NovelToon NovelToon
Dark Crown: Devil'S Bride

Dark Crown: Devil'S Bride

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Obsesi / Roman-Angst Mafia / Menikah dengan Musuhku / Kriminal dan Bidadari
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Coldmaniac

‎"Aku tidak membelimu untuk dicintai. Aku membelimu untuk menghancurkan ayahmu."

‎Aria Vane hanyalah tumbal. Dijual oleh ayahnya sendiri untuk melunasi utang darah kepada Dante Moretti, pria paling kejam yang pernah memimpin sindikat Milan.
‎Dante tidak butuh istri. Dia butuh senjata.
‎Aria tidak butuh perlindungan. Dia butuh balas dendam.

‎Di atas ranjang yang sama, mereka saling mengincar nyawa. Namun, saat rahasia masa lalu mulai terkuak, Aria menyadari bahwa sang Iblis yang menikahinya adalah satu-satunya peluru yang ia miliki untuk bertahan hidup.

‎Satu pernikahan. Dua pengkhianatan. Ribuan peluru yang mengintai.

‎Di dunia Moretti, hanya ada satu aturan: Jangan jatuh cinta, atau kau akan menjadi orang pertama yang mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Coldmaniac, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Surat-Surat dari Balik Jeruji

WAKTU di perbukitan Tuscany berjalan sesuai dengan irama alam; lambat, tenang, dan penuh dengan aroma tanah yang basah terkena embun pagi. Namun, bagi Aria Moretti, setiap detik yang berlalu terasa seperti detak jam pasir yang pasirnya terbuat dari logam berat. Sudah dua tahun sejak malam di Teater Roma itu—malam ketika dunianya terbelah menjadi dua: kebebasan untuk dirinya dan rantai besi untuk suaminya.

Aria berdiri di beranda rumah batunya yang kuno, menatap pohon-pohon zaitun yang berbaris rapi di lereng bukit. Di dalam rumah, sayup-sayup terdengar suara tawa kecil Letizia yang sedang bermain dengan Agostino. Putri mereka kini sudah bisa berjalan, dan setiap langkah kecilnya adalah pengingat bagi Aria tentang janji yang ia buat pada Dante.

Ia meraba saku gaun linennya, mengeluarkan sebuah amplop berwarna cokelat kusam yang sudutnya sudah sedikit lecek karena terlalu sering disentuh. Itu adalah surat bulanan dari Dante. Di dalam unit 41-bis, komunikasi sangat dibatasi, namun sebagai bagian dari kesepakatan perlindungan saksi, Aria diizinkan menerima satu surat fisik setiap bulan yang telah disensor ketat oleh pihak berwenang.

Aria membuka surat itu dengan tangan gemetar. Tulisan tangan Dante masih sama—tegas, miring ke kanan, dan penuh dengan kekuatan yang tertahan.

> "Aria, cintaku...

> Di sini, cahaya matahari hanya masuk melalui celah sempit di langit-langit selama lima belas menit setiap siang. Aku menghabiskan waktu itu dengan memejamkan mata, membayangkan kau sedang duduk di bawah pohon zaitun di Tuscany, dengan Letizia yang berlari di sekitarmu. Apakah dia sudah tumbuh tinggi? Apakah matanya masih menyimpan badai abu-abu yang sama denganku?

> Jangan menangis saat membaca ini, cara mia. Penjara ini mungkin mengurung tubuhku, tapi jiwaku tetap berada di sampingmu setiap malam. Aku mendengar kabar dari Marco bahwa kau mulai mengaktifkan kembali yayasan itu di bawah nama baru. Itu bagus. Biarkan dunia melihat cahaya yang kau bawa, sementara aku menanggung kegelapan yang kita tinggalkan.

> Berhati-hatilah. Aku merasakan perubahan suhu di dalam sini. Para penjaga mulai berbisik tentang pergerakan di Rusia dan Amerika. Sepertinya sisa-sisa The Circle sedang mencari pemimpin baru. Jangan pernah lepaskan Beretta perakmu, bahkan saat kau sedang menidurkan putri kita.

> Aku milikmu, selamanya. Sampai napas terakhirku menembus jeruji ini.

> — D."

Aria menekan surat itu ke dadanya, menghirup aroma kertas yang samar-samar masih membawa jejak bau maskulin Dante. Air mata yang selama ini ia tahan akhirnya jatuh juga. Dua tahun. Masih ada delapan tahun lagi sebelum kemungkinan pembebasan bersyarat. Delapan tahun membesarkan anak sendirian di bawah perlindungan polisi federal yang tidak pernah benar-benar ia percayai.

Sore itu, sebuah mobil SUV hitam berhenti di depan gerbang perkebunan Aria. Dua petugas polisi federal yang berjaga segera menghampiri, namun mereka tampak terkejut saat melihat siapa yang keluar dari mobil tersebut.

Aria keluar dari rumah, instingnya langsung waspada. Ia melihat seorang wanita muda dengan pakaian formal yang sangat tajam turun dari mobil. Wanita itu memiliki rambut pirang platinum dan mata biru yang tampak sangat dingin—tipe mata yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang terbiasa melihat darah tanpa berkedip.

"Nyonya Moretti?" wanita itu bertanya dalam bahasa Italia dengan aksen Rusia yang kental.

"Siapa Anda?" Aria berdiri di tangga teras, tangannya masuk ke saku gaunnya, menggenggam gagang pisau lipatnya.

"Nama saya Katerina Volkov. Putri dari Count Volkov yang Anda hancurkan di Roma," wanita itu menjawab dengan nada yang sangat tenang, hampir tanpa emosi.

Aria merasakan hawa dingin merayap di punggungnya. Count Volkov adalah salah satu anggota The Circle yang tewas dalam pembersihan pasca-wawancara Dante. "Jika Anda datang untuk membalas dendam, Anda salah alamat. Polisi federal ada di mana-mana."

Katerina tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak menunjukkan keramahan sama sekali. "Dendam adalah bisnis yang melelahkan, Nyonya Moretti. Saya datang ke sini justru karena kita memiliki musuh yang sama. Seseorang yang baru saja keluar dari bayang-bayang di Moskow dan New York."

Aria menyipitkan matanya. "Maksud Anda?"

"Keluarga Lucchese tidak pernah benar-benar mati. Mereka hanya berganti kulit. Dan sekarang, mereka bergabung dengan sindikat Bratva di Rusia untuk menghidupkan kembali Project Phoenix. Mereka tidak ingin membunuh Dante. Mereka menginginkan sesuatu yang jauh lebih berharga."

Katerina melangkah maju sedikit, mengabaikan tatapan tajam para penjaga. "Mereka menginginkan kode dekripsi terakhir yang Anda simpan. Kode yang bisa membuka akses ke cadangan emas tersembunyi The Circle di bank-bank Zurich. Mereka menyebutnya The Last Key."

Aria terdiam. Ia tahu tentang kode itu. Dante pernah membisikkannya sesaat sebelum ia ditangkap. Itu adalah asuransi terakhir mereka jika pemerintah Italia berkhianat.

"Kenapa Anda memberitahuku hal ini, Katerina?" tanya Aria.

"Karena ayahku dibunuh oleh orang-orang yang sekarang memimpin faksi baru ini. Mereka menganggap ayahku sebagai pengkhianat karena dia sempat ingin bekerja sama dengan Dante di malam terakhir itu. Aku menginginkan kepala mereka, dan Anda menginginkan keselamatan suami Anda."

Katerina mengeluarkan sebuah amplop kecil dari tasnya dan melemparkannya ke arah Aria. "Di dalam sana ada daftar titik pertemuan mereka di Milan minggu depan. Mereka berencana untuk menyusup ke penjara Rebibbia untuk menjemput Dante secara paksa. Bukan untuk membebaskannya, tapi untuk menyiksanya sampai dia memberikan kode itu."

Aria mengambil amplop itu. "Kenapa aku harus percaya pada putri seorang Volkov?"

"Karena jika Anda tidak percaya padaku, dalam tujuh puluh dua jam ke depan, Dante Moretti akan menghilang dari selnya, dan Anda tidak akan pernah melihatnya lagi. Pilihlah, Nyonya Moretti. Menjadi janda yang dilindungi hukum, atau menjadi ratu yang kembali turun ke medan perang."

Katerina berbalik dan masuk ke mobilnya, meninggalkan debu yang berterbangan dan kecemasan yang baru di hati Aria.

Malam itu, Aria tidak bisa makan. Ia menatap Letizia yang sedang tertidur lelap di ranjangnya. Wajah putrinya begitu damai, tidak tahu bahwa dunianya yang rapuh sedang terancam kembali.

Aria mengambil ponsel rahasianya dan menghubungi Marco.

"Marco, kau sudah dengar?"

"Sudah, Nyonya. Intelijenku di jalanan mengonfirmasi pergerakan Bratva di perbatasan Italia Utara. Mereka membawa tentara bayaran dari Serbia. Rebibbia tidak akan aman bagi Dante jika mereka melakukan serangan besar-besaran."

"Kita harus mengeluarkannya lebih cepat," ucap Aria, suaranya kini kembali tajam seperti pedang yang baru diasah.

"Tapi Nyonya, membebaskan narapidana 41-bis adalah mustahil! Itu sama saja dengan perang melawan negara Italia!" Marco terdengar sangat khawatir.

"Kita tidak akan membebaskannya untuk lari, Marco. Kita akan memindahkannya ke fasilitas medis di bawah otoritas kita dengan alasan 'kesehatan yang memburuk' akibat luka lama di Sisilia. Aku sudah menyiapkan dokumen medis palsu melalui Agostino."

Aria berdiri, ia berjalan menuju cermin besar di kamarnya. Ia melepas gaun linennya dan menggantinya dengan setelan kulit hitam yang selama ini ia simpan di dasar koper. Ia melihat pantulannya sendiri. Sosok pengacara yang idealis itu sudah lama mati. Yang tersisa adalah seorang Moretti yang siap melakukan apa pun demi keluarganya.

"Siapkan tim Reapers, Marco. Kita akan pergi ke Roma besok pagi. Dan kali ini, aku tidak akan meminta izin dari Jaksa Agung."

Penjara Rebibbia: Pukul 02.00 Dini Hari (Tiga Hari Kemudian)

Suasana di dalam penjara dengan keamanan maksimum itu terasa sangat berat. Dante Moretti sedang duduk di selnya ketika ia mendengar suara alarm yang sangat rendah—bukan alarm kebakaran, melainkan alarm sistem yang menunjukkan adanya sabotase pada jaringan listrik.

Lampu-lampu di koridor mulai berkedip, lalu mati sepenuhnya.

Tiba-tiba, suara tembakan yang menggunakan peredam suara terdengar dari arah pintu masuk blok isolasi. Dante segera berdiri, insting bertarungnya yang sudah tumpul selama dua tahun kini bangkit kembali dengan ledakan energi yang luar biasa.

Pintu selnya terbuka secara otomatis dengan bunyi klik yang keras.

Sesosok bayangan masuk ke dalam selnya. Dante sudah siap untuk menyerang, namun ia mencium aroma yang sangat ia kenali. Aroma bunga melati dan keberanian.

"Aria?" bisik Dante tak percaya.

"Jangan banyak bicara, Dante. Pakai ini," Aria menyodorkan sebuah rompi taktis dan masker hitam. "Tim penjemput Bratva sudah berada di gerbang luar. Kita harus keluar dari sini sebelum mereka dan polisi federal bertemu di tengah."

Dante menatap istrinya di bawah cahaya lampu darurat yang merah remang. Aria tampak luar biasa dalam pakaian perangnya, dengan Beretta perak yang tersampir di pinggangnya.

"Kau benar-benar datang untukku," Dante tersenyum, sebuah senyuman liar yang menunjukkan bahwa Sang Penjagal telah kembali.

"Aku tidak akan membiarkanmu membusuk di sini sementara musuhmu berpesta, Dante. Sekarang ayo, Marco sudah menunggu di jalur pembuangan."

Mereka berlari melintasi koridor penjara yang kini dipenuhi oleh asap dan suara kekacauan. Di luar, suara ledakan besar terdengar—tim penyerbu Bratva telah memulai serangan mereka ke gerbang utama penjara sebagai pengalih perhatian.

Aria memimpin di depan, bergerak dengan kelincahan yang mengejutkan bagi Dante. Ia melihat Aria melepaskan tembakan presisi ke arah kamera keamanan dan beberapa penjaga yang mencoba menghalangi jalan mereka, namun hanya melukai kaki mereka, bukan membunuh—insting hukumnya masih ada sedikit.

Saat mereka sampai di palka pembuangan, Marco sudah menunggu dengan dua skuter bawah air kecil.

"Bos! Nyonya! Cepat! Polisi federal baru saja mengerahkan unit GIS!" teriak Marco.

Mereka masuk ke dalam air yang dingin dan gelap, menghilang ke dalam sistem drainase Roma yang luas tepat saat pasukan khusus kepolisian menyerbu blok sel Dante.

Dante dan Aria muncul dari air di sebuah pantai pribadi yang tersembunyi di balik tebing batu. Mereka terengah, namun tangan mereka saling menggenggam erat.

Dante menarik Aria ke dalam pelukannya, menciumnya dengan rasa haus yang telah ia simpan selama dua tahun. "Aku merindukanmu, Aria. Aku merindukanmu hingga hampir gila."

Aria menyandarkan kepalanya di dada Dante, mendengarkan detak jantung pria itu yang kuat. "Kita belum aman, Dante. Bratva dan Lucchese masih memburumu. Dan sekarang, kau adalah buronan yang paling dicari oleh negara Italia lagi."

Dante melepaskan pelukannya, menatap cakrawala laut yang mulai berwarna jingga. Ia mengambil cincin gagak dari saku rompi taktis Aria yang ternyata ia bawakan.

"Biarkan mereka mencari," ucap Dante dengan nada yang dingin dan penuh kemenangan. "Mereka pikir mereka bisa menggunakan Project Phoenix untuk mengontrol dunia? Mereka salah. Phoenix sejati tidak bangkit untuk melayani. Ia bangkit untuk membakar."

Dante menoleh ke arah Aria. "Di mana Letizia?"

"Dia aman bersama Agostino di sebuah villa di Corsica. Kita akan menyusul mereka besok."

Dante tersenyum, ia menyampirkan lengannya di bahu Aria. Perjalanan mereka masih sangat jauh, dan tantangan yang mereka hadapi kali ini jauh lebih besar daripada sebelumnya. Namun di bawah sinar matahari pertama yang menyentuh kulit mereka, Aria tahu satu hal.

Selama Dante Moretti berada di sampingnya, tidak ada penjara, tidak ada mafia, dan tidak ada organisasi rahasia yang bisa menghancurkan apa yang mereka miliki.

Perang melawan New Phoenix telah dimulai. Dan kali ini, mereka tidak akan berhenti sampai setiap ranting dari organisasi itu berubah menjadi abu.

1
Nida Saefullah
kerenn....
awesome moment
tekad yg 👍👍👍
awesome moment
👍👍👍
Nida Saefullah
👍💪
fitri ani
luar biasa
Coldmaniac: terima kasihhh
total 1 replies
awesome moment
blm slesekan? kpn lanjutnya?
Coldmaniac: ditunggu yaaaaa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!