NovelToon NovelToon
Kapan Cinta Datang?

Kapan Cinta Datang?

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Evelyn12

"Menikah tentulah merupakan hal yang sangat didambakan seseorang. Apalagi menikah dengan orang yang kita inginkan dan kita cintai."

" Namun, bagaimana jika kamu menikah atas dasar keterpaksaan? Disisi lain, kamu ingin melihat orang tua mu bahagia, tapi disisi lain kamu masih terjebak dimasa lalu. Seolah cintamu sudah habis dimasa itu."

"Menjalani semuanya tanpa perasaan cinta. Akankah berakhir bahagia? Atau justru malah menambah masalah baru untuk aku... dan juga dia..."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evelyn12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jangan Sungkan

"Mas belum berangkat?" Tanya Naina saat mendapati Dimas yang sedang duduk di kursi teras. Dimas sedikit gelagapan yang membuat Naina kebingungan.

"Be-belum, Nai."

"Apa ada yang ketinggalan?"

"Tidak ada, kok."

Naina berjalan mengambil selang air dan mulai menyiram tanaman. Dimas memperhatikan setiap gerak Naina.

"Kamu jadi hari ini ke tempat kerjanya, Nai?" Tanya Dimas,

"Iya, Mas. Tunggu mbak Sofia datang. Mungkin agak siang, kalau pekerjaan rumah sudah selesai." Jawab Naina tanpa menghentikan aktivitasnya.

"Baiklah."

Dimas bangkit dari tempat duduknya, tingkahnya pagi ini tidak seperti biasanya Naina merasakan hal itu tapi ia lebih memilih untuk diam.

"Aku berangkat dulu." Ucap Dimas kemudian. Naina mengelap tangannya yang basah pada roknya, dan kemudian menyalami tangan Dimas.

"Hati-hati, Mas."

Dimas mengangguk.

***

Mobil Dimas melaju. Tatapannya kosong, hiruk pikuk kendaraan pagi ini sama seperti isi kepalanya. Berkali-kali ia kehilangan fokus yang membuat ia harus menerima klakson dari kendaraan lain bahkan teriakan.

Dimas kemudian menepi. Ia mengusap wajah beberapa kali. Beberapa saat ia hening, dan kemudian mengambil ponsel dari saku celananya. Ia menatap layar itu sangat lama seolah mempertimbangkan sesuatu.

Mobil Dimas kembali melaju, tapi bukan pada rute biasanya.

*

Sementara itu di rumah. Naina sudah siap menunggu kedatangan Sofia, ia sudah rapi dengan mengenakan baju kemeja biru muda diserai bawahan rok berwarna hitam. Ia duduk di kursi teras.

Tak lama kemudian, sebuah mobil hitam masuk ke perkarangan rumah. Naina yang mengetahui itu Sofia segera bergegas menghampiri. Ia begitu antusias menyambut kedatangan sepupunya itu.

Sofia turun dari mobil dengan menggendong Mahrez. Senyum merekah di bibirnya kala melihat Naina. Naina mengambil Mahrez dari gendongan Sofia.

"Bibi rindu sekali sama kamu, Sayang." Ucap Naina sembari menimang Mahrez. "Ayo masuk, Mbak." Ucap Naina kemudian.

Sofia mengikuti Naina masuk ke dalam rumah, dan Naina mempersilahkan Sofia duduk.

Naina meletakkan Mahrez di sebelah Sofia, "Mahrez duduk dulu, ya. Bibi ambilkan buah." Ucap Naina sembari mengusap pelan pipi Mahrez. "Mbak juga tunggu sebentar, aku buatkan jus."

"Makasih, Nai."

Mata Sofia melihat sekeliling. Ada sedikit keheranan di sana.

"Tidak ada foto pengantin sama sekali." Benak Sofia. "Ah, mungkin selera orang berbeda-beda dalam menghias isi rumah. Ada yang memilih memajang atau tidak foto pernikahan. Mungkin aku terlalu overthinking." Benak Sofia.

Tak lama kemudian Naina datang dengan membawa jus, air putih dan juga beberapa buah-buahan. Ia meletakkan semuanya di atas meja.

"Mari di minum, Mbak." Ucap Naina yang kemudian duduk di depan Sofia. Sofia mengupas pisang untuk diberikan pada Mahrez. Anak kecil itu terlihat sangat tenang duduk di sebelah Bundanya.

Sofia meminum jusnya sebelum ia membuka obrolan.

"Kamu yakin Nai mau kerja?" Tanya Sofia.

"Iya, Mbak. Aku sudah izin pada mas Dimas juga."

"Mbak masih ragu, Nai. Mbak kasian sama kamu."

"Di kampung aku sudah terbiasa bekerja, Mbak. Berdiam saja di rumah membuatku merasa ada yang kurang. Lagi pula, aku merasa sepi di rumah sendirian saat mas Dimas berangkat kerja."

Sofia mengangguk-angguk, tanda ia mengerti perasaan Naina.

"Kenapa setiap kali melihatmu Mbak selalu merasa kamu tidak baik-baik saja. Maaf kalau pikiran Mbak seperti ini, Nai. Karena Mbak takut kamu tidak bahagia."

Naina tersenyum, "Aku baik-baik saja, Mbak. Mbak jangan terlalu memikirkan aku."

"Mbak cuma bisa berpesan, jangan suka memendam sendiri apa yang kamu rasain, Nai. Tidak baik. Mbak selalu ada buat kamu. Jangan sungkan cerita kalau ada hal yang bikin kamu gak nyaman."

Naina memalingkan wajah, ia tidak ingin Sofia melihat matanya yang mulai terasa panas. Sofia hanya bisa menatap Naina lekat, dalam hatinya seperti merasakan ada kesedihan yang sulit Naina ungkapkan.

"Kalo udah kerja kamu berangkatnya gimana? Rute tempat kerjan kamu beda dengan kantor mas Dimas. Kalian masuk kerja juga beda. Mas Dimas masuk lebih cepat dari kamu."

"Tenang saja, Mbak. Aku punya tabungan, nanti aku pakai uangnya untuk membeli motor. Kebetulan bu Santi tetangga sini mau jual motor anaknya, katanya lagi butuh uang."

"Simpan aja uang tabungan kamu. Biar Mbak yang belikan."

"Aduh! Tidak usah, Mbak. Uangnya sudah lebih dari cukup, lagian mas Dimas juga selalu memberi aku uang."

Sofia memasang wajah cemberut. Naina pindah tempat duduk, kali ini ia berada tepat disebelah Sofia. Naina lantas memeluk Sofia.

"Terimakasih banyak ya, Mbak. Aku tidak tau bagaimana harus membalas kebaikan Mbak. Mbak sudah sangat berjasa dalam hidup ku."

"Gak usah di pikirin. Cukup liat kamu bahagia Mbak juga bahagia, Nai. Jangan selalu berpikir kamu menyusahkan. Itu sama sekali tidak ada dan jangan sungkan untuk meminta tolong."

Naina dan Sofia saling pandang dengan mata berbinar dan senyum yang terukir di sudut bibir.

"Mbak selalu ada untuk kamu."

1
pojok_kulon
Kamunya setia belum tentu dia yang disana juga setia sama kamu Dim 🤭🤭
pojok_kulon
Duh gemasnya
pojok_kulon
Pasti Dimas menunggu cinta pertamanya ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!