Demi melunasi hutang budi, Dokter Yoga terpaksa menikahi Dinda, wanita pengkhianat yang tak pernah ia sentuh selama setahun pernikahan. Di tengah sandiwara itu, ia harus menjaga Anindya, istri mendiang sahabatnya yang lumpuh akibat kecelakaan tragis.
Saat Yoga berhasil bebas dan menceraikan Dinda demi menikahi Anindya, sebuah rahasia besar meledak: Anindya ternyata adalah Nayla Rahardjo, putri sulung yang hilang dari keluarga mantan mertuanya sendiri.
Bagaimana Yoga mencintai wanita yang ternyata adalah kakak dari mantan istrinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harga kebebasan dibalik topeng dokter dingin
Setiap akhir pekan, atau di sela-sela jadwal dinasnya, Yoga selalu melajukan mobilnya menuju Bogor. Begitu melewati gerbang rumah asri itu, topeng dingin dan kaku yang ia pakai di Jakarta seolah luruh bersama angin pegunungan.
Yoga kini sedang berada di ruang fisioterapi sebuah rumah sakit di Bogor, mendampingi Anindya yang sedang berjuang di atas palang sejajar (parallel bars).
"Ayo, Anin. Satu langkah lagi. Kalau berhasil sampai ujung, hadiahnya istimewa," ucap Yoga sambil berdiri di samping Anindya, siap sedia menyangga tubuh wanita itu jika keseimbangannya goyah.
Anindya menghela napas, dahinya berkeringat. "Hadiah apa, Mas? Paling cuma diajak makan bubur ayam depan kompleks."
Yoga tertawa renyah, sebuah tawa lepas yang tidak pernah didengar oleh siapa pun di Jakarta, termasuk ibunya sendiri. "Wah, meremehkan ya? Kali ini hadiahnya lebih spesial. Mas bakal jadi 'kaki' kamu buat keliling kebun raya sampai kamu bosan. Gimana?"
Anindya tersenyum tipis. "Gombal. Mas kan sibuk di rumah sakit."
"Buat pasien prioritas kayak kamu, jadwal
operasi paling rumit pun bakal Mas tunda," balas Yoga sambil mengedipkan sebelah matanya.
Anindya tersipu, rona merah muncul di pipinya yang mulai berisi. Sosok Yoga di matanya kini bukan lagi dokter kaku yang menyeramkan, melainkan pria yang sangat manis, penuh humor, dan selalu punya cara untuk membuatnya tertawa di tengah rasa sakitnya. Yoga sering melontarkan candaan konyol atau gombalan-gombalan halus yang sebenarnya bertujuan untuk membangkitkan semangat hidup Anindya.
Setelah sesi terapi selesai, Yoga tidak membiarkan perawat mendorong kursi roda Anindya. Ia sendiri yang mengambil alih. Ia berlutut di depan Anindya, memijat lembut punggung kaki wanita itu yang masih mati rasa.
"Sakit nggak? Maaf ya kalau Mas tadi agak galak nyuruh latihannya," bisik Yoga dengan nada suara yang begitu lembut.
"Nggak apa-apa, Mas. Aku tahu Mas mau aku cepat sembuh," jawab Anindya sambil menatap puncak kepala Yoga. Ada rasa hangat yang menjalar di hatinya, rasa yang seharusnya ia tujukan untuk almarhum suaminya, namun kini perlahan mulai terbagi.
Yoga mendongak, menatap Anindya dengan tatapan teduh. "Anin, melihat kamu tersenyum itu jauh lebih melegakan daripada melihat grafik pasien yang membaik. Jadi, sering-sering senyum ya?"
Yoga benar-benar menemukan dunianya di sini. Bersama Anindya, ia tidak perlu bersandiwara. Ia tidak perlu memikirkan pengkhianatan Dinda atau ancaman mertuanya. Di sini, ia adalah Yoga yang sebenarnya, pria yang punya hati dan kasih sayang.
Namun, kebahagiaan ini seperti berdiri di atas lapisan es tipis. Yoga lupa bahwa secara hukum, ia masih suami Dinda Dewi. Dan di Jakarta, Dinda mulai merasa "kehilangan" sosok yang bisa ia jadikan tameng di depan orang tuanya.
Suatu malam, saat Yoga masih di Bogor menghibur Anindya dengan cerita-cerita lucu tentang masa perkenalan dengan dokter Arka, ponselnya bergetar di atas meja. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang tidak dikenal:
> "Dokter Yoga, asyik ya liburan di Bogor sama janda sahabat sendiri? Foto-foto kalian sudah ada di tangan saya. Mau saya kirim ke Dokter Reza sekarang atau kita bicara harga?"
Yoga terdiam. Senyum humorisnya hilang seketika, digantikan oleh tatapan predator yang kembali tajam. Musuh mulai bergerak.
Yoga menatap layar ponselnya dengan senyum sinis yang mendingin. Ia tidak membiarkan ancaman itu menggantung terlalu lama. Sambil tetap duduk di samping Anindya yang sedang tertidur lelap setelah kelelahan terapi, jari-jari Yoga bergerak dengan tenang namun mematikan di atas layar ponsel.
Balasan Pesan Yoga:
> "Silakan kirim, Kenzi. Tapi ingat, di detik foto itu sampai ke meja Dokter Reza, rekaman video HD malam kalian di hotel butik minggu lalu dan semua mutasi rekening Dinda untuk membiayaimu juga akan tayang di seluruh layar monitor Rumah Sakit Sentral Medika. Aku tidak akan hanya menghancurkanmu, aku akan memastikan kamu dideportasi dengan catatan kriminal. Pilihannya ada di tanganmu."
Setelah mengirim pesan itu, Yoga mematikan ponselnya. Ia tahu Kenzi hanyalah pengecut yang hidup dari kemurahan hati Dinda.
***
Di sebuah apartemen di Jakarta, Kenzi membanting ponselnya ke sofa setelah membaca balasan Yoga. Wajahnya pucat pasi. Ia tidak menyangka Yoga sehebat itu dalam mengumpulkan bukti.
"Sial! Dokter kaku itu ternyata lebih licik dari yang aku kira," umpat Kenji dalam bahasa Jepang.
Dinda, yang baru keluar dari kamar mandi, mendekat dengan bingung. "Kenji, ada apa? Kenapa mukamu begitu?"
Kenzi menatap Dinda. Ada rasa sayang, tapi rasa takutnya akan penjara dan deportasi jauh lebih besar. Ia mulai berpikir dua kali.
Jika ia membongkar hubungan Yoga dan Anindya, Yoga pasti akan membalas lebih kejam. Hubungan mereka akan terbongkar, dan sumber uangnya, yaitu Dinda akan diputus total oleh Dokter Reza.
"Dinda, suamimu itu... dia bukan orang sembarangan. Kita harus lebih hati-hati," bisik Kenzi sambil memeluk Dinda, namun pikirannya kini sibuk mencari jalan aman untuk menyelamatkan dirinya sendiri, bahkan jika itu harus mengorbankan Dinda.
***
Di Bogor, Yoga berdiri di balkon rumah asri itu, menatap bintang-bintang. Ia menoleh ke dalam, melihat Anindya yang tampak begitu rapuh namun berharga baginya.
"Aku nggak akan membiarkan kotoran seperti mereka menyentuh hidupmu, Anin," batin Yoga.
Yoga menyadari bahwa ia tidak bisa terus bersembunyi. Ia segera menghubungi asisten kepercayaannya di Surabaya melalui jalur telepon yang aman.
"Siapkan semua laporan keuangan bisnis kita. Cairkan dana lima belas miliar dalam bentuk likuid minggu depan. Dan pastikan semua bukti perselingkuhan Dinda sudah ter-copy di sepuluh drive berbeda," perintah Yoga tegas.
"Baik, Dokter Yoga. Semuanya sudah siap sesuai rencana," jawab asistennya.
Yoga menarik napas dalam. Waktunya untuk mengakhiri sandiwara ini sudah dekat. Ia akan membayar "utang" itu secara tunai, lalu membawa Anindya pergi jauh dari jangkauan keluarga dokter reza Raharjo dan segala kepahitannya.
Yoga menarik napas panjang saat memeriksa saldo di akun bisnis rahasianya. Angka di layar itu menunjukkan ia masih membutuhkan lima miliar rupiah lagi untuk menggenapi angka lima belas miliar, nominal yang menjadi harga kebebasannya dari jeratan keluarga dokter reza.
"Sedikit lagi. Aku harus bersabar sedikit lagi," gumam Yoga pada dirinya sendiri.
Ia menutup laptopnya lalu menghampiri Anindya yang sedang duduk di kursi roda sambil membaca buku di teras. Yoga mengusap rambut Anindya dengan lembut.
"Anin, Mas balik ke Jakarta dulu ya? Ada jadwal praktik dan operasi sore ini. Kamu baik-baik di sini, kalau ada apa-apa langsung telepon Mas atau kasih tahu Bi Ijah," pamit Yoga dengan nada suara yang sangat hangat.
Anindya tersenyum manis, menggenggam tangan Yoga sekilas. "Iya, Mas. Hati-hati di jalan ya. Jangan lupa makan."
Begitu Yoga menginjakkan kaki di rumah kontrakannya di Jakarta, suasana langsung terasa panas. Dinda sudah berdiri di ruang tamu dengan wajah merah padam dan ponsel di tangannya.
"Ooh, jadi ini kelakuan Dokter Yoga Aditama yang terhormat?" bentak Dinda tanpa basa-basi. "Pantas saja kamu jarang pulang! Ternyata kamu asyik bermesraan sama janda lumpuh itu di Bogor! Kamu nggak punya malu ya, Mas? Dia itu istri sahabat kamu sendiri!"
Yoga meletakkan tas kerjanya dengan tenang, lalu menatap Dinda dengan tatapan sedingin es. "Jaga mulutmu, Dinda. Anindya adalah tanggung jawabku karena amanah Arka. Dan setidaknya, dia wanita terhormat, bukan wanita yang hobi menjual harga dirinya di apartemen laki-laki lain."
"Jangan mengalihkan pembicaraan! Aku punya foto kamu sama dia di rumah asri itu! Aku bisa adukan ini ke Papa! Kamu bakal didepak dari rumah sakit dan karirmu hancur!" ancam Dinda histeris.
Yoga melangkah maju, memangkas jarak hingga Dinda terpojok ke dinding. Ia mengeluarkan ponselnya dan membuka sebuah folder video.
"Adukan saja. Silakan telepon Papa kamu sekarang," tantang Yoga dengan suara rendah yang mengancam. "Tapi sebelum kamu menekan tombol panggil, lihat ini baik-baik. Ini video kamu dan Kenji semalam. Dan ini... daftar mutasi rekening yang kamu pakai untuk bayar sewa apartemennya."
Dinda tertegun, wajahnya pucat pasi melihat rekaman itu. Namun, rasa egonya masih tinggi. "Itu... itu cuma teman! Kamu jangan memfitnah!"
"Teman yang tidur satu ranjang? Jangan konyol!" Yoga membentak, membuat Dinda terlonjak. "Kita ini sama-sama memegang kartu mati. Kamu tutup mulut soal Anindya, atau aku hancurkan namamu dan kekasihmu itu sampai kalian tidak punya tempat lagi di negara ini!"
"Kamu jahat, Yoga! Kamu laki-laki dingin yang nggak punya perasaan!" Dinda berteriak sambil melempar vas bunga di dekatnya ke lantai hingga hancur berkeping-keping.
"Aku dingin karena wanita sepertimu tidak layak mendapatkan kehangatanku!" balas Yoga telak. "Ingat, lima miliar lagi. Begitu uang itu terkumpul, aku akan melemparkan surat cerai ke wajahmu dan kamu bebas pergi dengan Kenji-mu yang tidak berguna itu!"
Keduanya saling menatap dengan penuh kebencian. Tidak ada lagi sisa-sisa kesopanan di antara mereka. Rumah minimalis itu kini benar-benar menjadi medan perang. Yoga kemudian melangkah masuk ke kamarnya dan membanting pintu dengan keras, meninggalkan Dinda yang menangis karena marah dan takut rahasianya terbongkar sebelum ia sempat menghancurkan Yoga.