NovelToon NovelToon
SURA Penahluk Siluman

SURA Penahluk Siluman

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Fantasi Isekai
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Elprasco

Berada di tengah laut jawa, Pulau Koriyaksa dihuni para siluman dalam segala bentuk, dipimpin oleh siluman tanpa nama berwujud menakutkan. Akhirnya setelah 50 tahun berperang, sebuah perjanjian damai ditandatangani.
Setiap malam satu suro, bangsa manusia wajib mengirim tumbal untuk dipersembahkan pada Sang Raja.
Namun Sura mahasiswa yang terlempar ke dalam buku harus menjadi tumbal ke-100, anehnya dia justru berhasil merebut hati Sang Penguasa. WARNING! HATI-HATI DALAM MEMILIH BACAAN!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana licik Anubis

Di tengah keraguan Sura, lawannya justru mengalami perubahan sikap.

Cangkang itu tampak semakin mengkilap. Tatapan Kura seketika berubah lebih ganas, bahkan muncul percikan cahaya aneh disekitar tubuhnya.

"Apa itu?" gumam Sura menyipitkan mata,

"HNG!!" Kura mengerang, menghentakkan kaki lalu melompat masuk ke dalam cangkang.

"Apa yang dia lakukan?!" sontak para tetua kebingungan,

Para penonton mulai kesal, mencemooh cara bertanding Kura. Sebelum dikejutkan oleh hal yang terjadi setelahnya,

Cangkang itu menggelincir, berlari secepat gangsing, dalam kedipan mata melesat ke arah Sura.

CETAKS!

"AAARRGH!" Sura berteriak kesakitan,

Kura sengaja menarget tengah tubuh Sura, dengan kecepatan kilat berhasil membuat Sura terpental hingga menabrak pembatas sihir.

"His...Sial!" umpat Sura berusaha bangkit dari duduknya.

Seakan tersengat listrik bertegangan tinggi, kakinya lemas kesulitan bergerak. Belum saja bersiap, Kura kembali menggelinding, sekali lagi menghantam Sura,

"AAARGH!!" Sura kembali tumbang, "Aku tidak punya waktu untuk menghindar."

"Jadi begitu! Anda sengaja memberikan ramuan tadi agar Kura bisa menggelinding cepat!" lugas Gola kegirangan,

Begitu puas melihat manusia yang sedang tergeletak lemas.

"Kenapa jadi seperti ini?!" batin Raja terguncang,

Merasa aneh mendapati gerakan Kura yang dirasa lebih cepat, terlebih lagi melihat kondisi Sura. Padahal hanya 2 kali hantaman tapi tubuh kekar itu ambruk tak kuasa berdiri,

"Sudah kuduga dia akan kalah," sorak siluman lain.

"Mengalahkan siluman lemah saja tidak mampu! Untunglah bukan aku yang maju,"

"Manusia rendahan memang pantasnya melawan siluman rendahan!"

"Ng...!" Kura menggertakkan gigi,

Tanpa ragu melayangkan serangan yang sama untuk ketiga kalinya.

BRAK!

"Hhh...?!"

Kura terpental mundur, serangannya terhalang, menabrak pembatas ruang yang Sura ciptakan.

"Apa itu?" sontak Kura keluar dari cangkang,

Berusaha memastikan benda apa tadi, lalu tercengang melihat perisai di depannya. Cahaya putih setipis benang membentuk ruang melindungi Sura dari segala sisi,

"Huft, untung masih sempat! Jika tidak, aku pasti pingsan karena serangan tadi!"

"Hh?! Apa itu semacam sihir penghalang?"

"Mustahil! Penghalang di dalam penghalang..."

"Mana mungkin manusia itu melakukannya!"

"Itu pasti cuma sihir lemah!"

"Hei, Kura bodoh! Tunggu apalagi? Cepat kalahkan dia,"

"Hancurkan penghalang itu!"

Ditengah sorakan, Kura kembali bersembunyi dalam cangkang, menyerang lagi namun gagal. Terus saja berulang dengan serangan yang sama tapi tetap tak mampu menembus perisai milik Sura.

DUK...!

DUK...!

DUK...!

"HEI, CEPAT! APA KAMU TIDAK PUNYA CARA LAIN?!"

"BERHENTI BERPUTAR! DAN SERANGLAH PAKAI TANGANMU!"

Teriakan penonton semakin mengganas, membuat Raja terbawa suasana. Dia tak tahan mendengar ocehan siluman yang terus menghina rekan yang tengah berjuang mewakili mereka,

Namun dia juga mengharapkan kemenangan Sura yang melawan bangsa siluman.

"Mereka benar. Serangan tadi tak akan mempan lagi kepadaku," gumam Sura menunggu taktik lain yang lawannya keluarkan.

"Kenapa diam saja?! Cepat serang dia!"

Kura hanya terdiam ditengah cemohan mereka. Rautnya mulai kebingungan, kesulitan mencari celah, "Ng, bagaimana ini?"

Perlahan menoleh ke sisi lain dengan tubuh gemetaran,

"...?" Sura melirik menyadari siapa yang tengah Kura tatap,

Sosok patih yang hanya tersenyum lebar ke arah mereka.

"Untuk apa dia melihat Anubis?"

"Bagaimana ini patih? Sepertinya manusia itu berhasil selamat!" cicit Gola menggertak geram,

"Kita tunggu saja," sahut Anubis begitu tenang.

Merasa jika rencananya telah berjalan dengan sempurna, "Kita lihat, sampai kapan pengecut itu akan sembunyi di dalam sana."

"Terus, bagaimana kalau dia tidak mau keluar?"

"Itu tidak mungkin. Pertandingan hanya akan selesai jika salah satu dari mereka kalah---"

"Sedangkan untuk mengalahkan Kura, dia harus keluar dan menyerangnya."

"Kura! Jangan diam saja!" bentak Gola berlari mendekat,

"Coba pancing dia untuk keluar dari sana!"

Teriakannya membuat Kura panik, keringat dingin membasahi kening, pandangan matanya sibuk menunduk seakan kebingungan.

Sura sadar jika kera besar itulah akar ketakutan Kura. Lalu ucapan apa yang Anubis berikan sampai bisa menenangkannya?

Dengan seksama Sura melihat gerak-gerik Kura, sepertinya bersiap menyerang kembali dengan cara serupa.

Kali ini lebih teliti, mata Sura mengikuti hantaman yang membentur perisai,

CETAKS!!

"AARGH!!" Kura berteriak kesakitan,

Cangkangnya terpental hingga menghantam sihir pembatas arena. Kura langsung terkulai lemas dengan tubuh berasap,

Kilatan cahaya disekeliling tubuhnya membuat Sura curiga, ada sesuatu yang salah. Bergegas memastikan dengan menyentuh pembatas arena di belakang,

"Mau apa dia?" gumam Raja penasaran,

Sura menempelkan 5 jarinya, merasakan sengatan ringan yang jauh berbeda.

Hanya rasa kebas di sekujur kulit, sedangkan serangan Kura mampu membuat seluruh tulangnya bergetar seperti mengalami kelumpuhan.

"Ternyata benar...tegangan listrik tadi bukan dari pembatas ini,"

"Tapi dari---tubuhnya!" tebelalak menatap lawan yang masih terbaring.

"Jangan bilang, semuanya adalah ide si anjing itu!

"Hh, ternyata dia sudah sadar. Pintar juga..." Anubis menyeringai,

Faktanya ramuan tadi bukan mempercepat gerakan, melainkan membuat tubuh Kura berubah menjadi magnet.

Berfungsi menyerap aliran lemah disekitar arena, membentuk arus listrik yang setara dengan sambaran petir.

Tentu saja ramuan ini juga berefek buruk bagi Kura,

Tubuhnya hanya bisa menampung tapi tak mampu bersentuhan dengan penghantar listrik lain. Sedikit gesekan bisa menghancurkan organ dalamnya,

"HUK...UHUK...!" cipratan darah keluar dari mulut Kura,

Linangan merah itu membasahi telinga. Kura tertunduk lemas, mengusap noda darah di wajahnya,

"Aku sudah berjanji akan membebaskannya dari Gola,"

"Selama ini dia menahan segala penderitaan demi membayar hutang dan menghidupi keluarganya."

"Dia sudah sering meminta pekerjaan dari siluman lain, tapi tak ada yang berani merebut anak buah Gola..." batin Anubis, masih sabar menonton dari kejauhan.

"Dasar bocah sialan, bisa-bisanya terluka karena jurusmu sendiri. Cepat bangun!"

"Cepat kalahkan manusia itu! Atau aku akan menyiksa adik-adikmu!" pekik Gola memberi ancaman,

"Tidak usah didengar! Sudahlah, pingsan saja!" Sura bergumam sendiri,

"Ck! Apa dia sudah bosan hidup? Padahal lukanya lebih parah..."

Tangan Sura mengepal kuat, hatinya iba melihat kegigihan Kura.

Siluman itu terus saja mencoba bangkit dengan tubuh yang terhuyung,

Sura tak tega dan tak sanggup lagi meneruskan pertandingan. Tanpa berpikir panjang, Sura melangkah keluar dari pembatas,

"Hh...?" Anubis tercengang, perlahan menerbitkan senyum licik.

Mengira bahwa Sura akan mengambil kesempatan lalu menyerang, setelah melihat tubuh Kura yang masih tampak kebingungan.

Namun ternyata salah,

Sura hanya diam menunggu serangan lawan.

"Hei, tunggu apa lagi?! Cepat serang sebelum dia bersembunyi!" pekik Gola antusias,

Para penonton mulai kehilangan sabar melihat Kura yang tak kunjung bergerak.

"Apa yang---" suara Raja tertahan, sempat meragukan keputusan Sura.

Kemudian matanya melirik ke jemari yang Sura sembunyikan. Kelima jarinya terbuka rapat, menciptakan kilatan cahaya sepanjang belati.

"Sekarang juga, akanku akhiri pertandingan ini."

"Sudah waktunya aku mencoba kekuatan baruku," batin Sura bersiap.

Menggunakan keahlian yang didapat setelah meniduri Raja siluman. Keahlian berlipat ganda,

Saat kemampuan ini aktif, bukan hanya kekuatan fisik namun seluruh indra milik Sura akan berlipat ganda sebesar siluman yang dilawan.

"Dengan begini, aku bisa mudah menghindari serangannya."

1
Lili
Seru thor😍
Lili
😍dapat rejeki banyak kalau gini
Anonymous
💪Gacor banget si Sura😍🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!