NovelToon NovelToon
Silk&Steel: Cinta Dalam Kontrak Berbahaya

Silk&Steel: Cinta Dalam Kontrak Berbahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Psikopat / CEO / Romantis / Mafia / Romansa / Nikah Kontrak
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Cerrys_Aram

Elara Vance mengira hidupnya di London akan tenang setelah lulus kuliah seni. Namun, satu kesepakatan rahasia ayahnya menyeret Elara ke dunia Julian Moretti—pengusaha muda dengan pengaruh luar biasa yang gerak-geriknya selalu dipenuhi misteri. Demi melindungi keluarganya, Elara setuju untuk masuk ke dalam sebuah pernikahan kontrak.

​Julian itu dingin dan penuh kendali, namun ia memiliki satu aturan: tidak boleh ada yang menyentuh Elara selain dirinya. Di balik kemewahan mansion Moretti, Elara harus mencari tahu siapa pria itu sebenarnya, sambil menyembunyikan cincin rahasia di jarinya yang menjadi tanda bahwa ia adalah milik sang penguasa bayangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerrys_Aram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: HANTU DI ANTARA CAHAYA NEON

Dinginnya malam London menghantam kulit Elara seperti ribuan jarum es. Ia mendarat di atas tumpukan kantong sampah di gang sempit di balik pagar mansion, rasa sakit menjalar dari pergelangan kakinya, tapi adrenalin membungkam rasa nyeri itu.

Ia tidak menoleh ke belakang. Ia tahu di balik tembok tinggi itu, dua predator sedang memperebutkan jejaknya.

Elara berlari keluar menuju jalan raya. Lampu jalanan Mayfair yang kuning temaram terasa terlalu terang, terlalu mengekspos dirinya. Ia harus menghilang. Ia harus menjadi bagian dari kerumunan, meskipun pukul tiga dini hari London tidak memberikan banyak pilihan keramaian.

Ia menyusup ke arah Piccadilly Circus. Di sana, setidaknya masih ada sisa-sisa kehidupan malam—turis yang mabuk, pekerja shift malam, dan para tunawisma yang berlindung di bawah etalase toko mewah.

"Sinyalnya berhenti di saluran pembuangan sayap timur," suara Marcus terdengar melalui earpiece Julian. "Dia menempelkan cincin itu pada seekor tikus, Tuan."

Julian berdiri di balkon tempat Elara melompat, menatap kegelapan di luar pagar. Ia tidak marah. Ada sesuatu yang lebih tajam dari kemarahan yang mengiris dadanya: rasa kehilangan kendali.

"Dia tidak punya uang. Tidak punya identitas. Dan dia terluka," ucap Julian, suaranya rendah namun bergetar karena intensitas. "Aktifkan pengenalan wajah di seluruh jaringan CCTV privat kita. Cari wanita dengan jubah tidur hitam dan gerakan yang tidak sinkron dengan pejalan kaki lain."

"Julian," suara Silas menyela dari belakang, nada bicaranya santai seolah mereka sedang berburu burung unta. "Dewan tidak akan senang jika 'aset' ini berkeliaran di publik tanpa pengawasan. Jika orang-orangku menemukannya lebih dulu, aku tidak menjamin dia akan kembali dalam keadaan utuh."

Julian berbalik, matanya berkilat berbahaya. "Jika satu helai rambutnya jatuh karena orang-orangmu, Silas... aku akan memastikan proyek Silk & Steel berakhir dengan namamu sebagai korban pertama."

Julian melompat turun dari balkon tanpa menggunakan tangga, mendarat dengan gerakan atletis yang sempurna, dan langsung menuju mobil hitamnya yang sudah menunggu.

Elara merapatkan potongan jubah sutranya. Ia terlihat seperti korban perampokan atau orang gila di mata orang lewat. Ia harus berganti pakaian.

Ia melihat sebuah toko pakaian bekas yang memiliki boks donasi di bagian belakangnya. Dengan tangan gemetar, ia membongkar boks tersebut, menarik keluar sebuah hoodie kebesaran berwarna abu-abu dan celana training yang kotor.

Saat ia mengganti pakaian di balik bayang-bayang toko, ia merasakan sensasi panas di tengkuknya. Denyutannya semakin kuat.

Apakah chip ini bereaksi karena aku menjauh dari Julian? Ataukah mereka sedang mencoba mengaktifkannya dari jauh?

Tiba-tiba, sebuah mobil SUV hitam dengan kaca gelap melambat di jalanan tepat di depan gangnya. Jantung Elara berhenti berdetak. Itu bukan mobil Julian. Mobil Julian selalu mengkilap dan elegan; mobil ini terlihat tangguh, fungsional, dan mematikan. Orang-orang Silas.

Elara menarik tudung hoodie-nya rendah-rendah. Ia berjalan cepat menuju arah stasiun bawah tanah yang baru saja dibuka.

30 menit. Itu waktu yang ia miliki sebelum seluruh London menjadi penjara raksasa baginya. Tanpa cincin, ia tidak bisa menggunakan kartu kredit atau ponselnya. Ia benar-benar sendirian.

Di tengah keputusasaannya, ia melihat sebuah telepon umum tua yang jarang digunakan. Elara teringat satu nomor. Bukan nomor ayahnya, bukan nomor kantor Julian. Tapi nomor yang tertera di kartu nama yang pernah ia temukan di saku jas Julian beberapa minggu lalu—nomor seorang jurnalis investigasi yang sedang menyelidiki Moretti.

Ia memasukkan koin terakhir yang ia temukan di saku celana donasi tersebut.

Tut... tut...

"Halo?" suara pria di ujung telepon terdengar curiga.

"Namaku Elara," bisik Elara, suaranya serak. "Aku adalah alasan kenapa kau mencari Moretti. Aku di stasiun Green Park. Tolong... mereka akan membunuhku."

Baru saja ia akan menutup telepon, sebuah tangan besar membekap mulutnya dari belakang. Telepon terjatuh, menggantung di kabelnya yang bergoyang.

Elara meronta, mencoba menggunakan gunting kecil yang masih ia simpan, namun penyerangnya jauh lebih kuat. Ia ditarik masuk ke dalam kegelapan lorong stasiun yang sepi.

"Tenang, Nona Moretti," bisik suara itu.

Elara mematung. Itu bukan suara Julian. Bukan suara Silas.

Itu adalah suara pria misterius dari pesta semalam. Pria dengan bekas luka di alisnya.

"Aku sudah bilang, kan? Cincin itu bukan satu-satunya cara mereka melacakmu. Kau adalah mercusuar berjalan bagi siapa pun yang punya frekuensi biometrikmu," pria itu melepaskan bekapannya, namun tetap menjaga jarak dekat. "Julian sedang menutup seluruh distrik ini. Jika kau tidak ikut denganku sekarang, kau akan kembali ke sangkar itu sebelum matahari terbit."

"Kenapa kau membantuku?" tanya Elara waspada.

Pria itu tersenyum tipis, matanya melirik ke arah pintu masuk stasiun di mana lampu strobo mobil polisi (atau mobil Moretti yang menyamar) mulai terlihat.

"Karena aku ingin menghancurkan Moretti, dan kau adalah satu-satunya orang yang memegang hulu ledaknya di dalam kepalamu. Ayo, kita harus hilang sebelum Julian menyadari bahwa dia bukan lagi satu-satunya pemain di kota ini."

1
YuWie
wis pasraho wae elara..
YuWie
hmm latar cerita luar negri ya
Cerrys_Aram: Iya, tadinya konsepnya Indo. Tapi setelah dipikir lagi, konflik dan karakternya lebih cocok kalau latarnya luar negeri.
total 1 replies
YuWie
mulai baca
Arifinnur12
Keren sih iniiiii
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!