Setelah diselamatkan dari penculikan maut oleh Pratama, seorang penjual soto sederhana, Luna justru terjebak fitnah warga yang memaksa mereka menikah. Situasi kian pelik karena Pratama masih terikat pernikahan dengan Juwita, istri materialistis yang tanpa ragu "menjual" suaminya seharga Rp50 juta sebagai syarat cerai.
Demi menolong pria yang telah menyelamatkan nyawanya, Luna membayar mahar tersebut dan memilih menyembunyikan identitas aslinya sebagai putri tunggal seorang CEO kaya raya. Ia rela hidup dalam kesederhanaan dan mengaku hanya sebagai guru TK biasa. Di tengah rasa bersalah Pratama yang berjanji akan bekerja keras membalas kebaikannya, ia tidak menyadari bahwa istri barunya memiliki kuasa untuk membalikkan nasib mereka dalam sekejap mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Pintu ruang UGD terbuka, menampakkan seorang dokter paruh baya dengan stetoskop melingkar di lehernya.
Ia membawa map rekam medis dan menghampiri ranjang Pratama dengan raut wajah yang tampak sudah diatur sedemikian rupa setelah menerima instruksi rahasia dari pihak manajemen rumah sakit.
"Selamat siang, Pak Pratama, Bu Luna," sapa Dokter itu dengan sopan.
"Saya ingin menyampaikan perkembangan kondisi Bapak. Syukurlah, luka-lukanya sudah dibersihkan, namun Bapak perlu observasi lebih lanjut karena sempat pingsan."
Pratama mencoba bangun sedikit, meski kepalanya masih terasa berdenyut.
"Lalu, bagaimana selanjutnya, Dok? Saya sudah bisa pulang?"
"Belum bisa, Pak. Bapak harus menjalani rawat inap setidaknya dua atau tiga hari ke depan. Namun, ada sedikit kendala," Dokter itu melirik Luna sejenak sebelum melanjutkan.
"Kebetulan ruang rawat kelas tiga sampai kelas satu saat ini sedang penuh semua karena lonjakan pasien. Satu-satunya ruangan yang tersedia hanya kelas VVIP di lantai atas."
Pratama seketika pucat. Wajahnya yang memar tampak makin layu.
"Tapi Dok, saya tidak punya uang untuk bayar kamar semahal itu. Saya cuma penjual soto, penghasilan saya tidak akan cukup."
Ia menoleh ke arah Luna, matanya menyiratkan kepanikan.
"Dik, ayo kita pulang saja. Mas dirawat di rumah saja, ya? Mas tidak mau kita terjerat hutang."
Melihat kepanikan suaminya, Dokter itu segera tersenyum menenangkan, sesuai dengan rencana yang sudah disusun oleh Arini atas perintah Luna.
"Bapak tenang saja. Jangan khawatir soal biaya," ujar Dokter itu dengan nada meyakinkan.
"Kebetulan sekali, hari ini rumah sakit kami sedang merayakan ulang tahun yang ke-25. Pak Pratama adalah pasien beruntung yang terpilih mendapatkan program gratis peningkatan kelas ke VVIP. Jadi, semua biaya kamar dan perawatan akan ditanggung sepenuhnya oleh pihak rumah sakit."
Pratama tertegun, mulutnya sedikit terbuka karena tidak percaya.
"Gratis? Benar begitu, Dok? Tapi kenapa saya?"
"Karena Bapak pasien yang masuk tepat saat jam perayaan kami dimulai," jawab Dokter itu berbohong dengan lancar.
Luna yang duduk di samping ranjang mengangguk kecil ke arah Dokter.
Tatapan matanya memberikan kode rahasia dimana sebuah ucapan terima kasih karena telah membantu menutupi rahasianya dengan rapi.
Dokter itu membalas dengan anggukan hormat yang sangat tipis sebelum pamit keluar untuk menyiapkan pemindahan.
"Alhamdulillah, Mas. Rezeki orang jujur memang tidak kemana," bisik Luna sambil menggenggam tangan Pratama.
"Iya, Dik. Mas benar-benar tidak menyangka. Allah baik sekali ya," gumam Pratama dengan mata berkaca-kaca, tanpa tahu bahwa 'malaikat' yang membayar tagihan bernilai puluhan juta itu sedang duduk manis di sampingnya.
Pintu berukuran besar itu terbuka pelan, menampakkan sebuah ruangan yang lebih mirip suite hotel bintang lima daripada kamar rumah sakit.
Lantainya berlapis marmer yang berkilau, ada sofa kulit yang empuk di sudut ruangan, televisi layar datar berukuran besar, hingga pemandangan kota dari jendela kaca yang luas.
Pratama merasa tubuhnya yang masih mengenakan kaos lusuh sangat tidak pantas berada di atas ranjang yang didorong masuk ke ruangan semewah itu.
"Silakan, Pak Pratama. Ini ruangannya. Jika butuh apa pun, tinggal tekan tombol di samping ranjang," ucap perawat itu dengan sangat ramah sebelum akhirnya meninggalkan mereka berdua.
Pratama menoleh ke arah Luna dengan wajah yang penuh keraguan. Ia menarik ujung jilbab istrinya pelan agar Luna mendekat.
"Dik. apa benar ini gratis?" bisik Pratama dengan suara gemetar.
"Coba lihat itu, ada kulkas, ada microwave, bahkan kamar mandinya saja pakai kaca. Mas takut kalau nanti pas pulang kita disuruh bayar puluhan juta. Mana ada rumah sakit ulang tahun kasih hadiah semewah ini ke tukang soto?"
Luna tersenyum lembut sambil mengusap dahi Pratama yang dibalut perban untuk menenangkannya.
"Benar, Mas. Masa Mas tidak percaya dengan dokter tadi? Ini sudah rezeki Mas karena Mas orang jujur. Mungkin ini cara Allah mengganti kerugian gerobak Mas yang rusak tadi pagi," jawab Luna dengan nada yang sangat meyakinkan.
"Tapi ini terlalu berlebihan, Dik..." Pratama menatap sekeliling dengan canggung. Ia bahkan takut menyentuh bantal yang terlihat sangat putih dan bersih itu.
"Sudah, Mas jangan pikirkan soal biaya. Fokus saja supaya cepat sembuh. Kalau Mas cepat sembuh, Mas bisa jualan lagi, kan?" Luna membantu membetulkan posisi selimut Pratama.
Pratama menghela napas panjang, mencoba memejamkan mata meskipun hatinya masih merasa janggal. Di saat suaminya mulai tenang, Luna bangkit berdiri.
"Mas istirahat sebentar ya, aku mau ke depan sebentar untuk mengurus administrasi, eh, maksudku mengisi formulir hadiahnya," ucap Luna.
Begitu keluar dari kamar VVIP dan menutup pintu, wajah lembut Luna menghilang.
Ia segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Arini dengan tatapan yang tajam dan dingin.
"Arini, di mana mereka?" tanya Luna tanpa basa-basi.
"Sudah di gudang belakang ruko lama kita, Bu. Tim keamanan sedang 'mengajak bicara' mereka," jawab Arini dari seberang telepon.
"Tunggu aku di sana. Aku ingin melihat sendiri siapa yang berani menyentuh suamiku."
Luna melangkah masuk ke dalam gudang tua yang tersembunyi di pinggiran Jakarta.
Suasana di sana lembap dan pengap, namun kehadirannya seketika mengubah suhu ruangan menjadi sedingin es.
Ia masih mengenakan hijab hitamnya, namun tak ada lagi jejak kelembutan guru TK di matanya. Yang ada hanyalah Luna Jati, sang CEO bertangan besi.
Di tengah ruangan, dua orang pria bermasker yang menyerang Pratama tadi pagi sudah terikat di kursi dengan wajah babak belur akibat "sambutan" dari tim keamanan Jati Grup.
"Siapa yang menyuruh kalian?" tanya Luna. Suaranya rendah, namun mengintimidasi.
"Kami, tidak tahu, Nyonya! Kami hanya menerima uang!" rintih salah satu pelaku.
Luna memberi isyarat pada kepala keamanannya agar menghajar mereka.
Detik berikutnya, sebuah tamparan keras mendarat di wajah pria itu. Luna melangkah maju, mencengkeram rahang pria itu dengan tangan yang dibalut sarung tangan hitam.
"Aku tidak punya banyak waktu. Suamiku sedang menungguku di rumah sakit," bisik Luna tepat di depan wajah pria itu.
"Jika kalian tidak bicara dalam hitungan ketiga, aku akan memastikan kalian tidak hanya masuk penjara, tapi keluarga kalian juga akan kehilangan tempat tinggal hari ini juga. Satu... dua..."
"Noah! Noah Pramono!" teriak pelaku itu ketakutan.
"Dia yang memberi kami uang lewat perantara! Dia bilang ingin memberi pelajaran pada tukang soto itu!"
Rahang Luna mengeras. Matanya berkilat penuh amarah. Jadi benar, Noah adalah dalangnya.
"Bawa mereka ke kantor polisi. Pastikan mereka membusuk di sana dan jangan biarkan pengacara mana pun menyentuh kasus ini," perintah Luna dingin sebelum berbalik pergi.
Sementara itu, di kamar VVIP, Pratama menatap jam dinding yang terus berdetak.
Sudah hampir satu jam Luna pamit untuk mengurus "formulir hadiah", namun istrinya belum juga kembali.
"Kenapa lama sekali ya?" gumam Pratama gelisah.
Ia mencoba meraih ponselnya, namun tangannya masih terasa nyeri.
Tepat saat itu, seorang perawat masuk untuk mengganti cairan infus.
"Sus, maaf. Apakah suster melihat istri saya? Tadi katanya mau mengurus administrasi di bawah," tanya Pratama.
Perawat itu tersenyum sopan, menjalankan skenario yang sudah diperintahkan Arini.
"Oh, Ibu Luna ya, Pak? Tadi saya lihat beliau masih mengobrol di ruang dokter. Sepertinya ada beberapa penjelasan detail mengenai terapi pemulihan Bapak yang harus dijelaskan secara mendalam. Bapak tenang saja, Ibu Luna sangat perhatian pada Bapak."
Pratama menghela napas lega, meskipun ada sedikit rasa heran di hatinya.
"Terima kasih, Sus," ucap Pratama.
Ia kembali menyandarkan tubuhnya, mencoba mengusir rasa curiga yang tiba-tiba muncul.
Di benaknya, Luna adalah sosok istri yang rapuh dan polos, tak terbayangkan olehnya bahwa saat ini sang istri sedang mengatur strategi untuk menghancurkan karier seorang pengusaha besar demi membalaskan dendamnya.