Ash adalah pria dari dunia lain yang datang tanpa misi heroik. Ia bercanda, bertarung, dan bertahan hidup dengan cara yang terasa terlalu santai untuk dunia yang penuh perang dan kebohongan. Namun di balik tawanya, ada sesuatu yang tersegel di dalam dirinya kekuatan purba yang mulai bangkit setiap kali ia kehilangan. Saat konflik antar kerajaan, malaikat, Naga, dan iblis memanas, Ash terjebak di pusat siklus kehancuran yang jauh lebih tua dari peradaban mana pun. Semakin kuat ia menjadi, semakin tipis batas antara manusia dan monster. Pada akhirnya, dunia tidak hanya bertanya apakah Ash bisa menyelamatkan mereka, tetapi apakah ia masih Ash yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Varss V, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# BAB 11 - JALAN MENUJU UNGU
Kereta kuda meninggalkan Vairlion saat fajar masih merah. Kabut pagi menyelimuti jalan tanah, dan langkah kaki kuda yang mantap jadi satu-satunya suara yang memecah kesunyian.
Ash duduk di dalam kereta tertutup yang sederhana namun nyaman, bersama Eveline dan Razen. Untuk pertama kalinya sejak insiden di tambang, dia merasa... aman. Atau setidaknya, tidak sedang dikejar monster atau orang jahat.
Tapi ada satu masalah.
"Pantatku sakit," keluh Ash sambil menggeser posisi duduknya untuk kesepuluhan kali dalam lima menit terakhir. "Kenapa sih kereta zaman dulu nggak ada shockbreaker? Ini kayak duduk di atas papan kayu yang dipaku ke gerobak."
Eveline, yang duduk dengan postur sempurna seperti biasa, meliriknya tanpa ekspresi. "Karena ini memang papan kayu yang dipaku ke gerobak."
"TEPAT NONA EVELINE!" Ash menunjuk Eveline dengan dramatis. "Kenapa nggak ada yang protes? Kenapa nggak ada yang bikin petisi 'Kereta Layak untuk Pantat Rakyat'? Ini pelanggaran HAM!"
"HAM?" Razen membuka satu mata. Dia duduk bersandar dengan tangan dilipat, sepertinya sudah terbiasa dengan perjalanan tidak nyaman. "Itu apa?"
"Hak Asasi Manusia! Hak untuk duduk dengan nyaman tanpa bokong terasa kayak dipukul-pukul!"
"Kau terlalu banyak mengeluh untuk seseorang yang baru beberapa minggu di dunia ini," ucap Razen, tapi ada sedikit senyum di sudut bibirnya.
"Justru karena masih baru, aku belum terbiasa sama penderitaan kalian!" Ash menggeser lagi, mencoba mencari posisi yang lebih nyaman, dan gagal total. "Di dunia asalku, ada yang namanya kursi empuk. Ada busa. Ada sandaran yang bisa diatur. Bahkan ada pemanas bokong kalau musim dingin!"
"Pemanas... bokong?" ulang Eveline pelan, seperti mencoba memahami konsep alien.
"Ya! Teknologi yang mengubah hidup! Dan sekarang aku harus duduk di sini kayak karung kentang yang dilempar ke kereta barang!"
Razen akhirnya tertawa kecil. "Kau ini... benar-benar dari dunia yang aneh."
"Dunia yang *nyaman*, bukan aneh," koreksi Ash sambil mencoba menyilangkan kaki, tapi ruangan terlalu sempit. "Ugh. Berapa lama lagi perjalanannya?"
"Sekitar tiga hari," jawab Razen santai.
"TIGA HARI?!" Ash nyaris melompat dari kursinya. "Tiga hari duduk di sini?! Aku bakal mati kebosanan! Atau bokongku yang duluan mati!"
"Kau tidak akan mati," ucap Eveline datar. "Kau punya regenerasi."
"Regenerasi nggak bisa nyembuhin trauma psikologis, Eveline!"
Ada keheningan sejenak. Lalu, Ash mendengar sesuatu yang sangat langka.
Eveline tertawa.
Bukan tawa keras. Hanya hembusan napas pendek yang terdengar seperti "heh". Tapi bibirnya melengkung sedikit ke atas, dan matanya yang biasanya kosong itu terlihat... lebih hidup.
Ash membeku. "Tunggu. Kau baru ketawa?"
Eveline langsung memasang wajah datar lagi. "Tidak."
"Bohong! Aku dengar! Razen juga dengar kan?!"
"Aku tidak mendengar apa-apa," jawab Razen sambil menutup mata lagi, tapi senyumnya masih ada.
"Kalian berdua konspirasi!" tuduh Ash sambil menunjuk mereka bergantian. "Ini diskriminasi terhadap pendatang baru! Aku akan lapor ke... ke siapa ya yang ngurusin hal begini di dunia ini?"
"Tidak ada," sahut Razen. "Kau harus terima nasib."
"Dunia yang kejam," gumam Ash sambil bersandar dengan dramatis. "Baiklah. Kalau begitu aku akan hibur diri sendiri." Dia mengeluarkan suara yang berusaha jadi lagu, tapi lebih mirip kucing kesakitan. "~Naik kereta api... tut tut tut... siapa hendak turut... ke Bandung Surabaya~"
"Apa itu?" tanya Eveline.
"Lagu anak-anak dari duniaku. Tentang kereta api. Yang di duniaku itu nyaman, punya AC, dan nggak bikin bokong sakit."
"Kau benar-benar obsesi dengan kenyamanan bokong," komentar Razen.
"Karena itu penting! Kau coba duduk berjam-jam di papan keras, nanti kau ngerti!"
"Aku sudah melakukannya," balas Razen. "Berkali-kali. Dalam misi yang jauh lebih tidak nyaman dari ini."
"Lalu kenapa kau nggak protes?!"
"Karena aku sudah tua dan lelah untuk protes."
Ash menatapnya dengan mata menyipit. "Umur berapa sih kau sebenarnya? Kayaknya masih tiga puluhan."
"Tiga puluh tujuh."
"ITU MASIH MUDA! Berhenti ngomong kayak kakek-kakek!"
Razen membuka mata, menatap Ash dengan tatapan yang sulit dibaca. "Tiga puluh tujuh tahun bertarung dan melihat teman-teman mati membuatmu merasa tua, Ash."
Suasana tiba-tiba berubah. Ash merasakan beban di kata-kata itu.
"Oh," ucapnya pelan. "Maaf."
"Tidak apa," Razen menutup mata lagi. "Justru cerewetmu... mengingatkanku pada waktu yang lebih sederhana. Saat aku masih bisa tertawa tanpa merasa bersalah."
Hening sejenak. Hanya suara roda kereta dan langkah kuda.
Lalu Ash, yang tidak tahan dengan suasana berat, berkata, "Kalau gitu tugas baruku adalah bikin kau ketawa sampai kau nggak merasa bersalah lagi. Challenge accepted."
Razen tersenyum tipis. "Itu akan sulit."
"Aku suka tantangan. Terutama kalau hadiahnya adalah melihat muka serius ini jadi senyum."
Eveline memandang Ash, lalu ke Razen. "Kalian berdua aneh."
"Terima kasih," sahut Ash dan Razen bersamaan, lalu mereka berdua tertawa kecil.
Dan Eveline, meski tidak ketawa, tidak terlihat keberatan.
---
Sekitar dua jam kemudian, Ash sudah hampir mati kebosanan.
"Aku nggak kuat lagi," keluhnya sambil merosot di kursi. "Kita nggak bisa berhenti sebentar? Jalan-jalan? Liat pemandangan?"
"Kita baru berjalan dua jam," ucap Razen.
"DUA JAM ITU LAMA! Rasanya kayak dua tahun!"
"Kau seperti anak kecil," komentar Eveline.
"Anak kecil yang bosan! Dan kelaparan! Kapan kita makan?"
Razen mengeluarkan sekantong roti kecil dari tasnya dan melemparkannya ke Ash. "Roti kering. Makan itu."
Ash membuka kantong itu dan menatap roti yang tampak seperti sudah berumur sebulan. "Ini... masih bisa dimakan?"
"Tentu. Aku sudah makan itu selama bertahun-tahun."
"Dan kau masih hidup. Itu keajaiban medis," gumam Ash sambil menggigit roti itu dengan hati-hati. Teksturnya seperti batu bata yang dikeringkan di bawah matahari. "Oh Tuhan. Ini roti atau senjata tumpul?"
"Keduanya," jawab Razen. "Bisa dimakan dan bisa dilempar ke musuh."
"Aku percaya itu," ucap Ash sambil mengunyah dengan susah payah. "Kalau aku lempar ini ke kepala orang, pasti langsung pingsan."
Eveline mengambil sepotong roti dari kantongnya sendiri dan memakannya dengan tenang, seolah tidak ada masalah dengan tekstur atau rasa.
"Kau nggak merasa ini kayak makan kardus?" tanya Ash.
"Aku pernah makan yang lebih buruk," jawab Eveline datar.
"Seperti apa? Batu kerikil? Pasir?"
"Serangga."
Ash tersedak. "APA?!"
"Saat latihan bertahan hidup. Kami diberi serangga sebagai sumber protein."
"Dan kau... makan itu?"
"Atau mati kelaparan. Pilihannya sederhana."
Ash menatap roti di tangannya dengan pandangan baru. "Okay. Roti ini tiba-tiba jadi lebih enak."
Razen tertawa. "Itulah kenapa aku selalu bilang, perspektif itu penting."
"Aku nggak mau punya perspektif yang melibatkan makan serangga, terima kasih."
"Suatu hari kau mungkin tidak punya pilihan," ucap Eveline. "Dunia ini tidak selalu ramah."
"Aku sudah tahu itu," balas Ash sambil menggigit roti lagi. "Aku hampir mati beberapa kali, ingat? Tapi itu nggak berarti aku harus suka sama roti batu ini."
"Tidak ada yang menyuruhmu suka," ucap Razen. "Hanya bertahan."
"Bertahan dengan bokong sakit dan perut penuh roti keras. Hidup yang indah," gumam Ash sarkastik.
Tapi meskipun mengeluh, ada senyum kecil di wajahnya. Dan entah kenapa, perjalanan yang membosankan ini terasa... nyaman. Bukan nyaman secara fisik, tapi nyaman karena dia tidak sendirian.
Dia punya Eveline yang diam tapi perhatian. Dan Razen yang terlihat keras tapi sebenarnya peduli.
Untuk pertama kalinya sejak datang ke dunia ini, Ash merasa seperti... punya keluarga.
Meski keluarga itu terdiri dari mantan assassin yang suka makan serangga dan mantan kesatria yang makannya kayak tentara, tapi tetap saja.
Keluarga.
---
Sore hari, mereka berhenti di sebuah lapangan terbuka untuk istirahat. Kuda-kuda diberi makan dan minum, sementara Ash langsung merebahkan diri di rumput dengan dramatis.
"Akhirnya! Tanah datar! Aku merindukan tanah datar!"
"Kau berlebihan," ucap Eveline sambil duduk di dekat kereta, mengasah belatinya seperti biasa.
"Nggak! Aku serius! Aku nggak akan naik kereta itu lagi! Aku akan jalan kaki!"
"Jarak ke Lunaria masih dua hari perjalanan kereta," ucap Razen sambil menyiapkan api unggun. "Kalau kau jalan kaki, butuh seminggu."
"Aku nggak peduli! Setidaknya kaki aku yang sakit, bukan bokong!"
Razen menggeleng sambil tersenyum. "Kalau kau mau jalan kaki, silakan. Kami akan tinggalkan kau di sini."
"Kejam!" Ash bangkit dengan cepat. "Baiklah, aku akan tetap naik kereta. Tapi dengan protes resmi yang dicatat dalam sejarah."
"Tidak ada yang akan mencatat protesmu," ucap Eveline.
"AKU AKAN CATAT SENDIRI!" teriak Ash ke langit. "Suatu hari nanti, aku akan bikin buku tentang penderitaanku! Judulnya: 'Memoirs of a Sore Butt: The Ash Chronicles'!"
"Judul yang buruk," komentar Eveline.
"Kau punya saran yang lebih baik?"
"Tidak. Aku hanya tahu itu buruk."
Ash menatapnya, lalu tertawa. "Kau tahu, Eveline? Kau mulai jago meroasting orang."
"Roasting?"
"Nge-burn. Nyindir. Nge-trash talk."
"Oh." Eveline berpikir sebentar. "Itu bagus?"
"Sangat bagus. Berarti kau mulai nyaman sama aku."
Eveline tidak menjawab, tapi ada sedikit warna merah di pipinya yang pucat.
Razen, yang sedang memasak sesuatu di atas api, berkata, "Ash, ke sini. Aku akan ajari kau sesuatu."
"Ajarin apa? Cara masak?"
"Tidak. Cara bertarung yang benar."
Ash mendekat dengan antusias. "Serius? Aku mau! Aku capek jadi samsak tinju!"
"Kau tidak akan jadi samsak tinju kalau kau tahu cara menghindar dan membalas." Razen mengambil dua batang kayu dari samping kereta. "Pegang ini."
Ash mengambil satu batang. "Ini kayak latihan kendo ya?"
"Aku tidak tahu apa itu kendo. Tapi ini dasar pertarungan jarak dekat." Razen berdiri dalam posisi siaga. "Aturannya sederhana: aku akan menyerang, kau menghindar. Jangan sampai kau kena."
"Tunggu, kau serius mau mukul aku?"
"Tentu."
"Tapi aku baru sembuh dari luka-luka kemarin!"
"Dan kau akan luka lagi kalau tidak belajar menghindar." Razen tersenyum tipis. "Tenang. Aku tidak akan pukul terlalu keras."
"ITU NGGAK MEYAKINKAN!"
Sebelum Ash bisa protes lebih lanjut, Razen sudah menyerang.
Kayunya menyambar ke arah kepala Ash. Refleks, Ash menunduk sambil berteriak, "WOAH!"
"Bagus. Tapi terlalu lambat." Razen menarik kayunya dan menyerang lagi, kali ini ke arah pinggang.
Ash melompat ke samping. "Aku belum siap!"
"Musuh tidak akan menunggumu siap." Razen terus menyerang dengan ritme yang konstan. Tidak cepat, tapi tidak lambat juga.
Ash terus menghindar dengan gaya yang sangat tidak elegan. Dia melompat, berguling, bahkan sekali dia tersandung kakinya sendiri dan jatuh.
"Kau terlalu kaku," ucap Razen sambil membantu Ash berdiri. "Rileks. Ikuti aliran gerakannya. Jangan berpikir terlalu banyak."
"Gimana caranya rileks kalau ada orang mau memukulku?!"
"Dengan percaya pada instingmu." Razen menyerang lagi.
Kali ini, Ash tidak berpikir. Dia hanya bereaksi. Tubuhnya bergerak sendiri, menghindari serangan dengan gerakan yang mengejutkannya sendiri.
"Nah, itu baru benar!" puji Razen. "Lihat? Tubuhmu tahu apa yang harus dilakukan kalau kau tidak ganggu dengan pikiran berlebihan."
"Tapi otak aku berteriak 'LARI! LARI!' terus," keluh Ash.
"Itu normal. Tapi kau harus belajar bedakan antara ketakutan yang melindungi dan ketakutan yang melumpuhkan." Razen menurunkan kayunya. "Cukup untuk hari ini. Besok kita lanjutkan."
Ash terduduk di tanah, napas terengah-engah. "Aku... Apa aku bisa bertahan?"
"Kau harus. Walau banyak kekurangan, tapi kau bertahan." Razen mengulurkan tangan. "Itu langkah pertama."
Ash mengambil tangannya dan ditarik berdiri. "Terima kasih... Guru Razen."
"Jangan panggil aku guru. Aku bukan guru yang baik."
"Tapi kau mengajarkanku, kan? Berarti kau guruku."
Razen terdiam, lalu tersenyum kecil. "Baiklah. Tapi jangan harap aku akan pelan-pelan padamu."
"Aku nggak harap itu. Aku cuma harap aku nggak mati duluan sebelum jago."
"Kau tidak akan mati. Kau punya regenerasi, ingat?"
"Oh iya. Kadang aku lupa aku ini MC dengan plotarmor!"
Eveline, yang sedari tadi mengamati dari kejauhan, berdiri dan berjalan mendekat. "Aku juga akan mengajari kau sesuatu."
Ash menoleh dengan penuh harap. "Jurus rahasia assassin?"
"Tidak. Cara diam saat bersembunyi."
"...itu kedengarnya spesifik banget."
"Karena kau terlalu berisik. Saat kau menghindar tadi, aku bisa dengar napasmu dari sini. Musuh juga bisa."
"Oh." Ash berpikir sebentar. "Jadi kalian berdua mau latih aku?"
"Kau bagian dari kelompok ini sekarang," ucap Razen. "Dan kelompok ini tidak biarkan anggotanya lemah."
"Atau mati," tambah Eveline.
Ash merasakan kehangatan di dadanya. Bukan kehangatan dari kekuatan Uroboros. Tapi kehangatan dari... kepedulian.
"Terima kasih," ucapnya tulus. "Aku akan berusaha keras. Aku janji nggak akan jadi beban."
"Kau sudah jadi beban," ucap Eveline datar.
"...Eveline."
"Tapi itu tidak masalah. Kami akan bawa beban itu sampai kau cukup kuat untuk berdiri sendiri."
Ash tersenyum lebar. "Wah. Itu mungkin kalimat paling manis yang pernah keluar dari mulutmu."
"Aku selalu berkata manis." balas Eveline, tapi ujung bibirnya sedikit terangkat.
Malam itu, mereka duduk mengelilingi api unggun. Razen menceritakan sedikit tentang masa lalunya di LightOrder, bukan yang gelap, tapi kenangan saat dia masih percaya pada misi mereka. Eveline mendengarkan dalam diam, sesekali memberikan komentar singkat. Dan Ash, untuk pertama kalinya, tidak banyak bicara.
Dia hanya duduk, mendengarkan, dan merasakan kebersamaan ini.
Di langit, bintang-bintang bersinar terang. Lebih terang dari yang pernah dia lihat di Bumi. Dan untuk sesaat, Ash merasa... damai.
Tapi di kepalanya, ada bisikan halus. Suara yang familiar tapi asing.
*"Nikmati ini. Karena kedamaian tidak akan bertahan lama."*
Ash menggelengkan kepala, mengusir pikiran itu. Untuk malam ini, dia hanya ingin jadi Ash. Bukan vessel. Bukan Uroboros. Hanya Ash yang duduk dengan teman-temannya di bawah bintang-bintang.