NovelToon NovelToon
A Story'Of Us

A Story'Of Us

Status: sedang berlangsung
Genre:Drama / Cintapertama
Popularitas:7
Nilai: 5
Nama Author: ilwa nuryansyah

menceritakan seorang siswi bernama Aria putri siswi dingin dan Sasha arka siswi berandalan, menceritakan keseharian mereka di sekolah dan teman baru di tahun terakhir sekolah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilwa nuryansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 18

Di tengah riuh tawa yang belum reda, pintu kelas 3-1 tiba-tiba terbuka dengan hentakan dramatis.

Seorang murid laki-laki melompat masuk dengan senyum selebar telapak tangan dan energi yang meluap-luap, seolah-olah dia baru saja memenangkan lotre.

"SELAMAT PAGI KELAS 3-1 YANG PENUH DRAMA DAN CINTA!" serunya dengan suara bariton yang ceria, membuat beberapa murid yang sedang melamun tersentak kaget.

Sasha, yang masih duduk di atas meja, mengernyitkan dahi dengan ekspresi terganggu. "Siapa lagi makhluk aneh ini? Apa sekolah ini gudangnya orang-orang ajaib?"

Indah segera melambai ke arah pemuda itu. "Oh, itu temanku. Kami sekelas di 3-2. Namanya **Kaelan**, tapi semua orang memanggilnya **Kael**."

Kael berjalan mendekat ke arah Indah dengan gaya berjalan yang santai namun penuh percaya diri. "Indah! Sahabatku yang paling pintar sejagat raya! Ada apa dengan wajah cemasmu tadi? Aku lihat dari kejauhan kau seperti sedang melihat hantu di depan kantor OSIS."

Indah hanya bisa menghela napas panjang, sudah terbiasa dengan sifat berlebihan temannya ini. "Sudah selesai, Kael. Ada apa kau kemari?"

"Ah, tidak ada. Hanya ingin meminjam catatan matematika milikmu. Kau tahu kan, logaritma semalam membuat sel otakku melakukan mogok kerja massal," jawab Kael sambil nyengir.

Setelah menerima buku dari Indah, Kael baru menyadari bahwa ia sedang berdiri di tengah-tengah tokoh-tokoh paling terkenal di sekolah.

Tanpa rasa canggung sedikit pun, ia berdiri tegak dan membungkuk hormat layaknya seorang aktor di atas panggung.

"Izinkan saya memperkenalkan diri secara resmi! Nama lengkap saya **Kaelan Pramudya**, dari kelas 3-2, spesialisasi pencair suasana dan peminjam catatan profesional!"

Ia kemudian menyalami mereka satu per satu. Saat sampai ke bagian Sasha,

Kael menyambar tangan Sasha dan menjabatnya dengan sangat semangat hingga bahu Sasha naik-turun.

Sasha hanya terbengong, tidak sempat bereaksi karena kecepatan gerak Kael.

"Lalu kau, Yudas!" Kael menepuk bahu Yudas dengan keras. "Tinju kananmu tadi... BEUH! Benar-benar hebat! Kau seperti Mike Tyson versi pemain basket! Aku sampai ingin meminta tanda tangan di pipiku yang sebelah kiri agar ikut kuat!"

Yudas hanya bisa tertawa malu sambil menggaruk tengkuknya. "Aduh, sudahlah. Itu hanya refleks karena kesal saja."

Sasha yang tidak mau kalah, langsung melompat turun dari meja dan berdiri dengan gaya tengil sambil melipat tangan.

"Tinjunya itu belum seberapa, Bocah. Kalau kau mau lihat yang benar-benar bisa membuat orang terbang ke bulan, coba saja bandingkan denganku. Tinju si pemain basket ini masih level amatir."

Kael menatap Sasha dengan mata membelalak penuh drama, lalu menggelengkan kepala dengan cepat.

"Wah, kalau itu sih sudah beda level namanya, Kak Sasha! Kalau Yudas membuat pipi memar, tinju Kak Sasha mungkin bisa membuat orang lupa nama orang tuanya sendiri! Aku tidak berani membandingkan, nyawaku cuma satu!"

Kael kemudian mulai bercerita tentang bagaimana ia mencoba meniru gaya tinju Yudas tadi di depan cermin toilet dan malah tidak sengaja memukul dispenser sabun hingga pecah.

Cara Kael bercerita dengan ekspresi wajah yang sangat ekspresif dan gerakan tubuh yang konyol membuat suasana kelas meledak dalam tawa.

Bahkan Aria yang paling serius sekalipun harus menutupi mulutnya karena tidak kuat menahan tawa melihat Kael yang memperagakan dirinya sendiri tersungkur karena terpeleset sabun cair.

Meski baru bertemu, kehadiran Kael yang penuh komedi berhasil menghapus sisa-sisa ketegangan konflik tadi pagi, membuat pagi mereka di kelas 3-1 menjadi jauh lebih berwarna.

---

Matahari siang itu seakan berada tepat di atas kepala, memancarkan panas yang menyengat hingga ke aspal koridor SMA Garuda Bangsa.

Sasha berjalan dengan langkah berat, seragamnya terasa menempel di kulit karena keringat.

Di belakangnya, Indah dan Yudas mengekor dengan wajah yang sama-sama lesu karena suhu yang ekstrem.

"Sial! Panas macam apa ini?! Kenapa panasnya tidak masuk akal sekali!" gerutu Sasha sambil menarik-narik kerah bajunya, berusaha mencari sedikit celah udara.

Indah menyeka pelipisnya dengan tisu. "Wajarlah, Kak. Musim panas sebentar lagi dimulai. Menurut prakiraan cuaca, tahun ini memang akan lebih menyengat."

Sasha mendengus marah, wajahnya sudah memerah karena emosi dan suhu yang tinggi. "Apakah sekolah ini miskin sekali? Kenapa tidak ada AC di koridor atau kelas kita? Aku merasa seperti sedang dipanggang hidup-hidup!"

Yudas, yang biasanya tahan banting karena sering latihan basket, kali ini pun tampak menyerah.

Ia mengibas-ngibaskan kaosnya. "Mungkin hanya ruangan OSIS saja yang punya AC di gedung ini, Sasha. Fasilitas ketua memang beda."

"Iya, setahuku hanya di sana yang suhunya selalu stabil," tambah Indah dengan nada iri.

Mendengar hal itu, Sasha menghentikan langkahnya. Matanya berkilat penuh rencana. "Apa? Tidak adil sekali! Dia duduk enak-enakan di sana sementara kita berkeringat seperti ini? Aku sudah muak! Ikut aku sekarang!"

Tanpa menunggu persetujuan, Sasha berbalik arah dan melangkah menuju gedung pusat kegiatan siswa.

Indah dan Yudas yang bingung hanya bisa mengikuti sampai akhirnya mereka tiba di depan pintu kayu dengan papan nama 'RUANG OSIS'. Tanpa mengetuk, Sasha mendobrak pintu itu hingga terbuka lebar.

*BRAK!*

Hembusan udara dingin yang segar langsung menyambut mereka.

Sasha langsung menjatuhkan diri ke sofa panjang yang empuk, diikuti Indah dan Yudas yang menghela napas lega.

Di balik meja kerjanya, Aria yang sedang sibuk menulis laporan mendongak dengan wajah terkejut.

"Ada apa ini? Kenapa kalian semua tiba-tiba masuk ke sini?" tanya Aria sambil mengerutkan dahi.

Sasha menyandarkan kepalanya ke bantalan sofa sambil memejamkan mata. "Kau masih saja tanya? Di luar itu panas sekali, Aria! Kami ke sini untuk numpang istirahat. Jangan pelit dengan udara dinginmu ini."

Aria hanya bisa menghela napas panjang, meletakkan pulpennya. "Sasha, ini kantor organisasi, bukan tempat nongkrong atau tempat perlindungan musim panas. Jangan lama-lama di sini."

"Sebentar saja, Aria. Hanya sampai suhu tubuhku kembali normal," gumam Sasha tak acuh.

Tak lama kemudian, pintu kembali terbuka. Raka masuk dengan wajah yang masih sedikit lebam di bagian pipi, diikuti oleh Kael yang melompat-lompat kecil di belakangnya.

"HALO SEMUANYA! Wah, ternyata semua orang penting berkumpul di sini!" seru Kael dengan suara cemprengnya yang ceria.

Sasha membuka satu matanya, menatap Kael dengan heran. "Kau... kenapa kau masih saja punya tenaga untuk bersemangat di cuaca gila ini?"

Indah ikut menimpali, "Kael, apa kau tidak merasa panas sama sekali? Aku saja rasanya ingin pingsan tadi."

Kael langsung mengambil posisi duduk di lantai yang dingin sambil menyengir lebar. "Tentu saja panas! Makanya begitu melihat kalian masuk ke sini, aku langsung mengekor. Dingin sekali ya di sini!"

Raka, yang tampak lebih tenang setelah kejadian pagi tadi, duduk di kursi sebelah meja Aria.

Ia mengusap sisa keringat di lehernya. "Kelihatannya musim panas tahun ini akan jauh lebih buruk dibandingkan tahun kemarin. Suhu di luar benar-benar bisa merusak konsentrasi," ucap Raka dengan nada formal namun tetap terlihat kepanasan.

Ruangan OSIS yang biasanya formal dan sunyi itu kini mendadak penuh sesak oleh mereka yang mencari perlindungan, menciptakan atmosfer drama kecil di antara dinginnya AC dan panasnya ego mereka masing-masing.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!