Setelah enam tahun tak bertemu, Senja kembali bertemu mantan kekasihnya Arsean.
Pertemuan kembali mereka, mengingatkan luka dan rasa sakit pada dirinya Senja.
Karena di saat itu dia tengah hamil anaknya Sean, namun Sean tak tau. Kedua orang tua Sean pun seolah bungkam dan menginginkan anak dalam kandungannya Senja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tika Despita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Izinkan Aku Memeluk Angkasa
Selesai mengantar Rea, tanpa sadar Sean mengendarai mobilnya menuju warung makan buk Asni.Dia keluar dari mobil dan bisa melihat dari depan warung makan buk Asni, Senja sedang merayakan ulangtahunnya Angkasa secara sederhana.
"Selamat ulangtahun, anakku." lirih Sean dalam hati tak ingin menghampiri.
Siapa sangka kehadiran Sean disadari Angkasa.
"Buk.. Itu Ian temannya ibuk!" tunjuk Angkasa ke arah Sean yang berdiri di dekat mobilnya.
"Teman?" Senja mengerutkan keningnya menatap Sean.
"Angkasa, siapa yang bilang kalau dia temannya, ibuk?" Senja menatap anaknya.
"Om itu yang bilang sendiri kemaren buk." jujur Angkasa.
"Kamu main dulu di dalam sama Nini ya! Ibuk mau bicara sama dia dulu."
Angkasa mengangguk dan menyusul buk Asni ke dalam warung.
-
-
"Senja." Ucap Sean saat menyadari Senja menghampirinya.
" Ada keperluan apa pak Sean datang malam-malam begini ke tempat saya?"
"Senja, di luar kantor kamu gak perlu panggil aku pak Sean. Kamu bisa memanggil aku Sean, seperti biasa."
"Aku tak bermaksud mengganggu kamu, tapi entah mengapa tanpa sadar aku menyetir ke sini."
" Sean, udah aku bilang jangan katakan apapun pada Angkasa. Jangan buat dia bingung dengan kehadiran kamu!" tegas Senja.
"Aku tau Senja. Cuma aku tak bisa mengabaikan ini semua.Dia darah dagingku, dan naluri aku sebagai ayahnya tentu ada."
"Itu bagi kamu! Baginya, ayahnya sudah mati!"
"Senja, aku mohon jangan halangi aku bertemu dengan Angkasa. Izinkan aku bertemu dengannya dan izinkan aku memeluk Angkasa!"
Senja hanya diam dan tak menanggapi. Baginya kehadiran Angkasa hanya akan menganggu kehidupannya dengan Angkasa. Meski tak bisa dipungkiri, kalau Sean ayah kandungnya.
" Apa harus sejauh ini, Senja? "
" Apanya? "Tanya Senja balik.
" Jarak diantara kita! "
" Benar.. jarak kita memang sudah jauh! "
"Mengapa? Bukankah aku gak salah sama kamu? Bukankah aku selama ini terus mencari dan menunggu kamu! lantas mengapa kamu memberi jarak begitu jauh diantara kita?"
" Ini sudah enam tahun berlalu Sean. Aku bukan Senja yang dulu lagi dan kamu bukan Sean yang dulu lagi. Meski kamu menunggu dan mencari aku selama ini tak akan mengubah fakta, bahwa kita akan menjadi dua orang asing! "Senja menatap Sean serius.
"Aku sudah melepaskan kamu, Sean!Jangan mengatakan apapun lagi saat ini selain kata maaf!Karena aku takut,kenangan masa lalu yang terus kamu katakan hanya akan membuat aku semakin membenci kamu dan keluarga kamu! Aku sudah berbeda.Aku bukan Senja yang dulu lagi!Aku bukan Senja yang mencintai kamu dan memberikan semua hal kepada kamu! Jadi mari bantu aku melupakan itu semua!" ucap Senja ingin pergi.
Sean menahan lengan Senja.
"Kamu tahu Senja, rasanya begitu sakit saat mengetahui begitu jauh jarak diantara kita saat ini. Ada banyak yang hilang selama ini dalam diriku. Tapi aku sadar, cara bicaramu sekarang memang bukan Senja yang dulu lagi dan itu cukup menampar diriku agar sadar!" ucap Sean dengan mata berkaca-kaca.
" BETUL!! Jadi aku mohon jangan katakan apapun lagi tentang masa lalu kita. Hargai kekasihmu, Rea!"
" Aku yakin jadi dia akan sakit hati, saat mengetahui kekasihnya pergi menemui mantannya!"
" Hmmm. "Sean mengangguk.
" Dan untuk Angkasa,jangan temui dia lagi!"
" Senja ...aku mohon untuk kali ini saja,biarkan aku memeluknya!"Sean mengatupkan kedua telapak tangannya memohon.
" Ibuk!"Angkasa berlari menghampiri mereka.
" Kamu ngapain ke sini?"Tanya Senja.
" Angkasa mau pulang. Angkasa udah ngantuk."
" Yaudah, ayo kita pulang!" Senja menggenggam tangan kecil bocah tersebut.
"Tapi om tampannya?" Angkasa menatap Sean.
" Om pasti kangen anaknya ya? Sini Angkasa peluk!"Ucap Angkasa melepaskan tangan Senja dan menghampiri Sean.
Sean berjongkok dan memeluk Angkasa erat.
" Om jangan sedih-sedih. Kata ibuk kalau kita sedih memikirkan orang yang telah tiada hanya akan membuat orang tersebut tambah menderita di alam sana."
"Iya nak..Om gak akan sedih lagi!" Sean menatap wajah Angkasa lekat sambil memegang lembut pipi kecil anak tersebut.
" Kamu harus tumbuh menjadi anak hebat. Kamu harus selalu lindungi ibuk kamu ya! Karena om tau,hanya kamu yang dia miliki saat ini!"
"Ayo Angkasa!" Ajak Senja.
"Angkasa pulang dulu, om. Selamat malam."
Sean hanya bisa mengangguk sambil melihat Senja dan Angkasa berjalan menjauh darinya.
"Andai, aku lebih cepat tau semuanya,pasti akan ada aku di sisi kalian saat berjalan seperti ini." lirih Sean dalam hati yang harus berlapang dada menerima semuanya.
***
Pagi-pagi sekali Senja sudah tiba di kantor. Hal yang pertama dia lakukan adalah mencari dompetnya.Dia yakin kalau dompetnya terjatuh di dekat meja kerjanya. Namun setelah dia cari, malah tak menemukan apapun.
" Senja, kamu lagi cari apa?"Mbak Nia yang baru datang malah heran melihat Senja.
"Dompet aku, mbak. Kayaknya jatuh di sini kemaren."
"Kamu yakin?"
"Iya, karena dari sini aku langsung ke toko kue, dan saat mau bayar malah gak ada dompetnya ."
" Yaudah nanti aku coba tanya sama OB, mana tau ada yang menemukannya. "
"Terimakasih mbak!"
"Iya, sama-sama." Jawab Nia menuju meja kerjanya.
Meski masih kepikiran soal dompetnya, Senja tetap fokus pada pekerjaannya. Dia tak ingin nanti Dirgantara memarahinya lagi. Dia memeriksa setiap inci laporan yang dia buat agar tak ada kesalahan sedikit pun.
" Akhirnya selesai juga! "Senja bernafas lega setelah menyelesaikan laporan yang disuruh direvisi Dirgantara kemaren.
Sayangnya Dirgantara belum datang, sehingga laporannya masih belum di periksa, padahal laporan ini siang ini harus dibawa.
" Gimana ini, pak Dirgantara gak datang dan gak kasih kabar. "Ucap pak Rudi panik.
" Emangnya harus banget dia tanda tangan ya pak? Gak bisa gitu di gantiin yang lain?" Tanya Senja polos.
"Gak bisa Senja. Di sini kan jelas tertera namanya." Jawab pak Rudi.
"Jadi kita harus gimana?"
"Aku coba hubungi pak Dirgantara dulu!" ucap pak Rudi masuk ke ruangannya untuk menelpon Dirgantara.
Tak lama kemudian Pak Rudi kembali keluar dan menghampiri Senja.
"Senja.." Pak Rudi terlihat sedikit ragu.
"Iya pak." Jawab Senja.
"Pak Dirgantara ada keperluan mendadak jadi dia gak bisa datang. Dia minta tolong kamu saja yang antarkan laporannya ke dia! "
" Mengapa dia mintanya saya, pak? " Jelas Senja terkejut.
" Saya juga gak paham."
" Tapi ini kepepet banget Senja, aku mohon kamu mau ya!"
" Baiklah pak. "Senja akhirnya setuju meski sebenarnya berat.
" Kamu bawa laporan ini ke hotel Nuansa. Pak Dirgantara sudah menunggu di lobby nya kok!"
"Baik pak!" Angguk Senja.
Senja akhirnya pergi ke hotel tersebut dan mencari keberadaan Dirgantara di lobby, namun dia malah tak menemukannya. Dia pun semakin bingung, karena lupa meminta nomor telfon Dirgantara ke pak Rudi.
" Senja!" panggil Dirgantara dengan sorot mata dingin.
" P-pak Dirgantara? " Jawab Senja bingung karena Dirgantara sedang bersama seorang wanita cantik.
" Dia siapa Dirgantara? "Tanya wanita disampingnya tak suka.
" Kekasihku! Yang aku ceritakan tadi!" Dirgantara merangkul Senja mendekatkan tubuhnya ke tubuh Senja.
" Hah? "Senja membulatkan matanya tak percaya dengan ucapan Dirgantara barusan.