NovelToon NovelToon
Jerat Sumpah Sang Mantan

Jerat Sumpah Sang Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Ibu susu / Mantan
Popularitas:66.6k
Nilai: 5
Nama Author: Hasna_Ramarta

Bayinya baru saja lahir ke dunia. Namun, dalam perjalanan pulang dari rumah sakit, mobil yang membawa sang istri duluan pulang, ternyata mengalami kecelakaan maut, sehingga menelan korban. Nyawa istrinya melayang.

Kini Kapten Daviko sedih sekaligus kalang kabut mencari ibu susu untuk sang putra yang masih bayi merah.

Saliha perempuan 26 tahun, baru saja patah hati dan ditinggal pergi kekasihnya, stress berat sehingga mengalami galaktorea, yaitu kondisi di mana ASI melimpah.

Selain stres Saliha mendapat tekanan dari tempat kerjanya, karena kondisinya tidak memungkinkan untuk bekerja. Perusahaan memberhentikannya bekerja. Ia tertekan sana sini, belum lagi tagihan uang kos yang sudah nunggak.

Saliha butuh pekerjaan secepatnya. Tapi, siapa yang mau menerimanya bekerja, sementara perusahaan jasa tempat ia bekerja saja memilih mengeluarkannya tanpa pesangon?

"Lowongan pekerjaan, sebagai ibu susu". Mata Saliha terbelalak seketika, setelah ia membaca berita online.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 Rencana Di Ujung Kontrak

     ​Siang itu, matahari bersinar cukup terik, namun suasana di dalam dapur rumah Daviko terasa sejuk.

     Bi Tita sedang sibuk memotong sayuran untuk menu makan malam, sementara Saliha bersikeras membantunya meski sudah berkali-kali dilarang. Bagi Saliha, bergerak dan menyibukkan diri adalah satu-satunya cara agar pikirannya tidak melayang pada tatapan mata Daviko yang belakangan ini terasa semakin sulit ia hindari.

     ​Kaffara sedang tertidur lelap di kamar atas setelah disusui. Suasana rumah yang tenang membuat obrolan di dapur terdengar lebih akrab.

     Bi Tita, yang sudah menganggap Saliha seperti keponakannya sendiri, menatap wanita muda di sampingnya itu dengan tatapan penuh selidik namun sayang.

     ​"Mbak Saliha itu telaten sekali. Beruntung Den Kaffara punya ibu susu sepertu Mbak Saliha," ujar Bi Tita membuka percakapan.

     ​Saliha hanya tersenyum tipis, tangannya masih lincah mengupas bawang. "Saya hanya melakukan tugas saya, Bi. Lagipula, Kaffara bayi yang baik, tidak sulit merawatnya."

     ​Bi Tita menghela napas, ia meletakkan pisaunya sejenak dan menoleh sepenuhnya pada Saliha.

     "Mbak... sebenarnya saya sudah lama ingin menanyakan ini. Kemarin, saya sempat dengar dari Bu Davira waktu beliau masih di sini. Katanya, sebelum Den Daviko menikah dengan Non Amara, Mbak Saliha itu... mantan kekasihnya Den Daviko, ya?"

     ​Deg.

     ​Jantung Saliha serasa berhenti berdetak sesaat. Tangannya yang sedang memegang pisau pengupas, mendadak kaku. Ia segera menundukkan kepala dalam-dalam, mencoba menyembunyikan rona merah yang tiba-tiba muncul di pipinya karena rasa malu dan sesak yang bercampur menjadi satu.

     Saliha tidak menyahut, ia cukup terpaku dengan pertanyaan Bi Tita barusan.

     ​Melihat reaksi Saliha, Bi Tita paham bahwa kabar itu benar adanya. Ia tidak ingin mendesak lebih jauh soal masa lalu. Namun, rasa sayangnya pada Saliha membuatnya ingin tahu tentang masa depan wanita itu.

     ​"Ngomong-ngomong, Mbak Saliha... selama berpisah dengan Den Daviko dulu, apakah Mbak pernah menikah?" tanya Bi Tita hati-hati.

     ​Saliha menggeleng perlahan, tanpa menatap Bi Tita. "Belum, Bi. Jalan hidup saya sepertinya memang belum sampai ke sana."

     ​"Lalu, setelah kontrak dua tahun Mbak selesai, Mbak punya rencana apa ke depannya?"

     ​Saliha menarik napas panjang, sebuah helaan napas yang terdengar sangat berat dan penuh kesedihan. Ia meletakkan bawang yang sudah bersih ke dalam wadah, lalu menatap kosong ke arah jendela dapur.

     "Sepertinya... jika saya punya keluarga sendiri, pastinya sangat menyenangkan." Saliha menyahut. Nada bicaranya terdengar ditahan dan ragu-ragu.

    ​ ​Mendengar itu, Bi Tita ikut terharu. Ia bisa merasakan kesepian yang tersembunyi di balik ketegaran Saliha selama ini. "Mbak Saliha orang baik, saya doakan Mbak segera dapat jodoh yang tulus menyayangi Mbak."

     ​"Amin. Terimakasih banyak, Bi"

     ​Bi Tita kemudian mendekat, membisikkan sesuatu yang membuat Saliha tersentak hebat. "Mabak Saliha tahu, tidak? Sebetulnya Bu Davira itu lebih senang kalau Den Daviko balikan lagi sama Mbak. Beliau sepertinya ingin Mbak jadi ibunya Kaffara selamanya, bukan cuma ibu susu."

     ​Saliha tersentak beberapa saat, lalu segera menggelengkan kepala dengan cepat, matanya kini berkaca-kaca. "Tidak, Bi. Jangan bicara begitu. Saya sama sekali tidak pantas mengharapkan cinta Pak Daviko lagi. Saya ini wanita yang pernah melukai hatinya dengan sangat dalam. Saya sudah cukup tahu diri."

     ​Saliha mengusap sudut matanya dengan punggung tangan. "Biarkan hubungan kami tetap seperti ini, bawahan dan majikan. Itu posisi yang paling adil bagi kami berdua. Lagipula, niat saya sudah bulat. Setelah dua tahun ini, saya akan benar-benar pergi dan mencari kebahagiaan saya sendiri."

     ​Tanpa mereka sadari, di balik pilar pintu penghubung ruang tengah dan dapur, sesosok pria berdiri mematung dengan wajah pucat. Daviko baru saja pulang dari kantor lebih awal. Langkah kakinya langsung menuju dapur, karena ia merasa haus ingin minum.

     ​Namun, sebelum tiba di dapur, Daviko justru mendengar obrolan Bi Tita dan Saliha yang menghantam relung hatinya.

     ​Daviko mendengar setiap kalimat yang diucapkan Saliha. Kalimat tentang "mencari pendamping hidup" dan "pergi jauh setelah dua tahun" terasa seperti ribuan jarum yang menusuk jantungnya secara bersamaan.

     Ada rasa perih yang tidak terlukiskan mendengar Saliha sudah merencanakan masa depannya dengan orang lain, seolah-olah pintu untuknya sudah benar-benar tertutup rapat dan dikunci mati.

     ​Hati Daviko sangat sedih. Ia merasa sesak, oksigen di sekitarnya seolah menipis. Ternyata, pengampunan yang ia berikan dan perubahan sikapnya belakangan ini sama sekali tidak mengubah niat Saliha untuk meninggalkannya.

     Saliha tetap memilih untuk menjaga batasan itu sebagai benteng perlindungan agar tidak jatuh cinta lagi padanya.

     ​"Begitu besarkah luka yang kuberikan padamu, Saliha? Sampai kamu lebih memilih mencari orang asing daripada kembali padaku?" batin Daviko dengan sangat perih.

     ​Daviko tidak sanggup lagi berdiri di sana. Ia melangkah mundur dengan sangat pelan, berusaha tidak menimbulkan suara, lalu ia berbalik dan berjalan keluar menuju taman belakang. Ia duduk di kursi kayu panjang, menatap langit sore yang mulai menguning.

     ​Pikirannya melayang pada masa empat tahun lalu, saat ia dengan penuh amarah menyumpahi Saliha agar tidak akan pernah bahagia.

     Kini, sumpah itu seolah berbalik menyerang dirinya sendiri. Ia sudah memaafkan Saliha, ia sudah menarik semua sumpahnya, tapi justru Saliha yang kini menghukumnya dengan cara yang paling halus namun mematikan. Yaitu sebuah penolakan tanpa kata-kata langsung.

     "Ya ampun, apakah aku sudah gila? Tidak! Tidak mungkin aku masih mencintai Saliha. Itu tidak benar," sangkalnya dengan wajah yang redup.

     ​​Saliha keluar dari dapur untuk mengecek Kaffara, tidak menyadari bahwa pria yang sedang ia bicarakan baru saja terluka hebat karena ucapannya.

     Saat ia menaiki tangga, ia sempat menoleh ke arah ruang tengah yang kosong, merasakan ada kehadiran seseorang di sana sebelumnya. Namun ia segera menepis perasaan itu.

     ​Di kamar atas, Kaffara baru saja menggeliat bangun. Saliha segera menggendongnya, mencium aroma tubuh bayi itu yang selalu menjadi penenang jiwanya.

     ​"Anak pintar... Ibu di sini, Nak," bisik Saliha.

​Air mata Saliha jatuh mengenai kain bedong Kaffara. Ia berbohong pada Bi Tita. Ia berbohong saat mengatakan ingin mencari pendamping lain.

     Kenyataannya, hatinya masih milik Daviko, seutuhnya. Namun ia terlalu takut. Ia takut jika ia membuka hati, suatu hari nanti Daviko akan kembali mengusirnya saat ada wanita lain yang dianggap lebih pantas darinya.

    Daviko masih berada di taman belakang. Pikirannya terus bergelut dengan ucapan Saliha tadi di dapur.

     "Lihat saja nanti, setelah masa kontrakmu habis. Aku akan tetap menahanmu di rumah ini, dengan alasan Kaffara. Kamu tentu tidak akan tega meninggalkannya. Karena kasih sayangmu pada Kaffara sangat dalam dan tulus," gumamnya bertekad.

     ​

1
cecla9
sukaaa
Nasir: Mksh banyak Kak.... 🥰🥰🥰
total 1 replies
Ai Oncom
❤️❤️❤️
Nasir: 🥰🥰🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
Ai Oncom
Berbahagialah Saliha..❤️
Ai Oncom
koq blm up kak..?
Nasir: Nanti agak siang ya Kak. Kmrn bentrok sama kesibukan di rumah. Maaf ya... 🙏🙏🙏
total 1 replies
Anonymous
greget dengan alur yang mendayu-dayu..... bagus bgttttt.....lain dari yang lain.semangat thorrrr..... sekuelnya sampai Kafarra married ya
Nasir: Iya Insya Allah ya Kak... doakan idenya lancar..... 😄😄🙏🙏
total 1 replies
Eva Tigan
Habis ini Kapten Daviko pasti candu sama tubuh istrinya..ternyata Pak Kapten yg bekas..kal9 Saliha masih perawan..menang banyak kan Pak Kapten😄
Nasir: Banyak bgt dia Kak. Belum lagi pernah berpikir hasutan Huda. Dia memang kayak dpt durian runtuh dpt Saliha.
total 1 replies
Ai Oncom
jangan tamat dulu ya kak.. ceritanya lanjut sampe Saliha punya anak..🙏🤭
Nasir: Wkwkwkw.... takut bosan. Doakan sy idenya byk ya... 🙏🙏
total 3 replies
Eva Tigan
Eeehhh...malah tidur..aku kira ada malam pertama yg indah dan berbunga bunga🥰
kalo mau bulan madu ke Bali dan Lombok.. sekalian bawa bi tita dan kaffra ..biar sekalian jalan2 keluarga 😊
Eva Tigan: okey👍🙏
total 2 replies
Arin
Akhirnya sah......
Ayo..... kondangan. Jangan lupa amplopnya🤭🤭🤭🤭
cecla9: mantan mertua Dan mantan ipar Di undang Kan ...wajib biar pingsan wkwkwkwkw
total 3 replies
Ai Oncom
Alhamdulillah..❤️
Siti Maimunah
yaa sakit hati lah,di sumpahin emg lw.siapa viko???!!! TUHAN??!!!
Ai Oncom
❤️❤️❤️
Arin
Sebelum sampai hari H.... perlu diamankan dulu tuh mantan mertua sama mantan adik ipar biar tak mengacaukan pernikahan
Ariany Sudjana
memang seperti itu peraturan menikah dengan anggota TNI, saya tahu, karena saya juga anak anggota TNI
Nasir: Iya Kak.... 🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
Farid Atallah
doubel up dong Thor 😥
Ariany Sudjana
dasar jalang murahan ga tau diri kalian berdua itu, harus dibinasakan
Nasir: Setuju Kak...
total 1 replies
Arin
Kan mana pernah jera mereka..... Sebelum mereka mendapat kan apa yang mereka ingin kan. Yaitu Tari harus bersanding dengan Daviko. Menggantikan Amara sebagai ibu sambung Kaffara
Eva Tigan
saatnya berbahagia..sudah cukup drama sedih dan luka nya selama ini
Nur Haswina
penantian 2 bulan serasa 2 tahun lama dan pasti banyak rintangannya, semoga saja mbak author tdk kasih rintangan yg menguras tenaga
Nur Haswina: masih slalu menunggu bab selanjutnya thor
total 2 replies
Arin
Jangan sampai menjelang pernikahan ada gangguan dari si Nenek Sihir dengan anaknya datang mengacau. Karena kurang setuju Daviko menikahi Saliha. Karena yang merasa berhak bersanding dan pantas adalah adik dari Amara
Arin: Soalnya yang bikin rumah Daviko rame selain tangisan Kaffara, ya itu si Ibu Ratna😁😁😁
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!