Jamila Anata gadis sembilan belas tahun yang tiba-tiba hamil anak kakak Iparnya kejadian itu terjadi karena Kakak ipar Mila pulang kantor dalam keadaan Mabuk parah dan dia menganggap Jamila adalah sang istri
Bagaimana kejadian nya simak di novel terbaru ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mesya icha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Amarah Mila
Jovan melajukan mobilnya menuju alamat Apartemen milik Mila di salah satu kawasan Jakarta. Jovan susah memutuskan untuk menyelesaikan urusan nya dengan Mila demi anak nya dengan Mila agar memiliki hak untuk menerima nama nya.
Mobil Jovan berhenti di parkiran Apartemen milik Mila. Jovan menarik dalam nafas sebelum turun dari mobilnya. Kaki jenjang Jovan melangkah menuju lantai enam Apartemen Mila.
Seorang security menahan Jovan sebelum naik ke lantai unit Mila. " Permisi pak, anda mau mencari siapa?? tanya bapak security itu sopan. Jovan menjawab cepat security yang menahan nya.
" Saya mau ke unit nya Ibu Mila pak, saya kakak nya" ucap Jovan. Security itu menahan Jovan sejenak lalu kembali berkata" Saya izin dulu ke mbak Mila pak, karena enggak semua orang bisa naik ke unit pemilik Apartemen yang menyewa di sini, ucap Security itu kembali.
Jovan ingin lekas selesai lalu memberikan uang tips agar mempercepat proses nya bisa naik ke lantai unit Mila.
" Pak anggap aja ini uang makan bapak, saya buru-buru pak. Saya enggak akan buat masalah, saya beneran kakak Mila, ucap Jovan. Melihat uang lima lembar warna merah membuat security itu menggeleng.
Jovan kesal namun dia mencoba sabar. " Baiklah sekarang bapak hubungi Mila dan bilang jika Dion nyariin dia" ucap Jovan. Dion adalah sepupu Mila dari pihak ibu nya.
Security itu akhirnya menelpon Mila dan memberitahukan jika ada keluarga nya yang mencari nya. Mendengar nama Dion membuat Mila kaget juga namun dia akhirnya meminta security mengizinkan sepupunya ke unit nya.
Jovan sangat senang dan akhirnya berjalan cepat menuju unit Mila. Setelah sampai di unit Mila, Jovan menarik nafas kembali. Apapun yang terjadi nanti ya sudah harus dia hadapi.
Bel pintu berbunyi membuat Mila segera membuka pintu. Bara yang sedang makan siang pun ikut menoleh ke pintu.
" Mama buka pintu dulu ya, Bara makan nya lanjut saja" ucap Mila.
Bara mengangguk dan Mila berjalan ke pintu. Pintu di buka dan betapa terkejutnya Mila ketika yang berdiri di sana bukan Dion sepupunya melainkan pria yang amat dia benci yang berdiri di depan nya.
Mila akan menutup pintu namun Jovan menahan nya. Jovan memaksa masuk dan menutup pintu. Mila menatap kesal dan keduanya saling tatap.
" Ngapain kak Jovan kesini?? nanti kak Dinda marah, ucap Mila. Keluar sana, aku enggak mau berurusan sama kalian, ucap Mila.
Jovan menatap Mila, wajah gadis itu nampak tirus dan lebih kurus. Nampak sangat kelelahan, sangat berbeda dengan Mila remaja kala tinggal bersama dirinya dan Dinda.
Mila apa kabar kamu?? kemana saja kamu Mila?? kakak kamu mencari kamu kemana-mana tapi kamu enggak pernah di temukan. Ucapan Jovan membuat mila tersenyum kecut.
" Ngapain mau cari aku??! aku bisa jaga diri aku sendiri. Aku enggak mau ganggu kalian, terlebih aib yang aku bawa. Kan kak Dinda enggak suka dengan pilihan aku. Mila menatap Jovan. Sekarang kak Jovan keluar saja sebelum aku hilang hormat sama kakak.
Jovan menggeleng tiba-tiba memeluk Mila. " Maaf Mila, maafkan aku. Aku bersalah sama kamu dan Dinda. Maafkan aku Mila, ucap Jovan. Mila terkejut dengan pelukan Jovan pada nya.
" Kak lepaskan aku. Kita enggak ada hubungan ya jangan minta maaf kakak enggak salah. namun Jovan mengatakan hal yang selama ini Mila kira Jovan tidak akan tau.
" Mana Bara Mila?? aku ke sini mau jumpa Bara. Dia anak aku kan?? Mila aku minta maaf tapi izinkan aku jumpa anak kita Mila.
Mila terkejut namun juga tertawa. " Hahaha, anak kamu?? sejak kapan dia jadi anak kamu?? kamu bahkan tidak pernah mau dia hadir kan?? kamu udah punya anak sama kak Dinda, apa itu kurang?? sampai mengakui anak orang lain??
Kemaruk kamu kak. Bara itu anak aku dan suami aku. Papa nya Bara udah meninggal, sebelum dia lahir. Ucapan Mila menghantam hati Jovan sakit.
Setiap ucapan Mila membuat Jovan merasakan sakit. " Tolong jangan ganggu kami kak. Bahagiakan kak Dinda dan anak kakak, Aku sama Bara udah bahagia.
Bara enggak butuh papanya, dia udah bahagia sama aku. Ucapan Mila membuat Jovan memohon namun Mila kekeh mengatakan jika Bara anaknya dan suaminya.
Jovan memberikan hasil tes DNA nya dan Bara. Mila mengambil kertas itu dan membacanya, nafas Mila rasanya berhenti di sana.
" Kamu sampai segitunya ingin mengakui anak ku sebagai anak mu?? Bara itu anak aku kak. Kenapa kakak tega banget sampai lakukan tes tanpa sepengetahuan aku?? dimana kakak dapat sampel anak aku??
Tanpa Mila dan Jovan tau jika sejak pertengkaran mereka seorang anak kecil duduk menatap kedua orang tua yang sedang ribut karena nya.
" Mila apa susahnya kamu mengaku jika Bara itu anak aku. Mila kamu jangan egois mil, Bara berhak tau siapa ayah nya. Aku mau kasih nama aku ke Bara, dan mengakui dia juga anak aku.
Mila tertawa lucu. Kenapa Baru sekarang kamu ingin mengakui Bara kak?? saat kamu memberikan aku uang kamu mengatakan jangan beritahu apapun ke kamu. Kamu hanya mencintai kak Dinda, bagaimana bisa aku tiba-tiba datang dan bilang " Kak aku hamil anak mu" aku sadar diri kak.
Lupakan adanya Bara dan urus keluarga mu. Kami sudah bahagia tanpa kamu.
Jovan menatap Mila sedih. Dia hanya ingin memberikan nama dan mengakui jika Bara itu anaknya.
Bara menangis membuat kedua orang yang ribut itu diam " Mama" ucap Bara memandang Mila.
Mila berlari memeluk Bara. " Tidak apa-apa nak, Bara punya mama. Kita akan bahagia walau tanpa Papa di samping Bara.
Bara mengangguk pelan. " Ma, itu om tampan yang anaknya bertemu Bala di mall.. Dia papanya Chira" ucap Bara.
Mila menatap Jovan kesal. " Jadi kamu mengambil sampel Bara saat bertemu di mall kak?? Sebegitu obsesinya kamu ingin memiliki anak aku??
Sekarang kamu dengar kan anak aku enggak butuh kamu kak. Biarkan Bara hidup layaknya anak kecil tanpa beban orang dewasa, sekarang kaka kembali saja ke rumah kaka.
Bara dan Jovan saling tatap. " Bara, ini papa nak. Maafkan Papa ya sayang, Papa baru tau jika selama ini ada Bara di dunia ini nak.
Jovan memeluk Bara yang tadi melepaskan diri dari pelukan Mila. Bara tidak membalas pelukan Jovan.
" Om, lepas om aku sesak. Ucap Bara. Om itu papanya Chila bukan Papannya Bala. Papa Bala udah di sulga.
Ucapan Bara membuat Jovan sungguh terluka. Namun untuk menyalahkan anak itu pun dia tak bisa. Bagaimana juga dialah penyebab semua nya menjadi begini.
Seandainya dulu dia menikahi Mila walau diam-diam mungkin dia tak akan kehilangan anak laki-laki semanis dan setampan Bara.
" Nak, ini papa nak. Papa Bara masih hidup. Jovan rasanya tak kuat jika anaknya menganggap nya sudah meninggal.
Mila menarik Bara. Sungguh Mila sangat marah sekarang. " Kamu udah dengar kan kalau Bara tidak kenal kamu. Sekarang pergi dan jangan pernah kembali ke sini lagi.
Jovan menatap kedua nya. Dua orang yang telah dia lukai sampai sedalam ini. " Mil, kalau kamu marah sama aku enggak apa-apa Mil, aku terima tapi coba kamu bertemu kakak kamu mil. Dinda sangat merindukanmu, ucap Jovan..
Mila diam dia pun rindu sama kakak kesayangan nya itu. " Sekarang kamu pergi kak, untuk masalah kak dinda, nanti aku pikirin" ucap Mila.
Jovan kembali menatap Bara. Jovan memeluk Bara lama. " Ingat nak, aku papa kamu. Papa masih hidup nak, ucap Jovan.
Bara menangis memeluk Mila. Dia sekuat tenaga melepaskan diri dari Jovan.
" Om pergi sana. Ma kita pulang aja ke riau, aku enggak mau si jakarta lagi.
ucapan Bara membuat Jovan ingin menangis rasanya. Akhirnya Jovan keluar unit Apartemen Mila dengan hati hancur.