Ceni yang tak lama ini baru kehilangan sang sahabat untuk selamanya, kini ia harus menelan pahit nya kehidupan karena harus kehilangan untuk yg ke sekian kali nya yaitu sang kakek tercinta.
Sebelum kematiannya, sang kakek sempat memberikan sebuah giok dan cincin dengan ukiran rumit dan kuno, yg kata nya warisan turun temurun.
Bagaimana kah kisah kelanjutan nya.?
Nantikan kisah Ceni di cerita ini.😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon astiana Cantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenalan Baru
Dari kejauhan Ceni dapat mendengar bisikan orang-orang tapi ia tak menggubris, bukan ia pelit atau sebagainya tapi ia tidak mau hal itu akan membangkitkan sifat-sifat serakah orang, ia tidak tau seperti apa isi dalam hati orang-orang tersebut.
"Nona, lihat lah, apa yang mereka cari hingga berjalan ke kumpulan satu ke kumpulan lain nya.?" Tanya Zeno yang penasaran dengan tingkah orang-orang.
"Mereka mencium aroma makanan enak yang berasal dari sekitar kita, mereka tidak ngeh bahwa harum makanan yang menguap itu berasal dari sini." Ucap Ceni.
"memang nya harum nya seenak itu sehingga membuat mereka penasaran.?" Tanya Zeno.
"Tentu saja, bagi mereka Harum makanan itu sangat menggiurkan, kau saja seperti orang yang tidak makan berhari-hari ketika makan tadi." Ucap Ceni mendelik.
Zeno pun mengerjapkan mata nya lalu mengangkat sedikit gelas Indomie ke hadapan Ceni, lalu Ceni pun mengangguk tanda mengiyakan.
Mata Zeno menoleh liar ke sana kemari dengan secepat kilat ia menghabiskan makanan nya lalu melempar nya ke bara api yang menyala besar itu, dalam sekejap gelas itu habis dimakan api.
"Tau takut." Ucap Ceni cekikikan.
"Bukan takut nona, lebih ke menghindar jadi korban perampokan." Ucap Zeno cengengesan.
"Siapa juga yang mau merampok mu Zen." Ujar Ceni.
"Jangan salah nona, aku saat ini sedang merangkap menjadi toko berjalan, berbagai macam daging, sayuran dan buahan ku bawa ini." Ucap Zeno dengan bangga sambil memainkan cincin giok berwarna merah di jari nya.
"Hah terserahmu lah, besok kita masak itu isi dalam toko mu haha." ucap Ceni tertawa terbahak-bahak.
"Oke oke baiklah, besok kita masak, pagi-pagi sekali aku akan mencari kayu bakar terlebih dahulu." putus Zeno lalu mereka pun merebahkan tubuh mereka berseberangan lalu tertidur di bawah pohon yang menjulang tinggi.
.
.
Keesokan hari nya dan benar saja, ketika Ceni membuka mata nya, Zeno pun baru pulang dengan membawa kayu bakar di pundak nya.
"Kapan kau mencari kayu bakar Zen.?" tanya Ceni.
"Sejak tadi nona, orang-orang bahkan masih tidur, aku sudah berpetualang ke dalam hutan." Ucap Zeno.
ceni mengangguk lalu mengeluarkan air spiritual dari dalam ruang penyimpanan dan mulai membasuh wajah nya agar tak lesu lalu meminum sisa nya agar tubuh nya merasa bugar dan tak kelelahan, Ceni pun tak lupa membagi satu botol yang masih utuh kepada Zeno.
Zeno pun menerima air itu dengan senang hati lalu menenggak nya hingga tandas.
"Nona, air apa sebenarnya yang nona berikan,? Karena setiap aku meminumnya seakan tubuh ku menjadi ringan dan sehat dan aku dapat merasakan bahwa aliran darahku menjadi lancar." Ucap Zeno penasaran.
"Hanya air biasa Zen, jangan banyak berpikir, lebih baik kau keluar kan bahan masakan, biar aku yang masak, kau cukup menyala kan api." Ucap Ceni.
Akhirnya Zeno pun mengalah ia tak lagi bertanya tentang air itu.
Lalu Ceni pun mulai mengeksekusi sayuran dan perdagingan untuk di olah tak lupa menyiapkan perbumbuan yang melimpah di ruang nya sendiri.
Beberapa orang yang baru bangun pun menoleh ke arah dimana Ceni dan Zeno berada.
"Seperti nya mereka sedang masak."
"Iya, apa kita juga akan masak.?"
"Aku tidak punya bahan masakan, mungkin kita bisa mencari buah-buahan di hutan ini."
"Apakah sempat, gak lama lagi kita akan berangkat, tidak mungkin kita terpisah dari rombongan."
"Kau benar."
"Ibu, aku lapar."
"Ibu apakah jie jie dan Gege itu sedang masak.?"
"Iya, mereka sedang masak, tapi biasakan nak, jangan memanggil orang dengan sebutan jie jie dan Gege, takut nya sebagian orang tidak terima, nanti kau bisa dalam masalah."
"Baiklah ibu."
Oek oek oek
Seorang bayi menangis dengan kencang di rombongan yang baru saja membicarakan Ceni dan Zeno.
"Ada apa Cang.? Kenapa bayi mu menangis.?"
"Bibi, air susu ku tidak mau keluar, bayi ku kelaparan."
Ibu muda itu sangat khawatir dan resah sebab di dalam rombongan nya hanya dirinya yang membawa bayi, sedangkan kumpulan lain yang membawa bayi sudah pergi dengan kereta kuda nya, hanya tersisa para rakyat biasa saja yang tertinggal karena mereka berjalan kaki.
Pendengaran tajam Ceni pun mendengar semua itu ia pun menghela nafas lalu mengeluarkan botol susu yang sudah berisi susu di dalam nya.
Ceni pun mendekat ke arah kumpulan tersebut.
"Paman, bibi, apakah aku boleh berbicara.?" Ucap Ceni.
"Eh nona, iya boleh nona, silahkan duduk, maaf tidak ada apapun yang dapat kami suguh kan." Ucap seorang wanita paruh baya dengan tidak enak hati.
"Tidak apa-apa bibi, kenapa bayi nya menangis.?" Tanya Ceni.
"Air susu keponakan ku tidak mau keluar nona, sedangkan bayi nya pasti kelaparan sebab sudah 2 hari hanya meminum air putih, dan itu pasti sangat tidak mengenyangkan." ucap bibi itu sedih.
"Kebetulan aku punya stok susu kambing, ini ambillah nona." Ucap Ceni pada ibu muda itu.
Mata semua orang pun memandang Ceni dengan penuh syukur sebab kali ini bayi kecil itu terselamatkan dari rasa lapar.
"Terimakasih nona, terimakasih banyak." Ucap ibu muda itu beberapa kali menunduk kan kepala nya tanda terima kasih.
"Kalau kalian mau bergabung datanglah ke sana, aku dan saudara ku sedang memasak, lebihan baik kita makan bersama sebelum melanjutkan perjalanan." Ucap Ceni.
Sekumpulan itu pun saling pandang, ada rasa sungkan di mata mereka, sebab mereka di suruh makan tanpa membantu.
"Tidak usah nona, kami tidak apa-apa, rasa nya tidak pantas kalau hanya numpang makan." Ucap bibi itu.
"Tidak apa-apa bibi, kalau tidak ada yang memakan nanti masakan ku akan terbuang sia-sia." Ucap Ceni membujuk.
"Ibu aku lapar."
"Kau lapar, ayo ikut jie jie." Ucap Ceni lalu menggandeng tangan anak kecil yang sedari tadi memperhatikan wajah cantik Ceni.
Anak kecil itu pun tanpa takut mengangguk lalu berjalan di sisi Ceni.
Para orang tua pun saling pandang lalu menghela nafas, mau tak mau mereka pun mengikuti anak saudara nya itu begitu pula sang ibu dan ayah dari anak kecil tersebut.
"Ayo duduk, siapa nama mu.?" Tanya Ceni pada anak kecil laki-laki yang ia perkirakan berusia 7 tahun itu.
"Nama ku nammu." Ucap nya.
"Wah nama nya bagus nammu." Ucap Ceni.
Anak laki-laki itu pun tersenyum malu-malu.
Sekarang Zeno dan ceni tak hanya berdua Melainkan ada sebuah keluarga yang bergabung dengan mereka yang ternyata satu kumpulan itu ialah keluarga besar yang terdiri dari.
Suami istri/ bibi dan paman\= mu'an dan siu, pasangan paruh baya.
Suami istri/ anak menantu mu'an dan siu yaitu liong dan Lei serta anak mereka nammu.
3.suami istri/ anak menantu mu'an dan siu yaitu jin dan Cang Cang serta bayi mereka Aiyi.
Dien, seorang janda di tinggal mati suami nya, Dien ialah anak bibi Fang adik dari bibi Siu, kini ia hanya bersama anak nya yang bernama Yen'an.
Dua remaja laki-laki berumur 15 tahun adik kembar Dien bernama Yayan dan Yeyen.
Bersambung.
lanjut up yg bnyak thor💪💪💪💪
3 hari aja kering tak berbekas... tapi gak pake garem
lanjut up lagi thor💪💪💪💪💪