NovelToon NovelToon
Perjamuan Langit Kultivasi Lidah Dewa

Perjamuan Langit Kultivasi Lidah Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Action / Dan budidaya abadi
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i

​Han Shuo hanyalah seorang pelayan dapur di Sekte Awan Merah yang sering dihina karena bakat tulang yang buruk. Segalanya berubah ketika ia menemukan "Kitab Rasa Semesta", sebuah warisan kuno yang mengajarkan bahwa energi langit dan bumi paling murni tidak tersimpan dalam pil alkimia yang pahit, melainkan pada sari pati makhluk hidup yang diolah dengan api kuliner. Dengan sebilah pisau berkarat dan kuali tua, ia memulai perjalanan menantang maut demi mencicipi keabadian.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 33 saus revolusi dan gema gerbang terlarang

Malam di Sektor Akar tidak pernah benar-benar gelap. Cahaya pendar dari limbah kimia cair yang mengalir di selokan memberikan rona hijau neon yang sakit pada dinding-dinding gang. Han Shuo duduk bersila di depan kualinya, membiarkan api putih kebiruan dari Api Jantung Bumi menyinari wajahnya yang penuh konsentrasi.

Grog, si raksasa biru, sudah tertidur pulas, namun keempat tangannya sesekali bergerak refleks seolah sedang memotong bahan khayalan dalam mimpinya. Han Shuo tidak bisa tidur. Koin ungu di saku jubahnya terasa berat, seolah membawa beban ribuan jiwa yang gagal di Benua Atas.

"Sistem," bisik Han Shuo. "Analisis struktur molekul dari Lada Hitam Kehancuran."

[Sistem Notifikasi: Memulai Pemindaian...]

[Data Ditemukan: Lada Hitam Kehancuran mengandung 85% Esensi Chaos dan 15% Energi Termal Murni. Peringatan: Konsumsi langsung dapat menyebabkan kehancuran saraf pengecap secara permanen.]

"Chaos, ya?" Han Shuo memutar biji hitam terakhir di jarinya. "Jika dunia ini memuja ketertiban dan kemurnian energi, maka aku akan memberikan mereka kekacauan yang terorganisir."

Bagian 1: Kelahiran Saus Revolusi

Han Shuo mulai bereksperimen. Ia mengumpulkan bahan-bahan paling kontradiktif yang bisa ia temukan di tumpukan sampah "mewah" milik Grog:

 * Empedu Ikan Langit yang sangat pahit (dibuang karena merusak rasa manis).

 * Madu Kristal Es yang dingin membeku (dibuang karena terlalu keras untuk dikunyah).

 * Kulit Jeruk Pemakan Matahari yang kering dan pedas.

Ia memasukkan semuanya ke dalam kuali kecil. Tantangannya adalah menyatukan pahit, dingin, pedas, dan panas menjadi satu harmoni.

"Jika aku hanya mencampurnya, mereka akan meledak," gumam Han Shuo. "Aku butuh media."

Ia teringat pada Kecap Air Mata Bunda yang ia bawa dari Benua Bawah. Kecap itu adalah simbol emosi. Di Benua Atas, emosi dianggap sebagai "polusi" dalam masakan. Tapi bagi Han Shuo, itulah yang memberikan nyawa.

Ia menuangkan setetes kecap itu.

SHHHHIIIIII!

Kuali itu bergetar hebat. Asap berwarna kelabu keluar, membentuk pusaran kecil. Han Shuo menggunakan teknik Pusaran Tangan Naga untuk menstabilkan energi yang bergejolak. Ia mengalirkan Qi-nya, memaksakan kehendaknya ke dalam cairan tersebut.

Setelah tiga jam meditasi aktif, cairan di dalam kuali berubah warna menjadi merah tua yang berkilau seperti batu rubi cair. Saat ia mencicipinya dengan ujung kuku, Han Shuo terdiam.

Rasanya bukan hanya lezat. Rasanya seperti sebuah pemberontakan.

 * Pertama, rasa pahit yang menusuk (mewakili penderitaan Sektor Akar).

 * Lalu, rasa dingin yang menenangkan (mewakili harapan).

 * Terakhir, ledakan pedas dari Lada Kehancuran yang membakar semua keraguan.

"Aku akan menyebutnya... Saus Pemberontakan Akar," Han Shuo tersenyum tipis.

Bagian 2: Menuju Distrik Ketiga

Fajar di Benua Atas ditandai dengan perubahan warna langit dari ungu menjadi emas pucat. Han Shuo membangunkan Grog, memberikan instruksi untuk menjaga kedaunya, lalu berangkat menuju Distrik Ketiga.

Perbedaan antara Sektor Akar dan Distrik Ketiga sangat mencolok. Saat Han Shuo melintasi jembatan energi, gravitasi terasa berubah. Udara di sini sangat bersih hingga terasa manis di paru-paru. Bangunan-bangunan tidak lagi terbuat dari beton tua, melainkan dari porselen putih dan kristal yang memantulkan cahaya matahari.

Penduduk di sini adalah para "Koki Borjuis". Mereka memakai pakaian sutra yang dirancang khusus untuk menolak noda minyak. Han Shuo, dengan jubah koki buminya yang penuh tambalan dan aroma asap yang kuat, terlihat seperti noda hitam di atas kertas putih.

"Berhenti, Manusia!"

Dua penjaga dengan baju zirah berbentuk sisik ikan menghadang jalannya di depan sebuah gerbang raksasa yang terbuat dari kayu hitam kuno. Di atas gerbang itu tertulis huruf emas: GERBANG TERLARANG: PASAR GELAP BAHAN SURGAWI.

"Hanya mereka yang memiliki undangan atau koin otorisasi yang boleh lewat," kata salah satu penjaga dengan nada jijik.

Han Shuo mengeluarkan koin ungu pemberian pria misterius itu.

Kedua penjaga itu tersentak. Mereka saling pandang, lalu salah satunya tertawa sinis. "Koin dari 'Si Pemulung'? Sudah lama dia tidak mengirimkan mangsa baru. Masuklah, Manusia. Tapi ketahuilah, memiliki koin hanyalah syarat untuk antre. Untuk benar-benar masuk, kau harus melewati Ujian Lidah Penjaga."

Bagian 3: Ujian Lidah Penjaga

Di balik gerbang, Han Shuo tidak menemukan pasar, melainkan sebuah koridor panjang yang berakhir di sebuah meja batu besar. Di sana duduk seorang pria paruh baya yang sangat gemuk dengan telinga panjang yang terus bergerak-gerak. Namanya adalah Master Oom, sang Penjaga Gerbang.

Di depan Master Oom, sudah ada beberapa koki dari berbagai ras yang sedang menyajikan masakan mereka.

"Gagal! Terlalu banyak energi, kurang karakter! Buang!" teriak Master Oom sambil meludah ke lantai. Seorang koki dari ras Elfin Rasa menangis saat masakannya yang terbuat dari bahan mahal dilemparkan ke tempat sampah.

Kini giliran Han Shuo.

"Seorang manusia?" Master Oom menatap Han Shuo dengan mata kecilnya yang tenggelam dalam lemak. "Dan bau apa ini? Bau... sampah Sektor Akar?"

"Bau ini disebut 'Perjuangan', Master Oom," jawab Han Shuo tenang.

Han Shuo tidak membawa banyak peralatan. Ia hanya mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil berisi Tahu Busuk Sektor Akar yang telah ia fermentasi semalaman dengan Saus Pemberontakan.

Begitu kotak itu dibuka, aroma yang sangat kuat dan kontroversial menyeruak. Beberapa koki di belakang Han Shuo menutup hidung mereka, ada yang hampir muntah.

"Apa kau mencoba meracuniku?!" teriak Master Oom, wajahnya memerah. "Beraninya kau membawa benda busuk ini ke Distrik Ketiga!"

"Guru saya pernah bilang," kata Han Shuo, suaranya tetap rendah namun berwibawa. "Sesuatu yang terlihat busuk di luar sering kali menyimpan kemurnian yang paling tinggi di dalam. Jika Master Oom takut pada sedikit aroma, mungkin Master bukan ahli rasa yang sesungguhnya."

Master Oom terprovokasi. "Takut?! Berikan padaku! Aku akan membuktikan bahwa sampahmu ini tidak layak bahkan untuk babi!"

Master Oom mengambil sepotong tahu hitam itu dengan sumpit peraknya. Ia memasukkannya ke mulut dengan wajah penuh kebencian.

Satu detik...

Dua detik...

Seluruh ruangan menjadi sunyi.

Tiba-tiba, telinga panjang Master Oom mulai berputar seperti baling-baling. Matanya yang kecil melebar hingga hampir keluar dari kelopaknya. Keringat sebesar biji jagung mulai mengucur di dahinya.

"Ini... ini..." Master Oom bergumam.

Di dalam pikirannya, Master Oom melihat gambaran dirinya saat masih muda, saat ia masih menjadi koki miskin yang bermimpi mengubah dunia dengan rasa. Ia merasakan kepahitan hidupnya, namun ditutup dengan rasa pedas yang membangkitkan semangat juangnya yang telah lama mati oleh kenyamanan Distrik Ketiga.

Master Oom menelan tahu itu, lalu ia mulai menangis tersedu-sedu.

"Sudah tiga ratus tahun..." isaknya. "Tiga ratus tahun aku memakan makanan yang hanya berisi energi kosong. Ini adalah makanan pertama yang memiliki 'Jiwa'."

Master Oom berdiri dan membungkuk dalam-dalam kepada Han Shuo. "Selamat datang, Koki Han Shuo. Kau tidak hanya melewati gerbang ini. Kau telah membuka gerbang hatiku."

Bagian 4: Di Dalam Pasar Gelap

Gerbang kedua terbuka, dan kali ini pemandangannya benar-benar luar biasa.

Ini adalah pasar bawah tanah yang luasnya seperti satu kota kecil. Di sini, bahan-bahan makanan tidak diletakkan di meja, melainkan di dalam tabung kaca anti-gravitasi atau kandang energi.

 * Ada Hati Naga Es yang masih berdenyut, membekukan area sekitarnya sejauh lima meter.

 * Ada Buah Guntur yang sesekali mengeluarkan kilatan petir kecil.

 * Dan di tengah pasar, berdiri sebuah papan pengumuman raksasa yang berisi daftar barang yang akan dilelang malam ini.

Han Shuo memindai daftar itu dengan cepat. Jantungnya berdegup kencang saat melihat baris terakhir:

[Lot #99: Bibit Pohon Kedelai Surgawi - Diperoleh dari Reruntuhan Lembah Dewa.]

"Itu dia," bisik Han Shuo.

Namun, harganya membuatnya lemas: 50.000 Kristal Rasa Tingkat Tinggi.

Sebagai perbandingan, pendapatan Kedai Arwah Lapar semalam hanya menghasilkan sekitar 10 Kristal Rasa Tingkat Rendah. Han Shuo adalah seorang miliarder di Benua Bawah, tapi di sini, dia praktis adalah seorang pengemis.

Bagian 5: Duel Tak Terduga

Saat Han Shuo sedang berpikir keras bagaimana mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat, sebuah suara tajam memotong kerumunan.

"Jadi, ini dia manusia yang membuat Master Oom menangis? Mengecewakan."

Seorang pemuda tampan dengan jubah putih bersih yang dihiasi sulaman benang emas mendekat. Di dadanya terdapat lencana Koki Bintang Satu dari Menara Langit. Namanya adalah Lin Feng, jenius kuliner dari klan terpandang di Distrik Atas.

"Master Oom sudah tua dan sentimental," lanjut Lin Feng sambil menatap Han Shuo dengan remeh. "Membawa teknik fermentasi murahan ke tempat suci ini adalah penghinaan bagi seni kuliner."

Han Shuo menatap Lin Feng datar. "Seni yang kau bicarakan... apakah itu seni memberi makan orang, atau seni memamerkan kekayaan?"

Lin Feng tersenyum dingin. "Di Benua Atas, keduanya sama. Kau ingin bibit Kedelai Surgawi itu, kan? Aku juga menginginkannya untuk melengkapi koleksi kebun pribadiku."

Lin Feng mengangkat tangannya, dan seorang pelayan segera membawakan sebuah meja masak kristal yang sangat canggih.

"Mari kita buat kesepakatan di depan saksi pasar gelap," kata Lin Feng. "Kita lakukan duel Kejutan Rasa. Bahan utamanya ditentukan oleh pasar. Pemenangnya mendapatkan hak untuk membeli Lot #99 tanpa gangguan, dan pecundang harus menyerahkan indra pengecapnya untuk disegel selama sepuluh tahun."

Kerumunan di pasar gelap mulai berkumpul. Duel rasa dengan taruhan indra pengecap adalah hal yang sangat jarang terjadi.

"Tunggu," kata Han Shuo. "Aku tidak punya uang untuk membeli bibit itu jika aku menang."

Lin Feng tertawa. "Jika kau menang, aku yang akan membelikannya untukmu. Itu adalah harga dari kesombonganku. Tapi kita tahu itu tidak akan terjadi."

Han Shuo mengepalkan tangannya. Risikonya sangat tinggi. Jika ia kehilangan indra pengecapnya, ia tidak akan pernah bisa menyelamatkan ayahnya. Tapi ini adalah satu-satunya jalan pintas.

"Aku terima," kata Han Shuo tegas.

Bagian 6: Bahan Rahasia: Jantung Monster Kerak Bumi

Seorang juri pasar gelap maju ke depan, membawa sebuah kotak besi yang dirantai. "Bahan untuk duel hari ini adalah... Jantung Monster Kerak Bumi!"

Begitu kotak dibuka, sebuah organ besar berwarna cokelat tua yang keras seperti batu terlihat. Jantung ini dikenal sebagai bahan yang mustahil untuk diolah karena teksturnya yang seperti granit dan rasa tanahnya yang sangat kuat.

Lin Feng tersenyum penuh percaya diri. Ia mengeluarkan sebuah alat berbentuk bor laser kecil. "Aku akan menggunakan teknik Pembedahan Atom untuk mengekstrak sari pati energinya."

Sedangkan Han Shuo hanya mengeluarkan satu benda dari sakunya: Biji Lada Hitam Kehancuran yang masih tersisa dan sebotol kecil Saus Pemberontakan.

"Lin Feng," kata Han Shuo sambil menyalakan api putihnya. "Kau mungkin tahu cara membelah atom, tapi kau tidak tahu cara berbicara dengan bahan yang merasa sakit."

Bagian 7: Memasak dalam Tekanan

Duel dimulai. Lin Feng bekerja dengan presisi seorang dokter bedah. Tekniknya sangat memukau, menciptakan presentasi masakan yang terlihat seperti karya seni modern.

Han Shuo, di sisi lain, melakukan sesuatu yang gila. Ia menghantamkan jantung batu itu dengan tinjunya yang dibungkus Qi api.

BUM! BUM! BUM!

Ia bukan menghancurkannya, tapi memberikan pijatan tekanan tinggi untuk memaksa pori-pori batu itu terbuka. Kemudian, ia menyiramkan Saus Pemberontakan ke dalam retakan-retakan tersebut.

Bau tanah yang busuk mulai berubah menjadi aroma karamel yang dalam dan eksotis.

[Sistem Notifikasi: Anda sedang menciptakan Hidangan Tingkat 'Legenda Dunia Bawah'.]

[Peringatan: Energi yang terkumpul mulai tidak stabil!]

Seluruh area pasar gelap mulai bergetar. Cahaya merah dari Saus Pemberontakan bertarung dengan cahaya putih dari teknik Lin Feng. Ini bukan lagi sekadar duel masak, ini adalah benturan dua filosofi dunia yang berbeda.

 * Pencapaian: Menciptakan Saus Pemberontakan, melewati Gerbang Terlarang, menantang Koki Bintang Satu.

 * Risiko: Indra pengecap Han Shuo dipertaruhkan.

 * Target: Lot #99 (Bibit Pohon Kedelai Surgawi).

1
ddrhart
mulai langkah merekrut pengikut
ddrhart
semakin menarik dengan persahabatan yang tidak biasa
ddrhart
lanjut thor.... cukup menarik
ddrhart
malah datang bahan makanan yang lebih berkualitas
ddrhart
dari awal sudah terima berbagai macam ujian
ddrhart
ayo chef han suo.... jangan kasih kendor !!!
ddrhart
menarik.... berbeda dari yang sudah ada
Nanik S
Lanjut terus Tor
Nanik S
Tetua Agung ..kenapa pakai Kuali Tulang
Nanik S
Apa Han Suo mau dipanggang
Nanik S
Huo . masak seja sekalian Panatua Mu Chen
Nanik S
Menu yang tida akan dia Lupakan.. menu apa Jan Shuo
Nanik S
Besok memasak Wang Lin
Nanik S
Masak Mie pemutus jiwa
Nanik S
Punya Asisten baru
Nanik S
Keren...jadi Koki Dewa
Nanik S
Han Shuo.. kasih makan dan nanti bawa saja kirin ke depan Tetua Tie
Nanik S
Han Shuo .. apa yang akan terjadi dipuncak
Nanik S
Lanjutkan Tor
Nanik S
Han Shuo.. cerdas sekali
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!