(Bukan Novel yang awalnya benci jadi cinta ya, alur sesuai imajinasi Mimin)
Rania, seorang perantau dari Indonesia, datang ke negeri asing hanya untuk bertahan hidup. Ia tidak pernah menyangka langkah nekatnya akan mempertemukannya dengan Marco seorang mafia besar, dingin, berbahaya, dan bucin tingkat dewa.
Pertemuan mereka menyeret Rania ke dunia gelap penuh kekuasaan, obsesi, dan perlindungan berlebihan. Cinta yang salah, pria yang salah... tapi terlalu sulit untuk ditolak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyai Nung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengklaim.
Marry terkejut dengan apa yang Rania katakan, ia ingin menghentikan Rania namun Rania sepertinya serius dengan ucapannya.
dikamar nya Rania sudah mengemasi barang-barangnya, ia menatap layar ponselnya melihat foto kedua anak nya.
"Bunda pulang nak" ujar Rania pada dirinya sendiri.
Marco sedang duduk diruang kerja nya melakukan rapat melalui laptopnya, Asisten nya Jerry masuk keruangan nya dan menunduk hormat sebentar, menunggu tuannya selesai rapat.
"Tuan, Marry ingin bertemu" ujar Jerry.
"suruh masuk" ujar Marco dingin.
Jerry melangkah keluar, selang beberapa detik Marry masuk kedalam dan meletakkan cangkir kopi diatas meja Marco.
"Tuan, Rania besok akan kembali ke Indonesia" ujar Marry.
Marco yang hendak meminum kopinya terhenti, ia menatap Marry dingin.
"apa maksud mu?" tanya Marco dingin.
"tadi pagi setelah keluar dari kamar anda Rania menangis dan mengatakan ingin pulang ke Indonesia" ujar Marry.
Marco diam, namun tangan nya mengepal kuat.
"Keluar" ujar Marco dingin. Marry mengangguk lalu keluar dari ruangan Marco.
Marco menatap lama cangkir kopi itu, rahang nya mengeras, tangannya mengepal.
ia mengepalkan tangan nya dan berdiri dari kursi nya, lalu berjalan keluar dari ruangan nya, langkahnya cepat di lorong rumah nya.
Marco berhenti didepan pintu kamar Rania, saat ia ingin mengetuk pintu itu sudah terbuka dari dalam Rania keluar namun terkejut melihat Marco berdiri didepan pintu kamarnya dan melangkah mundur.
"Tuan apa yang kau lakukan didepan kamar ku? " tanya Rania terkejut.
"Kau ingin pulang ke Indonesia? Kenapa?" tanya Marco dingin.
Rania terdiam sejenak lalu menatap Marco.
"Itu... Saya rasa saya tidak cocok bekerja disini, saya juga rindu sama anak-anak saya" jawab Rania.
Marco melangkah maju, Rania mundur begitu masuk kekamar Rania Marco menutup pintu kamar Rania.
"t-tuan mau apa?" tanya Rania takut.
"Aku tidak mengizinkan mu pergi" ujar Marco dingin.
Rania tersandung hingga terjatuh ditempat tidurnya, Marco mengurung Rania ditempat tidur kedua tangannya disisi kepala Rania.
"Mine, only mine"
Rania mendorong dada Marco. "Tuan ini salah, tolong jangan perlakukan saya seperti ini" ujar Rania, matanya mulai berkaca-kaca.
Marco menatap nya dan mengusap pipi chubby Rania.
Marco menyingkir dari atas tubuh Rania, namun tidak sampai disitu, ia menarik Rania kedalam gendongan nya, bukan gendongan ala pengantin tapi digendong seperti karung beras.
"Tuan... Tuan... Apa yang kau lakukan turun saya!" ujar Rania memukul punggung Marco.
Pria ini sudah gila, kenapa dia dengan mudah menggendong nya, padahal Rania ini bisa dibilang gemuk berat badan nya saja 70 kg.
"Tuan tolong turunkan saya. Tuan!" Rania terus memukul punggung Marco dan memberontak namun pria itu tidak bergeming dan terus membawa Rania, saat melewati ruang tamu semua maid dan bodyguard menoleh serempak. Marry sang kepala pelayan juga menoleh terkejut.
Plak!
"Diam sayang, kau tidak akan pergi kemanapun" ujar Marco dingin setelah dengan santai memukul bokong Rania.
Wajah Rania memerah hingga lehernya berhenti memukul dan memberontak ia malah menutup wajahnya dengan tangan nya sendiri, Semua melongo dengan mulut terbuka lebar. Marry menutup mulutnya tak percaya lalu mengeluarkan ponselnya dan mengambil foto langkah itu.
Vika yang sedang mengepel juga terdiam tangan nya mengepal mencengkram kuat gagang pel itu.
Marco berjalan masuk kekamar nya, ia menurunkan Rania di atas ranjang nya kembali mengukung Rania dibawah tubuh nya.
"Kau tidak akan kemanapun" ujar nya mengusap lembut pipi chubby Rania.
"Tuan saya ingin pulang, anak-anak saya masih kecil" ujar Rania menahan dada Marco pria itu ingin menciumnya.
"Anak-anak? Mereka akan baik-baik saja" ujar Marco
"Ingatlah, mulai sekarang kau milikku. Aku tidak akan biarkan kau pergi kemanapun" ujarnya lembut nada dingin biasa hilang.
"Tuan apa yang kau bicarakan, aku aku menikah dan sudah memiliki anak" ujar Rania berbohong.
Marco tersenyum miring. "menikah? Bukankah kau sudah bercerai saat anak perempuan mu berusia 1 tahun" ujar Marco.
Rania membeku ia langsung menatap Marco.
"b-bagaimana kau tau? "tanya Rania gemetar.
"itu sangat mudah bagiku sayang" ujar Marco mengusap pipi chubby Rania lembut.
Rania menggerakkan kakinya menendang selangkangan Marco. Marco langsung memegangi selangkangan nya dan meringkuk disamping Rania.
Rania bangun dan berlari keluar dari kamar Marco, ia berlari menuruni tangga dengan tergesa-gesa, Marry dan Vika mengerutkan dahinya bingung. Rania terus berlari menuju pintu utama namun karna tubuh gempal nya membuat nya cepat lelah. nafas Rania muali tersengal-sengal ia berlari keluar dari pintu utama menuju gerbang namun gerbang sangat jauh Rania terus berlari hendak keluar namun kedua bodyguard menahan nya.
"Nyonya, tuan melarang anda keluar " ujar Bodyguard itu datar.
Rania menggeleng cepat. "bukan... Bukan.. Aku bukan nyonya rumah ini, aku hanya seorang Maid baru" ujar Rania mencoba menjelaskan namun bodyguard itu tak bereaksi.
Rania hendak menerobos namun lagi dan lagi tubuh terangkat digendong ala karung beras, siapa lagi pelakunya kalau bukan Marco.
"Sudah aku bilang kau tidak akan pergi kemanapun, dan kau berani menendang adikku, bukankan kau harus dihukum sayang" ujar Marco dingin membawa Rania kembali kekamar nya.
Begitu sampai didalam kamar, Marco melempar tubuh Rania keatas ranjang nya, ia mencengkram kuat dagu Rania.
"Dengar sayang, aku sudah bilang kau milikku, itu artinya semua yang ada dirimu, jiwamu dan semuanya milikku" ujar Marco dingin lalu melepaskan cengkraman dagu Rania. Marco berbalik pergi meninggalkan Rania didalam kamarnya tak lupa ia mengunci pintu dan menyuruh dua bodyguard berjaga didepan pintu kamarnya.
Rania turun dari tempat tidur berlari kearah pintu, ia mencoba membuka pintu tapi pintu itu terkunci, Rania menggedor dan berteriak namun tidak ada yang menjawab. Airmata sudah membasahi pipinya.
"buka... Buka.... Tolong buka pintu nya!! Aku ingin pulang! Aku ingin pulang!!" teriak Rania kencang namun tak ada yang menjawabnya.
Rania terduduk dilantai sambil menangis, kenapa malah jadi seperti ini, ia hanya ingin bekerja dan menghasilkan uang dengan tenang, kenapa ia malah terkurung dikamar Bos nya sendiri.