Mutiara mengira kalau dikhianati oleh kekasihnya adalah hal yang terburuk di dalam hidupnya, musibah yang akan membuat di hidupnya terpuruk. Namun, ternyata hal itu merupakan berkah di dalam hidupnya.
"Kenapa kamu tega, Fajar? Kenapa aku hanya dijadikan lelucon saja di dalam hubungan kita ini?"
Bagaimana kehidupan Mutiara selanjutnya?
Kuy baca, jangan lupa kasih komen yang baik jika suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DMNB 15
Malam sudah datang, Fajar melangkah penuh percaya diri menuju rumah megah ayahnya, Arkan. Di sampingnya, Rena menggandeng lengannya erat, sesekali membetulkan riasan wajahnya.
Wanita itu ingin terlihat cantik dan juga sempurna di mata Arkan, dia sampai memakai perhiasan mahal yang tentunya diberikan oleh Fajar. Selain itu, dia juga membawakan hadiah untuk Arkan yang juga dibelikan oleh Fajar.
"Aku udah cantik kan, Yang?"
"Cantik dan sangat sempurna," ujar Fajar sambil mengusap pipi wanita itu.
Fajar ingin memberikan kesan sempurna, dia ingin menunjukkan pada ayahnya bahwa dia telah menemukan wanita yang selevel dengan status sosial mereka.
Namun, saat pintu jati besar itu terbuka, senyum Fajar langsung luntur. Sosok wanita yang berdiri di sana bukanlah pelayan berseragam, melainkan Mutiara. Wanita yang ia anggap terlalu sederhana dan membosankan.
"Mutiara? Ngapain kamu di sini?"
Rena memperhatikan Mutiara dari ujung rambut ke ujung kaki dengan tatapan merendahkan, wanita itu memakai dress berwarna putih tulang. Sederhana sekali.
"Sayang, sepertinya setelah mengundurkan diri dari perusahaan kamu, sekarang dia menjadi pembantu baru ayah kamu deh."
Mutiara hanya diam, dia menatap keduanya dengan tatapan datar tanpa ekspresi.
"Nggak nyangka ya, Tiara. Saking miskinnya kamu, sekarang kamu malah berakhir jadi tukang buka pintu di rumah ayahku. Padahal, kamu dulu begitu yakin untuk berhenti. Seperti orang yang sudah punya pekerjaan yang lebih baik dari kerja di perusahaan aku."
"Liat deh dandanannya aja kusam gitu. Pasti dia benar-benar sudah tak punya uang, pasti nyesel banget berhenti bekerja dari perusahaan kami."
"Hooh, sengsara kan' pisah sama aku?"
Fajar memandang remeh ke arah Mutiara, dia berpikir kalau wanita itu pasti nantinya akan mengemis untuk balikan dan untuk kerja lagi di perusahaan Fajar.
"Daripada kalian banyak bicara, sebaiknya masuk dulu ke ruang tamu kalau mau mengobrol."
Mutiara yang sejak tadi diam akhirnya mengeluarkan suaranya, sengaja dia berkata seperti itu agar tidak terlalu lama menghadapi kedua orang itu, biarkan Arkan yang berbicara dengan keduanya.
"Nggak usah sok ngatur! Kamu itu cuma pembantu di sini. Inget ya, jaga tangan kamu. Jangan sampai ada barang ayahku yang hilang karena mental pencuri kamu itu."
"Hooh, orang miskin seperti kamu pasti sengaja kan' kerja di rumah orang kaya seperti ayahnya pacar aku ini? Agar kamu bisa maling dengan leluasa dan setelahnya bisa memakai uang itu untuk menyenangkan nenek kamu yang tua dan penyakitan itu," timpal Rena.
"Mohon maaf, saya bukan pencuri. Bukannya anda yang suka mencuri?"
"Mana ada orang kaya seperti aku mencuri!" kesal Rena.
"Oh iya, aku lupa kamu itu bukan pencuri. Tapi pemulung," ujar Mutiara.
"Mutiara! Jangan keterlaluan!" pekik Rena.
"Aku nggak keterlaluan, kamu memang suka memungut barang bekas orang lain."
Baik Rena atau Fajar terlihat begitu tersinggung mendengar apa yang dikatakan oleh Mutiara, karena kalimat itu merupakan kalimat penghinaan untuk Fajar dan juga Rena.
Fajar bahkan sampai mendekat ke arah Mutiara dan mendorong bahu wanita itu dengan cukup kencang, Mutiara sempat terhuyung ke belakang, tapi dia segera menjaga keseimbangannya.
"Jangan kurang ajar kamu, Mutiara. Jangan tidak tahu berterima kasih, karena walau bagaimanapun juga selama ini aku yang membantu kamu dalam mengurusi nenek."
"Oh, tentu saja aku sangat berterima kasih untuk itu. Kalau bisa kamu totalin saja berapa jumlah uang yang sudah aku pakai selain di luar gaji saat aku bekerja dengan kamu, nanti akan aku bayar."
Mutiara berkata dengan tenang, tentu saja hal itu semakin membuat Fajar emosi. Pria yang selalu bersikap lemah lembut dan berkata penuh bujuk rayu itu kini tidak bisa menahan diri lagi.
"Dasar perempuan tidak tahu diri! Memangnya kamu sanggup bayar?''
"Tentu saja aku sanggup bayar, karena saat ini aku punya orang yang lebih bisa diandalkan daripada kamu."
Fajar dan juga Rena merasa kalau Mutiara itu semakin melunjak, karena semakin diajak bicara wanita itu semakin kasar dalam berucap. Rena yang tidak tahan langsung maju dan mendekat ke arah Mutiara, dia bahkan mengayunkan tangannya.
"Sialan kamu---"
Rena ingin memukul Mutiara, tetapi wanita itu sudah terlebih dahulu melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam ruang makan.
"Sayang!" adu Rena kesal.
"Sudahlah, kita ikuti apa mau dia dulu. Kita liat dia bisa apa?"
"Hem," jawab Rena sambil menghentakkan kedua kakinya.
Keduanya akhirnya ikut ke ruang makan, di sana sudah ada nenek Mia yang sedang membantu bi Lastri menata makanan di atas meja makan, sedangkan Mutiara menyusun piring kosong di atas meja.
"Cih! Dasar perempuan sok kaya, bahkan nenek tua seperti Nenek Mia saja kamu ajak bekerja."
"Tadi ngomongnya belagu banget, taunya cuma jadi pembantu beneran," timpal Rena.
"Rasakan! Emang enak hidup tanpa aku," ujar Fajar.
Pria itu duduk di salah satu kursi yang ada di sana, kemudian dia mengambil gelas kosong dan mengayunkannya ke udara.
"Cepat isi gelasku, aku ingin minum. Aku haus," perintah Fajar.
"Tapi, Tuan muda. Ini sangat---"
Bi Lastri ingin menegur Fajar, tetapi dengan cepat Mutiara mengusap lengan bi Lastri. Dia bahkan tersenyum hangat.
"Tak apa-apa, Bi. Biar aku tuangkan air minum untuk Tuan Fajar."
Mutiara dengan tenang menuangkan air minum untuk Fajar, Rena yang ingin mempermalukan Mutiara ikut-ikut duduk di samping kekasihnya dan meminta Mutiara untuk menuangkan air untuk dirinya juga.
Setelah itu, bahkan keduanya meminta Rena untuk mengupas buah. Di saat Mutiara sedang mengupas buah, langkah kaki terdengar dari arah tangga.
Arkan lalu melangkahkan kakinya menuju ruang makan, pria itu muncul dengan wajah yang sulit dibaca. Fajar langsung menghampiri ayahnya dengan nada protes yang berapi-api.
"Yah! Ayah harus hati-hati. Kenapa Ayah terima perempuan ini kerja di sini? Dia ini miskin, Yah. Fajar kenal dia, dia cuma mau ngincer harta Ayah aja. Mending pecat sekarang sebelum dia nyuri barang berharga di rumah ini!"
Rena cepat-cepat menghampiri Arkan. "Iya, Om. Dia ajak neneknya juga untuk kerja di sini, pasti punya niat tak baik."
"Siapa kamu?" tanya Arkan.
"Ehe, saya pacarnya Fajar, Om."
"Oh," ujar Arkan biasa saja. "Tadi kalian bicara apa?"
"Ayah harus pecat dia, tak boleh mempekerjakan dia. Nanti harta Ayah habis dicuri dia," ujar Fajar.
Fajar terus saja menjelek-jelekkan Mutiara, dia bahkan berkata kalau Mutiara itu merupakan salah satu pegawai di perusahaannya yang keluar dengan merugikan perusahaannya itu.
"Sudah bicaranya?"
"Belum! Pokoknya Fajar nggak mau ada dia di sini kalau Fajar lagi berkunjung. Bikin enek aja!"
Arkan menghela napas panjang, lalu dia mendekat ke arah Mutiara dan merangkul pundak Mutiara dengan lembut. Mata Fajar dan juga Rena langsung melotot melihat hal itu.
"Ayah! Kenapa malah merangkul pundak wanita miskin itu?!" teriak Fajar tak terima.
mutiara kocakk 🤭