Greta Oto Wright terlahir sebagai putri dengan mata yang berbeda warna (Heterochromia) sama seperti ayahnya, sebuah tanda yang diyakini membawa nasib buruk. Sejak dalam kandungan, seekor kupu-kupu kaca tembus pandang telah berterbangan di sekitar istana, seolah-olah menjaga dan mengawasinya.
Ketika tragedi menimpa kerajaan, Greta menjadi terisolasi, terperangkap oleh mitos, ketakutan, dan rahasia orang-orang terdekatnya. Dalam keheningan dan keterasingan, ia perlahan menyadari bahwa apa yang disebut kutukan itu mungkin adalah kekuatan yang tersembunyi dari dunia.
Note: Non Romance
Follow ig: gretaela82
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Greta Ela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. Siapa yang Berbohong?
Chelyne membawa Greta kembali ke dalam castle. Ia menarik napas perlahan, membiarkan dirinya percaya bahwa tubuhnya memang mulai membaik, setidaknya cukup untuk berjalan sendiri tanpa gemetar.
Di dekat jendela besar yang menghadap halaman luar, Arion berdiri diam. Tatapannya kosong, tangannya bertumpu di bingkai jendela, bahunya kaku, napasnya tertahan.
Chelyne mendekat tanpa suara sementara Greta tertinggal dibelakang bersama kumbangnya.
"Kau melamun," katanya pelan.
"Ada apa Arion?" tanya Chelyne
Arion tersentak kecil, lalu menoleh. Wajahnya tampak lelah, jauh dari sosok raja yang biasanya tegas dan penuh kendali.
"Aku takut, Chelyne."
"Kelihatannya lebih dari itu," jawab Chelyne.
Ia berdiri di samping suaminya, ikut memandang halaman. Air pancuran mengalir tenang, memantulkan cahaya. Dari sudut pandang itu, castle terlihat damai, seolah tidak pernah ada batuk, ketakutan, atau rahasia.
"Segalanya terasa salah tempat. Kau membaik, tapi aku tidak merasa lega. Seharusnya aku tenang sekarang, bukan?"
Chelyne tersenyum tipis. "Mungkin karena kau terlalu lama hidup dalam ketakutan."
Arion menghela napas. "Aku hanya ingin melindungi keluarga kita."
"Aku tahu," jawab Chelyne tenang.
"Dan aku menghargainya. Tapi lihat aku sekarang." Ia menepuk dadanya sendiri pelan.
"Tubuhku memang belum sepenuhnya kuat, tapi aku tidak lagi terbaring tak berdaya. Aku bisa berjalan, aku bisa duduk di halaman dan bahkan menggendong anak kita."
Arion menatapnya, seolah baru menyadari keberadaan Chelyne di sampingnya, benar-benar hidup dan berdiri di sana.
"Aku mulai membaik, Arion." lanjut Chelyne.
"Setidaknya, itulah yang kurasakan."
...****************...
Sementara itu, di halaman dalam, Thaddeus duduk di lantai batu, menemani Greta yang tengah asyik memperhatikan seekor kumbang kecil. Serangga itu merayap pelan di telapak tangan Greta, antenanya bergerak-gerak, seolah sedang menyelidiki dunia.
"Kakak... kumbang ini lucu" ujar Greta
Thaddeus tersenyum tipis. "Hati-hati. Jangan ditekan."
"Aku tahu," jawab Greta.
"Dia bilang jangan takut."
Thaddeus berhenti tersenyum. Ia menatap adiknya dengan heran, lalu kumbang itu.
"Dia bilang?"
Greta mengangguk, seolah itu hal paling wajar di dunia.
Thaddeus tidak menanggapi, mungkin Greta hanya salah bicara.
"Tunggu disini."
Thaddeus meninggalkan Greta sendirian, Ia merasa memiliki niat untuk memanah.
"Satu kali saja." gumamnya
Greta mengangguk patuh. Ia duduk diam, tangannya tetap terbuka agar kumbang itu bisa bergerak sesuka hati.
Thaddeus berjalan menjauh.
Dari lorong samping, Grace memperhatikan semuanya. Wajahnya datar, dan matanya menunjukkan ketidaksukaan.
Ia menunggu saat yang tepat, memastikan Thaddeus benar-benar pergi. Greta kini sendirian, kecil, lengah, dan tidak diawasi.
Grace melangkah mendekat.
Ia berpura-pura tersandung, menggeser kakinya ke arah Greta. Sedikit dorongan saja cukup. Anak itu akan jatuh. Tangis, luka kecil, kekacauan. Tidak fatal, tapi cukup untuk menimbulkan kesan.
Namun sebelum kakinya benar-benar menyentuh Greta, kupu-kupu kaca itu muncul.
Beberapa ekor berterbangan rendah, memotong jalur langkah Grace. Sayap bening mereka berkilau, bergerak cepat, seolah membentuk dinding tak terlihat. Grace berhenti mendadak.
Wajahnya mengernyit tidak suka.
"Apa-apaan ini." gumamnya.
Tanpa berpikir panjang, Greta berdiri dan berlari ke arah lorong tempat orang tuanya berada. Kupu-kupu kaca mengikuti, berputar di sekelilingnya seperti penjaga kecil yang gelisah.
Grace berdiri terpaku sejenak. Tangannya mengepal. Raut wajahnya murung, bukan karena gagal, tapi karena merasa diawasi oleh sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan.
Saat Greta tiba di dekat Chelyne dan Arion, Grace menyusul, sedikit terengah, seolah cemas.
"Yang Mulia," katanya pada Chelyne.
"Aku dengar anda banyak bergerak hari ini. Bagaimana kondisi anda? Apakah terlalu melelahkan?"
Chelyne tersenyum sopan. "Tidak, Grace. Aku merasa jauh lebih baik. Tubuhku sudah mulai pulih."
Grace mengangguk, senyum kecil terpaksa di wajahnya. "Syukurlah."
Greta berdiri di antara orang tuanya. Kupu-kupu kaca masih berputar di atas kepala mereka, lalu perlahan menyingkir ke sudut-sudut lorong.
Chelyne menunduk pada Greta.
"Kau baik-baik saja?"
Greta mengangguk. Lalu, dengan nada polos yang tiba-tiba terdengar terlalu jelas, ia berkata,
"Di sini ada yang berbohong."
Semua terdiam.
Arion menoleh. "Apa maksudmu, Greta?"
Greta menatap ibunya. Tatapannya tidak menuduh, tidak takut. Greta hanya ingin ibunya jujur.
"Ibu bilang sudah sembuh. Tapi ibu masih sakit."
Chelyne terkejut. "Sayang—"
Chelyne kembali batuk. Bukan kecil, bukan satu kali. Bahkan batuk itu terdengar hingga ke belakang lorong dan didengar oleh beberapa pelayan dan pengawal.
Batuk itu menghentikan napasnya, memaksa Chelyne membungkuk, tangannya menutup mulut. Suara itu memecah keheningan seperti kaca retak.
Pada saat yang sama, kupu-kupu kaca terbang berhamburan. Mereka terbang keluar castle, melewati jendela, lorong, dan celah-celah pintu, seolah ada sesuatu yang tak lagi bisa mereka tahan di dalam.
Arion memegang bahu Chelyne dengan panik.
"Chelyne!"
Thaddeus berhenti melepas anak panahnya, kupu-kupu kaca itu berterbangan juga ke arah Thaddeus.
"Apa ini?" batinnya heran.
Thaddeus segera meletakkan panahnya dan berlari kembali ke dalam castle, Ia mulai panik
"Ada apa ini?" tanya Thaddeus sambil mendekat ke arah Greta
Greta berdiri diam.
"Mereka bilang ibu belum sembuh," ucapnya pelan.
"Mereka bilang ada yang tidak jujur."
Grace mundur selangkah. Senyumnya hilang. Untuk sesaat, wajah aslinya hampir terlihat, sebelum ia menunduk dan berpura-pura terkejut.
"Anak itu..." bisik salah satu pengawal tanpa sadar.
Arion mengangkat wajahnya. Ia menatap Greta dan Chelyne, lalu kupu-kupu yang kini menghilang di kejauhan.
"Ibu belum sembuh."
"Ibu belum sembuh." ujar Greta dua kali.
Satu kupu-kupu kaca berhenti mengepakkan sayapnya dan hinggap ditangan Greta.
"Greta, apa yang kau katakan?" tanya Thaddeus yang panik.
"Bagaimana mungkin..." gumam Arion.
Greta perlahan mendekati ibunya dan lalu memegang tangan ibunya. Seketika batuk itu reda dan Chelyne bisa bernapas lebih lega.
"Ibu." panggilnya
Chelyne menoleh ke Greta lagi. "Bagaimana kau tahu kalau ibu belum sembuh?"
Greta menggeleng. "Aku tidak tahu. Mereka yang bilang."
"Siapa yang bilang, Greta?" tanya Chelyne heran
Greta mengangkat jarinya ke udara kosong.
"Serangga."
Kupu-kupu kaca itu mulai terbang dengan normal disekitaran castle.
Arion mundur selangkah. Ini bukan ketakutan yang muncul di wajahnya, tapi kebingungan murni. Selama ini ia takut Greta pembawa sial.
Tapi bagaimana jika bukan itu?
"Apa maksudmu dengan serangga itu, Greta?" tanya Thaddeus
Greta menggelengkan kepalanya pelan
"Kupu-kupu ini bilang bahwa ibu belum sembuh." ujar Greta
Arion tidak mengerti apa yang dimaksud oleh putrinya. Bagaimana mungkin ini semua terjadi secara bersamaan?
Kupu-kupu kaca yang tenang tiba-tiba terbang berhamburan saat Greta berkata ada yang berbohong?
"Apa maksudnya semua ini?" batin Arion
Greta melihat ke arah Grace dengan tatapan tajam seolah-olah kupu-kupu kaca yang hinggap ditangan Greta ingin memberi tahu perbuatan Grace yang sebenarnya.
Tapi mungkin ini belum saatnya, kupu-kupu kaca itu pergi terbang dari tangan Greta lalu gadis kecil itu terjatuh dan pingsan.
"Greta!" teriak Arion panik