Bayinya baru saja lahir ke dunia. Namun, dalam perjalanan pulang dari rumah sakit, mobil yang membawa sang istri duluan pulang, ternyata mengalami kecelakaan maut, sehingga menelan korban. Nyawa istrinya melayang.
Kini Kapten Daviko sedih sekaligus kalang kabut mencari ibu susu untuk sang putra yang masih bayi merah.
Saliha perempuan 26 tahun, baru saja patah hati dan ditinggal pergi kekasihnya, stress berat sehingga mengalami galaktorea, yaitu kondisi di mana ASI melimpah.
Selain stres Saliha mendapat tekanan dari tempat kerjanya, karena kondisinya tidak memungkinkan untuk bekerja. Perusahaan memberhentikannya bekerja. Ia tertekan sana sini, belum lagi tagihan uang kos yang sudah nunggak.
Saliha butuh pekerjaan secepatnya. Tapi, siapa yang mau menerimanya bekerja, sementara perusahaan jasa tempat ia bekerja saja memilih mengeluarkannya tanpa pesangon?
"Lowongan pekerjaan, sebagai ibu susu". Mata Saliha terbelalak seketika, setelah ia membaca berita online.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Rencana Di Ujung Kontrak
Siang itu, matahari bersinar cukup terik, namun suasana di dalam dapur rumah Daviko terasa sejuk.
Bi Tita sedang sibuk memotong sayuran untuk menu makan malam, sementara Saliha bersikeras membantunya meski sudah berkali-kali dilarang. Bagi Saliha, bergerak dan menyibukkan diri adalah satu-satunya cara agar pikirannya tidak melayang pada tatapan mata Daviko yang belakangan ini terasa semakin sulit ia hindari.
Kaffara sedang tertidur lelap di kamar atas setelah disusui. Suasana rumah yang tenang membuat obrolan di dapur terdengar lebih akrab.
Bi Tita, yang sudah menganggap Saliha seperti keponakannya sendiri, menatap wanita muda di sampingnya itu dengan tatapan penuh selidik namun sayang.
"Mbak Saliha itu telaten sekali. Beruntung Den Kaffara punya ibu susu sepertu Mbak Saliha," ujar Bi Tita membuka percakapan.
Saliha hanya tersenyum tipis, tangannya masih lincah mengupas bawang. "Saya hanya melakukan tugas saya, Bi. Lagipula, Kaffara bayi yang baik, tidak sulit merawatnya."
Bi Tita menghela napas, ia meletakkan pisaunya sejenak dan menoleh sepenuhnya pada Saliha.
"Mbak... sebenarnya saya sudah lama ingin menanyakan ini. Kemarin, saya sempat dengar dari Bu Davira waktu beliau masih di sini. Katanya, sebelum Den Daviko menikah dengan Non Amara, Mbak Saliha itu... mantan kekasihnya Den Daviko, ya?"
Deg.
Jantung Saliha serasa berhenti berdetak sesaat. Tangannya yang sedang memegang pisau pengupas, mendadak kaku. Ia segera menundukkan kepala dalam-dalam, mencoba menyembunyikan rona merah yang tiba-tiba muncul di pipinya karena rasa malu dan sesak yang bercampur menjadi satu.
Saliha tidak menyahut, ia cukup terpaku dengan pertanyaan Bi Tita barusan.
Melihat reaksi Saliha, Bi Tita paham bahwa kabar itu benar adanya. Ia tidak ingin mendesak lebih jauh soal masa lalu. Namun, rasa sayangnya pada Saliha membuatnya ingin tahu tentang masa depan wanita itu.
"Ngomong-ngomong, Mbak Saliha... selama berpisah dengan Den Daviko dulu, apakah Mbak pernah menikah?" tanya Bi Tita hati-hati.
Saliha menggeleng perlahan, tanpa menatap Bi Tita. "Belum, Bi. Jalan hidup saya sepertinya memang belum sampai ke sana."
"Lalu, setelah kontrak dua tahun Mbak selesai, Mbak punya rencana apa ke depannya?"
Saliha menarik napas panjang, sebuah helaan napas yang terdengar sangat berat dan penuh kesedihan. Ia meletakkan bawang yang sudah bersih ke dalam wadah, lalu menatap kosong ke arah jendela dapur.
"Sepertinya... jika saya punya keluarga sendiri, pastinya sangat menyenangkan." Saliha menyahut. Nada bicaranya terdengar ditahan dan ragu-ragu.
Mendengar itu, Bi Tita ikut terharu. Ia bisa merasakan kesepian yang tersembunyi di balik ketegaran Saliha selama ini. "Mbak Saliha orang baik, saya doakan Mbak segera dapat jodoh yang tulus menyayangi Mbak."
"Amin. Terimakasih banyak, Bi"
Bi Tita kemudian mendekat, membisikkan sesuatu yang membuat Saliha tersentak hebat. "Mabak Saliha tahu, tidak? Sebetulnya Bu Davira itu lebih senang kalau Den Daviko balikan lagi sama Mbak. Beliau sepertinya ingin Mbak jadi ibunya Kaffara selamanya, bukan cuma ibu susu."
Saliha tersentak beberapa saat, lalu segera menggelengkan kepala dengan cepat, matanya kini berkaca-kaca. "Tidak, Bi. Jangan bicara begitu. Saya sama sekali tidak pantas mengharapkan cinta Pak Daviko lagi. Saya ini wanita yang pernah melukai hatinya dengan sangat dalam. Saya sudah cukup tahu diri."
Saliha mengusap sudut matanya dengan punggung tangan. "Biarkan hubungan kami tetap seperti ini, bawahan dan majikan. Itu posisi yang paling adil bagi kami berdua. Lagipula, niat saya sudah bulat. Setelah dua tahun ini, saya akan benar-benar pergi dan mencari kebahagiaan saya sendiri."
Tanpa mereka sadari, di balik pilar pintu penghubung ruang tengah dan dapur, sesosok pria berdiri mematung dengan wajah pucat. Daviko baru saja pulang dari kantor lebih awal. Langkah kakinya langsung menuju dapur, karena ia merasa haus ingin minum.
Namun, sebelum tiba di dapur, Daviko justru mendengar obrolan Bi Tita dan Saliha yang menghantam relung hatinya.
Daviko mendengar setiap kalimat yang diucapkan Saliha. Kalimat tentang "mencari pendamping hidup" dan "pergi jauh setelah dua tahun" terasa seperti ribuan jarum yang menusuk jantungnya secara bersamaan.
Ada rasa perih yang tidak terlukiskan mendengar Saliha sudah merencanakan masa depannya dengan orang lain, seolah-olah pintu untuknya sudah benar-benar tertutup rapat dan dikunci mati.
Hati Daviko sangat sedih. Ia merasa sesak, oksigen di sekitarnya seolah menipis. Ternyata, pengampunan yang ia berikan dan perubahan sikapnya belakangan ini sama sekali tidak mengubah niat Saliha untuk meninggalkannya.
Saliha tetap memilih untuk menjaga batasan itu sebagai benteng perlindungan agar tidak jatuh cinta lagi padanya.
"Begitu besarkah luka yang kuberikan padamu, Saliha? Sampai kamu lebih memilih mencari orang asing daripada kembali padaku?" batin Daviko dengan sangat perih.
Daviko tidak sanggup lagi berdiri di sana. Ia melangkah mundur dengan sangat pelan, berusaha tidak menimbulkan suara, lalu ia berbalik dan berjalan keluar menuju taman belakang. Ia duduk di kursi kayu panjang, menatap langit sore yang mulai menguning.
Pikirannya melayang pada masa empat tahun lalu, saat ia dengan penuh amarah menyumpahi Saliha agar tidak akan pernah bahagia.
Kini, sumpah itu seolah berbalik menyerang dirinya sendiri. Ia sudah memaafkan Saliha, ia sudah menarik semua sumpahnya, tapi justru Saliha yang kini menghukumnya dengan cara yang paling halus namun mematikan. Yaitu sebuah penolakan tanpa kata-kata langsung.
"Ya ampun, apakah aku sudah gila? Tidak! Tidak mungkin aku masih mencintai Saliha. Itu tidak benar," sangkalnya dengan wajah yang redup.
Saliha keluar dari dapur untuk mengecek Kaffara, tidak menyadari bahwa pria yang sedang ia bicarakan baru saja terluka hebat karena ucapannya.
Saat ia menaiki tangga, ia sempat menoleh ke arah ruang tengah yang kosong, merasakan ada kehadiran seseorang di sana sebelumnya. Namun ia segera menepis perasaan itu.
Di kamar atas, Kaffara baru saja menggeliat bangun. Saliha segera menggendongnya, mencium aroma tubuh bayi itu yang selalu menjadi penenang jiwanya.
"Anak pintar... Ibu di sini, Nak," bisik Saliha.
Air mata Saliha jatuh mengenai kain bedong Kaffara. Ia berbohong pada Bi Tita. Ia berbohong saat mengatakan ingin mencari pendamping lain.
Kenyataannya, hatinya masih milik Daviko, seutuhnya. Namun ia terlalu takut. Ia takut jika ia membuka hati, suatu hari nanti Daviko akan kembali mengusirnya saat ada wanita lain yang dianggap lebih pantas darinya.
Daviko masih berada di taman belakang. Pikirannya terus bergelut dengan ucapan Saliha tadi di dapur.
"Lihat saja nanti, setelah masa kontrakmu habis. Aku akan tetap menahanmu di rumah ini, dengan alasan Kaffara. Kamu tentu tidak akan tega meninggalkannya. Karena kasih sayangmu pada Kaffara sangat dalam dan tulus," gumamnya bertekad.
semangat ya😚