"Ya Allah, ini ayah mertuaku... yang memberiku restu... yang kutitipi janji menjaganya."
Pedang di tangannya bergetar. Antara cinta pada Halimah dan cinta pada tanah air, ia harus memilih yang satu.
"Ayah... maafkan menantumu. Bukan karena aku tega, tapi karena tanah ini lebih besar dari cinta kita semua."
Pedang itu melesak. Bersamaan dengan ruh ayah mertuanya, ruh Maringgih pun ikut mati separuh.
---
Suara Nurani Halimah
Ia melihat dari kejauhan. Mulut terbuka, suara mati di tenggorokan.
"Suamiku... kau membunuh ayahku?"
Bukan marah yang pertama hadir. Tapi tanya yang lebih dalam:
"Berapa luka yang kau pendam, Maringgih, sampai kau sanggup melakukan ini?"
Air matanya jatuh untuk dua lelaki sekaligus. Untuk ayah yang rebah. Untuk suami yang kini harus hidup dengan bayangan mayat ayah mertuanya sendiri.
"Aku kehilangan ayah hari ini... tapi aku juga kehilanganmu, Maringgih."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: JERITAN TERCEKIK
Jeritan tercekik pecah dari dalam gudang ketika api pertama menyentuh kayu tua, dan asap hitam membuat manusia di dalamnya meraba dinding seperti makhluk sekarat yang kehilangan arah.
Malam tanpa bulan menjadi saksi.
Hitam menyelimuti langit. Tidak ada bintang. Tidak ada cahaya. Hanya api yang sebentar lagi lahir dari dalam gudang—api yang akan mengubah segalanya.
Tiga puluh bayangan bergerak serempak di tengah gelap.
Mereka bukan manusia biasa malam ini. Wajah mereka lenyap, digantikan rupa makhluk lain—topeng Barong kayu tua dengan cat pudar dan bulu kusam. Mata melotot. Taring menjulur. Rambut dari serabut kelapa bergoyang pelan tertiup angin.
Di tengah mereka, Datuk Maringgih memimpin.
Topeng di wajahnya sama—tapi matanya berbeda. Di balik kayu tua itu, matanya tenang. Tenang seperti maut yang sedang menghampiri.
Ia mengangkat tangan. Tiga puluh bayangan berhenti.
Dari kejauhan, pos jaga depan masih terang. Suara pesta mabuk terdengar samar—botol pecah, tawa cadel, nyanyian sumbang. Sabtu malam berjalan sesuai rencana.
"Mereka mabuk," bisik Dullah di sampingnya. Suaranya tersekat topeng. "Setengah dari mereka sudah tidak sadar."
Maringgih mengangguk. Matanya beralih ke gudang—tiga bangunan besar berjejer. Gudang utama tempat rempah disimpan. Dua gudang kecil di sampingnya.
"Malam ini kita hajar semua," bisiknya. "Bukan hanya satu."
Tiga puluh topeng bergerak lagi. Membelah gelap.
---
Regu pertama—sepuluh orang—menyusup ke sisi belakang gudang utama.
Informasi petani tua tentang jendela berjeruji terbukti benar. Dua batang besi sudah lepas sejak minggu lalu. Tangan-tangan terampil menarik sisanya pelan-pelan. Jeruji berderit—tapi tenggelam oleh suara pesta dari depan.
Jendela terbuka.
Laki-laki muda dengan parang masuk pertama. Ia mendarat di lantai tanah dalam gudang. Bau cengkih menusuk hidung. Tumpukan karung sampai ke langit-langit.
Satu per satu, sembilan lainnya mengikuti. Diam. Cepat. Seperti bayangan.
Tapi di sudut gudang, sesuatu bergerak.
Seorang penjaga.
Bukan serdadu—mungkin karyawan lokal yang disuruh jaga malam. Ia duduk di kursi kayu, setengah tidur. Di pangkuannya, botol miras. Di sampingnya, senapan tua.
Ia mendengar sesuatu. Membuka mata.
Gelap. Tidak ada apa-apa.
Tapi asap... asap mulai masuk dari jendela.
Penjaga itu berdiri. Terhuyung—mabuk. Ia meraba dinding, mencari pintu, mencari sumber asap. Napasnya mulai sesak. Batuk. Tapi suara batuknya tertahan oleh asap yang semakin pekat.
Ia meraba. Meraba. Tangan menyentuh sesuatu—bukan dinding. Bukan kayu.
Topeng.
Topeng Barong merah dengan mata melotot menatapnya dari jarak satu jengkal.
Penjaga itu ingin berteriak. Tapi asap sudah memenuhi paru-parunya. Suara hanya keluar sebagai bisikan parau. Ia jatuh berlutut. Tangannya masih meraba—sekarang meraba lantai, mencari jalan keluar yang tidak ada.
Napasnya habis.
Ia rebah. Diam.
Tidak ada teriakan. Hanya batuk yang mereda, lalu senyap.
Laki-laki muda dengan parang menatapnya sebentar. Tangan kanannya memegang parang—tapi tidak digunakannya. Ingat pesan Maringgih: jangan bunuh.
Ia tidak membunuh. Asap yang membunuh.
"Kerja cepat," bisik seseorang. "Api sebentar lagi."
---
Di luar, Dullah memimpin regu kedua memindahkan karung.
Mereka tidak ambil semua—hanya secukupnya untuk petani. Tiga puluh karung cengkih, dua puluh karung pala, sepuluh karung lada. Cukup untuk membuat mereka bertahan beberapa bulan.
Karung-karung itu dioper dari tangan ke tangan. Cepat. Hening. Bahu-bahu terbakar panas oleh gesekan karung, tapi tidak ada yang mengeluh.
Maringgih mengawasi dari luar. Hitung mundur dalam kepala.
Lima menit. Sepuluh menit. Waktu terasa menyempit.
"Karung terakhir!" bisik seseorang.
"Bawa semua ke hutan. Kuda sudah menunggu."
Regu ketiga—lima orang—membawa karung-karung itu lari. Mereka tahu jalurnya. Mereka sudah hapal setiap pohon, setiap batu.
Sekarang tinggal satu tugas terakhir.
Api.
---
Maringgih masuk ke gudang utama.
Bau minyak tanah sudah ia tuangkan sebelumnya—di tumpukan karung paling tengah, di tiang penyangga kayu tua, di lantai papan yang kering.
Ia menyalakan obor.
Cahaya kecil di tengah gelap. Menari-nari di ujung kayu. Di sudut gudang, penjaga yang tercekik asap sudah tidak bergerak. Maringgih menoleh sebentar. Dadanya sesak.
Maafkan aku, bisiknya dalam hati. Kau hanya menjalankan tugas. Tapi ini harus terjadi.
Ia menjatuhkan obor.
---
Api pertama menyentuh minyak tanah.
Seperti ular, api merayap cepat—ke karung, ke tiang, ke lantai. Kayu tua yang kering langsung menyala. Jeritan pertama lahir dari dalam api—bukan manusia, tapi kayu yang berderak seperti tulang patah.
Maringgih keluar. Berlari.
Dari luar, ia melihat gudang itu mulai dilalap api. Asap hitam membumbung tinggi, menerobos langit tanpa bulan. Jeritan manusia terdengar—penjaga-penjaga lain yang terjebak di dalam. Tapi jeritan itu berubah jadi batuk, lalu batuk jadi diam.
Diam yang mengerikan.
Maringgih mengepalkan tangan. Ini bukan kemenangan. Ini adalah kekalahan yang dikemas dalam api. Kekalahan kemanusiaan yang harus dibayar dengan nyawa.
Tapi tidak ada waktu untuk menangis.
"Gudang kedua!" teriaknya. "Sekarang!"
---
Sepuluh orang berlari ke gudang kedua.
Gudang ini lebih kecil, tanpa penjaga—hanya tempat penyimpanan sementara. Pintu kayu didobrak paksa. Minyak tanah dituang cepat.
Obor kedua menyala.
Api merambat lebih cepat dari sebelumnya. Gudang itu langsung terbakar—atap rumbia, dinding kayu, lantai papan. Semua jadi santapan api.
Lima menit kemudian, gudang ketiga menyusul.
Tiga kobaran api di tengah malam. Langit memerah. Panas menyambar kulit dari jarak puluhan hasta. Bayangan tiga puluh orang bertopeng Barong melebur ke dalam kegelapan, dikejar cahaya api yang terus membesar.
Mereka berlari. Tidak menoleh.
---
Di belakang mereka, kampung mulai terbangun.
Bukan karena api—tapi karena gong.
Tong... tong... tong...
Gong bahaya dipukul. Cepat. Kencang. Memanggil.
Maringgih menghentikan langkah. Matanya membelalak di balik topeng.
"Tidak," bisiknya. "Harusnya masih terlalu dini. Harusnya mereka masih mabuk."
Tapi gong itu terus berbunyi. Dan dari kejauhan, dari arah pos militer VOC, terdengar suara lain.
Derap langkah.
Banyak. Teratur. Cepat.
Pasukan tambahan.
Darah Maringgih membeku. Ia menoleh ke arah Dullah—Dullah juga pucat di balik topeng.
"Mereka datang lebih cepat," Dullah berbisik panik. "Tuan, kita—"
"Lari." Potong Maringgih tegas. "Sesuai rencana. Masing-masing tahu jalurnya. Jangan tunggu siapa pun."
"Tapi Tuan—"
"LARI!"
Tiga puluh topeng bubar. Menyebar ke segala arah—ke hutan, ke kebun, ke sungai. Hitam menyatu dengan hitam. Topeng-topeng menghilang seperti roh kembali ke alam lain.
Maringgih berlari. Dullah di sampingnya.
Di belakang mereka, api terus berkobar. Langit merah. Asap hitam. Dan derap langkah pasukan semakin dekat—sangat dekat.
Terlalu dekat.
Maringgih tidak menoleh. Ia hanya berlari. Berlari dengan satu harapan: semoga cukup cepat.
Tapi di dalam hati, ia tahu.
Malam ini belum berakhir.
Masih ada yang mengejar.
---
[Bersambung...]
---