NovelToon NovelToon
Pesona Pengasuh Anak Dokter Duda Nyebelin

Pesona Pengasuh Anak Dokter Duda Nyebelin

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Romansa pedesaan / Cinta Seiring Waktu / Duda / Romansa / Pengasuh
Popularitas:91.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

Krisna Wijaya, seorang dokter berusia 32 tahun, pulang ke kampung halaman setelah perceraian yang menghancurkan hidupnya. Ia membawa luka, kesepian, dan seorang bayi enam bulan yang kini menjadi pusat dunianya. Di desa kecil Yogyakarta itu, Krisna berniat membuka klinik—membangun hidup baru dengan jarak aman dari perasaan.

Raisa, gadis 19 tahun yang keras dan apa adanya, berjuang membantu keluarganya demi bertahan hidup. Ia tidak bermimpi besar, hanya ingin bekerja dan tidak merepotkan orang tuanya. Takdir mempertemukan mereka dalam sebuah insiden di jalan—penuh amarah dan salah paham.

Namun perlahan, bayi kecil bernama Ezio menjadi jembatan yang tak mereka rencanakan. Dalam pelukan Raisa, Ezio menemukan ketenangan. Dalam kehadiran Raisa, Krisna dipaksa menghadapi egonya sendiri.

Ketika kelas sosial, usia, dan luka masa lalu menjadi penghalang, mampukah dua hati yang sama-sama lelah ini menemukan rumah … satu sama lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10. Hanya Kebetulan

Baby Ezio membuka mulut lebar, sendok masuk tanpa drama. Tidak ada tangisan. Tidak ada penolakan.

Raisa tersenyum kecil tanpa sadar.

Di ambang dapur, Bu Lita berdiri memperhatikan. Wajahnya yang sejak pagi tegang kini melunak.

“Masya Allah,” katanya pelan. “Ternyata cucu Ibu anteng sama kamu, Raisa.”

Raisa menoleh cepat, sedikit kikuk. “Oh … itu … cuma kebetulan saja kali, Bu. Mungkin dedenya lagi jenuh aja.”

Ia buru-buru menambahkan, seolah ingin menjaga jarak dari pujian itu. “Biasanya juga anak kecil suka siapa aja yang hatinya  Sabar dan tulus.”

Bu Lita tersenyum makin lebar. “Kebetulan yang jarang sekali ya.”

Raisa tertawa kecil, canggung. “Ah, Ibu bisa aja.”

Dalam hatinya, Raisa bergumam kesal.

Kalau bapaknya nggak nyebelin, mungkin aku nggak segan-segan nerima pujian ini. Sayangnya, bapaknya udah kayak singa.

Ia kembali menyuapi baby Ezio, tangannya mantap. Ada ritme alami di antara mereka—suapan, jeda, usapan kecil di pipi.

Krisna muncul di ambang pintu dapur tanpa disadari Raisa.

Ia berdiri di sana, memperhatikan.

Cara Raisa memegang sendok. Cara ia menunggu respon anaknya. Cara ia tidak memaksa. Cara bayi itu menatapnya dengan penuh percaya.

Dadanya terasa aneh lagi.

“Alhamdulillah, bentar lagi makannya habis nih,” kata Raisa lembut. “Hebat, Dede.”

Baby Ezio mengoceh kecil, seolah menjawab.

Krisna berdeham pelan.

Raisa menoleh. “Oh. Mas.”

Tatapan mereka bertemu. Sejenak hening.

“Wawancara pelamarnya sudah selesai, Mas?” tanya Raisa basa-basi, nadanya datar.

“Sudah,” jawab Krisna singkat.

Raisa mengangguk. “Semoga dapet yang cocok.”

Krisna tidak langsung menjawab. Pandangannya turun ke baby Ezio. “Dia … susah makan biasanya.”

Raisa mengangkat bahu kecil. “Oh, begitu. Mungkin dia cuma pengen ditemenin, diajak ngobrol, diajak main. Bayi kan gitu.”

Krisna terdiam.

“Kalau sudah ngurus pekerjaannya,” lanjut Raisa sambil berdiri, “saya mau lanjut bantu di dapur.”

Ia hendak mengambil lap, tapi Bu Lita menahannya. “Biar Ibu saja. Kamu temani Ezio dulu.”

Raisa ragu. “Tapi Bu—”

“Ibu bilang temani,” potong Bu Lita lembut tapi tegas.

Raisa terpaksa duduk kembali. Baby Ezio menggapai jarinya. Lalu, Krisna kembali ke depan.

***

Di ruang tamu, Krisna memanggil ketiga pelamar itu masuk kembali. Mereka berdiri berjejer, rapi, senyum-senyum tipis kembali muncul.

Krisna berdiri. “Terima kasih sudah datang. Saya akan pertimbangkan dan segera memberi kabar.”

Ketiganya mengangguk, tapi tatapan mereka tak bisa menyembunyikan ketegangan.

Setelah mereka keluar, Krisna berdiri lama di ruang tamu yang kini sepi.

Ia menoleh ke arah lorong dapur.

Dari sana terdengar suara Raisa yang pelan, suara sendok kecil, suara bayi yang tenang.

Tiga pelamar menunggu keputusan.

Sementara keputusan yang paling nyata—yang paling hidup—sedang duduk beberapa meter darinya, tanpa melamar, tanpa berharap, tanpa sadar bahwa keberadaannya telah mengacaukan semua standar yang selama ini Krisna pegang.

Dan itu membuatnya gelisah.

Karena untuk pertama kalinya sejak ia kembali ke desa, Krisna menyadari: Masalahnya bukan memilih siapa yang paling berpengalaman.

Masalahnya adalah mengakui bahwa ia mempercayai seseorang yang seharusnya tidak ia percayai sedalam itu.

***

Setelah sendok terakhir masuk ke mulut baby Ezio, Raisa menarik napas lega.

“Pinter,” gumamnya pelan sambil mengusap sudut bibir bayi itu dengan tisu kecil. “Makannya nggak pakai drama ya, De.”

Baby Ezio mengoceh kecil, tangannya bergerak-gerak, celemeknya sudah sedikit ternoda sisa MPASI. Raisa sigap membersihkan tangan mungil itu satu per satu, lalu mengelap pipinya yang tembam dengan gerakan lembut. Gerakannya cekatan, terlatih—seperti sudah sering melakukan ini sejak lama.

Namun begitu selesai, Raisa mengernyit.

Baju baby Ezio basah di bagian dada.

“Baju Dede kotor,” gumamnya. “Harus ganti baju.”

Ia melirik sekeliling dapur. Lemari kecil yang berisi peralatan makan jelas bukan tempat baju bayi. Raisa menggigit bibirnya sebentar, lalu menggendong baby Ezio lebih nyaman di lengannya.

“Oke, kita cari bapaknya,” katanya lirih pada Ezio.

Ia melangkah keluar dapur menuju ruang tengah. Di sana, Krisna berdiri dekat jendela, ponsel menempel di telinga. Wajahnya serius, suaranya rendah.

“Iya, Yah ...  nanti aku kabari lagi ... iya.”

Raisa berhenti beberapa langkah dari Krisna. Ia berdiri menunggu, sedikit gelisah. Baby Ezio di pelukannya mulai menggeliat kecil, seolah tidak betah terlalu lama diam.

Beberapa detik berlalu. Krisna masih bicara di telepon.

Raisa menghela napas kecil.

Akhirnya Krisna menutup telepon dan menoleh.

Raisa langsung bicara, nadanya ketus tapi tetap tertahan. “Permisi Mas. Baju dedenya kotor. Perlu diganti.”

Krisna menatap baby Ezio sekilas. “Oh.”

“Atau Mas aja yang gantiin,” lanjut Raisa cepat, jelas tidak ingin urusan ini berlarut. “Saya kan  nggak tahu bajunya di mana.”

Krisna mendengus pelan, lalu berbalik setengah badan. “Ikut saya.”

Raisa mengerjap. “Ikut ke mana, Mas?”

“Ambil baju anak saya.”

Raisa memiringkan kepala. “Memangnya Mas nggak bisa ambil sendiri? Saya nunggu di sini aja.”

Krisna berhenti melangkah. Alisnya langsung bertaut, ekspresinya mengeras. Ia berbalik penuh, menatap Raisa lurus-lurus.

“Kamu masih ingat, kan,” katanya pelan tapi menusuk, “soal kaca mobil yang kamu pecah?”

Raisa mengangkat dagu. “Ingat, Mas. Saya belum amnesia.” Lalu ditambahkannya cepat, “Tapi saya belum ada uang buat gantinya. Sungguh.”

Krisna menatapnya lama. Pandangannya turun ke baby Ezio yang anteng di gendongan Raisa, lalu naik lagi ke wajah gadis itu.

Di benaknya, sebuah ide tiba-tiba menyelinap.

Sudut bibirnya terangkat sedikit—senyum miring yang tidak sampai ke mata.

“Kalau begitu,” katanya akhirnya, “ikut saya ambil baju Ezio. Dan kurangin komentar.” Nada suaranya tegas. Tidak membuka ruang untuk tawar-menawar.

Raisa mengepalkan rahang.

Sialan, gerutunya dalam hati.

Dengan langkah berat, ia mengikuti Krisna menaiki tangga. Tangga kayu itu lebar, bersih, setiap langkahnya berbunyi pelan. Raisa merasa aneh berada begitu dekat dengan pria itu, apalagi di wilayah pribadinya.

Sampai di lantai atas, Krisna berjalan menuju sebuah pintu besar berwarna cokelat tua.

Begitu tangannya hendak memutar kenop—

“Eh … bentar, Mas!” Raisa refleks mencegah.

Krisna berhenti, menoleh dengan ekspresi tidak sabar. “Ada apa lagi?”

Raisa berdiri kaku di belakangnya. “Saya nggak mesti ikut masuk ke dalam, kan?”

Krisna menarik napas panjang. Ia menutup mata sesaat, jelas menahan kesabaran. “Kenapa?”

Raisa menggigit bibirnya. “Ya … ini kamar Mas. Kamar pribadi.”

Krisna membuka mata, menatapnya datar. “Terus?”

Nada itu membuat Raisa makin kesal. “Saya nunggu di luar aja. Mas ambil bajunya, keluar, selesai.”

Krisna menghela napas lebih keras. Perlahan ia berbalik, menuruni satu anak tangga sehingga jarak mereka semakin dekat.

“Kamu di sini,” katanya rendah, “lagi gantiin pekerjaan ibu kamu, kan?”

Raisa mengangguk kaku. “Iya, Mas.”

“Dan salah satu pekerjaan ART di rumah ini,” lanjut Krisna dingin, “adalah membersihkan kamar majikannya.”

Raisa membelalak. Dadanya langsung panas.

“Terus kamu pikir,” Krisna menyambung, “saya nyuruh kamu masuk itu mau ngapain?” Kata-kata itu menghantam tepat di ulu hati Raisa.

Ia menarik napas tajam, matanya menyala. “Oh,” katanya lirih tapi bergetar, “mentang-mentang saya anak pembantu, terus saya dianggap pembantunya juga, begitu, Mas?” Kalimat itu keluar begitu saja—tanpa rem, tanpa filter.

Mendadak lidah Krisna kelu.

Bersambung ... 💔🔥

1
astr.id_est 🌻
diam distuuuuu 😅😅😅
astr.id_est 🌻
raisa seperti ibu peri sungguh ajaib, seketika ezio lngsg tenang
astr.id_est 🌻
kocak lena 🤣🤣
Elizabeth Zulfa
udah kebuka blm kris mata kamu... zg br pengalaman blm tentu memberikan rasa nyaman tpi klo rasa aman sudah didapat pengalaman akan ikut menyertainya... sampai sini paham kan ya abang duda... 😜😜😜klo msih mentingin ego brrti fix kamu tega sama dedek Ezio
astr.id_est 🌻
👍👍👍👍
kaylla salsabella
alhamdulillah dedek udah tenang
@Arliey🌪️🌪️
pawang nya ezio nich senggol dong🤣🤣🤣
kaylla salsabella
semoga habis ini dedek sembuh
RiriChiew🌺
nahkan pada akhirnya kalau pawang ezio hadirr dari tdi pasti udh sunyii gak akan nangis sepanjang hari . bapaknye ngeyell si pengasuh juga bermuka dua mana mau bayi nempel
@alfaton🤴
jangan nangis lagi ya de Zio..... momy Raisa udah dipelukanmu.... sekarang istirahat...... dan kamu Lena......masih mau berdebat tentang Ezio..... pengalaman jadi baby sitter mu mengalahkan Raisa yang suka dengan anak kecil..... karena tugasmu itu memang kewajiban dan tanggung jawab sebagai ibu dari anakmu ... paham lena😅😅😅😅
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
coba dr awal begini ga cape bayangin bayi sekecil ezio nangis2 sampe demam 🙂
citraalief
Ibu Peri Raisa hadir😊
Dew666
👄💜🏆
nyaks 💜
uhhhh masuk pawangnya Ezio
Mommy El
Lega dah, Dede zio gak nangis lagi.
menanti gebrakan apa yang akan dilakukan Lena untuk mencelakai/ mengusir Raisa.. Lena sudah diliputi amarah dan cemburu,, bahaya menanti mu Raisa hati hati lah.
Esther
Dede Ezio langsung tenang dalam dekapan kakak Raisa.
Ego dan gengsi Krisna kesentil dengan kehadiran Raisa yang ternyata menenangkan buat Ezio.

Ketahuan tuh watak aslinya Lena, awas ya kalau kamu ada niat jahat ke Raisa
Ruwi Yah
si janda kegatelan segera pecat aja bu lita
Esther
Akhirnya yang ditunggu datang.
2 juta....terima Raisa, kan urusan kamu sama bu Lita, nah kalo Lina sama Krisna.
Sudah gak sabar pingin ngendong dan nenangin Ezio ya Raisa

😄😄😄😄
Asang Ana
lagi thor💪👍
A3
👏👏👏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!