NovelToon NovelToon
Ling Feng : Menyulam Tanya Dalam Bahasa Sunyi Dunia.

Ling Feng : Menyulam Tanya Dalam Bahasa Sunyi Dunia.

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Epik Petualangan
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: MagnumKapalApi

Karya Orisinal.

Genre: Fantasi Timur, Kultivasi, Xianxia.
Sub-Genre: Filosofi, Romance, Adventure, Action.

Desa kecil yang dipenuhi buai kenangan, Jinglan namanya. Di sebalik kabus fajar di ladang, hiduplah Aku—Ling Feng—berdiri ragu, mencoba merabit kata Pak Tua Chen, menyulamnya dengan tanya yang berbalut sunyi. Dalam pengembaraan, Aku menenun apa yang kubawa.

“Untuk Apa Kehidupan Dijalani?”

Jawab mungkin tak pernah kudapatkan. Namun, akankah Jawab sudi menyapaku kelak dan menanti?

Kupastikan langkahku setia pada arah, walau kelak degup jiwa tak lagi tegak menopang raga, kan kusulam tanya dalam bahasa sunyi dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 8 : Di Ambang Lembah yang Bergerak.

Fajar kedua sejak pelarian datang bersama suara hujan yang menggesek batu. Aku terbangun dengan dada terasa sempit, butuh beberapa tarikan napas sebelum sadar di mana aku berada. Gua itu masih sama, lembap dan gelap, tapi rasanya lebih sempit dari kemarin.

Abu tidak di sisiku. Ia duduk di mulut gua, tubuhnya menghadap keluar. Punggungnya lurus, telinganya tegak, seolah hujan hanyalah gangguan kecil yang tak layak diperhatikan.

“Ada sesuatu?” Aku berdeham, tenggorokanku perih. Suaraku terdengar asing di telingaku sendiri.

Abu menoleh. Tatapannya singkat, tapi cukup membuat jari-jariku menegang. Aku belum sempat bergerak ketika suara lain menyusul dari kejauhan. Bukan angin, bukan hujan. Teriakan pendek yang saling bersahutan, ringkik kuda yang tertahan, dan bunyi logam yang saling beradu.

Aku merangkak ke depan tanpa benar-benar memutuskan. Lututku menyentuh tanah basah, tanganku gemetar saat menyibak tumbuhan merambat. Aku berhenti sebentar, menariknya kembali, lalu memaksa diriku melihat.

Lembah di bawah terbuka perlahan dari balik kabut. Sekitar setengah li jauhnya, barisan manusia bergerak seperti satu tubuh. Langkah mereka sejajar. Jarak di antara mereka nyaris seragam. Tidak ada yang berbicara tanpa perlu, tidak ada yang bergerak tanpa tujuan.

Biru tua dan perak mendominasi pandanganku. Kain mereka bersih, sulaman di dada berkilau samar saat cahaya pagi menyentuhnya. Kuda-kuda berjalan tenang di antara barisan, kepala mereka terangkat, tali kekang dipegang tanpa tegang.

Aku menelan ludah.

Sebuah kata melintas begitu saja, cepat dan tak bisa ditahan.

Sekte.

Aku belum pernah melihatnya sebelumnya. Namun tubuhku mengenalinya lebih dulu daripada pikiranku. Dari cara mereka mengisi lembah, dari cara tanah seolah memberi jalan.

Apakah mereka Rombongan dari Barat yang disebutkan Pak Tua Chen? Bapak Tua itu selalu saja tahu tentang semua hal. Orang tua memang selalu menyimpan banyak misteri.

Mereka bergerak ke arah Persimpangan Kelindang.

“Xue Gou,” bisikku, terlalu pelan untuk disebut suara.

Abu menjawab dengan geraman rendah. Bulu di punggungnya berdiri. Aku ikut mundur, punggungku menyentuh dinding gua. Napasku menjadi pendek. Aku mencoba menghitungnya, gagal, lalu mengusap wajahku dengan tangan basah.

Tetap di sini. Tunggu mereka pergi. Atau mendekat dan mencari tahu.

Tanganku berhenti di udara. Ingatan tentang manik batu ibuku muncul tiba-tiba. Pola yang tak pernah benar-benar kupahami, garis-garis yang terasa salah bila kuingat setengah-setengah. Pola itu bukan milik desa kecil seperti Jinglan. Ia berasal dari dunia yang lebih besar. Dunia orang-orang di lembah itu.

“Kita perlu tahu,” ucapku, seolah meyakinkan diriku sendiri. “Tapi tidak sekarang.”

Aku menoleh ke Abu. Ia berdiri perlahan, menurunkan kaki depannya ke tanah. Bahunya bergetar. Ia berhenti, lalu mencoba lagi. Kali ini kakinya menahan beban, meski tubuhnya condong sedikit.

Aku menahan napas tanpa sadar.

Abu menatapku. Tatapannya lama. Lalu ia berjalan ke sisi lain gua, ke arah celah sempit yang hampir tertutup bayangan.

“Kau mau ke mana?” tanyaku, terlalu cepat.

Ia tidak menjawab. Cakarnya menghilang ke dalam celah itu. Beberapa detik kemudian terdengar suara goresan batu.

Aku ragu. Tanganku mengepal, lalu terbuka lagi. Aku mengikutinya, merangkak melalui lorong sempit. Bahuku tersangkut, aku mengumpat pelan, lalu memaksa tubuhku maju. Lorong itu berakhir di tebing kecil.

Lembah terbentang jelas di hadapan kami.

Rombongan itu telah berhenti. Tenda-tenda biru berdiri satu per satu, cepat dan rapi. Jarak di antara tenda membentuk lingkaran yang terasa disengaja. Orang-orang bergerak tanpa suara berlebih, seolah setiap langkah telah ditentukan sebelumnya.

Di tengah perkemahan, sebuah tenda lebih besar berdiri. Benderanya berkibar pelan. Seekor bangau terbang di atas awan, disulam dengan benang terang.

Mataku menangkap sosok di tepi perkemahan.

Seorang gadis berdiri di sana. Rambut hitamnya diikat tinggi, basah oleh hujan. Pakaiannya sederhana dibanding yang lain, tapi caranya berdiri membuatku berhenti bernapas sejenak. Ia berbicara dengan seorang pria berjanggut, tubuhnya tegap, kakinya tertanam kuat di tanah.

Orang-orang lain melewati mereka tanpa ragu.

Aku mencondongkan tubuh terlalu jauh, lalu segera menarik diri, jantungku berdebar terlalu keras untuk jarak sejauh ini. Tanganku berkeringat. Aku tidak tahu apakah aku ingin mendekat atau bersembunyi lebih dalam.

Di bawah sana, dunia yang tak pernah kusiapkan diriku untuk memasukinya sedang menunggu.

Aku mengamati langkahnya dari balik bayang batu. Tubuhnya bergerak ringan, tetapi setiap pijakan berhenti tepat di tempat yang aman, seolah tanah sudah lebih dulu memberi tahu ke mana ia boleh melangkah. Sesekali jarinya menyentuh gagang pedang di pinggang, bukan untuk menariknya, hanya memastikan ia masih di sana. Gerakan itu terlalu halus untuk disebut waspada, terlalu alami untuk disebut kebiasaan baru.

“Xiao Lu,” panggil salah seorang dari mereka. Nama itu terdengar di telingaku tanpa permisi.

Aku tidak tahu dari mana asalnya. Mungkin karena kesederhanaannya. Di dunia yang dipenuhi gelar, silsilah, dan kekuatan yang diumumkan dengan lantang, sesuatu yang sederhana justru terasa ganjil, seperti suara lonceng kecil di tengah badai.

1
anggita
like👍, bunga🌹
Life is Just an Illusion
semangat kak jadilah dewa fantim /Curse//Curse/
Gudang Garam Filter: dewa fantim mah Ucok kak /Curse//Curse/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!