NovelToon NovelToon
Pernikahan Berdarah Mafia

Pernikahan Berdarah Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Psikopat / CEO / Action / Dark Romance / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Damian adalah psikopat yang jatuh cinta, mencintai dengan cara menyiksa, menghancurkan, dan merusak.

Dia mengubah Alexa dari gadis polos menjadi Ratu Mafia paling kejam. Setiap malam dipenuhi darah, penyiksaan, pembunuhan.

Tapi yang paling mengerikan, Alexa mulai menikmatinya. Di dunia ini, cinta adalah peluru paling mematikan. Dan mereka berdua sudah ditembak tepat di bagian jantung.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kontak Pertama

Damian berdiri di ambang pintu, dengan senyum yang membuat seluruh tubuhku membeku. Bukan senyum lembut yang kadang dia tunjukkan padaku, tapi senyum dingin, senyum predator yang sudah menangkap mangsanya.

"Sudah selesai menangis?" tanyanya sambil melangkah masuk.

Aku cepat-cepat mengunci ponsel, lalu menyembunyikannya di belakang punggung.

"A-aku, hanya..."

"Hanya apa?" potongnya. Dia berjalan mendekat secara perlahan. Seperti binatang buas yang tidak terburu-buru, karena tahu mangsanya tidak bisa lari. "Hanya memikirkan ayahmu, yang sebentar lagi akan mati?"

Dia berhenti tepat di depanku, menatap ke bawah pada aku yang masih duduk di lantai.

"Atau..." lanjutnya dengan nada yang lebih lembut tapi lebih berbahaya, "Hanya memikirkan, apakah kau harus menghubunginya?"

Jantungku hampir berhenti, dia tahu. Tentu saja dia tahu.

"Aku tidak..."

"Jangan bohong, Alexa," katanya sambil berjongkok di depanku. Wajahnya sejajar dengan wajahku. "Aku tahu kau menemukan file itu, aku tahu kau menyimpan nomornya. Kamera di ruang kerjaku merekam semuanya."

Tangannya menyentuh pipiku lembut. Kontras mengerikan dengan kata-katanya.

"Dan aku hanya membiarkanmu," bisiknya. "Karena aku ingin melihat pilihanmu. Tanpa paksaan, ataupun ancaman. Hanya kau dan hati nuranimu."

Air mata mengalir lagi. "Kau sudah tahu sejak awal."

"Sejak aku mengirim surat itu," jawabnya. "Ya. Aku yang mengirimnya, dan aku yang memulai semua ini."

Dia berdiri lalu mengulurkan tangannya padaku.

"Sekarang berdirilah," perintahnya. "Kita akan turun untuk makan siang, dan kau akan melupakan semua tentang ayahmu."

Tapi sebelum aku sempat mengambil tangannya, ponsel di belakang punggungku bergetar.

Sebuah panggilan masuk, seketika kami berdua membeku. Ponsel terus bergetar, suara getar yang keras di ruangan yang begitu senyap.

"Angkat," kata Damian, suaranya datar. "Angkat teleponnya, Alexa."

"Damian."

"ANGKAT!" teriaknya.

Dengan tangan gemetar, aku mengeluarkan ponselku dan melihat layarnya. Nomor yang tadi kusimpan, yang tak lain nomor ayahku. Dia meneleponku, ayah benar-benar meneleponku.

"Angkat," ulang Damian. Kali ini lebih pelan. "Loud speaker, aku ingin dengar apa yang akan dia katakan."

Aku menatapnya, seoalah mencari sebuah jebakan di matanya. Tapi yang kulihat hanya tatapan dingin yang menantang.

Jariku terasa gemetar saat akan menekan tombol terima. Lalu aku loud speaker.

...📞...

"Ha-hallo?"

suaraku keluar dengan sangat gemetar, seketika suasana menajdi senyap. Lalu suara yang sangat kukenal, suara yang kupikir tidak akan pernah kudengar lagi.

^^^"Alexa? Alexa, Sayang?"^^^

Suara ayah, lebih tua, lebih serak, tapi itu memang bebar suaranya. Aku menutup mulut dengan tanganku, dan menahan tangis.

"Ayah?"

^^^"Ya, Sayang. Ini ayah, syukurlah kau baik-baik saja. Ayah pikir kau sudah..."^^^

Aku mendengar suara ayah begitu gemetar, seperti sedang menangis.

"Kenapa? Kenapa ayah tidak pernah menghubungi aku? Kenapa ayah membiarkan aku, dan berpikir kalo ayah sudah mati?"

^^^"Ayah tidak bisa, Sayang. Ayah tidak bisa menghubungi kamu, karena mereka selalu mengawasi ayah. Damian mengawasi semua komunikasimu. Kalau ayah menghubungi kamu, dia akan tahu. Dan dia akan..."^^^

Aku bisa mendengar napas ayah yang terengah, seperti sedang berlari

"Dia akan apa? Membunuhmu? Bukankah ayah yang pembunuh? Bukankah ayah yang membantai keluarganya?"

^^^"TIDAK! Ayah tidak pernah membunuh siapapun! Itu semua bohong! Semua yang Damian katakan padamu itu bohong!"^^^

Aku melirik Damian, dia berdiri di sana dengan wajah yang tenang. Mendengarkan dengan tatapan yang sulit dibaca.

"Lalu apa yang sebenarnya terjadi?"

^^^"Yang terjadi adalah, dua puluh tahun yang lalu, ayah bekerja untuk keluarga Vincenzo. Tapi bukan ayah yang mencuri uang, bukan ayah yang membunuh mereka."^^^

Suaranya ayah terdengar bergetar.

"Yang melakukan semua itu adalah, Damian sendiri."

Ruangan terasa berputar, aku menatap Damian yang masih berdiri tenang di sana.

^^^"Bohong. Ayah pasti berbohong kan?"^^^

"Dengarkan ayah, Alexa! Damian yang membunuh keluarganya sendiri! Dia yang membakar rumah itu, dan dia yang membunuh kakaknya, bahkan ibunya yang tengah hamil. Dia membunuh semuanya, hanya untuk merebut kekuasaan!"

^^^"TIDAK! Ayah yang bohong! Damian bilang ayah yang..."^^^

"Dan kamu percaya pada pembunuh itu, dari pada ayahmu sendiri? Alexa, Sayang. Kumohon percaya pada ayah, ayah tidak pernah berbohong padamu. Tidak pernah."

Damian melangkah maju lalu mengulurkan tangannya.

"Berikan ponselnya," katanya pelan.

^^^"Alexa jangan! Jangan dengarkan dia! Dia pembohong! Dia psikopat! Dia yang membunuh ayahnya sendiri untuk kekuasaan!"^^^

"Berikan ponselnya!" ulang Damian. Suaranya makin keras.

"Alexa kumohon! Kabur dari sana! Kabur sebelum dia membunuhmu juga! Sebelum..."

Damian merebut ponsel dari tanganku, dalam satu gerakan cepat, dia membantingnya ke lantai.

PRAK!

Ponsel itu hancur berkeping-keping, layarnya pecah, bahkan baterainya terlempar jauh.

Suara ayah terputus, aku menatap pecahan ponsel itu, lalu menatap Damian.

"Kenapa?" bisikku. "Kalau kau tidak bersalah, kenapa kau menghancurkan ponselnya? Kenapa kau tidak membiarkan dia bicara?"

Damian menatapku, dengan tatapan yang membuat darahku membeku.

"Karena dia orang mati yang berjalan," katanya dingin. "Dan orang mati tidak punya hak untuk bicara."

Dia berbalik, berjalan ke arah pintu.

"Marco!" panggilnya keras.

Marco muncul dalam hitungan detik.

"Lacak lokasi panggilan terakhir," perintah Damian. "Kirim semua orang yang ada. Aku mau kepala Rafael di mejaku dalam dua puluh empat jam."

"Baik, Tuan," jawab Marco sambil membungkuk lalu pergi.

Damian berbalik menatapku lagi.

"Dan kau," katanya. "Tidak akan keluar dari kamar ini sampai ayahmu mati. Tidak ada ponsel, tidak ada komputer, dan tidak ada cara untuk menghubungi siapa pun."

Dia melangkah keluar, berhenti di ambang pintu.

"Oh, dan Alexa," katanya tanpa menoleh. "Aku kecewa, sangat kecewa. Kau memilih untuk percaya padanya dari pada aku."

"Aku tidak memilih siapa-siapa!" teriakku. "Aku hanya bingung, aku tidak tahu siapa yang benar!"

Damian akhirnya menoleh, menatapku dengan tatapan, yang penuh dengan luka dan amarah.

"Kau harusnya tahu," katanya pelan. "Setelah semua yang kita lalui, setelah semua yang kita rasakan. Kau harusnya tahu siapa yang benar."

Lalu dia pergi, pintu ditutup, bahkan terdengar suara kunci yang di putar.

Dikurung lagi.

Aku jatuh ke lantai, menatap pecahan ponsel. Satu-satunya koneksi dengan ayah hancur berkeping-keping. Dan aku tidak tahu siapa yang benar, ayah bilang Damian yang membunuh keluarganya sendiri. Tapi Damian bilang, ayah yang pembunuh.

Siapa yang bohong?

Siapa yang benar?

Dan pertanyaan yang paling menakutkan, apakah aku peduli?

Setelah semua yang terjadi, setelah semua yang kulakukan, dan semua yang sudah kuterima.

Apakah aku masih peduli dengan kebenaran?

Atau, apakah aku sudah terlalu tenggelam dalam kegelapan untuk peduli lagi?

Aku merangkak ke tempat tidur, memeluk bantal dan menangis. Menangis untuk ayah, yang mungkin akan mati dalam dua puluh empat jam.

Menangis untuk diriku, yang sudah tidak tahu lagi siapa yang harus dipercaya. Menangis untuk hubungan, yang sudah terlalu rusak untuk diperbaiki, tapi terlalu kuat untuk diputuskan.

Dan yang paling menyakitkan, menangis karena bagian dariku yang sudah gelap berbisik.

Biarkan ayah mati, biarkan kebenaran terkubur bersamanya. Biarkan semuanya berakhir. Supaya aku bisa hidup tanpa rasa bersalah, tanpa pertanyaan, dan tanpa keraguan. Hanya aku dan Damian di kegelapan yang kami ciptakan bersama.

Dan bisikan itu yang paling menakutkan, karena itu datang dari diriku sendiri, bukan dari Damian.

Dari bagian diriku yang sudah berubah, yang sudah rusak, yang sudah kehilangan arah moral.

Tapi di suatu tempat di Bangkok, ayah berlari untuk nyawanya. Dengan pemburu di mana-mana. Dengan waktu yang semakin sedikit.

Dan dengan harapan terakhir, bahwa putri yang dicintainya akan menyelamatkannya. Atau, setidaknya mempercayainya.

Tapi harapan itu mungkin sudah terlambat, karena putri itu sudah berubah menjadi sesuatu, yang bahkan dia sendiri tidak mengenalinya lagi.

1
Lubis Margana
posisi mu sangat sulit alexa berpihaklh sementara pada suami mu agar kau dapat cela..bisa lari dari suami mu
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
karya yang aku baca dengan menghabiskan 1/2 hari dengan fon...
Leoruna: knapa lgi tuh/Shy/
total 1 replies
kesyyyy
mantep bangett
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
cerita tentang kau dan aku🎼🎶🎵
Leoruna: astaga, knapa jdi kesana/Facepalm/
total 1 replies
kesyyyy
serem, tapi seruuu🤭
Leoruna: mkasih kak🤭🙏
total 1 replies
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
wow!!!!!
Leoruna: knapa tuh/Shy/
total 1 replies
Rahmawaty24
Ceritanya bagus
Leoruna: makasih, kak☺🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!