NovelToon NovelToon
Membuang Tunangan Sampah, Ku Nikahi Pamannya

Membuang Tunangan Sampah, Ku Nikahi Pamannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Pernikahan Kilat / Pengantin Pengganti / Nikah Kontrak
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Jeju Oranye

Di khianati tunangan sampah, eh malah dapat pamannya yang tampan perkasa!

Cerita berawal dari Mayra andini kusumo yang mengetahui jika calon suaminya Arman, berselingkuh dengan kakak tirinya sendiri.

Di hari pernikahannya mayra mengajak Dev-- paman dari Arman untuk menikah dengan nya, yang kebetulan menjadi tamu di pernikahan keponakannya. Dan mayra juga membongkar perselingkuhan arman dan Zakia yang di lakukan di belakangnya selama ini.


Cerita tidak sampai di situ, setelah menikah dengan Dev, Mayra jadi tahu sisi lain dari pria dingin itu.

Dapatkan mayra meluluhkan hati Dev yang sekeras batu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Liburan kecil sebelum pernikahan

Setelah puas menikmati Taman Eden, mereka berkendara ke villa resort yang Dev pesan untuk menginap semalam. Hanya butuh waktu sekitar 15 menit dari lokasi mereka saat ini.

Villa-nya ternyata sangat privat dan romantis, berdiri sendiri di tengah kebun teh, dengan pemandangan 360 derajat ke pegunungan. Arsitektur modern minimalis dengan dominasi kaca, sehingga pemandangan daripada alam terlihat dari setiap sudut.

Interior villa sangat nyaman. Adaruang tamu dengan perapian, kamar tidur luas dengan tempat tidur king size dan jendela besar menghadap gunung, kamar mandi dengan bathtub besar, dan yang paling Mayra suka, balkon pribadi dengan daybed dan selimut hangat untuk menikmati pemandangan.

"Wah... Honey, ini luar biasa," kata Mayra sambil menjelajahi villa.

"Aku tahu kamu akan suka," jawab Dev sambil menaruh tas mereka di kamar. "Aku sudah atur makan malam pribadi di villa jam tujuh nanti. Jadi kita bisa santai dulu, mungkin jalan-jalan di sekitar area, atau hanya bersantai di sini."

"Boleh kita jalan-jalan sebentar? Aku mau lihat kebun teh," pinta Mayra.

"Tentu. Ayo."

Mereka berjalan-jalan di antara perkebunan teh yang hijau dan rapi, dengan udara yang sangat sejuk dan segar. Mayra mengambil banyak foto. Ada pemandangan, selfie berdua dengan Dev, detail-detail cantik dari kebun teh yang dia ambil melalui kameranya.

"Ini bisa jadi ide untuk foto pra-pernikahan kita," kata Mayra sambil memotret Dev yang berdiri di tengah kebun teh. "Latar belakangnya cantik banget."

"Asalkan kamu yang foto bareng aku, aku mau dimana aja," kata Dev dengan senyum.

Setelah puas berjalan-jalan, mereka kembali ke villa dan memutuskan untuk bersantai di balkon dengan secangkir teh hangat dan selimut.

Mayra duduk di antara kaki Dev yang memeluknya dari belakang, keduanya membungkus diri dengan selimut tebal sambil menikmati matahari terbenam di pegunungan.

"Ini tenang banget," gumam Mayra sambil memejamkan mata. "Aku bisa- bisa terbiasa dengan semua ketenangan ini."

"Kita bisa sering-sering kesini kalau kamu mau. Buat kabur dari hiruk pikuk Jakarta," kata Dev sambil mengusap lengan Mayra dengan lembut.

"Aku suka ide itu," sahut Mayra. "Mungkin setelah bayi kita lahir nanti, kita bisa bawa dia kesini. Udara segar bagus untuk anak kecil."

Dev terdiam sebentar, lalu bertanya dengan hati-hati, "Kamu sudah mulai mikirin tentang punya anak?"

Iya," jawab Mayra jujur sambil mengangguk kecil. "Belum mendesak atau apa. Tapi aku mulai membayangkan seperti apa rasanya punya Dev kecil atau Mayra kecil berlarian di rumah kita."

Dev tersenyum dan memeluk Mayra lebih erat. "Aku juga mulai mikirin itu. Dan jujur? Aku bersemangat. Agak menakutkan, tapi bersemangat."

"Menakutkan kenapa?" tanya Mayra sambil berbalik sedikit untuk menatap Dev.

"Karena aku tidak punya pengalaman yang bagus untuk menjadi seorang ayah. Hubunganku dengan ayahku sendiri tidak bagus. Dan aku takut aku akan jadi ayah yang buruk," Dev mengaku dengan sorot matanya yang rentan.

Mayra memutar tubuhnya sepenuhnya untuk menghadap Dev, tangannya memegang wajah suaminya dengan lembut.

"Dev, dengarkan aku. Kamu tidak akan jadi ayah yang buruk. Kamu akan jadi ayah yang luar biasa. Aku tahu itu," kata Mayra dengan yakin.

"Dari mana kamu tahu?" tanya Dev dengan ragu.

"Karena aku melihat bagaimana kamu memperlakukan orang-orang yang kamu sayangi. Bagaimana kamu peduli padaku, pada Papa, bahkan pada Marco dan orang-orang di kantor. Kamu punya kapasitas untuk mencintai dan peduli yang sangat besar, Dev. Kamu hanya perlu percaya pada diri sendiri," jelas Mayra.

Dev menatap mata Mayra dengan tatapan yang penuh emosional. "Kamu selalu tahu apa yang harus dikatakan untuk membuatku merasa lebih baik."

"Karena aku mengenalmu, Dev Armando. Aku tahu siapa kamu di dalam, di balik semua tembok dan kedinginan yang kamu tunjukkan ke dunia luar. Dan aku mencintai semua bagian darimu," kata Mayra sebelum mencium Dev dengan lembut.

Ciuman itu perlahan menjadi lebih dalam, lebih penuh gairah. Dev mengangkat Mayra dengan mudah, Mayra melingkarkan kakinya di pinggang Dev, dan membawanya masuk ke dalam villa, ke kamar tidur.

Mereka menghabiskan sisa sore itu tenggelam dalam satu sama lain, mengekspresikan cinta mereka tanpa kata-kata.

***

Jam tujuh malam, ada ketukan di pintu villa. Staf resort membawa makan malam yang sudah Dev pesan: set menu romantis dengan hidangan pembuka, hidangan utama, pencuci mulut, dan wine.

Mereka makan di balkon yang sudah dipasangi pemanas supaya tetap hangat, dengan lilin-lilin yang membuat suasana semakin romantis.

"Steak ini enak banget," komentar Mayra sambil menikmati wagyu steak yang empuk. Kepalanya sampai geleng-geleng ke kiri dan ke kanan, gesture khas kaum hawa saat benar-benar menikmati makanannya.

"Tapi tidak seenak masakan aku kan?" goda Dev.

Mayra tertawa. "Hmm, pesaing ketat. Tapi ya, masakan kamu masih yang terbaik."

Setelah makan malam, mereka duduk di daybed di balkon, membungkus diri dengan selimut, menikmati langit malam Puncak yang penuh bintang, jauh dari polusi cahaya Jakarta.

"Lihat, bintang jatuh!" tunjuk Mayra dengan bersemangat saat melihat bintang jatuh.

"Buat permintaan," kata Dev.

Mayra memejamkan mata dan bergumam sesuatu, lalu membuka mata dengan senyum.

"Apa yang kamu minta?" tanya Dev dengan penasaran.

"Tidak boleh dibilang, nanti tidak akan jadi kenyataan," jawab Mayra dengan guyonan.

"Baiklah. Aku juga minta sesuatu," kata Dev sambil memejamkan mata sebentar.

"Apa permintaanmu?" tanya Mayra.

"Aku juga tidak boleh bilang," goda Dev.

Mayra memukul lengan Dev dengan pelan sambil tertawa. "Tidak adil!"

Dev tertawa dan menarik Mayra ke dalam pelukannya. "Oke, aku akan bilang. Permintaanku adalah... semoga kita selalu sebahagia ini. Semoga apapun yang terjadi di masa depan--anak, tantangan, apapun--kita akan selalu menghadapinya bersama dan menjadi lebih kuat juga harmonis."

Mayra merasakan matanya berkaca-kaca lagi. "Itu indah. Dan kamu tahu apa? Itu juga permintaanku."

"Orang-orang hebat memang berpikir sama," kata Dev sambil mencium kening Mayra.

Mereka menghabiskan sisa malam itu berbincang tentang masa depan: tentang upacara pernikahan yang akan datang, tentang bulan madu yang benar nanti, tentang rumah yang mereka ingin beli suatu hari, tentang anak-anak yang mungkin mereka punya, tentang menua bersama.

Dan untuk pertama kalinya, Mayra benar-benar bisa membayangkan semua itu dengan jelas. Masa depan yang indah dengan Dev. Bukan lagi sekadar fantasi, tapi sesuatu yang nyata dan bisa dicapai.

Karena mereka bukan lagi dalam kontrak sementara.

Mereka adalah suami istri yang sebenarnya.

Dan mereka akan membangun kehidupan yang indah bersama.

Langkah demi langkah.

Hari demi hari.

Selamanya.

***

Pagi Minggu, mereka sarapan di teras villa dengan pemandangan pegunungan yang diselimuti kabut tipis, ajaib dan itu terlihat seperti lukisan.

"Aku tidak mau pulang," keluh Mayra sambil menyesap kopi hangatnya. "Bisa kita tinggal di sini selamanya?"

Dev tertawa. "Sayangnya kita punya kehidupan di Jakarta. Tapi kita bisa sering-sering balik kesini. Aku janji."

"Oke, aku akan pegang janjimu," kata Mayra.

Sebelum check out, mereka sempat foto-foto lagi di sekitar villa, untuk kenangan dan mungkin juga untuk diposting di media sosial nanti.

Perjalanan pulang ke Jakarta berlangsung dengan perasaan puas dan bahagia. Mayra dan Dev sudah punya tempat untuk pernikahan mereka. Langkah besar pertama sudah selesai.

Sekarang tinggal detail-detail lainnya.

Tapi Mayra tahu, dengan Dev di sampingnya, semuanya akan berjalan dengan sempurna.

Karena mereka adalah tim.

Dan bersama, mereka bisa menghadapi apapun.

****

BERSAMBUNG

1
arniya
mampir kak
Siti Maryati
enak alur ceritanya
Siti Maryati
👏👏👏👏
Ryn
lanjut thourr
Siti Maryati
aku juga siap .....
menunggu mu update lagi
Siti Maryati
Doble triple ya up nya
olyv
lanjut....
Siti Maryati
seru
Siti Maryati
ditunggu up nya ya
astr.id_est 🌻
😄😄 wahh karya baru lagi thor semangat terus ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!