Andini (23) menganggap pernikahannya dengan Hilman (43) adalah sebuah penghinaan. Baginya, Hilman hanyalah "pelayan gratis" yang membiayainya bergaya hidup mewah. Selama tujuh tahun, Andini buta akan pengorbanan Hilman yang bekerja serabutan demi masa depan ia dan anak nya. Namun, saat kecelakaan merenggut nyawa Hilman, Andini baru menyadari bahwa kemewahan yang ia pamerkan berasal dari keringat pria yang selalu ia hina. Sebuah peninggalan suaminya dan surat cinta terakhir menjadi pukulan telak yang membuat Andini harus hidup dalam bayang-bayang penyesalan seumur hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wangi Parfum di Atas Luka yang Menganga
Pagi belum benar-benar sempurna di langit Jakarta, namun bagi Andini, hari sudah dimulai sejak pukul lima subuh. Biasanya, ia akan mendengkur di balik selimut sutra hingga matahari tepat di atas kepala, membiarkan Hilman berkutat dengan kompor, cucian, dan persiapan sekolah Syifa. Namun sejak kehadiran Reno kembali dalam hidupnya, rutinitas itu berubah drastis.
Andini kini rajin bangun pagi, bukan untuk membantu suaminya, melainkan untuk ritual kecantikan yang panjang di depan cermin. Suara gesekan kuas make-up dan aroma hairspray yang menyengat kini menggantikan aroma nasi goreng yang biasanya dibuat Hilman.
Di sudut dapur yang sempit, Hilman berdiri dengan tangan bergetar, memegangi pinggiran wastafel. Wajahnya yang kian tirus tampak keabu-abuan. Serangan batuk tadi malam membuatnya hampir tidak bisa memejamkan mata, namun ia tetap memaksa bangun untuk mencuci seragam Syifa yang harus dipakai hari ini.
"Mau ke mana lagi hari ini, Dek? Sudah tiga hari berturut-turut kamu keluar pagi-pagi," suara Hilman terdengar serak, hampir menyerupai bisikan.
Andini yang sedang memulas lipstik merah menyala hanya melirik dari cermin dengan pandangan dingin. "Bukan urusanmu, Mas. Aku cuma mau cari udara segar. Di rumah ini pengap, bau apek, dan bikin aku cepat tua."
"Syifa hari ini ada rapat orang tua di sekolah. Mas nggak bisa izin dari pabrik karena kemarin sudah absen. Kamu bisa datang?" tanya Hilman penuh harap.
Andini mendengus, ia menyambar tas barunya—tas sepuluh juta yang dibeli dari darah dan keringat Hilman. "Mas, aku ini ada janji penting dengan Reno. Dia mau memperkenalkanku pada beberapa relasi bisnisnya. Ini peluang besar buat aku! Urusan sekolah Syifa kan bisa besok-besok. Lagi pula, guru-gurunya pasti maklum kalau ibunya sibuk."
"Tapi ini soal pembagian raport bayangan, Dek..."
"Sudahlah!" Andini berdiri, menyemprotkan parfum mahalnya berkali-kali ke leher dan pakaiannya. Wangi floral yang kuat seketika menutupi bau minyak kayu putih yang menguar dari tubuh Hilman. "Mas kerjakan saja pekerjaan rumah yang tersisa. Tadi aku lihat lantai belum dipel, dan tumpukan baju di keranjang sudah menggunung. Jangan malas, Mas. Kamu kan nggak kerja lembur hari ini."
Hilman menatap tumpukan baju itu, lalu menatap istrinya yang tampak begitu bersinar—namun cahayanya terasa sangat menyakitkan bagi matanya. "Mas... Mas hari ini kurang enak badan, Dek. Dada Mas sesak sekali. Boleh Mas minta tolong setidaknya jemput Syifa nanti siang?"
Andini yang sudah berada di ambang pintu berhenti sejenak. Bukannya simpati, ia justru tertawa hambar. "Sakit lagi? Mas, aktingmu itu sudah basi. Kemarin pingsan, sekarang sesak napas. Kamu itu cuma mau menahanku supaya aku nggak ketemu Reno yang jauh lebih sukses darimu, kan? Bilang saja kalau kamu iri!"
"Mas nggak iri, Andini. Mas cuma minta kamu ingat rumah," ucap Hilman lirih.
"Aku selalu ingat rumah! Rumah yang sempit dan berdebu ini!" bentak Andini. "Sana, kerjakan tugasmu. Jangan sampai aku pulang dan melihat rumah masih berantakan. Aku butuh ketenangan setelah seharian mengurusi 'bisnis' bersama Reno."
Andini melangkah pergi tanpa mencium tangan suaminya, bahkan tanpa menoleh sedikit pun pada Syifa yang menatap dari balik pintu kamar dengan mata sedih. Suara sepatu hak tingginya beradu dengan semen teras, berbunyi tuk-tuk-tuk yang tegas, seolah-olah sedang menginjak-injak harga diri Hilman yang sudah hancur.
Setelah kepergian Andini, Hilman jatuh terduduk di kursi kayu. Ia memegangi dadanya, mencoba mengatur napas yang tersenggal-senggal. Setiap tarikan oksigen terasa seperti menghirup pecahan kaca. Namun, ia melihat jam. Pukul tujuh. Syifa harus segera berangkat.
Dengan sisa tenaga yang ada, Hilman menggendong tas sekolah Syifa yang berat. Ia menuntun putrinya menuju sepeda motor tua yang sudah ia siapkan. Di perjalanan, Syifa memeluk pinggang ayahnya erat.
"Ayah... Mama kenapa sekarang cantik terus kalau mau keluar?" tanya Syifa pelan.
Hilman terdiam sejenak, menelan pahit di tenggorokannya. "Mama sedang punya banyak urusan, Nak. Supaya Mama senang. Syifa doakan Mama terus ya."
"Tapi Mama nggak pernah peluk Syifa lagi sebelum pergi..." bisik anak itu, membuat hati Hilman seolah diremas tangan raksasa.
Sepulang mengantar Syifa, Hilman tidak langsung istirahat. Ia melihat tumpukan cucian yang diminta Andini. Ia mulai mencuci dengan tangan, satu per satu. Air dingin meresap ke dalam pori-porinya, membuat tubuhnya yang demam semakin menggigil. Ia mencuci baju-baju cantik Andini yang akan dipakai untuk menemui Reno esok hari—mencuci setiap noda dengan penuh kesabaran, meski air matanya perlahan jatuh menyatu dengan air sabun.
Sementara itu, di sebuah kafe mewah di pusat kota, Andini duduk berhadapan dengan Reno. Ruangan itu sejuk, penuh dengan orang-orang berpakaian mahal. Andini merasa inilah dunia yang seharusnya ia tempati.
"Kamu terlihat luar biasa hari ini, Din," ucap Reno sambil memegang tangan Andini di atas meja. Reno mengenakan kemeja merk ternama, jam tangannya berkilau terkena cahaya lampu gantung. "Pria itu... suamimu itu... benar-benar tidak tahu cara menghargai permata sepertimu."
Andini tersenyum malu-malu, meski hatinya bergetar. "Dia hanya pria sederhana, Ren. Terlalu sederhana sampai kadang aku merasa jiwaku mati tinggal bersamanya."
"Tenanglah. Aku sudah kembali. Aku sedang mengerjakan proyek apartemen besar di Jakarta Selatan. Kalau proyek ini tembus, aku ingin kamu ada di sampingku sebagai... pendamping yang layak," goda Reno.
Andini terbuai. Ia tidak tahu bahwa Reno sebenarnya baru saja kehilangan pekerjaannya di luar negeri dan mobil yang ia bawa adalah mobil sewaan. Reno sengaja mengincar Andini karena melihat Andini sering memamerkan barang mewah di media sosial—ia mengira Andini memiliki harta yang bisa ia manfaatkan.
Di rumah, Hilman baru saja selesai mengepel lantai. Ia terbatuk hebat hingga tubuhnya tersungkur di atas lantai yang masih basah. Ia memuntahkan cairan bening bercampur bercak merah. Ia segera membersihkannya dengan kain pel, takut jika Syifa atau Andini melihatnya.
Ia masuk ke gudang belakang, tempat ia menyimpan kotak rahasianya. Ia membukanya dengan tangan gemetar. Ia mengambil buku tabungan itu. Angkanya sudah di angka Rp980.000.000. Tinggal dua puluh juta lagi. Tinggal sedikit lagi perjuangannya selesai.
Hilman mengambil selembar kertas dan menuliskan catatan kecil.
"Andini... hari ini aku mencuci semua bajumu. Pakailah baju yang berwarna biru besok, itu warna kesukaanmu. Maaf jika rumah ini terasa sesak bagimu. Aku sedang berusaha menyisihkan sedikit lagi untuk membeli 'rumah impian' yang sering kamu bicarakan. Sabarlah sebentar lagi denganku, sebelum aku benar-benar pergi."
Ia menyelipkan kertas itu di bawah tumpukan baju yang sudah ia setrika licin.
Sore harinya, Andini pulang dengan wajah ceria dan bungkusan makanan mewah—tapi hanya satu porsi, untuk dirinya sendiri. Ia melihat rumah sudah bersih, baju sudah rapi, dan Hilman sedang tertidur di kursi kayu dengan wajah yang sangat pucat.
"Mas! Bangun! Jangan tidur di sini, bikin pemandangan jadi jelek saja," tegur Andini sambil meletakkan tasnya.
Hilman terbangun, matanya merah. "Sudah pulang, Dek? Sudah makan?"
"Sudah. Tadi makan di resto mahal sama Reno. Ini ada sisa sedikit, kalau kamu mau makan saja," ucap Andini sambil menyodorkan bungkusan sisa makanannya yang sudah dingin.
Hilman menatap bungkusan itu. Rasa sakit di hatinya jauh lebih hebat dari rasa lapar di perutnya. "Terima kasih, Dek. Syifa sudah tidur, tadi dia tanya kamu."
"Ya nanti besok saja aku temui. Aku capek mau mandi," jawab Andini acuh tak acuh.
Ia masuk ke kamar, melihat baju-bajunya sudah rapi disetrika. Ia menemukan catatan kecil dari Hilman. Namun, tanpa membacanya sampai selesai, ia meremas kertas itu dan membuangnya ke tempat sampah. "Selalu saja bicara soal rumah impian. Mimpi saja terus, Mas!"
Andini tidak tahu bahwa rumah impian yang dimaksud Hilman bukanlah bangunan fisik, melainkan sebuah masa depan di mana Andini tidak perlu lagi menangis karena kekurangan uang. Ia juga tidak tahu bahwa setiap baju yang ia pakai untuk menemui Reno, dicuci oleh tangan yang mulai kehilangan denyut nadinya.
Malam itu, Hilman kembali terbaring di lantai ruang tamu, memandangi langit-langit yang bocor. Ia berbisik dalam hati, "Tuhan, satu bulan lagi. Beri aku waktu satu bulan lagi untuk menggenapkan angka itu. Setelah itu, ambillah aku jika memang itu jalan untuk mengakhiri beban istriku."
Namun takdir tidak pernah menunggu siapapun. Dan Andini, yang sedang asyik membalas pesan mesra dari Reno di balik selimut, tidak menyadari bahwa aroma parfum yang ia banggakan sedang perlahan membunuh pria yang paling mencintainya di dunia ini.