Namun, yang ia temukan adalah pemandangan yang menghancurkan hatinya. Ibunya sedang membongkar celengan ayam milik Alana—tabungan hasil ia menyisihkan uang jajan dan bekerja paruh waktu menjaga toko buku—demi membayar utang atau membelikan barang mewah untuk Rian, adik kesayangannya.
"Ibu, itu uang untuk pendaftaran kuliah Alana!" isak Alana remaja saat itu.
Ibunya hanya menoleh dingin, memasukkan lembaran uang terakhir ke dalam sakunya. "Kuliah itu tidak penting buat perempuan. Nanti juga kamu menikah. Sekarang bantu Ibu, kasihan adikmu butuh sepatu baru agar tidak malu di sekolah."
Kala itu, Alana hanya bisa menangis di pojok kamar yang sempit, menyadari bahwa di mata ibunya, ia bukanlah seorang anak yang patut disayangi, melainkan hanya sebuah mesin ATM yang harus terus mengeluarkan uang.
Kembali ke Masa Sekarang
"Alana! Kamu dengar Ibu tidak?!" bentakan itu menarik Alana kembali ke kenyataan.
Napas Alana tersengal. Rasa perih di hatinya saat SMA kini bermetamorfosis menjadi keberanian yang dingin. "Cukup, Bu. Alana tidak akan mengirim uang lagi sampai Rian mencari pekerjaan. Dan jangan coba-coba memakai nama Alana untuk pinjaman apa pun
Alana langsung mematikan sambungan telepon. Tangannya gemetar hebat. Ia terduduk di atas tumpukan sak semen, menenggelamkan wajah di antara kedua lututnya. Langit Bali yang tadi terasa luas, mendadak terasa sempit dan menghimpit, persis seperti saat ia masih berseragam putih abu-abu dulu.
Ingatan itu menyeruak seperti air bah yang menjebol bendungan. Alana memejamkan mata, dan seketika ia merasa tubuhnya menyusut, kembali menjadi gadis kecil berusia sepuluh tahun yang meringkuk di antara tumpukan baju di dalam lemari kayu yang pengap.
Dulu, lemari adalah satu-satunya istana yang ia miliki. Di sana, di antara aroma kamper dan kegelapan, Alana akan membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan agar isak tangisnya tidak menembus pintu kayu. Ia takut jika suaranya terdengar, Ibunya akan datang bukan untuk memeluknya, melainkan untuk membentaknya karena dianggap cengeng dan mengganggu tidur Rian.
Di dalam lemari itu, Alana kecil sering berbisik pada kegelapan, "Tolong bawa aku pergi ke tempat di mana langitnya tidak pernah mendung."
"Bu Alana? Ibu tidak apa-apa?" Suara Wayan, sang mandor, memecah keheningan yang menyakitkan itu.
Alana tersentak. Ia mendongak, berusaha menyeka sudut matanya dengan punggung tangan sebelum Wayan sempat menyadarinya. Ia bukan lagi gadis kecil di dalam lemari. Ia adalah Alana Caesarea seorang asisten manajer yang tangguh. Namun, getaran di tangannya tidak bisa berbohong.
"Saya... saya hanya sedikit pusing karena panas matahari, Pak Wayan," bohong Alana, suaranya parau. "Saya ke arah kantin sebentar untuk mencari air."
Ia berjalan dengan langkah limbung, namun ponsel di saku celananya kembali bergetar. Kali ini bukan telepon, melainkan sebuah pesan singkat dari Pradipta.
Pradipta: Rapatnya berjalan lancar. Tapi saya baru mendapat laporan dari tim keamanan sistem bahwa ada gangguan komunikasi yang cukup lama di ponselmu. Kamu baik-baik saja?
Alana menatap pesan itu. Pradipta terlalu jeli. Pria itu seolah bisa mencium aroma kesedihannya bahkan dari jarak ribuan kilometer. Alana bimbang; haruskah ia kembali menjadi "gadis di dalam lemari" yang menyembunyikan segalanya sendirian, atau haruskah ia mulai mempercayai seseorang untuk melihat lukanya?
Di Jakarta, Pradipta berdiri di lobi hotel, mengabaikan jabat tangan rekan bisnisnya hanya untuk menatap layar ponsel dengan cemas. Ia tahu, diamnya Alana adalah sebuah alarm bahaya.
"Rina," panggil Pradipta tanpa menoleh pada sekretarisnya. "Cek jadwal penerbangan ke Denpasar sore ini. Yang paling cepat."
"Tapi Pak, besok pagi Anda ada pertemuan dengan dewan komisaris," Rina mengingatkan dengan wajah pucat.
"Batalkan atau atur ulang melalui Zoom," perintah Pradipta dingin. "Ada sesuatu yang lebih mendesak daripada sekadar angka-angka di atas kertas."