"Aku tidak membelimu untuk dicintai. Aku membelimu untuk menghancurkan ayahmu."
Aria Vane hanyalah tumbal. Dijual oleh ayahnya sendiri untuk melunasi utang darah kepada Dante Moretti, pria paling kejam yang pernah memimpin sindikat Milan.
Dante tidak butuh istri. Dia butuh senjata.
Aria tidak butuh perlindungan. Dia butuh balas dendam.
Di atas ranjang yang sama, mereka saling mengincar nyawa. Namun, saat rahasia masa lalu mulai terkuak, Aria menyadari bahwa sang Iblis yang menikahinya adalah satu-satunya peluru yang ia miliki untuk bertahan hidup.
Satu pernikahan. Dua pengkhianatan. Ribuan peluru yang mengintai.
Di dunia Moretti, hanya ada satu aturan: Jangan jatuh cinta, atau kau akan menjadi orang pertama yang mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Coldmaniac, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Isola di Sangue (Pulau Darah)
ANGIN malam di lepas pantai Bonifacio meraung seperti serigala yang sedang sekarat, membawa butiran air garam yang perih saat menyentuh kulit. Di dermaga belakang vila yang tersembunyi, sebuah helikopter sipil tanpa tanda pengenal sedang memutar baling-balingnya dengan suara rendah yang menggetarkan udara.
Aria Moretti berdiri tegak, namun tangannya mencengkeram erat bahu Agostino. Di depan mereka, seorang perawat sedang memangku Letizia yang masih terlelap dalam balutan selimut kasmir tebal. Wajah mungil itu tampak begitu damai, sama sekali tidak menyadari bahwa ia adalah pusat dari badai yang siap menelan seluruh Eropa.
"Agostino," suara Aria bergetar, namun matanya tetap kering. "Jika sesuatu terjadi di pulau itu... jika kami tidak mengirimkan kode hijau dalam dua puluh empat jam, kau tahu apa yang harus dilakukan."
Agostino, pria tua yang telah melayani tiga generasi Moretti, menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Dia akan menghilang, Nyonya. Dia akan tumbuh sebagai warga negara Swiss yang biasa, tanpa nama belakang yang berat, dan tanpa ingatan tentang darah. Saya bersumpah demi makam leluhur saya."
Dante melangkah maju dari bayang-bayang. Ia tidak mengenakan rompi taktis saat ini, hanya kemeja hitam yang lengannya digulung. Ia membungkuk, mencium kening putrinya untuk terakhir kalinya. Getaran di bibir Dante memperlihatkan betapa hancurnya pria itu harus melepas anaknya, namun ia tahu bahwa keberadaan Letizia di dekatnya hanya akan menjadi target bagi rudal-rudal Valerio.
"Pergilah," perintah Dante, suaranya seperti geraman rendah.
Helikopter itu perlahan terangkat, lampunya dimatikan total untuk menghindari deteksi radar musuh. Aria dan Dante berdiri terpaku menatap titik hitam yang menghilang di balik awan gelap pegunungan Corsica. Keheningan yang menyusul setelahnya terasa lebih berat daripada ledakan bom mana pun.
"Kita sudah menjadi orang tua yang mengerikan, Dante," bisik Aria, matanya menatap kekosongan.
Dante melingkarkan lengannya di bahu Aria, menariknya mendekat. "Kita menjadi monster agar dia tidak perlu melihat iblis, Aria. Sekarang, mari kita pastikan tidak ada satu pun dari mereka yang tersisa untuk mengejarnya."
Isola di Sangue: Pukul 01.00 Dini Hari
Tiga puluh mil dari pesisir Corsica terdapat sebuah tonjolan batu karang yang dikenal oleh para nelayan lokal sebagai Isola di Sangue—Pulau Darah. Nama itu berasal dari warna lumut merah yang menutupi tebing-tebingnya, namun malam ini, nama itu akan memiliki arti yang lebih harafiah.
Pulau ini tidak memiliki akses mudah; hanya ada satu celah sempit di bagian selatan yang bisa dilewati perahu motor. Di puncaknya terdapat reruntuhan menara pengawas era Napoleon yang kini telah disulap oleh Marco dan tim Reapers menjadi sarang maut.
Aria duduk di depan monitor pusat komando yang tersembunyi di dalam gua di bawah menara. Cahaya biru dari layar menyinari wajahnya yang kaku. Di sampingnya, Katerina Volkov sedang memeriksa amunisi senapan sniper Dragunov-nya dengan ketenangan yang menakutkan.
"Mereka sudah masuk ke radius lima mil," ucap Aria. "Satu kapal pesiar mewah dikawal oleh dua kapal cepat militer. Valerio dan Viktor benar-benar sombong. Mereka tidak menggunakan taktik siluman."
Dante, yang sedang mengasah pisaunya di sudut ruangan, mendongak. "Keserakahan membuat orang menjadi buta, Aria. Mereka pikir kita terpojok. Mereka pikir 'The Last Key' sudah ada di depan mata."
"Marco, bagaimana posisi tim di perimeter?" tanya Dante melalui radio.
"Posisi hijau, Bos. Ranjau laut sudah aktif di pintu masuk celah. Penembak jitu di menara sudah siap. Begitu mereka mendarat, kita akan mengunci mereka di pantai," jawab Marco.
Dante berdiri, ia mengenakan rompi anti-peluru dan menyampirkan senapan serbu di bahunya. Ia menghampiri Aria, menaruh tangannya di atas tangan istrinya yang sedang mengoperasikan sistem radar.
"Ingat, Aria. Begitu Viktor melangkah ke pantai, kau yang memegang kendali atas drone. Jangan biarkan mereka sempat menarik napas," ucap Dante.
Aria menatap suaminya. "Dan kau?"
"Aku akan turun ke pantai. Aku ingin melihat wajah Valerio saat dia menyadari bahwa dia tidak akan pernah mendapatkan takhta Moretti," Dante mencium kening Aria, lalu ia menghilang ke dalam kegelapan terowongan gua.
Kapal pesiar The Tsarina berhenti di luar jangkauan karang. Tak lama kemudian, beberapa perahu karet bertenaga tinggi meluncur menuju celah selatan pulau. Di perahu terdepan, Valerio Moretti duduk dengan angkuh, mengenakan jas abu-abu perak yang tampak berkilau di bawah cahaya bulan. Di sampingnya, seorang pria bertubuh raksasa dengan tato mawar hitam di lehernya berdiri tegak—Viktor Volkov.
Begitu kaki mereka menyentuh pasir pantai yang dingin, keheningan pulau itu pecah oleh suara langkah kaki sepatu bot militer. Belasan tentara bayaran Bratva berpencar, mengamankan area sekitar dengan senter taktis yang menyambar-nyambar.
"DANTE!" suara Valerio menggelegar, bergema di antara dinding-dinding tebing. "Aku tahu kau ada di sini! Jangan buang waktu kami! Berikan istrimu dan anakmu, dan aku akan membiarkanmu mati dengan kehormatan sebagai seorang Moretti!"
Tidak ada jawaban. Hanya suara ombak yang menghantam karang.
Viktor Volkov melangkah maju, suaranya berat dan penuh ancaman. "Dante! Aku membawa pesan dari Moskow! Jika kau tidak menyerahkan kunci itu sekarang, kami akan meratakan pulau ini dengan rudal jelajah! Kau tidak punya tempat untuk lari!"
Tiba-tiba, sebuah titik merah kecil muncul tepat di dada Valerio.
Valerio membeku. Ia menatap titik laser itu dengan senyum miring yang meremehkan. "Kau pikir aku takut pada penembak jitu, Dante? Aku punya tiga puluh orang di sini, dan ratusan lagi di kapal. Satu tembakan darimu, dan tempat ini akan menjadi kuburan massal."
"Aku tidak butuh tiga puluh orang untuk membunuhmu, Valerio," suara Dante terdengar dari pengeras suara tersembunyi di tebing. "Aku hanya butuh kebenaran."
Seketika, sebuah layar proyektor raksasa menyala di dinding tebing, memproyeksikan video langsung dari kamera drone yang terbang di atas kapal The Tsarina.
Di layar itu, terlihat tim Marco sudah menyusup ke kapal pesiar tersebut dan menahan seluruh staf Valerio serta menyabotase sistem peluncur rudal mereka.
"Kau pikir kau penguasa teknologi?" suara Aria terdengar melalui frekuensi radio yang disadap ke semua earpiece pasukan Bratva. "Kau menggunakan satelit kami, Valerio. Kau menggunakan server Phoenix yang kami buat. Setiap koordinat yang kau miliki adalah palsu."
Viktor Volkov menoleh ke arah Valerio dengan tatapan curiga. "Apa maksudnya ini, Valerio?"
"Jangan dengarkan dia! Dia hanya mencoba memecah belah kita!" teriak Valerio panik.
"Lihat ke bawah, Viktor," lanjut Aria. "Periksa ponselmu. Lihat aliran dana dari rekening Bratva yang baru saja dialihkan ke rekening pribadi Valerio di Cayman. Dia tidak berencana membagi emas itu denganmu. Dia hanya butuh pasukanmu untuk melakukan pekerjaan kotornya."
Viktor merogoh sakunya, melihat pesan teks yang masuk ke ponsel satelitnya. Matanya membelalak saat melihat bukti transfer jutaan Euro yang terjadi hanya beberapa menit yang lalu.
"Kau... kau mencuri dariku?" geram Viktor, ia menodongkan senjatanya ke arah Valerio.
"Ini jebakan, Viktor! Mereka meretas rekeningnya!" Valerio mundur selangkah, tangannya gemetar.
Hujan Api
"Sekarang!" teriak Aria di dalam pusat komando.
Ia menekan tombol eksekusi pada keyboard-nya. Seketika, ranjau-ranjau yang ditanam di bawah pasir pantai meledak secara beruntun.
BOOOOM! BOOOOM! BOOOOM!
Pasir dan api membumbung tinggi ke langit, melemparkan tentara bayaran Bratva ke segala arah. Di tengah kekacauan dan asap yang pekat, Dante muncul dari balik bebatuan seperti dewa kematian. Ia melepaskan tembakan beruntun dengan senapan serbunya, setiap pelurunya menemukan sasaran dengan presisi yang mengerikan.
Aria, melalui monitor drone, mengarahkan tembakan mortir otomatis ke arah perahu-perahu karet musuh, menghancurkan jalan keluar mereka.
"Katerina! Target di sektor dua!" perintah Aria.
Di menara pengawas, Katerina Volkov menarik pelatuknya.
DOR!
Peluru kaliber .50 merobek bahu Viktor Volkov, membuatnya terjatuh ke pasir. Ia meraung kesakitan, mencoba meraih senjatanya, namun Dante sudah berdiri di depannya, menodongkan pistol tepat ke wajahnya.
"Keluarga Volkov seharusnya belajar dari kesalahan ayahmu, Viktor," ucap Dante dingin.
Dante tidak membunuhnya seketika. Ia ingin Viktor melihat kehancuran sekutunya. Ia menoleh ke arah Valerio yang sedang mencoba merangkak menuju celah tebing.
"Mau ke mana, Sepupuku?" tanya Dante.
Valerio berbalik, wajahnya dipenuhi ketakutan dan kebencian. "Kau tidak akan pernah menang, Dante! The Circle akan mengirim orang lain! Kau akan selalu menjadi buronan!"
"Mungkin," jawab Dante sambil melangkah mendekat. "Tapi kau tidak akan ada di sana untuk melihatnya."
Tiba-tiba, dari arah laut, sebuah kilatan cahaya muncul. Sebuah kapal perang besar tanpa bendera mendekat. Itu bukan milik Valerio, dan bukan milik Moretti.
"Bos! Kita punya kontak baru!" teriak Marco melalui radio. "Kapal itu... itu milik Interpol dan unit anti-mafia internasional!"
Aria membeku di depan monitor. "Dante! Kita harus pergi! Mereka melacak sinyal wawancaramu di Roma hingga ke sini! Valerio membocorkan lokasinya sebagai rencana cadangan!"
Dante menatap Valerio yang mulai tertawa gila di tengah luka-lukanya. "Ya... jika aku tidak bisa memilikimu, maka biarkan dunia memilikimu di dalam penjara selamanya, Dante!"
Dante menghadapi pilihan yang mustahil. Jika ia membunuh Valerio sekarang, ia tidak akan sempat melarikan diri sebelum pasukan internasional mendarat. Jika ia lari, Valerio akan memberikan kesaksian yang akan menghancurkan perlindungan saksi Aria.
"Aria! Bawa kapal cepat di gua timur! Pergi sekarang!" teriak Dante melalui radio.
"Tidak tanpa kau, Dante!" jawab Aria, ia mulai menangis.
"Ini perintah, Aria! Pikirkan Letizia! Jika kita berdua tertangkap, dia akan sendirian!"
Dante menarik Valerio berdiri dengan kasar. Ia tidak membunuhnya. Sebaliknya, ia menembak kedua kaki Valerio agar pria itu tidak bisa lari.
"Nikmati waktumu dengan polisi, Valerio. Aku yakin mereka akan sangat tertarik dengan dokumen Phoenix yang baru saja Aria kirimkan ke server mereka atas namamu," bisik Dante.
Dante berlari menuju terowongan gua, mengabaikan tembakan yang mulai berdatangan dari arah kapal perang yang mendekat. Ia harus mencapai Aria.
Di dalam pusat komando, Aria sedang menghancurkan semua hard drive dengan palu besi. Ia mengambil tas berisi dokumen penting dan berlari menuju dermaga bawah tanah tempat perahu motor tercepat mereka menunggu.
Begitu ia sampai di sana, Dante muncul dari kegelapan, nafasnya terengah-engah dan bajunya bersimbah darah musuh.
"Ayo!" Dante melompat ke dalam perahu, menarik Aria masuk.
Mereka meluncur keluar dari gua rahasia tepat saat lampu sorot dari kapal perang internasional menyapu pintu masuk pulau. Perahu motor itu membelah ombak dengan kecepatan maksimal, menuju kegelapan samudera yang luas.
Di belakang mereka, Isola di Sangue perlahan menjauh, diselimuti oleh api dan lampu-lampu biru-merah dari otoritas dunia. Valerio dan Viktor tertinggal di sana, menjadi tumbal bagi kemarahan hukum yang selama ini mereka abaikan.
Dua jam kemudian, di tengah laut Mediterania yang sunyi, perahu itu kehabisan bahan bakar dan mereka terombang-ambing di bawah langit yang mulai memerah karena fajar.
Dante duduk di lantai perahu, menyandarkan kepalanya di bahu Aria. Katerina Volkov dan Marco berada di bagian depan, sedang mencoba menghubungi titik kontak di Tunisia.
"Kita benar-benar tidak punya tempat untuk pulang sekarang, bukan?" tanya Aria pelan, ia membelai tangan Dante yang kini mengenakan kembali cincin gagak Moretti.
"Home is where the heart is, Aria," jawab Dante, ia menatap mata istrinya. "Dan jantungku ada di sini. Dan di Swiss bersama Letizia."
Dante mengambil sebuah ponsel kecil dari saku taktisnya. Ia menekan sebuah kode singkat.
"Agostino? Ini Dante. Bagaimana kondisinya?"
"Dia sudah aman di dalam biara, Tuan. Dia sedang minum susu dan menanyakan 'Papa'. Semuanya aman."
Dante memejamkan matanya, air mata syukur mengalir di wajahnya yang keras. Perang di Pulau Darah telah berakhir, namun sebuah babak baru sebagai pengembara internasional telah dimulai. Mereka telah menghancurkan takhta mereka sendiri untuk menyelamatkan satu nyawa yang paling berarti.
"Aria," panggil Dante.
"Ya?"
"Terima kasih telah menjadi pengantin sang iblis. Aku tidak tahu bagaimana seorang malaikat sepertimu bisa bertahan di neraka bersamaku."
Aria mencium bibir Dante, sebuah ciuman yang terasa asin karena air laut namun manis karena kebebasan. "Karena di neraka pun, selama kau ada di sana, aku merasa seperti di surga."
Di ufuk timur, matahari mulai terbit, menandai awal dari kehidupan mereka sebagai manusia tanpa negara, tanpa nama, namun memiliki segalanya dalam diri satu sama lain.