Setelah Addam mendapat pesan aneh dari sahabat Astrid–adik tirinya, Addam memutuskan untuk mencari tahu kejadian sebenarnya yang dialami oleh adiknya itu.
Untungnya Addam tidak sendirian. Dalam upayanya menjalankan rencananya, Addam ditemani dan diberi bantuan oleh Naya, sahabat Astrid yang mengabarinya pesan aneh itu. Bukan hanya mereka berdua, seorang teman Addam yang bernama Mahesa juga ikut membantu mereka mencari Astrid.
Langkah demi langkah sulit harus ditempuh oleh Addam, Naya, dan Mahesa hingga mereka menemukan kebenaran yang tak pernah mereka duga.
Akankah mereka semua pada akhirnya bisa menemukan Astrid setelah banyak jalan dan rintangan yang dilalui?
Apa yang sebenarnya terjadi pada Astrid?
Bagaimana mereka menjalani kembali hari-hari mereka setelah kejadian besar itu terungkap?
🍀🍀🍀
Cerita ini fiksi. Jika terdapat kemiripan nama, lokasi, ataupun peristiwa dalam cerita, mohon dimaafkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rin Arunika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Rapat
Suara kunci pintu terbuka. Jam yang menggantung di dinding menunjuk angka 23.12. Hampir tengah malam. Astrid bisa menebak siapa orang yang datang ke ruangan itu.
“Selamat malam, kelinci kecilku…” suara seorang pria.
Alih-alih terdengar hangat dan akrab, Astrid justru dibuat ketakutan karena ia hapal betul sosok pemilik suara itu.
Astrid memang berada di ruangan yang jauh lebih rapi, terang, dan dingin. Tapi kenyataan yang indah dipandang itu tak serta merta menghilangkan gejolak dalam dada Astrid. Ia justru merasa semakin resah dan gelisah. Astrid bahkan mengunci dirinya di kamar mandi sejak tadi sore. Ketakutannya akan kemunculan sosok itu benar-benar telah menguasai pikirannya.
“Astrid…? Di mana kamu…?”
Dari dalam kamar mandi, Astrid bisa mendengar gema suara pria itu semakin mendekat.
“Pintunya sudah dikunci, harusnya aku aman di sini…” gumamnya pelan. Astrid melirik gagang pintu.
“Kamu sembunyi dariku, kelinci kecil?”
“Sial*an. Omongannya semakin membuatku jengkel!” maki Astrid nyaris tanpa suara.
“Baiklah, baiklah. Aku paham. Kamu mungkin masih perlu beradaptasi dengan tempat barumu. Kalau begitu, selamat malam…” kata pria itu.
Mencurigakan.
Selanjutnya, Astrid mendengar suara pintu kamar tertutup. Hening.
“Apa orang itu pergi dari sini?” gumam Astrid. Saat itu ia memutuskan untuk menunggu lebih lama sampai hatinya merasa yakin.
Dan ketika pintu kamar mandi dibuka, Astrid benar-benar tidak melihat keberadaan pria yang tadi memanggilnya. Tidak ada siapapun. Hanya ada ruangan dingin yang sepi dan dua mesin diffuser yang menyala di atas nakas, di sebelah kanan dan kiri tempat tidur.
Astrid melangkahkan kakinya perlahan. Dengan sedikit keberanian yang masih tersisa dalam hatinya, ia mencoba mengatur nafas dan mengatur isi kepalanya.
Sayangnya. Saat itu Astrid tidak tahu bahwa pria itu tak benar-benar meninggalkannya dengan tenang. Sebelum keluar, ia memasukkan sebotol zat asing ke dalam alat diffuser.
Kedamaian semu itu sejatinya hanyalah perangkap yang digunakan untuk terus memastikan Astrid tetap dalam kendalinya.
Tak butuh waktu lama, Astrid merasa dirinya sangat mengantuk ketika ia duduk di tepi tempat tidur. Rasa kantuk itu terlalu kuat sehingga ia akhirnya jatuh terlelap.
#
Sebelumnya, Naya selalu berpikir untuk terus terlibat dalam misi pencarian Astrid. Mumpung di tempat kerja sedang diberlakukan kebijakan WFH, pikirnya dulu. Sayangnya, jadwalnya bergeser karena perintah yang katanya mendesak.
‘Yah… Mau gimana lagi? Disuruhnya begitu…’ Naya mengawali pagi dengan segenap kepasrahan.
Tiba di kantornya, Naya terlihat telah lebih baik dari kemarin. Meski mendung di wajahnya tak bisa ia sembunyikan, tapi badai besar yang kemarin menghadang tampaknya telah pergi.
“Nay. Nanti bareng yuk ke ruang meeting!” ajak Annie, atau akrab dipanggil Ann.
“Boleh, Ann. Jam berapa, sih? Aku lupa deh,” balas Naya.
“Jam setengah sepuluh…”
“Oh. Oke…”
“Nay, tahu gak? Katanya dia lulusan Aussie, lho!” Annie cengengesan.
“Iya kah? Wah… Jangan kasih kendor, Ann. Pepet terus…” timpal Naya.
“Kamu belom lihat orangnya, ya? Ganteng tahu, Nay! Tapi ya emang bukan tipe kamu, sih.”
Naya mendengus. “Emang kamu tahu tipe aku yang kayak gimana?”
“Tahu banget. Tipe kamu yang gak bisa digapai, Nay. Tiap hari yang diceritainnya cowok k-pop, cowok kartun. Ya… Cowok-cowok yang gak tahu kamu hidup, Nay.” Annie memijat keningnya lalu tertawa kencang.
Di sisi lain ada Naya yang hanya bisa cemberut. Ia tak bisa menyangkal karena apa yang Annie katakan memang ada benarnya, pikir Naya saat itu.
#
Di lain tempat, Addam tampak kelimpungan melihat isi kamarnya yang sudah seperti kapal pecah.
Sepulang dari pertemuan mereka semalam, Addam tak bisa tidur nyenyak setelah mendengar penuturan yang Mahesa ungkapkan.
Hingga matahari telah terbit sempurna, Addam baru melaksanakan niatnya yang tak bisa ia lakukan tadi malam. Pria itu dirundung rasa penasaran tentang kemungkinan adanya alat penyadap atau kamera tersembunyi. Seluruh sudut ruangan itu ia sisir dan tak ada sejengkal area pun yang terlewat.
Tapi hasilnya nihil. Ia tak menemukan apapun. Entah karena memang ruangan di sana ‘bersih’ atau orang itu memang terlalu pandai, Addam akhirnya menyerah. Saat itu Addam memilih opsi terakhir untuk tidak membicarakan hal-hal tentang rencana mereka di sekitar tempat tinggalnya.
Ditengah kekacauan itu, ponsel Addam terdengar berbunyi sebentar. Sebuah pesan masuk. Ia segera merogoh ponselnya dan membuka pesan itu.
Akun anonim itu lagi.
1111worst || hei aku baru sadar, adikmu ini ternyata sangat cantik…
Sebuah pesan foto juga Addam terima.
Seketika itu juga darahnya langsung mendidih. Betapa tidak, akun itu mengirim potret Astrid yang tengah terlelap, tubuhnya terlentang, kedua tangan terlipat di atas perut, seperti putri tidur. Satu hal yang Addam sadari, Astrid memakai riasan yang cukup tebal. Bukan gaya Astrid, pikirnya.
Dan gaun putih yang dipakai Astrid… Addam tidak yakin ia pernah melihat Astrid pernah memakai gaun seperti itu.
Jemarinya bergerak cepat membalas pesan itu.
"Kalau kamu punya masalah denganku, temui aku. Selesaikan semuanya denganku. Jangan libatkan adikku!!!"
Tapi pesan yang Addam kirimkan tak kunjung juga mendapat balasan. Karena terlampau geram, Addam meraih sembarang benda yang dilihatnya dan membantingnya dengan keras.
BRAK!
Botol kaca berisi parfum itu hancur berkeping-keping, sama dengan perasan Addam. Kala itu Ia benar-benar frustrasi ketika melihat foto yang baru saja diterimanya.
Dari pesan itu, Addam beralih menuju kontak dan mencari nomor Mahesa. Dengan hati yang diliputi perasaan gundah, Addam menunggu Mahesa menjawab panggilannya.
“Sa?! Sibuk gak?” tanya Addam segera.
Di tempat lain, Mahesa tengah menatap komputer di meja kerjanya dengan raut wajah tegang.
Mehesa: “Kenapa, Dam?”
Addam: “Gue barusan dapet DM lagi dari akun itu. Gue takut banget. Lo bisa tolong lacak lokasi sinyalnya, gak, Sa?”
Mahesa: “DM apa lagi, Dam? Nanti gue coba tanya tim IT”
Addam: “Gue udah kirim ke lo ya. Gue minta tolong banget ke lo…”
Mahesa: “Oke, Dam. Tapi gue gak janji hasilnya bakal cepet…”
Addam: “Iya, Sa. Gak apa-apa. Gue udah bersyukur banget lo mau bantuin gue...”
Mahesa: “Santai aja, Dam. Nanti gue kabarin lagi,”
Addam: “Sip, sip. Thank you”
Addam lalu memutus sambungan telpon itu. Isi kepalanya saat itu masih sangat kusut. Namun meski begitu, hal itu tak serta merta membuat Addam terpuruk dan hilang arah. Ia memilih untuk lanjut merapikan tempat tinggal sederhananya.
#
Seperti yang dikatakan oleh Annie, ia mengajak Naya untuk pergi ke ruang meeting beberapa menit sebelum waktu yang ditentukan.
“Ayo, Nay. Kita gak boleh telat,” kata Annie semangat.
Naya mengangguk pelan. “Iya, ayo…”
Kedua wanita itu lalu berjalan ke ruangan yang berada di sebrang ruang kerja mereka.
“Kita mau ngapain sih, Ann?” tanya Naya setelah ia duduk di sebelah Annie.
“Mmm… Katanya sih kita cuma nonton mereka presentasi. Yah, formalitas aja, Nay. Orang baru yang kemarin aku ceritain itu, dia itu pengen semua kepala divisi presentasi soal prospeknya masing-masing…”
“Oh iya, dia kan manajer umum ya? Pantes lah dia langsung pengen tahu semuanya, gak pake ba-bi-bu. Tapi gak expect caranya bakal begini, Ann. Biasanya kan mereka ya cuma mengalir ngikutin arus…” balas Naya dengan raut wajah yang datar.
“Betul, Nay. Jujur gue baru nemu orang kayak gitu.” Annie menyilangkan tangan di dada.
Berbeda dengan Annie yang tampak begitu bersemangat, Naya terlihat lebih banyak diam dan tampak sering melamun.
Beberapa menit setelahnya, ruangan itu menjadi semakin penuh dengan kehadiran sejumlah banyak orang.
“Nay. Nay…” Annie menyikut Naya. “Tuh! Si ganteng…!”
“Yang mana, sih?” Naya menyipitkan matanya.
“Itu yang pake kemeja abu-abu…!” sahut Annie.
Seketika itu kedua mata Naya membulat. Ia seperti tak percaya dengan apa yang tengah dilihatnya.
Irvan?! batin Naya.
“Ann. Tadi siapa deh namanya?”
“Nama dia Alden, Nay.”
“Alden?” kedua alis Naya tertaut.
“Heem. Alden William.” Annie menganggukkan kepalanya dengan cepat. “Ganteng, kan?”
‘I-ini… Gak mungkin…’ Naya terdiam seribu bahasa. Naya akui, pria itu memang tampan. Tapi rasa terkejutnya muncul bukan karena hal itu. Saat itu Naya sangat heran karena pria bernama Alden itu memiliki wajah dan perawakan yang mirip seperti Irvan. Sosok yang sempat dicarinya beberapa waktu lalu.
Naya tak henti-hentinya berpikir bahwa jika ini adalah sebuah kebetulan, maka hal ini adalah kebetulan yang terlalu cepat terjadi.
‘Aku jadi penasaran, kita semua belum selidiki kejelasan berita meninggalnya Irvan…’
Naya mematri ingatan itu dalam memorinya. Sekarang, Ia harus bersikap sewajarnya staf kantor yang sedang mengikuti rapat. Rasa curiganya tak boleh terlalu mudah dilihat.