Greta Hildegard adalah bayangan yang memudar di sudut kelas. Gadis pendiam dengan nama puitis yang menjadi sasaran empuk perundungan tanpa ampun. Baginya, SMA bukan masa muda yang indah, melainkan medan tempur di mana ia selalu kalah. Luka-luka itu tidak pernah sembuh, mereka hanya bersembunyi di balik waktu.
namun mereka tidak siap dengan apa yang sebenarnya terjadi oleh Greta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon spill.gils, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesalahan Norah
Bus-bus berwarna hitam-abu milik Northern High sudah berjejer di area parkir. Siswa-siswa Northern tampak turun dengan gaya angkuh, mengenakan jaket tim mereka yang bertuliskan logo serigala. Suasana sekolah terasa sangat kompetitif dan tegang.
Greta melangkah turun dari mobil bersama Clara.
Ia menarik tudung jaketnya sedikit ke depan, tapi Clara menahannya. "Jangan disembunyikan, Greta. Biarkan mereka melihat siapa kamu yang sekarang," bisik Clara menyemangati.
Saat mereka berjalan menuju gedung olahraga (Gym), mata semua orang mulai tertuju pada mereka. Bisikan-bisikan mulai terdengar:
"Bukannya itu Greta? Dia masuk sekolah lagi?"
"Lihat rambutnya! Kenapa dipotong pendek begitu?"
Begitu mereka memasuki koridor utama menuju area pertandingan, suara riuh mendadak mereda. Satu per satu siswa menoleh. Perubahan penampilan Greta yang drastis—dari gadis yang selalu terlihat rapuh menjadi sosok yang tampak jauh lebih berani dan "tajam"—menjadi pusat perhatian utama, bahkan mengalahkan euforia pertandingan melawan Northern pagi itu.
Di ujung koridor, Luca sedang bersandar di loker sambil menyesuaikan pelindung pergelangan tangannya. Saat ia mendongak dan melihat Greta, gerakannya langsung terhenti. Matanya yang tajam sedikit melebar. Ia menatap lekat-lekat potongan rambut baru Greta yang membuat wajah gadis itu terlihat jauh lebih bersinar, namun juga lebih misterius.
"Luca!" panggil Clara sambil melambaikan tangan.
Luca tidak menyahut, ia hanya diam terpaku, terpukau dengan transformasi Greta yang seolah baru saja menanggalkan semua rasa takutnya.
Di balkon tribun VIP yang eksklusif, Norah dan Revelyn duduk dengan angkuh, awalnya yakin bahwa Greta tidak akan berani menampakkan diri setelah kejadian mengerikan itu. Namun, saat sosok dengan rambut pendek sebahu itu melangkah masuk dengan dagu terangkat, Norah langsung berdiri tersentak.
Wajahnya merah padam. Ia meremas pagar pembatas besi dengan kencang hingga buku jarinya memutih. "Bagaimana bisa... dia punya keberanian untuk kembali dengan penampilan seperti itu?!" desis Norah penuh kebencian.
Melihat Norah yang hampir kehilangan kendali, Revelyn dengan cepat menyambar pergelangan tangan sahabatnya itu. "Tunggu, Norah! Jangan sekarang," bisiknya tajam. "Semua mata tertuju pada mereka. Pertandingannya akan dimulai. Kalau kamu buat ulah sekarang, Luca tidak akan pernah memaafkanmu."
Norah menarik tangannya dengan sentakan kasar, lalu menghempaskan tubuhnya kembali ke kursi empuk dengan napas memburu. Matanya terus menghujam Greta dari kejauhan, seolah ingin membakar gadis itu dengan tatapannya.
PRIIIIIIIIIT!
Peluit panjang wasit membelah keriuhan stadion. Suasana seketika berubah menjadi medan perang yang panas. Tim Northern High yang bertubuh kekar langsung melakukan tekanan tinggi, mencoba mengintimidasi mental para pemain Jarvis sejak menit pertama.
Luca dengan nomor punggung kebanggaannya dan nama Blight yang terpampang jelas bergerak seperti bayangan. Ia tidak hanya bermain; ia sedang meluapkan seluruh emosi yang tertahan sejak semalam.
Menit ke-5: Kapten Northern mencoba melakukan tackle keras ke arah kaki Luca, namun dengan kelincahan luar biasa, Luca melakukan putaran balik dan melewati lawan seolah mereka hanya patung diam.
Pertandingan berlangsung sangat fisik. Keringat membanjiri wajah Luca, rambutnya yang basah menempel di dahi, memberikan kesan yang sangat garang. Setiap kali ia berhasil merebut bola, gemuruh penonton Jarvis High meledak, meneriakkan namanya.
Di pinggir lapangan, Greta berdiri mematung di samping Clara. Matanya tidak lepas dari sosok Luca. Ia bisa merasakan setiap napas berat dan tekad yang dipancarkan Luca di tengah lapangan. Untuk pertama kalinya, ia merasa bangga bisa berdiri di sana, menjadi saksi kekuatan pria yang telah menyelamatkannya.
Tiba-tiba, seorang pemain Northern melakukan pelanggaran sengaja dengan menyikut bahu Luca hingga Luca tersungkur di lapangan.
"LUCA!" teriak Clara spontan.
Luca bangkit perlahan, menyeka setetes darah di sudut bibirnya dengan punggung tangan. Bukannya marah, ia justru melempar pandangan ke arah tribun di mana Greta berada. Begitu mata mereka bertemu, Luca memberikan senyum miring yang sangat tipis sebuah isyarat bahwa ia baik-baik saja dan siap untuk membalas.
Saat ini pertandingan baru memasuki Quarter Pertama. Atmosfer di dalam gedung olahraga Jarvis High sangat panas. Luca baru saja bangkit setelah dijatuhkan secara kasar oleh pemain Northern.
Greta meremas ujung bajunya, matanya tak lepas dari Luca yang kini memegang bola di garis tengah. Luca tampak mengambil napas dalam, melirik sekilas ke arah tribun tempat Greta duduk, lalu melakukan dribble rendah yang sangat cepat.
Peluit akhir Quarter Pertama hampir berbunyi. Luca membawa bola dengan kecepatan tinggi, membelah pertahanan Northern High dengan gerakan yang hampir mustahil diikuti mata. Dengan satu lompatan eksplosif yang sangat tinggi, ia melayang di udara dan melakukan Slam Dunk yang luar biasa keras.
BOOM!
Gedung olahraga bergetar karena sorak-sorai penonton saat bola menghujam ring tepat bersamaan dengan bunyi bel tanda akhir babak pertama. Luca mendarat dengan sempurna, napasnya memburu, sementara namanya diteriakkan di seluruh penjuru tribun.
Di balkon VIP, Norah sama sekali tidak terkesan. Ia justru memiringkan kepalanya, menatap Greta yang duduk di kejauhan dengan tatapan yang sangat tajam dan penuh kebencian. Ia kemudian condong ke arah Revelyn dan membisikkan sesuatu dengan suara yang sangat rendah.
Revelyn, yang awalnya tampak tenang, seketika tersentak. Matanya membelalak lebar, menatap Norah dengan wajah pucat karena terkejut. "Norah... kamu serius? Tapi..." Namun, Norah tidak menjawab. Ia tetap menatap lurus ke arah Greta dengan senyum tipis yang mengerikan, seolah rencana besar sudah tersusun rapi di kepalanya.
Pertandingan dilanjutkan. Memasuki babak kedua, tim Northern High mengubah strategi. Mereka bermain jauh lebih agresif dan meningkatkan skill individu mereka, membuat Jarvis High kewalahan. Pertandingan menjadi sangat fisik dan sulit bagi Luca untuk mendapatkan ruang tembak.
Di tengah tensi yang memuncak, sebuah insiden terjadi di bawah ring. Saat pemain Northern mencoba melakukan penetrasi, Zev bergerak dengan kasar. Alih-alih mengincar bola, Zev melakukan pelanggaran keras yang disengaja. Hantaman itu membuat pemain Northern jatuh tersungkur dan mengerang kesakitan di lantai lapangan.
PRIIIIIIIIIIT! Wasit meniup peluit panjang, menandakan pelanggaran serius. Sorakan ejekan dari suporter lawan memenuhi ruangan. Di tengah kericuhan pemain yang saling dorong, Greta berdiri dari tempat duduknya. Ia tidak menunjukkan ekspresi takut sedikit pun. Ia menatap Zev dari kejauhan dengan mata yang sangat dingin dan tajam.
Zev, yang sedang berusaha membela diri di depan wasit, tak sengaja melirik ke arah tribun. Ia terpaku saat melihat Greta yang baru dengan rambut pendeknya dan tatapan yang seolah bisa menembus jantungnya. Untuk sesaat, keberingasan Zev luntur digantikan oleh rasa tidak nyaman yang aneh.
Pemain Northern yang terluka harus dibantu keluar lapangan, dan emosi di antara kedua tim berada di titik didih. Luca tampak sangat geram dengan tindakan Zev yang merusak ritme permainan.
Kericuhan di lapangan akhirnya berhasil diredam oleh wasit setelah memberikan peringatan keras kepada Zev. Pertandingan dilanjutkan, namun atmosfer telah berubah total. Tim Northern High yang tersulut emosi akibat cederanya rekan mereka mulai bermain dengan kesetanan.
Mereka melancarkan strategi full-court press, menekan pemain Jarvis High bahkan sebelum mereka bisa melewati garis tengah. Luca berjuang keras mengalirkan bola, namun Zev yang tampak terganggu oleh tatapan dingin Greta mulai kehilangan fokus dan berkali-kali melakukan kesalahan umpan.
Menit 8: Point guard Northern melakukan steal bersih dari tangan Zev dan langsung melakukan serangan balik cepat. Lay-up masuk. Skor: 32 - 27.
Menit 9: Northern kembali mencetak angka melalui tembakan tiga angka yang akurat dari sudut lapangan. Sorak-sorai pendukung lawan mulai menenggelamkan suara pendukung tuan rumah. Skor: 32 - 30.
Detik terakhir: Di tengah hiruk-pikuk, Luca mencoba melakukan tembakan jarak jauh, namun bola memantul di pinggir ring. Northern merebut rebound dan dengan sisa waktu dua detik, kapten mereka melepaskan tembakan jumper yang masuk tepat saat bel berbunyi.
BUZZER!
Papan skor digital di tengah lapangan menyala merah terang: 32 - 32. Skor imbang menutup babak pertama (halftime).
Para pemain mulai berjalan menuju ruang ganti. Luca tampak menyeka keringatnya dengan kasar, wajahnya menunjukkan rasa tidak puas yang mendalam. Sambil berjalan, matanya kembali mencari sosok Greta di tribun, seolah mencari sisa ketenangan di tengah kekacauan permainan.
Sementara itu, di tribun VIP, Norah berdiri perlahan. Ia tidak melihat ke arah lapangan lagi. Ia melirik Revelyn, memberikan kode dengan kepalanya, lalu mulai berjalan keluar dari area tribun menuju arah koridor bawah tepat ke arah di mana biasanya penonton turun untuk mencari minum atau ke toilet.
Suasana stadion mendadak bising oleh obrolan penonton yang tidak menyangka skor akan terkejar. Greta masih duduk di tempatnya, namun ia merasa sepasang mata terus mengawasinya dari kejauhan.
Di tengah kebisingan stadion yang masih membahas skor imbang 32 - 32, Greta tersentak saat seorang siswa dengan seragam OSIS menepuk bahunya.
"Greta? Kamu dipanggil ke ruang guru sekarang. Katanya ada berkas administrasi medis yang harus segera ditandatangani," ucap siswa itu datar.
Greta terdiam sejenak, lalu menoleh ke arah Clara. "Sebentar ya, Clara. Aku ke ruang guru dulu."
Clara hanya mengangguk pelan, matanya masih terpaku pada lapangan yang ricuh, tidak menyadari ada sesuatu yang janggal. Greta pun bangkit dan mulai berjalan membelah kerumunan, meninggalkan hingar-bingar stadion yang mulai menjauh di belakangnya.
Begitu melewati pintu gedung olahraga, suasana berubah drastis. Koridor utama menuju ruang guru tampak sangat sepi karena hampir seluruh penghuni sekolah berada di stadion. Langkah kaki Greta menggema di lantai marmer yang dingin. Hanya ada suara detak jam dinding dan embusan angin yang masuk melalui jendela terbuka.
Saat ia sampai di pangkal tangga menuju lantai dua, bulu kuduknya meremang. Ia merasa lorong itu terlalu sunyi.
Sret!
Tiba-tiba, sebuah kain hitam kasar disarungkan dari belakang, menutup kepalanya hingga gelap gulita. Greta tersentak kaget dan mulai memberontak sekuat tenaga. "Mmph! Siapa ini?!" teriaknya tertahan di balik kain.
Greta mencoba menyikut orang di belakangnya, namun sebuah hantaman keras mendarat tepat di perutnya.
BUGH!
Rasa sakit yang hebat menjalar seketika, membuat napasnya terputus. Greta tersungkur ke lantai, memegangi perutnya yang mulas luar biasa. Dalam keadaan lemas dan pandangan yang tertutup kain, ia merasakan dua pasang tangan kasar menyeret tubuhnya di sepanjang lantai.
Ia tidak dibawa menuju ruang guru. Suara gesekan sepatunya di lantai berganti menjadi suara kerikil dan rumput. Greta tahu, ia sedang dibawa paksa menjauh dari gedung utama, menuju ke arah gedung belakang sekolah yang sudah lama tidak digunakan dan terisolasi dari keramaian pertandingan.
Di stadion, Luca baru saja keluar dari ruang ganti untuk memulai Quarter Ketiga, namun matanya langsung mencari-cari di tribun penonton. Kursi di samping Clara kosong.
Kain hitam yang pengap itu direnggut kasar dari kepala Greta. Ia terbatuk, menghirup udara dingin yang berbau debu dan lembap. Matanya berkedip berkali-kali, berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya lampu yang remang-remang dan kekuningan.
Greta menyadari dirinya berada di dalam sebuah ruangan sempit di gedung belakang sekolah yang terbengkalai. Ruangan itu tidak memiliki jendela; tidak ada satu pun celah bagi cahaya matahari untuk masuk, membuatnya terasa seperti sebuah peti mati beton yang terisolasi dari sorak-sorai pertandingan di stadion.
Di depannya, bayangan seseorang berdiri tegak. Revelyn menatapnya dengan rahang mengeras, tangannya menggenggam erat sebuah pemukul baseball logam yang sesekali ia ketukkan ke telapak tangannya sendiri. Suara ting... ting... logam itu bergema mengerikan di ruangan yang sunyi.
"Ternyata kamu punya nyali juga untuk datang hari ini," suara itu bukan berasal dari Revelyn.
Greta menoleh dengan susah payah. Dari sudut yang gelap di belakangnya, Norah muncul perlahan. Senyumnya mengembang, namun matanya memancarkan kegilaan yang dingin. Di tangannya, ia tidak memegang ponsel atau tas bermerek, melainkan sebuah balok batu bata yang permukaannya kasar dan tajam.
Norah berjalan mendekat, memutar-mutar batu bata itu seolah sedang menimbang-nimbang beratnya. Ia berhenti tepat di depan Greta yang masih tersungkur lemas di lantai.
"Aku sangat benci potongan rambut barumu, Greta," bisik Norah sambil berlutut, mendekatkan wajahnya. "Dan aku lebih benci lagi melihat cara Luca menatapmu di lapangan tadi. Jadi, bagaimana kalau kita buat sedikit 'kenang-kenangan' agar kamu tidak perlu kembali ke lapangan lagi?"
Norah mengangkat batu bata itu tinggi-tinggi ke udara, sementara Revelyn mengangkat pemukul baseball-nya, bersiap untuk menghujamkan serangan.
oke lanjut thor.. seru ceita nya